Showing posts with label adaptasi. Show all posts
Showing posts with label adaptasi. Show all posts

SEPTEMBER YANG SIBUK

22 September 2024 | comments

Bulan ini, banyak banget pergi-pergi keluar. Hari biasa, pergi belanja dan keliling ke beberapa supermarket dekat rumah. Sekalian belajar rute-rutenya, tentu saja pakai sepeda. Trus pergi ke koen, alias taman yang super gedeeee dan cantik. Ini taman paket komplit, ada hutannya, ada danaunya, ada mini zoo-nya, ada bebek-bebekan yang digenjot pake kaki itu loh -apa ya namanya- yang bisa dinaikin buat ngelilingin danau. Trus ada beberapa jembatan estetik, untuk melintasi danau. Ada kuil-kuil tua, ada kafe-kafe. Oiya, Museum Ghibli juga ada di sini. Tapi saya belum pernah ke sana. Selain sering ngantri, ngga minat juga. Wkwk.  Taman ini namanya Inokashira Park. Milik pemerintah. Termasuk taman legend dan banyak turis-turis yang datang ke sini. Karena letaknya yang masih masuk pusat Tokyo plus free entry pulak.

Di hari biasa, sempat meet up juga sama teman-teman lama, era 2000 awal, yang masih menetap di Jepang. Rata-rata mereka sudah permanent residence. Kalo dihitung-hitung, mereka tuh sudah 20 tahunan stay di Jepang. Maasya Allah. Kuatnyaaa :). Ya, saya bilang kuat, karena ngga gampang tinggal di LN. Tidak seindah yang dibayangkan orang banyak. Harus kuat mental, apalagi yang datang untuk belajar, maupun kerja. Secara fasilitas, namanya negara maju, semua sudah tersedia, tersistem dengan rapi dan apik. Tinggal gaijin, alias WNA-nya, yang harus siap adaptasi dengan negara super maju yang jelas berbeda dengan negara asal. Budaya kerja keras, disiplin, detil, proaktif, planning yang terukur dan jelas, cara komunikasi, antisipatif, ....you name it. Semuaaaaa harus diadaptasikan. Apalagi yang dari negara 2 musim, waah, adaptasi tubuh juga harus kuat. Belum termasuk adaptasi selera makan. Wkwk. Ya, begitulah. Semua negara pasti ada plus minusnya. Termasuk di negara kita sendiri -_-.

Back to pergi-pergi. Karena bulan ini banyak bepergian, ini kaki sampe sakiiit banget. Apalagi telapaknya. Huhu. Sampai dipaksa-paksa untuk tetap bergerak. Akhirnya di ujung bulan direhatkan sementara. Namanya tinggal di LN, apa-apa kudu serba sendiri. Ngga ada gofood, grabfood, laundry. Sebenarnya ada sih, tapi harganya, ckckck, ampun deh. Mending dikerjain sendiri semua. Alhamdulillah, semua ada hikmahnya. Saya jadi terbiasa gesit dan satset. Otot tangan dan kaki pelan-pelan kebentuk. Udah biasa angkat-angkat berat, jalan-jalan jauh, kena angin dingin, dan panas yang super menyengat. Alhamdulillah. Semua jadinya terasa ringan, kalau disyukuri dan dinikmati sepenuh hati. Alhamdulillah. Bisa tinggal di Jepang, itu privilege banget. Bisa merasakan juga bagaimana rasanya jadi minoritas Muslim. Yang untuk cari makanan halal tidak semudah di Ina. Mesjid juga jauh. Sekali lagi, justru karena `kesulitan-kesulitan` seperti itu yang bikin diri ini jadi kuat dan lebih banyak bersyukur. Jadi jangan pernah berhenti ngucapin `Alhamdulillah`, kapanpun, dimanapun dan dalam sikon apapun 💕




















BACK TO JAPAN

10 September 2024 | comments



Seminggu yang lalu di hari jumat, jam segini masih persiapan packing beberapa printilan yang akan dibawa ke Jepun. Karena nanti malam, pesawat ANA akan membawa kami menuju tanah kelahiran anak-anak.


Ya, kami kembali ke Jepang. Setelah 14 tahun lamanya mukim di Indonesia.
Waktu yang bukan sebentar. Selama 14 tahun itu ada aneka macam kejadian yang mewarnai kehidupan kami. Yang memunculkan tawa, sedih, gembira, kesal, marah, senang, kecewa, bahagia, dll.

Dari semua kejadian, yang paling menyedihkan adalah wafatnya papa dan mama. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur,  Allah masih kasih kesempatan untuk mendampingi mereka berdua, melalui momen-momen bahagia. Bercengkerama, tertawa, makan bareng, liburan bareng, ngumpul bareng. Hingga di akhir hayat mereka, semua anak-anaknya bisa menemani. Alhamdulillah. Maasya Allah. Semoga Allah pertemukan kami kembali di surga-Nya.

Ada rasa sedih, saat-saat pelepasan di bandara. Formasi yang melepas hanya tinggal kakak dan adik tercinta. Dahulu kala di tahun 1999, saat pertama akan berangkat ke Jepang, formasi masih komplit. Papa, mama, kakak dan adek. Bagaimanapun, Alhamdulillah, kakak adik saya dan keluarganya dalam keadaan sehat walafiat. Semoga nanti bisa berkunjung ke Tokyo ya.

Dalam pesawat, rasa lelah menyergap luar biasa. Saya langsung ambil posisi tidur. Alhamdulillah, kami bisa menikmati kelas bisnis yang disediakan oleh pihak kantor suami.
Di kelas ini kursi bisa disetel menjadi posisi memanjang ala tempat tidur. Masih terdengar samar-samar suara pramugari yang menawarkan snack malam. Saya yang biasanya laperan, dah ngga ada nafsu makan lagi, yang ada cuma nafsu tidur. Wkwkwk.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Setelahnya kurang lebih 7 jam pesawat akan mendarat di bandara Haneda, Tokyo.

****

Seingat saya, dulu saya pernah berdoa, pengen jalan-jalan ke Jepang sekedar untuk napak tilas masa-masa kejayaan waktu menjadi emak perkasa ala oshin. Hehe. Segala sesuatu dikerjakan sendiri. Kemana-mana naik sepeda. Gendong bayi di punggung, naik sepeda dengan belanjaan di depan dan belakang sepeda. Angkut-angkut belanjaan berat ke lantai 3 tanpa lift. Teman bahkan ada yang tinggal di lantai 5 tanpa lift. (tag orangnya ngga ya..).
Sehari bisa jalan kaki berkilo-kilo. Kemana-mana di punggung selalu bawa tas gembolan printilan 2 bayi. Sementara bayi satu di stroller, yang satu lagi di gendong. Kadang harus naik turun tangga yang cukup tinggi di stasiun sambil ngangkut stroller. Yang mana bayi satunya harus diturunin dan terkadang ada orang aja Jepang yang bantuin, nuntun si bayi atau ngangkatin stroller. Pulang ke rumah, semua urusan domestik pun dikerjakan sendiri. Benar-bener berasa berubah jadi emak Rambo dah.
No ART, no catering, no gojek, no gofood, no family, no abang-abang sayur, no abang-abang jajanan, no shopee....

Saat itu saya pengennya sih ke Jepang dengan gratis. Tapi siapa yang mau biayain? Wkwk.
Kali-kali aja kantor mau biayain suami untuk dinas plus family....
Secara kalau satu pasukan yang pergi butuh biaya yang lumayan menguras. Secara saya emak-emak model mendang mending gini kan. Dan bukan pula tipikal emak-emak traveller. Mending duitnya buat check out di shopee. Atau jajan-jajan kopi beserta side dishnya. Haiish, ngga bermutu sekali. Wkwkwk.

Alhamdulillah belasan tahun kemudian Allah kabulkan doa ini. Bahkan jauh lebih baik dan sempurna dari yang saya bayangkan. Maasya Allah. Jadi ingat kata ulama besar Ibnul Qoyyim Al Jauziyah.
“Andai kamu tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hati kamu akan meleleh karena cinta kepadaNya”.

Asli, terharu banget. Apalagi keinget kenangan-kenangan bersama orang tua. Seakan-akan Allah menyuruh saya untuk berbakti dulu, menghabiskan waktu bersama mereka. Menemani saat-saat terakhir kehidupan mereka.

Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush shalihat..
(Segala puji bagi Allah, dengan kenikmatan dari-Nya menjadi sempurna semua amal kebaikan)

********
And here I am now.....living in Japan..

Sayonara Indonesia....dan orang-orang tersayang yang ada di sana...
Mata ao neee...
Insyaa Allah ketemu lagi dalam kondisi yang jauh lebih baik....semoga kita semua selalu berada dalam naungan rahmat, hidayah dan ampunan-Nya...

Nippon....tadaimaaa...
Semoga kepindahan sementara ini, membuat kami semakin taat dan dekat dengan Allah, membawa kebaikan untuk dunia akhirat, keberkahan dan manfaat yang luas....
Aaaamiiiiiin





Sekolah oh sekolah

18 July 2011 | comments (4)


Ngga terasa minggu ini sudah mid test. Kayaknya baru kemarin masuk ajaran baru.
Masih teringat sekali, saat penerimaan rapor kenaikan kelas, empat bulan yang lalu. Yang pertama kali saya tanyakan ke walikelas anak saya, adalah....apakah anak saya naik kelas atau tidak. Alhamdulillah, ternyata naik, dan itupun si walikelas menjawabnya sambil cengar cengir karena melihat tampang saya yang ngga jelas bentuknya saking khawatirnya.

Ini adalah kali pertama saya merasa khawatir tentang naik or tidak naik kelasnya anak saya. Gimana ngga, kosa kata anak saya masih terbatas -terutama untuk kata-kata resmi yang sering muncul di buku-buku pelajaran- padahal materi yang harus dipelajari, banyaaaakk sekali. Secara baru setahun dia sekolah di Indonesia. Di semester akhir memang sudah lumayan kemajuannya, tidak seperti bulan-bulan pertama dia sekolah dulu, yang baca tulis masih seperti anak kelas 1 sd.

Kalau melihat materi pelajaran untuk anak kelas 4 sd, kok sepertinya berat banget ya. Seperti melihat materi  pelajaran jaman saya SMP dulu. Anak saya sendiri mau ngga mau belajar dengan keras, di awal sekolah, untuk sekedar menambah dan memahami kosa kata baru setiap harinya di setiap buku pelajaran yang berbeda. Ini baru belajar kosa kata loh yah, belum sampai tahap paham akan isi materi yang terkandung di buku.

Untuk pelajaran matematika, yang banyak menggunakan angka, dia masih mudah untuk adaptasi. Tapi untuk pelajaran-pelajaran dengan kalimat-kalimat rumit, seperti PKn, IPS dan bahasa Indonesia, wah, benar-benar butuh kesabaran ekstra deh. Baik emaknya ataupun anaknya. Lah emaknya yang udah sepuh gini ikutan bete baca buku pelajarannya.  Syukurnya, sekolah tempat anak saya sekolah, tidak termasuk sekolah yang suka "menyiksa" anak. Tidak ada tekanan. Setengah serius setengah santai. Yang serius cuma untuk anak kelas 6 saja, untuk persiapan UAN. Guru-gurunya juga baik dan berbaur dengan murid-muridnya. Sholat bareng-bareng sampai main bola juga bareng-bareng.

Sebenarnya, setelah menetap di Indonesia, saya dan suami, ngga terlalu berharap muluk .dengan prestasi akademik sang anak. Yang penting anaknya enjoy sekolah dan bisa naik kelas itu sudah cukup. Apalagi dengan kondisi pendidikan di sini, yang umumnya lebih menekankan kecerdasan akademik pada anak usia sekolah. Seakan-akan di dunia ini cuma satu jenis kecerdasan itu saja yang dibutuhkan untuk hidup. Padahal hasilnya? Lihat saja sendiri. Anak-anak jadi malas sekolah, bosan dengan sekian banyak mata pelajaran yang harus mereka kuasai, hanya untuk mendapatkan ranking.

Jadi inget dengan pengalaman nyekolahin anak selama 6 tahun di Jepun sono. Benar-benar asli santaiiiii. Baik anak ataupun ortu. Di sana ngga ada istilah ngga naik kelas. Semua anak pasti naik kelas. Ngga ada rangking-rangkingan. Ngga ada UTS, ngga ada UAS. Yang ada cuma ulangan harian. Ulangan harian ini pun ngga dibuat susah. Karena fungsinya cuma untuk mengetahui sejauh mana anak paham dengan materi pelajaran yang diberikan.

Untuk anak kelas 6, UAN pun tidak ada. Semua anak pasti lulus, dan bisa langsung masuk ke SMP. Jadi anak-anak ngga akan stress, dan ngga perlu sampe ada kasus contek massal segala, demi lulus sekolah. Penilaiaan yang tertulis di raport pun, tidak berbentuk angka. Tetapi  berbentuk tiga kalimat: Baik sekali, Baik, dan Lebih Berusaha. Saya melihat ini sebagai bentuk penghargaan kepada setiap anak, apapun kecerdasan yang mereka miliki.

Fasilitas sekolah negeri juga standar. Mau yang dipelosok desa ataupun di tengah kota, sama-sama punya lapangan olah raga yang luas dan kolam renang. Biaya pendidikan juga gratis. Buku-buku ngga perlu beli. Langsung dibagikan ke semua murid oleh pihak sekolah. Yang bayar cuma biaya catering, atau kegiatan sekolah yang dilakukan di luar seperti tur, dll. Baju seragam juga ngga perlu, karena untuk SD, baju yang dipakai adalah baju bebas.

Saya melihat, beginilah profil sistem pendidikan yang mendekati ideal. Tidak ada proyek-proyekan dalam sekolah, tunjangan guru sama dengan pegawai swasta, fasilitas belajar yang lengkap dan nyaman yang bisa dinikmati semua anak di seluruh penjuru negeri, tanpa terbebani biaya di luar kemampuan orangtua.

Kapan ya, anak-anak Indonesia bisa merasakan seperti ini :(







Abal abal

13 April 2011 | comments



Sejak masih tinggal di Jepang, saya sering banget dapetin istilah ini dari sodara saya. Abal-abal...atau tiruan...atau jadi-jadian...atau bo`ongan..lebih sering distempelkan ke produk-produk Ina yang murah meriah. Dari yang ringan seperti sendal, sampai yang berat seperti lemari ^-^.

Dan sekarang, saya mengalami dan mendapatkan sendiri makna abal-abal itu. Tau sendal crocs? Nah, ntu sendal..buaanyaaakk banget bisa ditemuin dimana-mana dengan harga yang murah. 15 ribu juga dapet, untuk ukuran anak-anak. Tadinya saya pikir, crocs dimanapun kualitasnya sama saja. Mau yang murah atau yang mahal, keliatannya fisiknya sama aja tuh.

Crocs krem punya saya, yang saya beli di sunshine city ikebukuro ketika musim panas, harganya cuma 1500 yen dapat 2 pasang. Satu pasang untuk saya, sepasang lagi untuk si sulung. Crocs punya saya, sampe sekarang awet, dan nyamaaaan banget. Makanya, kemanapun saya pergi, selalu sama si crocs ini. Sampe-sampe temen pengajian saya penasaran, dan dengan santainya megangin ntu sandal, n langsung komentar...."wah, ini mah yang asli punya, plastiknya beda tuh". Saya cuma manggut-manggut bingung. Kirain saya, di seluruh dunia ini, crocs sama semua bahannya.

Soalnya waktu itu, di sini saya pernah ngebeli crocs untuk anak saya yang kecil. Dengan pemikiran seperti di atas. Tapi, baru satu kali pake, kaki anak saya langsung lecet n luka !! Weleh-weleh...ternyata...bener-bener crocs abal-abal :(

Selain sendal, saya juga tertimpa produk abal-abal lainnya. Yaitu lemari buku. Itu lemari, saya beli di Index Depok. Sengaja beli di sana, karena memang lumayan terpercaya untuk urusan furniture dan kebanyakan barang-barang impor pulak. Lemari buku yang terpajang di sana, memang mahal-mahal euy. Untuk yang dua pintu saja, di atas 5 juta. Kalau mau yang tiga pintu, sekitar 7 juta ke atas. Glek..mahal banget. Tau-tau kita ketemu lemari yang lagi di sale sampai 40%, harganya 1,5 juta. Wah, kayaknya lumayan  nih. Akhirnya, kita belilah itu lemari buku.

Dan ternyata, setelah baru seminggu dipake, raknya mulai miring. Terutama di bagian tengah, seperti melengkung. Halaaahhh....kayaknya kayunya abal-abal punya nih :( ngga berat nahan beban buku-buku yang tebal. Saya baru inget, ternyata lemari ini terbuat dari bahan MDF. Pantesaaan.
Hiks, jadi inget sama lemari buku yang saya beli ketika sale di Sanwa, Toyoda tujuh tahun yang lalu...harganya cuma 4500 yen, tapi sampai sekarang masih awet...n ga pernah melengkung...

Jadi? Yup, itu pelajaran berharga buat saya. Lain kali, jangan percaya sama barang discount. N jadi rada nyesel, kenapa ngga beli lemari yang banyak waktu di Jepang...hehehe emangnya mau buka toko apa. Secara di sana kagak ada yang namanya produk abal-abal. Semua standar.
Tapi paling ngga, saya jadi mengerti pula. Kalo mau beli macem-macem, terutama barang-barang yang longtime pakenya, mending beli sekalian mahal. And, yang penting, kudu ngumpulin info dulu dari mana-mana.

Saya baru tau, ternyata furniture di sini, banyak yang terbuat dari bahan serbuk kayu. Yang paling rendah kualitasnya disebut particle board. Campuran bubur kayu dengan bahan kimia tertentu. Biasanya dipake untuk furniture yang pemakaiannya ngga tahan lama, alias cepet rusak #_#. Di atasnya ada MDF berupa serbuk kayu yang dipadetin. Kualitasnya hampir sama dengan particleboard.

Di atasnya ada Multipleks, yang tersusun dari beberapa lapis kayu yang disatuin. Yang ini lumayan kuat. Di atasnya lagi namanya Blockboard.Ini bener-bener dari potongan kayu yang disatuin. Kuat deh. Naaahh..yang paling kuat, adalah jenis kayu yang masih utuh, alias bukan gabungan dari mana-mana kayu. Misalnya kayu jati. Ini nih baru yang superkuat. Tapi harganya...bisa bikin kita nelen ludah berkali-kali.
Jadi, kalau mau belanja lemari, meja..atau apa saja yang terbuat dari kayu, jangan lupa tanyain, bahan pembuatnya apa. Supaya ngga terjatuh di lubang yang sama seperti saya...:D

Saya sendiri kok jadinya paranoid untuk beli furniture dari bahan kayu, termasuk kayu jati. Bukan apa-apa, takutnya itu kayu jati yang abal-abal-an juga. Hayaahh....bener-bener deh, krisis kepercayaan banget...selaku konsumen di Ina :(

Saya nyaranin banget, untuk temen-temen di LN, wabilkhusus yang ada di Jepun, kalau ada kesempatan pulang ke Ina...mending beli furniture dari sana deh. Harganya tidak semahal di sini, tapi kualitasnya beda jauh.

Untuk barang-barang elektronik, hm, kayaknya mendingan beli di Ina saja. Selain voltasenya beda, di Ina tegangannya sering naik turun. Tau sendiri kan, di sini mati lampu dah jadi makanan rutin. Khawatirnya produk Jepun ngga akan kuat sama kondisi tegangan seperti itu. And, tenang saja, produk elektronik susah di abal-abal-in...:D
Saya sendiri, tetep membawa alat elektronik dari Jepang. Seperti mesin cuci, kulkas n microwave. Bukannya apa-apa, tapi pengen ngirit, supaya setelah di Ina, ngga perlu beli macem-macem lagi.

Karena voltasenya beda, tentu saja diperluin transformator. Nah, alat ini, sebaiknya beli di Jepang. Di Ina agak sulit menemukan transformator dengan daya 1500 watt. Kalaupun ada dan tertulis 1500 watt, kekuatan sebenarnya ngga sampai 1500 tapi 1000watt saja. Itu informasi dari petugas di toko-toko elektronik di Ina, yang saya datengin.
Syukurnya, suami saya berhasil  ndapetin lungsuran gratis transformator dari temen kerjanya yang nihon-jin. Dapat 3 biji pulak. Itu juga setelah rada-rada nebelin muka nanyain tentang transformator yang ngga kepake ^-^.

Selain barang-barang berat, alat-alat makan seperti piring dan gelas sudah banyak banget tersedia di Ina. Jadi ngga perlu bawa deh dari Jepun, kecuali untuk kenang-kenangan ^-^. Tapi kalo barang dari plastik yang tahan panas dan bisa dimasukkan ke microwave, mending bawa dari Jepun saja. Lebih terjamin, dan bukan abal-abal :)
Terutama yang punya anak kecil nih. Kudu banyakin alat-alat makan dari plastik. Secara di Ina, lantainya dari ubin semua...bukan kayu.

Hm...apalagi ya?...
Sementara ini dulu deh....
Sambil berusaha keras mengingat-ngingat kejadian setahun yang lalu..^-^
maklum...dah uzur...hehehe

Setahun sudah...

06 April 2011 | comments (5)


Ngga terasa, dah setahun tinggal di Indonesia....kalo ngga salah 27 Maret 2010 resmi sudah kaki saya mendarat di tanah air sendiri.
Kalau inget masa-masa awal nyampe di sini..wuiiihh...berasa persis pengantin baru...maksudnya, saking bahagianya bisa nyampek dengan selamat dan tinggal di negeri sendiri.

Begitu mendarat di SoekarnoHatta, perasaan kok seperti terbebas dari penjara yak. Rasanya seneng banget, ndengerin orang ngomong pake bahasa Indonesia --secara selama 10 th dimana-mana yang kedengeran cuma nihonggo doang-- belum lagi pemandangan perempuan kerudungan dimana-mana. Hal yang amat sangat jarang ditemuin di Jepun sono kecuali di daerah deket mesjid ^-^.

Berhubung saya orangnya doyan ngobrol, jadinya kayaknya bahagia deh...mengingat mulai sekarang saya bisa berkomunikasi dengan manusia manapun yang saya temui di negeri in i...hihihi. Di bandara, sampai petugas di toiletpun saya ajakin ngobrol..hihi. Kalo di sono kan saya harus memikirkan, menimbang lalu memutuskan, kalimat yang akan saya ucapkan..secara bahasa jepun saya masih kalah sama anak sendiri #_#

Seminggu pertama di Ina, saya tinggal di rumah ortu. Sebagaimana pengantin baru, "kekurangan" negeri sendiri, belum begitu terasa. Yang ada cuma hepi. Dan taukah pemirsa, kalau seminggu ini, saya dan suami benar-benar kalap dengan segala hal yang berbau makanan? Jadi hampir tiap hari kerjaan shopping mulu. Mana rumah ortu ke pusat perbelanjaan deket bangeeett. Komplit deh. Sekali belanja bisa keluar smp 1 man yen @_@

Nah ini, satu pelajaran penting, terutama buat sodara-sodara sekalian yang berniat tinggal di Ina. Save your money first !! Jangan seperti saya yang belum apa-apa dah bocor duluan..
Pokoknya, begitu nyampe di Ina, tu harta karun secepat mungkin ditukar wujudnya ke emas batangan. Kalau ngga, dijamin deh, bakal cepet habis.

Saya setiap belanja, punya kebiasaan jelek. Yaitu mengconvert nilai rupiah ke yen. Walhasil terlihat murahlah semua harga barang-barang. Padahal pemasukan tiap bulan, bukan dalam bentuk yen...tetapi rupiah @_@
Bisa dibilang, gaya hidup masih ngikutin kayak di jepun. Eh, malah lebih parah deng. Soalnya di Indonesia semua serba halal. Di Jepun, paling banter pilihannya cuma makan tempura, sushi, soba, onigiri, or spaghetti yang pake seafood. Terbatas banget kan, lah diitung pake jari juga ngga nyampe 10. Jadi bisa kebayang kan, betapa kalapnya saya dan suami dalam urusan makanan...secara kita berdua sama-sama gembul :D

Oiya, begitu nyampe, kita kepikiran nih, kudu punya hp. Cuma bingung juga ngeliat di sini model hp banyak banget. Belum lagi semua serba kartu yang prepaid. Ada yang GSM ada yang CDMA. Nah loh...binun deh. Setelah konsultasi sana sini, akhirnya diputusin pake IM3 aja....*bukan promosi*...konon kabarnya di masa itu, IM3 tergolong murah untuk telpon dan sms sesamanya.

Belakangan saya baru tahu, kalau rata-rata orang di sini, pada punya nomor hp lebih dari satu !! Ada yang sampe 5 loh nomornya @_@...hiiii tambah puyeng deh. Tadinya saya pikir, itu gimana ngangkatnya yak, kalo lagi pada berdering semua. Tapi saya baru tahu, kalau satu hp bisa memuat dua nomor sekaligus. Istilahnya "Dual SIM". Nah, jadilah hp pertama kita bermerk ivio dengan dual sim tadi, bisa pake gsm atau cdma.

Oiya, saya juga baru ngeh, kalo di ina saat itu lagi trend blackberry-an. Dengan harga sekitar 3-man...*mahal banget ya...padahal kalo di jepun hp pada murah-murah..saking murahnya yang dijual 1 yen juga ada ^-^ cuma sayangnya, ngga bisa diangkut ke ina..
Yang membuat saya terheran-heran, ternyata di sini hp itu termasuk barang yang bisa mengangkat harkat dan martabat pemakainya. Termasuk si blackberry nih. Sampai ada yang menabung berbulan-bulan demi mendapatkan si BB. Padahal, pakenya juga cuma buat sms, telpun, sama fesbukan. Yang mana hp merk lain yang murmer juga bisa. Kesannya jadi maksain diri gitu loh...di luar kemampuan. Hal yang baru saya sadari, betapa gaya hidup konsumtif, sudah menjadi kebiasaan di negeri kita tercinta ini......

And, hati-hati juga dengan iklan para operator seluler...baik yang di tipi, koran, majalah maupun di papan billboard gede yang ada di jalan-jalan..banyak yang ngga benernya tuh. Alias asngom. Ditulis gratissss telpon, padahal kudu bayar...Biasanya sih, huruf gratisnya digedein, n disebelahnya diletakkan tanda bintang. Yang mana tanda bintang itu bermakna...Syarat Dan Ketentuan Berlaku. Fiiuhh, ini nih, kata-kata ajimat, yang suka muncul di iklan manapun, selain iklan hp. Ntar deh, saya bahas di tulisan tersendiri...

Seminggu pertama, saya ngga mau nonton tivi atau baca koran. Dah tau sendiri kan, isinya seperti apa. Jadinya saya n suami cuma browsing internet aja. Daann...terasa betapa lemoootnya kecepatan internet di sini. Biasanya di sono, loading tinggal zeeettt...langsung nongol semua isi halaman. Di sini, bisa ditinggal ngopi, mandi, ngerumpi, bobo...hehehe...Ya iyalah, di sono kan inet di rumah kecepatannya sampe 1 Giga...di sini? 1 Mb juga dah bersyukur...hehehe
Tapi ngga apa-apa...bagaimanapun ini juga termasuk realita yang harus ditelen mateng-mateng :D Yang penting masih bisa konek, dan tersambung dengan seluruh penghuni bumi ^-^

Selain hp, barang selanjutnya yang kudu dimiliki, adalah mobil. Secara mulai minggu depan, suami dah masuk kantor, dan kami juga pindah ke depok...maka mau tak mau, harus punya kendaraan nih. Apalagi dari hasil browsing dan tanya sana snini, amat sangat tidak memungkinkan bagi suami untuk ngantor pake kendaraan umum karena butuh waktu sampe 4 jam....dari Depok ke Bekasi...dan berganti kendaraan sampe 4 kali !!!! Duuuuh, kesian deh suamiku.

Situs yang sering jadi rujukan dalam hal bela-beli...ngga lain dan ngga bukan adalah kaskus.us. Di situ kita bisa nemuin review orang-orang tentang apaaa aja. Termasuk dalam urusan si mobil ini. Setelah cek sana sini, baca review n liat gambar2 mobil di internet, kita mutusin beli Luxio. Mobil keluarga keluaran Daihatsu. Ini mobil asli deh...kayak bus wisata...saking luas dan lapangnya,..hehehe. Maklum, keluarga besar nih :D

Waktu lagi liat-liat aslinya di showroom, ternyata memang gede banget. Untuk masuk ke dalam, pijakan kakinya juga lebih tinggi dari mobil sekelasnya. Warnanya bisa milih. Tapi khusus warna di luar normal, kudu nunggu lebih lama lagi, baru bisa diambil. Hm, padahal kita perlunya cepet nih. Si mbak sales nawarin luxio keluaran tahun lalu. Yang mana secara spek ngga beda jauh sama 2010 punya, dengan harga yang lebih murah. Malah sudah termasuk ABS atau anti-lock braking system. Untuk jelasnya tentang ABS bisa dibaca di sini.

Beda banget deh, mobil yang pake ABS sama yang ngga. Kalau pake ABS, ngerem terasa halus banget.....biar kate kita ngerem mendadak...
Berhubung stok luxio dengan ABS ini tersisa satu dengan warna yang rada norak pula...yasud,...akhirnya kami jadinya ngambil yang ini. Warna lain yang bagus stoknya masih banyak...tapi ya itu tadi, ngga ada ABS...secara sejak tahun 2010 fitur ABS ini dihilangkan.

Jadi kalo di jalan ketemu mobil luxio warna biru tua dengan penumpang beraneka ragam, dari bayi kecil, batita 2 biji lagi ajrut-ajrutan, anak sd yang lagi tidur nyenyak, sama emaknya yang lagi khusyuk megang setir...maka ngga usah pangling. itulah dia...si jali-jali ^-^

Fiiuuuhh...masih banyak nih, cerita-cerita seputar awal tinggal di Ina. Keknya dijadiin novel bisa kali yaakk....
Saya memang dah niat nih, pengen menulis detil, semua cerita tentang itu. Karena saya lihat kok ngga ada *atau belum ketemu* tulisan tentang adaptasi di ina. Apa aja yang harus diketahui, do and dont-nya, de el el. Apalagi buat yang sudah 5 tahun lebih tinggal di LN. Lah temen saya aja yang baru setahun tinggal di Jepun, n ke ina ketika liburan, sempet berkomentar seperti orang asing yang ngga pernah ke ina...^-^

Yah, mudah-mudahan tulisan saya bisa bermanfaat terutama buat temen-temen yang senasib seperti saya :D
Maap juga kalo ada yang tersinggung...secara bisa jadi banyak tulisan yang sepertinya menjelek-jelekkan negeri sendiri...*padahal memang..hehehe*
sebenarnya sih bukan menjelek-menjelekkan...tapi spontan selalu saja muncul sikap membanding-bandingkan antara ina and jepun. Hal yang ga patut..karena kalau mau mbandingin harusnya dengan sesama negara maju ya...
Yasud,...itu saja....
masih akan terus bersambung nih...



 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Kehidupan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger