Showing posts with label jepang. Show all posts
Showing posts with label jepang. Show all posts

SEPTEMBER YANG SIBUK

22 September 2024 | comments

Bulan ini, banyak banget pergi-pergi keluar. Hari biasa, pergi belanja dan keliling ke beberapa supermarket dekat rumah. Sekalian belajar rute-rutenya, tentu saja pakai sepeda. Trus pergi ke koen, alias taman yang super gedeeee dan cantik. Ini taman paket komplit, ada hutannya, ada danaunya, ada mini zoo-nya, ada bebek-bebekan yang digenjot pake kaki itu loh -apa ya namanya- yang bisa dinaikin buat ngelilingin danau. Trus ada beberapa jembatan estetik, untuk melintasi danau. Ada kuil-kuil tua, ada kafe-kafe. Oiya, Museum Ghibli juga ada di sini. Tapi saya belum pernah ke sana. Selain sering ngantri, ngga minat juga. Wkwk.  Taman ini namanya Inokashira Park. Milik pemerintah. Termasuk taman legend dan banyak turis-turis yang datang ke sini. Karena letaknya yang masih masuk pusat Tokyo plus free entry pulak.

Di hari biasa, sempat meet up juga sama teman-teman lama, era 2000 awal, yang masih menetap di Jepang. Rata-rata mereka sudah permanent residence. Kalo dihitung-hitung, mereka tuh sudah 20 tahunan stay di Jepang. Maasya Allah. Kuatnyaaa :). Ya, saya bilang kuat, karena ngga gampang tinggal di LN. Tidak seindah yang dibayangkan orang banyak. Harus kuat mental, apalagi yang datang untuk belajar, maupun kerja. Secara fasilitas, namanya negara maju, semua sudah tersedia, tersistem dengan rapi dan apik. Tinggal gaijin, alias WNA-nya, yang harus siap adaptasi dengan negara super maju yang jelas berbeda dengan negara asal. Budaya kerja keras, disiplin, detil, proaktif, planning yang terukur dan jelas, cara komunikasi, antisipatif, ....you name it. Semuaaaaa harus diadaptasikan. Apalagi yang dari negara 2 musim, waah, adaptasi tubuh juga harus kuat. Belum termasuk adaptasi selera makan. Wkwk. Ya, begitulah. Semua negara pasti ada plus minusnya. Termasuk di negara kita sendiri -_-.

Back to pergi-pergi. Karena bulan ini banyak bepergian, ini kaki sampe sakiiit banget. Apalagi telapaknya. Huhu. Sampai dipaksa-paksa untuk tetap bergerak. Akhirnya di ujung bulan direhatkan sementara. Namanya tinggal di LN, apa-apa kudu serba sendiri. Ngga ada gofood, grabfood, laundry. Sebenarnya ada sih, tapi harganya, ckckck, ampun deh. Mending dikerjain sendiri semua. Alhamdulillah, semua ada hikmahnya. Saya jadi terbiasa gesit dan satset. Otot tangan dan kaki pelan-pelan kebentuk. Udah biasa angkat-angkat berat, jalan-jalan jauh, kena angin dingin, dan panas yang super menyengat. Alhamdulillah. Semua jadinya terasa ringan, kalau disyukuri dan dinikmati sepenuh hati. Alhamdulillah. Bisa tinggal di Jepang, itu privilege banget. Bisa merasakan juga bagaimana rasanya jadi minoritas Muslim. Yang untuk cari makanan halal tidak semudah di Ina. Mesjid juga jauh. Sekali lagi, justru karena `kesulitan-kesulitan` seperti itu yang bikin diri ini jadi kuat dan lebih banyak bersyukur. Jadi jangan pernah berhenti ngucapin `Alhamdulillah`, kapanpun, dimanapun dan dalam sikon apapun 💕




















BACK TO JAPAN

10 September 2024 | comments



Seminggu yang lalu di hari jumat, jam segini masih persiapan packing beberapa printilan yang akan dibawa ke Jepun. Karena nanti malam, pesawat ANA akan membawa kami menuju tanah kelahiran anak-anak.


Ya, kami kembali ke Jepang. Setelah 14 tahun lamanya mukim di Indonesia.
Waktu yang bukan sebentar. Selama 14 tahun itu ada aneka macam kejadian yang mewarnai kehidupan kami. Yang memunculkan tawa, sedih, gembira, kesal, marah, senang, kecewa, bahagia, dll.

Dari semua kejadian, yang paling menyedihkan adalah wafatnya papa dan mama. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur,  Allah masih kasih kesempatan untuk mendampingi mereka berdua, melalui momen-momen bahagia. Bercengkerama, tertawa, makan bareng, liburan bareng, ngumpul bareng. Hingga di akhir hayat mereka, semua anak-anaknya bisa menemani. Alhamdulillah. Maasya Allah. Semoga Allah pertemukan kami kembali di surga-Nya.

Ada rasa sedih, saat-saat pelepasan di bandara. Formasi yang melepas hanya tinggal kakak dan adik tercinta. Dahulu kala di tahun 1999, saat pertama akan berangkat ke Jepang, formasi masih komplit. Papa, mama, kakak dan adek. Bagaimanapun, Alhamdulillah, kakak adik saya dan keluarganya dalam keadaan sehat walafiat. Semoga nanti bisa berkunjung ke Tokyo ya.

Dalam pesawat, rasa lelah menyergap luar biasa. Saya langsung ambil posisi tidur. Alhamdulillah, kami bisa menikmati kelas bisnis yang disediakan oleh pihak kantor suami.
Di kelas ini kursi bisa disetel menjadi posisi memanjang ala tempat tidur. Masih terdengar samar-samar suara pramugari yang menawarkan snack malam. Saya yang biasanya laperan, dah ngga ada nafsu makan lagi, yang ada cuma nafsu tidur. Wkwkwk.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Setelahnya kurang lebih 7 jam pesawat akan mendarat di bandara Haneda, Tokyo.

****

Seingat saya, dulu saya pernah berdoa, pengen jalan-jalan ke Jepang sekedar untuk napak tilas masa-masa kejayaan waktu menjadi emak perkasa ala oshin. Hehe. Segala sesuatu dikerjakan sendiri. Kemana-mana naik sepeda. Gendong bayi di punggung, naik sepeda dengan belanjaan di depan dan belakang sepeda. Angkut-angkut belanjaan berat ke lantai 3 tanpa lift. Teman bahkan ada yang tinggal di lantai 5 tanpa lift. (tag orangnya ngga ya..).
Sehari bisa jalan kaki berkilo-kilo. Kemana-mana di punggung selalu bawa tas gembolan printilan 2 bayi. Sementara bayi satu di stroller, yang satu lagi di gendong. Kadang harus naik turun tangga yang cukup tinggi di stasiun sambil ngangkut stroller. Yang mana bayi satunya harus diturunin dan terkadang ada orang aja Jepang yang bantuin, nuntun si bayi atau ngangkatin stroller. Pulang ke rumah, semua urusan domestik pun dikerjakan sendiri. Benar-bener berasa berubah jadi emak Rambo dah.
No ART, no catering, no gojek, no gofood, no family, no abang-abang sayur, no abang-abang jajanan, no shopee....

Saat itu saya pengennya sih ke Jepang dengan gratis. Tapi siapa yang mau biayain? Wkwk.
Kali-kali aja kantor mau biayain suami untuk dinas plus family....
Secara kalau satu pasukan yang pergi butuh biaya yang lumayan menguras. Secara saya emak-emak model mendang mending gini kan. Dan bukan pula tipikal emak-emak traveller. Mending duitnya buat check out di shopee. Atau jajan-jajan kopi beserta side dishnya. Haiish, ngga bermutu sekali. Wkwkwk.

Alhamdulillah belasan tahun kemudian Allah kabulkan doa ini. Bahkan jauh lebih baik dan sempurna dari yang saya bayangkan. Maasya Allah. Jadi ingat kata ulama besar Ibnul Qoyyim Al Jauziyah.
“Andai kamu tahu bagaimana Allah mengatur urusan hidupmu, pasti hati kamu akan meleleh karena cinta kepadaNya”.

Asli, terharu banget. Apalagi keinget kenangan-kenangan bersama orang tua. Seakan-akan Allah menyuruh saya untuk berbakti dulu, menghabiskan waktu bersama mereka. Menemani saat-saat terakhir kehidupan mereka.

Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush shalihat..
(Segala puji bagi Allah, dengan kenikmatan dari-Nya menjadi sempurna semua amal kebaikan)

********
And here I am now.....living in Japan..

Sayonara Indonesia....dan orang-orang tersayang yang ada di sana...
Mata ao neee...
Insyaa Allah ketemu lagi dalam kondisi yang jauh lebih baik....semoga kita semua selalu berada dalam naungan rahmat, hidayah dan ampunan-Nya...

Nippon....tadaimaaa...
Semoga kepindahan sementara ini, membuat kami semakin taat dan dekat dengan Allah, membawa kebaikan untuk dunia akhirat, keberkahan dan manfaat yang luas....
Aaaamiiiiiin





Nyesel???

14 November 2014 | comments


Ini gegara efek ngga ada kerjaan, tiba-tiba nyasar browsing, nyari drama Jepun yang keren. Dan tetiba lagi, udah keasikan di yutub nonton drama yang dramatis. Daaann tetiba lagi, jadi kangen sama Jepun n seisinya. Fiiiuuuh. Jadi kangen sama sushi n toko 100yen....wkwkwk.

Btw, dari sudut hati ada yang ngomong,"Kamu nyesel ya, back for good ke negeri sendiri?"
Yang satu sudut lagi njawab,"Ngga nyesel !!!". Soalnya percuma juga sih, kalo mo jawab nyesel, emangnya bisa merubah kenyataan?? hehehe...

Tapi ngga kok. Saya ngga nyesel. Dimana-mana yang namanya hidup pasti  penuh pilihan. Ketika kami bisa memilih, antara kemungkinan tinggal selama-lamanya di Jepang, atau pindah kembali ke tanah air tercinta. Dengan minta kekuatan sama Yang di Atas, kami memilih untuk balik ke Indonesia. Trus, apa yang menjadi pertimbangan? Salah satu pertimbangan ya... masa depan anak-anak.


Saya memang yang paling semangat mendorong suami untuk kembali ke Indonesia. Dan itu adalah salah satu keputusan terbesar dalam keluarga kami. Syukurnya dari pihak ortu dan keluarga besar, semua mendukung, apapun keputusan yang diambil.

Yah, masing-masing keluarga pasti punya pertimbangan sendiri kan. Termasuk kami. Eh, terutama saya. Yang saat itu, entah kenapa, makin terasa berat mendidik dan mengasuh anak, plus mengerjakan segala sesuatunya sendiri, di negeri orang.

Saat itu, anak sulung saya usianya masih 9 th. Adiknya umur 2 th dan 1 th. Yang di kandungan sudah 4 bulan. Saya tidak berani membayangkan, apa yang terjadi di usia remaja mereka seandainya kami masih menetap di negeri minoritas itu. Saya merasa pesimis dengan kemampuan saya sendiri, mengawal anak-anak untuk tetap percaya diri dengan keIslamannya. Sedangkan saya sendiri masih harus jatuh bangun, menstabilkan kondisi spritual pribadi.

Sungguh, saya sangat tidak percaya diri saat itu. Walaupun ada banyak teman seiman di sekitar saya, dengan kondisi yang tidak jauh berbeda, tapi, tetap saya merasa, saya tidak kuat. Dan saya tidak berani mengambil resiko.  Makanya sampe sekarang, saya salut banget, sama teman-teman yang masih berjuang di sana. Di Jepang, dan juga negeri-negeri minoritas lainnya. Mereka berjuang luar dalem.

***

Kalo dilihat dari kacamata kemajuan teknologi dan peradaban, Jepang memang mengagumkan. Tapi sebenarnya, kecanggihan mereka tetap menyimpan banyak ketimpangan, yang tidak akan terlihat kecuali mereka yang sudah lama berdomisili di sana.

Kebudayaan dan kebiasaan mereka yang minus, mabuk-mabukan, sangat individual, dan pornografi yang tersebar dimana-mana. Asal tau saja, di Jepang, bahkan para pelacur mengiklankan diri mereka dengan bebas di brosur-brosur yang disebar di rumah dan apartemen. Dan yang menjijikkan, di brosur itu mereka berpose dengan sangat vulgar. Berapa kali saya menemukan brosur tersebut di kotak pos apartemen. Malah saya pernah menemukan potongan lembar majalah dewasa dengan gambar wanita bugil, di toilet umum di taman. Astaghfirullah !!!

Belum lagi majalah-majalah dewasa yang dipajang di rak majalah di convenient store dengan gambar nyaris telanjang. Siapapun yang masuk ke toko itu, bisa dengan mudah memandang cover majalah tersebut.

Bahkan di beberapa downtown di Tokyo, ada beberapa billboard yang sangat besar yang menampilkan sosok artis dengan pose aduhai bin menyeramkan. Toko-toko khusus perlengkapan 'adult' juga tersebar dimana-mana. Fiiiuuuhh, asli menakutkan.

Ngga heran kalo Jepang termasuk negara yang sangat 'ramah' pornografi di dunia ini.

Belum lagi urusan free sex. Anak remaja di sana, ngga beda jauh sama yang di Amerika. Selama suka sama suka ya silakan. Ortu juga membiarkan anak mereka melakukan hal itu. Bahkan hidup serumah dengan calon mertua, juga sudah dianggap biasa.

Satu lagi yang jadi momok di Jepang, banyak orang 'gila' !!! Ya, bukan gila beneran sih. Secara penampakan kayak orang normal. Eksekutif. Berdasi. Berduit dan ada tampang. Ngga taunya, pembunuh berdarah dingin. Lah tiba-tiba aja dia nyerang tetangganya untuk dimutilasi. Gila kan??

Atau ada juga yang tiba-tiba nyeruduk pake truk di pusat perbelanjaan. Belum puas, tu orang turun dari truk, ternyata bawa pisau untuk nusuk orang-orang yang sedang ramai jalan kaki. Entah ada berapa korban jiwa yang jatuh, gara-gara orang gila ini. Saya inget banget, ini berita mencekam jadi headline di mana-mana di awal 2010, menjelang pindahan saya ke Indonesia.

Selain gila, ada juga yang stress. Niat bunuh diri, tapi di keramaian. Dan bikin sejuta orang kesel. Lah gimana ngga. Mereka jatuhin diri di lintasan kereta dan di rush hour pulak !!! Kereta mau ngga mau harus berhenti. Dan penumpang pun harus sabaaaaarrr menunggu sampe kereta bisa jalan lagi. Saya sempet ngalamin kejadian seperti ini, mana lagi perjalanan mau ke bandara pulak. Katanya sih, orang yang mo bunuh diri di tempat strategis kayak rel kereta, ada faktor x-nya. Cerita kumplitnya bisa di liat di sini yaa...

Masalah lain yang sering jadi isu nasional se-Jepang, adalah ijime atau bully. Biasanya terjadi di sekolah-sekolah. Ijime ini jadi masalah yang selaluuuu muncul, karena banyak kasus bunuh diri akibat ijime. Dan sampe sekarang, pemerintah belum bisa ngatasin masalah ini. Sampe-sampe masyarakat Jepang nyalahin Depdiknas-nya, yang dianggap ngga serius nanganin urusan ijime.



Duh, kasian banget kalo merhatiin kasus ijime ini. Dulu pernah liat di tipi, acara dialog tentang ijime. Di situ ada para guru, orangtua, pengamat, dan anak-anak korban ijime. Pas giliran anak korban ijime bicara, beberapa diantaranya sambil sesenggukan, sambil ngusap-ngusap mata. Katanya mereka sering diledek, didorong, dilabrak, dipukul, lokernya dirusak, bekal makanan ditumpahin, sepedanya dibuang ke kolam, buku dicoret-coret dengan tulisan 'Shine' (=mati aja lu!!)....dan lain-lain. Sedih banget. Ngga heran, kalo beberapa korban memilih bunuh diri.....

***

Sebenarnya, masalah-masalah Jepun di atas, banyak juga kok terjadi di negara-negara maju lainnya, termasuk di negeri kita sendiri. Selama belum kiamat, yang namanya kriminalitas, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, PASTI, akan tetap ada. Jadi, mo kita tinggal di negara manapun, tetep akan ada perasaan suka/tidak suka, nyaman/tidak nyaman, dll. Kalo nyari negara yang bener-bener bebaaaass dari semua masalah, itu namanya SURGA...:)

Cuma memang, bedanya, kalo di negeri sendiri, saya pribadi merasa lebih pede. Gimanapun, lebih nyaman tinggal di negeri mayoritas muslim. Makanan halal ada dimana-mana. Sekolah Islam juga tinggal milih. Mesjid tersebar di sana-sini. Azan kedengaran dari manapun.

Ya, lingkungan yang kondusif untuk keislaman anak-anak, itu yang saya cari. Mereka masih kecil, perlu pondasi yang kuat. Kalo pondasi dan bangunan kuat tertanam, insyaa Allah, sehebat apapun goncangan, mereka akan tetap dan tegak dengan imannya. Jadi, ketika mereka besar nanti, saya rela melepaskan mereka ke negeri manapun, minor or mayor. Silakan mengepakkan sayap kemana saja....

Trus moral of storynya apa ??
Jangan sering ngga ada kerjaan ya, nanti jadinya mantengin yutub mulu....hehehe ^-^V
Itu mah salah satu poin doang.

Salah dua poin, ketika bingung untuk memilih, serahin aja sama yang Di Atas. Dia Yang Maha Tahu, apa yang terbaik buat kita. Kita mah sebagai manusia, kudu usaha n ikhtiar sekuat-kuatnya di jalan yang kita pilih. Hasilnya? Udah bukan masuk wilayah kita lagi. Di titik ini, baruuuu boleh tawakkal :)

Kalo kembali ke keputusan saya, ya itu yang cocok untuk keluarga kami. Karena, kalo mo ngebandingin ya, ngga sedikit juga keluarga muslim yang bermukim di negeri minoritas justru berhasil mendidik n mengawal anak-anak mereka sampai remaja. Kumplit dengan identitasnya sebagai muslim/muslimah. Mereka ga malu berhijab. Mereka tetap bisa jalanin kewajiban sebagai muslim. Tetap sahabatan sama temen-temen sekolahnya.

Ini hasil pengamatan saya, yang nge-add anak-anak temen, yang bapaknya asli orang Jepang dan ibunya orang Indonesia. Foto-foto narsis ala abege sering nongol. Di antara temen-temennya yang berpakaian terbuka, si anak muslimah yang cantik ini, tetep pede berjilbab. Ah, seperti melihat mutiara yang berkilap di hamparan pasir di pantai.

Saya yakin banget, di balik foto itu, ada kerja keras dari didikan orang tuanya, yang menancap dengan kuat di kepribadian sang anak.

Bagaimanapun, lain orang, lain kekuatan. Masing-masing orang bisa mengukur sampai batas mana kemampuan dirinya. Dan....yah, saya termasuk yang ...yah, begitulah...hehehe.

Yah, siapapun kita, berdoalah.
Semoga Allah selalu memberikan kita kekuatan sebagai orang tua yang mampu mengantarkan dirinya dan keluarganya ke dalam surga-Nya.....

Aaaaaaaaaaaaamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinn













Antara Orang Tekun dan Orang Jenius

07 July 2014 | comments

Copas dari tulisan teman di fb. Seorang peneliti senior yang sekolah S1 sampe S3 di Jepun. Namanya bu Is Helianti. Tulisan tentang orang tekun sama orang jenius. Silakan disimak tulisan yang singkat tapi padat inih :)

**************************

Douryoku ha Vs Sainou ha

Dalam mengkategorikan orang yang pandai, orang Jepang membaginya dalam 2 kategori. Yaitu, douryoku ha, mereka yang pandai karena akumulasi kerja keras dan kesungguhan, dan sainou ha, mereka yang pandai karena jenius dan mempunyai bakat lahir yang luar biasa.

Dalam tokoh kartun atau mangga kisah Naruto misalnya. Sahabat Naruto, Sasuke Uchiha mewakili sainou ha. Jenius menjadi ninja sejak lahir, dengan sentuhan latihan sedikit saja, dia jadi bintang di kelas ninja. Sedangkan, tokoh utama, Naruto sendiri mewakili douryoku dia bukan ninja pintar, bahkan sering tidak lulus ujian naik kelas ninja. Tetapi, Naruto pantang menyerah. Dia mencoba seribu kali lebih banyak dari Sasuke, dan akhirnya bisa menyamai level Sasuke.

Dalam masyarakat Jepang, sepertinya mereka menyadari, sainou ha hanyalah minoritas. Oleh karena itulah, dalam kamus bahasa mereka ada kata gambaru. Artinya lengkap, bisa kerja keras, terus berusaha, tak menyerah, terus semangat. Secara umum, mereka menghargai atitude sungguh-sungguh dan kerja keras. Orang biasa pun bisa menjadi luar biasa jika berusaha dengan sungguh-sungguh. Bakat menjadi non sense jika dia tak usaha.



Ada pemain baseball profesional Jepang yang berbakat tetapi selalu digambarkan sebagai douryoku ha. Ichiro Suzuki. Sampai saat ini, Ichiro masih bermain sebagai pemain baseball profesional di Amerika. Di Jepang, Ichiro adalah pemain yang top bgt. Dia relatif tak banyak memukul home run. Tapi pukulannya cerdas mengecoh lawan, dan pantang menyerah mencuri angka ketika berada di base. Kekhasannya dalam bermain baseball tidak hanya diakui di Jepang, tetapi juga di Amerika. Menjadi pemain terbaik dan masuk all stars menjadi langganan baik di Jepang maupun Amerika.

Tetapi Ichiro mencapai itu semua dengan kerja keras. Dia datang latihan beberapa jam lebih cepat dari yang lain, dan menyelesaikan latihan lebih lama dari yang lain. Di Amerika pun, saking fokusnya pada baseball, Bahasa Inggris sangat lambat dikuasainya, sehingga selalu pakai penerjemah ketika diwawancara.

Kita, anak kita, karakter masyarakat kita, harus jadi douryoku ha. Tidak bisa tidak.

*****************************
 gambar dari sini

Tukang Sampah di Jepang

16 June 2014 | comments

Tau ngga sih, kalo tukang sampah di Jepang tuh, termasuk profesi yang dihargai?
Mau tau berapa gajinya? Yap, 8000 dolar per bulan. Kalo konversi ke rupiah kita dengan asumsi 10.000 dolar/rupiah *biar gampang ngaliin gitu loh* berarti 8 juta rupiah sebulan !!!

Wow banget kan?? ^-^V
Jadi inget cerita suami, yang temennya pernah kerja part time jadi tukang sampah di Jepang. Katanya kerjanya enak, ngga capek. Malah ada acara tidur siang lagi, supaya tenaganya bisa full setelah setengah harian bekerja. Pergi ke kantor pake jas rapih, nyampe sana ganti sama seragam kerja yang rapi dan komplit dengan sarung tangan dan masker. Plus gajinya lumayan cukup untuk anak kuliahan.

Baidewei, saya tertarik nulis ini, karena baca status fb di bawah ini :D
Silakan di translate sendiri yak.... kalo saya yang translate ntar salah-salah lagi...maklum belum bersertifikat :p

***************************************
In Japan, employees who clean the trash from the streets are not called "Trashmen". They are called "HEALTH ENGINEERS"!!! Because of this respect, Japan has the world's cleanest streets.

And get this: How much are those Health Engineers paid? It's $8,000 dollars a month! Why? Because by law, there are 3 types of jobs that must get Double Payment, called the 3 D's: Dirty, Dangerous, or Distant!

In Islam, each and every one of us must be a Health Engineer, because our Prophet taught us "Removing harm from the road is a Charity!"



*tulisan dan gambar diambil dari fb Islam For Kids

Ketika Jujur itu Murah....

26 March 2014 | comments

Ya, di sana, di negrinya Doraemon, jujur itu sangat murah. Bisa ditemuin dimana-mana. Contohnya, seperti di status fb salah satu temen saya yang mengutip tulisan temennya. Yang sumbernya dari koran Jepan, Mainichi Shinbun.

In Japan, 3 days ago, an unknown person has put random cash gifts in over 30 mailboxes of Tokyo apartments, totaling 760,000 yen and gift vouchers, and did the same to another area 10 days ago. Guess what the people who received the gifts did?

They went to the police and returned the money! Subhanallah, this reminds me of the time of Omar ibn Abdulaziz when every Muslim house rejected receiving the Zakah because they were grateful for having enough. May Allah guide them, guide us, and make us all grateful! (Source: Mainichi 毎日新聞 22/3/2014)



Aneh? Hehe, sebenarnya bukan aneh. Memang seharusnya begitu. Tapi karena kita, orang Indonesia, yang sering meliat, mengalami, mendengar kasus-kasus kebohongan di sana sini, walhasil berasa, jujur itu di sini kok malah jadi barang mahal.

Saya inget, dulu waktu masih di Jepang, suka banget nonton kartun chibi maruko chan. Salah satu episodenya, tentang maruko yang nemuin uang 1 yen di jalan. Karena bingung mau diapain, akhirnya dia bawa pulang, untuk diamankan sementara sampe ketemu si empunya uang. Ehh, sama si ibunya malah ditegur, karena uang itu -walau hanya 1 yen- harus diserahkan ke polisi. Biar nanti polisi yang mencari tau siapa pemilik uang itu.

Yah, begitulah. Di Jepang, karakter mulia ditanam, bukan hanya di rumah, tapi di sekolah, sampe sosialisasi lewat media-media. Ya buku, film, de el el. Jadi menyeluruh gitu loh. Bukan cuma teori, wacana tanpa ada aplikasinya.

Hmm, berharap someday, di sini jujur jadi barang murah :)




*gambar dari sinih: http://www.thefreshingredient.co.za/honesty-begets-clarity/


Islam? Jepang?

15 February 2014 | comments

Hehe...ini judulnya kok kayak orang bingung. Embeerr....
Saya heran saja, kenapa kok di Jepang malah lebih sering ketemu dengan hal-hal yang sangat Islami, seperti yang ditulis di artikel ini.
Tapi kok nemunya malah di negeri yang mayoritas penduduknya ateis yak?
Ya sudahlah, jadikan hikmah saja....dan pelajaran, supaya kita, as a moslem, bisa benar-benar mengaplikasikan nilai-nilai keIslaman dalam keseharian.
Bukan cuma teori dan disimpan dalam otak saja.

*************************************************************************



Mutiara Islam Dibawa Pergi Bangsa Jepang ?

Ditulis oleh : Zainal Bumi Minang

Banyak orang-orang sukses berasal dari Jepang. Akan tetapi ternyata penyebab majunya mereka sudah diajarkan dalam agama Islam jauh sebelum negara Jepang ada.

Kita bisa berkaca kepada sejarah, di mana belum ada dalam sejarah dunia, yang bisa menguasai sepertiga dunia hanya dalam waktu 30 tahun. Itulah masa para Khalifah Rasyidin. Kaum muslimin sendiri yang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga inilah yang diberitakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegangi ekor-ekor sapi [sibuk berternak, pent], dan menyenangi pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan pada kalian kehinaan, tidak akan mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian”.[HR. Abu Daud dan lain-lainnya dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah No. 11] Berikut kita bahas, bahwa apa yang menjadi penyebab majunya mereka ternyata ada dalam ajaran Islam sejak dahulu.

10 Kunci Bangsa Jepang:

1.Malu#“Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang.

Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pemimpin yang terlibat korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.”‪#‎Malu‬ yang terpuji jelas adalah ajaran Islam. Bahkan jelas dan tegas dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.”[Shahîh: HR.Ibnu Mâjah (no. 4181) dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/13-14) dari Shahabat Anas bin Malik. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 940)]Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,اَلْـحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْـرٍ.“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.”[HR. Bukhari & Muslim]Dalam riwayat Muslim disebutkan,اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.“Malu itu kebaikan seluruhnya.”[HR. Muslim dari Sahabat ‘Imran bin Husain]Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemalu. Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu anhu berkata,كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِـيْ خِدْرِهَا.“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu daripada gadis yang dipingit di kamarnya.”[HR.al-Bukhari (no. 6119]

2.Mandiri# “Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri.

Bahkan seorang anak TK sudah harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Biasanya mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang nantinya akan mereka kembalikan di bulan berikutnya.”‪#‎Anjuran‬ untuk berusaha sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain adalah ajaran agama Islam.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لأَنْ يَأْخُذَ اََحَدُكُمْ اَحْبُلَهُ ثُمَّ يَاْتِى الْجَبَلَ فَيَاْتِىَ بِحُزْمَةٍ مِنْ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِخِ فَيَبِيْعَهَا فَيَكُفَّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ اَعْطَوْهُ اَوْ مَنَعُوْهُ.“Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak”.[HR Bukhari, no. 1471]Demikian juga nabi Dawud, seorang Raja besar, tetapi ia tetap makan dari hasil kerjanya yaitu mengolah besi.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَا اَكَلَ اَحَدٌطَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ اَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِْهِ, وَاِنَّ نَبِيَّّ اللهِ دَاوُدُ عَلَيْهِ السَّلامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِْهِ.“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri, sedang Nabi Daud Alaihissalam juga makan dari hasil usahanya sendiri”.[HR. Bukhari No.1930]

3. Pantang menyerah#“Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah.

Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambah dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo, ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen).Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).”‪#‎Semangat‬ dan pantang menyerah!! Ini adalah ajaran Islam.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaاحرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجزن، وإن أصابك شيء فلا تقل لو أني فعلت لكان كذا وكذا؛ ولكن قل: قدر الله وما شاء فعل، فإن لو تفتح عمل الشيطان“Bersemangatlah kamu terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi kamu, dan mohonlah pertolongan pada Allah dan jangan merasa lemah (pantang menyerah). Dan jika meminpamu sesuatu maka jangan katakan andaikata dulu saya melakukan begini pasti akan begini dan begini, tetapi katakanlah semua adalah takdir dari Allah dan apa yang dikehendakiNya pasti terjadi.”[HR Muslim]Ada tawakkal dalam ajaran Islam, lihat bagaimana motivasi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamagar kita mencontoh burung dalam berusaha, burung tidak tahu pasti di mana ia akan mendapat makanan, akan tetapi yang terpenting bagi burung adalah ia berusaha keluar dan terbang mencari.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”[HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310]“selalu ada Jalan”. ya, ini juga adalah ajaran Islam. Jika kita berusaha dan tawakkal, maka kita akan medapat jalan keluar dari arah yang tidak kita sangka-sangka.Allah Ta’ala berfirman,وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (At-Thalaq: 3)

4.Loyalitas#”Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi.

Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan.”‪#‎Dalam‬ ajaran Islam seorang muslim diajarkan agar mematuhi persyaratan yang telah mereka sepakati. Jika dalam suatu perusahan mereka bekerja, maka mereka harus mematuhi persyaratan perusahaan yaitu harus mencurahkan yang terbaik serta loyal dengan perusahaan teresebut selama tidak melanggar batas syariat.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,المُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوطِهِمْ “Umat Islam berkewajiban untuk senantiasa memenuhi persyaratan mereka.“[Riwayat Abu Dawud, Al Hakim, Al Baihaqy dan oleh Al Albany dinyatakan sebagai hadits shahih]

5.Inovasi#”Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat.

‪#‎Islam‬ juga mengajarkan agar kita mengembangkan Ilmu dan belajar (bukan inovasi dalam urusan agama = bid’ah). Bahkan kedudukan orang yang berilmu tinggi baik. Baik Ilmu dunia maupun akhirat.Allah Ta’ala berfirman,يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)

6. Kerja keras#“Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras.

Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun).Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.”‪#‎Kerja‬ keras juga Ajaran Islam.

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam mengajarkan kita berlindung kepada Allah dari sifat malas,اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِYa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).”[HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]

Bahkan kita harus bersegera dalam kebaikan untuk diri kita.

Allah Ta’ala berfirman,فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan”. (Al-Baqarah: 148)وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Al-Imran:133)

7. Jaga tradisi, menghormati orang tua dan Ibu Rumah Tangga#“Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya.

Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari Anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki, maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.”‪#‎Tentu‬ saja tradisi yang baik yang dilestarikan. Tradisi yang sesuai dengan nilai luhur dan ajaran Islam. Ajaran Islam juga melertarikan tradisi yang baik. Sebagaimana tradisi orang Arab Jahiliyah yang memuliakan tamu, menepati janji dan sumpah walaupun sumpah itu berat sekali. Bahkan adat/tradisi bisa dijadikan patokan hukum dalam ajaran Islam. Sebagaimana kaidah fiqhiyah.العادة مجكمة“Adat/tradisi dapat dijadikan patokan hukum”Syaikh Doktor Muhammad Al-Burnu Hafizahullah menjelaskan makna kaidah ini, “Bahwasanya adat manusia jika tidak menyelisihi syari’at adalah hujjah dan dalil, wajib beramal dengan konsekuensinya karena adat dapat dijadikan hukum”.Mengenai perempuan yang sudah menikah dan tidak bekerja (IRT), ini juga ajaran utama agama Islam (Ibu rumah tangga bukan pekerjaan yang sepele dan hina, akan tetapi adalah sebuah kehormatan dan butuh pengorbanan yang akan melahirkan dan mendidik generasi terbaik).لا تمنعوا نساءكم المساجد وبيوتهن خير لهن“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian pergi ke masjid-masjid, dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”[14] Mengenai menghormati orang tua. Jelas ini ajaran Islam. Bahkan digandengkan dengan ridha Allah.Allah Ta’ala berfirman:وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya danhendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Israa’ : 23-24)

8.Budaya baca#“Jangan kaget kalau Anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran.

Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca”‪#‎Ayat‬ yang pertama kali turun adalah perintah membaca. Ini adalah ajaran Islam.Alla Ta’ala berfirman,اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (Al-Alaq: 1) Begitupula jika kita membaca teladan para ulama, misalnya syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah yang membaca setiap hari 12 jam. Begitu juga ulama yang lain, ada yang membaca sambil berjalan, hingga ia terperosok dalam lubang. Ada yang membaca sampai ia tertidur dengan buku di atas wajahnya.

9. Hidup hemat#“Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian.

Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan.

Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, mungkin kita sedikit heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30, dan ternyata sebelum tutup itu pihak supermarket memotong harga hingga setengahnya.”‪#‎jelas‬ ini ajaran islam, hemat dan berusaha qona’ah.

Allah Ta’ala berfirman,وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (hartanya), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan: 67)

10.Kerjasama kelompok#”Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik.

Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut.Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, namun 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”.”#Anjuran untuk bekerja sama adalah ajaran Islam. Saling membantu dalam kebaikan dan pahala.

Allah Ta’ala berfirman,{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ} [المائدة: 2]“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Qs. Al Maidah: 2.)Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah menafsirkan,{وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى} أي: ليعن بعضكم بعضا على البر. وهو: اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه، من الأعمال الظاهرة والباطنة، من حقوق الله وحقوق الآدميين.“Hendaknya sebagian kalian menolong sebagian yang lain dalam al birr, dan ia adalah sebuah kata yang mencakup setiap apa yang dicintai oleh Allah dan diridha-Nya berupa amalan-amalan yang lahir dan batin dari hak-hak Allah dan manusia.“[1]
Dan Allah memerintah kita agar bersatu dan bekerja sama,
Allah Ta’ala berfirman,وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ“Dan berpeganglah kalian dengan tali Allah seluruhnya, dan jangan bercerai-berai” (Ali ’Imran : 103)

Demikian, semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.



************************


gambar dari sini

Ujian=stress

15 December 2012 | comments (2)


 "Hhhhh....enaknya kalau sekolah di Jepang. Ngga perlu ada ujian."
Tiba-tiba si sulung mengeluh, di suatu pagi, dalam perjalanan menuju sekolahnya.
Tumben, pikir saya. Karena selama ini, setelah dua tahun sekolah di Indonesia, dia kelihatan enjoy saja. Paling mengeluhnya ngga jauh-jauh, dari soal kebersihan sampai kebiasaan teman-temannya yang dianggap aneh dari sudut pandang dia, yang lahir dan besar di Jepang.

Saya pikir, mungkin dia stress, karena sejak duduk di kelas 6, yang namanya belajar, benar-benar full. Lah, emangnya kemarin ngga belajar? Ya belajar sih, tapi di sekolahnya dia yang semi sekolah alam, anak kelas 1-5 lumayan santai belajarnya, duduknya pun lesehan. Tapi khusus kelas 6, duduk harus di kursi, --biar kesannya serius-- dan jumlah pelajaran tambahan pun diperbanyak. Ulangan harian jadi santapan rutin. Ini saja, menjelang UAS, anak-anak dah dijejalin sama UH selama seminggu.

Hm, kebayang deh, maboknya ni anak. Mana di rumah, masih disuruh belajar lagi sama emaknya. *emak singa nih*. Yaaa, daripada dia hanya main game atau nonton tivi, kan mendingan belajar,...
Kasian juga sih sebenarnya.

Jadi inget lagi, masa-masa tu anak masuk sekolah SD di Jepang. Dari kelas 1 sampai 3, dia merasakan suasana yang menyenangkan. Secara di sana, anak-anak ngga dicecokin sama pelajaran-pelajaran yang ngga perlu. Karena kebanyakan yang dipelajari adalah skill dasar terkait moral dan kemandirian, yang tentu saja berguna untuk kehidupan mereka ketika dewasa kelak.

Moral yang diajarkan, seperti menghargai orang lain, mengutamakan kepentingan umum, menjaga lingkungan, dll. Hal ini bisa dilihat dari kebiasaan orang Jepang dari anak usia SD sampai dewasa, mereka sudah terbiasa dengan budaya disiplin, menjaga kebersihan, mengantri, tertib berlalulintas, dll.

Contoh nyata, bisa kita lihat di kejadian tsunami, Maret 2011 yang lalu. Seluruh dunia bahkan terkagum-kagum, dengan masyarakat Jepang, yang dalam kondisi sulit sekalipun, masih bisa tertib dan tidak egois. Lihat saja, tidak ada toko yang dijarah, tidak ada pencurian, tidak ada saling sikut berebut bantuan. Semua mengutamakan kepentingan bersama.

Mandiri, karena selama sekolah, mereka harus mengerjakan sendiri, pekerjaan bebersih, bebenah dan beberes. Mereka bergantian menjadi petugas yang membagikan makanan katering di masing-masing kelas. Mengatur meja, menata piring dan gelas, sampai merapikannya kembali. Mereka juga yang  menyiapkan perlengkapan belajar di kelas, memastikan lampu dan peralatan listrik dalam kondisi mati ketika meninggalkan kelas. Mereka juga yang bergiliran membersihkan wc sekolah.

Mata pelajaran di SD Jepang juga sedikit. Yang utama: Matematika (sansuu), Bahasa (kokugo), Sains (riika), dan Ilmu Sosial (syakai). Selebihnya ada Musik (onggaku), Olahraga (taiiku) dan Seni Menulis Kanji (shosya). Ujian sih tetap ada, tapi bukan UTS atau UAS, yang ada cuma semacam ulangan harian. Yang jelas, ngga ada istilah anak SD di Jepang stress karena pelajaran :D

Kapan-kapan saya tulis lagi deh, tentang sekolah di Jepang. Banyak banget yang bisa dishare :)
Saya berpikir, ngga heran Jepang bisa maju. Karena sejak dini, mereka sudah diajarkan dan dibiasakan untuk memiliki good attitude.

Kembali ke dialog saya di atas.
Saya cuma bisa jawab..
"Ya sudahlah, itukan dulu waktu kamu masih di Jepang. Sekarang, shoganai (mau ga mau), kamu harus ngikutin ritme sekolah di Indonesia. Yang jelas, Mama ngga nuntut kamu untuk juara, or punya nilai tinggi. Yang penting kamu usaha. Apapun hasilnya. Sabar ya sayang.."

Saya dan suami memang berprinsip, kemampuan akademik bukan penentu kesuksesan. Yang penting adalah, kemampuan mengenal diri sendiri, kemampuan berinteraksi dengan orang lain dan yang terutama kemampuan mengaplikasikan nilai-nilai spiritual yang diyakini. Kalau ini sudah dipegang dan dipahami dengan benar, saya yakin, manusia akan sukses bukan cuma di dunia tapi di akhirat nanti. Insya Allah.


Hebatkah Jepang? (2)

05 December 2012 | comments


 Di Jepang, kereta jarang sekali ada keterlambatan. Kereta datang dan pergi persis seperti waktu yang tertera di jadwalnya. Biasanya kalau ada keterlambatan, orang pasti menyangka penyebabnya adalah insiden bunuh diri. Dan otomatis, penumpang kereta bakal nggerundel minimal dalam hati, kenapa pula mesti ada insiden seperti itu, yang mengacaukan aktifitas orang banyak. Saya pun pernah mengalami kejadian ini.

Ceritanya waktu itu, kami sekeluarga mau menuju ke airport Narita, karena pagi-pagi pesawat akan take-off menuju Indonesia. Waktu tempuh ke airport, sekitar 2,5 jam. Entah kenapa, hari itu kita pede saja memilih naik kereta yang jadwalnya mepet dengan jadwal boarding. Biasanya sih, kita naik kereta, dengan jadwal yang lebih awal, supaya pas nyampe di airport, kita masih bisa santai-santai. Ternyata benar deh, kejadian. Di tengah perjalanan, kereta tiba-tiba berhenti, karena ada orang stress --yang niat bunuh diri-- sedang berlari-lari di jalur kereta karena dikejar petugas yang sudah duluan mergokin niat jeleknya itu.  Duh, kami panik luar biasa. Syukurnya, kami bisa sampai di narita dengan waktu yang sangaaaaaatt mepet. Bayangkan, semua penumpang sudah masuk. Tinggal saya dan si kecil yang tertinggal, Dan untungnya pesawat masih mau menunggu. Tapi benar-benar saya dan si kecil harus lari marathon menyusuri loket-loket, dan dibolehkan melewati pintu khusus awak pesawat :D Sungguh pengalaman tak terlupakan. Kisah kumplitnya bisa dibaca di sini.

Selain tingginya angka bunuh diri, Jepang juga punya catatan dalam masalah kriminal, terutama kasus pembunuhan. Di negara lain, atau di Indonesia, pembunuhan sering terjadi karena masalah ekonomi. Tapi di Jepang, siapa saja bisa jadi pembunuh. Karena penyebabnya, tidak lain dan tidak bukan adalah stress.

Seorang ibu rumah tangga ditemukan tewas dengan luka tusukan, setelah membukakan pintu untuk orang yang tidak dikenal. Wanita muda dimutilasi oleh tetangganya sendiri, seorang pria eksekutif yang dikenal ramah. Seorang pria tiba-tiba menusuk sejumlah orang yang sedang berlalu lalang, di kawasan elektronik ternama di Tokyo. Sebuah truk besar tiba-tiba menerobos ke jalur khusus pejalan kaki dan menabrak sekian orang di jalur tersebut.

Itulah sejumlah kasus, yang pernah saya lihat beritanya di tv.  Adapun peristiwa perampokan, pencurian, ataupun pemerkosaan, dari pengamatan saya, sangatlah sedikit. Dan kalaupun ada, jarang sekali ditemukan korban jiwa. Karena kriminalitas jenis ini, sepertinya sedikit sekali peminatnya. Maklum, di Jepang, hukum amat sangat ditegakkan dan tanpa pandang bulu. Walhasil, sedikit sekali orang yang "dengan sadar", mau melakukan tindakan kriminal. Kecuali orang yang benar-benar kondisinya sedang "tidak sadar" atau stress super berat.

Nah, justru di situlah sisi yang menyeramkan dari kehidupan di Jepang. Ketika anda sedang berjalan-jalan di pusat pertokoan, atau ketika anda sedang di rumah, tiba-tiba seorang pembunuh bisa saja muncul di hadapan anda. Karena anda tidak mengetahui dan sulit membedakan secara kasat mata, mana orang yang sedang stress, mana yang tidak.

Lantas,  kenapa orang Jepang bisa se-stress itu sampai sering memilih untuk bunuh diri?
Dalam satu seminar Islam di mesjid Turki, seorang profesor asal Jepang yang memiliki interest tinggi terhadap Islam, mengatakan satu hal. Masyarakat Jepang sering memilih mengakhiri kehidupannya dengan bunuh diri. Karena, mereka tidak memiliki tempat untuk menyandarkan diri. Mereka tidak memiliki sesuatu yang bisa diharapkan untuk menyelesaikan masalah mereka. Atau intinya, karena mereka tidak percaya adanya Tuhan.


Hebatkah Jepang? (1)

03 December 2012 | comments (1)



Ya, Jepang memang hebat. Seluruh dunia mengakuinya. Dari sisi teknologi, nyaris sulit mencari negara yang bisa menandinginya. Teknologi Jepang menyentuh hampir seluruh bidang kehidupan manusia. Sampai yang sepele, yaitu urusan toilet. Hal yang sangat biasa di Jepang, toiletnya menggunakan mesin otomatis, untuk urusan bersih-bersih bagian bawah tubuh. Dan toilet canggih seperti ini, ada dimana-mana, di apartemen tempat saya tinggal, perkantoran, rumah sakit, dan pertokoan. Toilet seperti ini, sering muncul di liputan tv asing, yang belakangan saya tonton setelah pindah ke Ina. Tapi maaf, kali ini, saya bukan bercerita, mengenai kehebatan teknologi per-toilet-an di Jepang. Nanti deh, kalau sempat, saya tulis edisi khusus tentang toilet ini. (maklum, pengunjung setia toilet ^_^)

Saya, mungkin juga sebagian besar kita, sangat kagum dengan negara satu ini. Apalagi buat orang yang sudah pernah kesana, atau menetap, yang terkenang pasti semua sisi baik dari kehidupan mereka. Dan akhirnya, muncul sindrom berupa sikap membanding-bandingkan dengan negara sendiri.

Saya pun terkena sindrom ini. (coba deh baca tulisan-tulisan saya, terutama masa-masa dimana saya baru hijrah ke Ina). Untuk mengimbanginya, saya selalu menekankan ke diri saya untuk tidak subjektif. Bagaimanapun, Jepang tidak selalu hebat. Toh tidak ada yang sempurna di dunia ini. Dibalik kehebatannya, tetap tersimpan sisi-sisi gelap. Contoh nyata yang sering muncul di berita, adalah tingginya angka bunuh diri di Jepang. Salah satunya disebabkan oleh kasus ijime, atau bullying, di sekolah-sekolah. Yang sepertinya hampir setiap tahun, selalu menjadi isu utama di kalangan orangtua, guru, dan anak-anak bahkan pemerintah dikabarkan ikut turun tangan, saking sulitnya menghilangkan tradisi satu ini.

Kalau di Indonesia, mungkin seperti kasus tawuran antar pelajar ya. Bedanya, di Jepang, anak korban bullying yang membunuh dirinya sendiri. Kalau di Ina, korbannya ya karena dibunuh anak lain.
Selain karena ijime, penyebab lainnya adalah stress. Yang aneh dan lucu, rata-rata orang Jepang memilih bunuh diri di tempat-tempat umum. Yang paling menjadi tempat favorit, adalah rel kereta. Terutama di jam-jam sibuk. Semakin strategis rute kereta, maka semakin favoritlah tempat itu. Contohnya, Chuo Line, kereta dengan rute yang melewati kawasan pusat Tokyo. Jalur satu ini termasuk top rate di kalangan pebunuh diri.

Imbasnya, ketika ada orang yang nekat merelakan tubuhnya dilindas, maka kereta akan berhenti mendadak, dan walhasil, seluruh rute perjalanan di jalur tersebut menjadi terganggu. Ya, karena petugas kereta, harus membersihkan, ehm, sisa-sisa jasad yang menempel di rel ataupun di badan kereta. Iih, ngeri.
Untung saya belum pernah melihat langsung kejadian itu. Beda dengan teman saya yang pernah melihat dengan mata kepala sendiri, peristiwa menyeramkan itu. Yang akhirnya, membuat dia menjadi trauma setiap naik kereta.



September 1999

02 March 2010 | comments (2)

"Jangan lupa ya, kalau dah sampai Narita, langsung telepon ke rumah."
Begitu pesan si Mama saat melepaskan saya, yang akan terbang ke Jepang di akhir September 1999. Ntah kenapa, saat meninggalkan Mama, Papa, abang dan adik saya, tidak ada perasaan sedih sama sekali. Bahkan, tidak ada airmata yang mengalir setetes pun ! Duh, ngga sensi banget nih. Padahal ini kali pertama saya harus berpisah jauh dari mereka.

Apa karena masa-masa itu perasaan dan pikiran saya sedang dipenuhi gejolak pengantin baru ya...(iiih, sinetron amat sih). Bukan...bukan yang berbau parno, tapi maksud saya, gejolak emosi tentang petualangan hidup seperti apa yang akan saya hadapi sebagai seorang isteri dan seorang pendatang baru di negeri antah berantah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Sesampainya di Narita, semua berjalan lancar. Saya sempat terbengong-bengong melihat bandara yang begitu luas, bersih dan serba teratur. Ah, akhirnya mendarat juga saya di sini, di negerinya Oshin.
Lepas dari pintu keluar, seorang lelaki dengan mata kecil, senyum imut dan raut muka yang berseri-seri, tersenyum, menyambut saya. Saya pun tersenyum penuh rindu dan rasa malu ...(biasssaaa, episode pengantin baru desu, masih penuh dengan bunga-bunga kayak di pilem-pilem :D)

Ngga berapa lama setelah prosesi kangen-kangenan selesai, saya minta suami untuk menelepon si mama sesuai dengan pesan beliau. Ngga nyangka deh, pas nelpon, dan saya cerita kalau saya Alhamdulillah dah sampai dengan selamat, si mama di seberang sana, menyebut Alhamdulillah. Setelah itu cuma terdengar senggukan-senggukan kecil, karena si mama menangis terus. Duh mama.
Saya bilang ke beliau, supaya jangan nangis terus, insya Allah saya akan baik-baik saja selama di sini. (yang herannya selama menelepon, saya ngga ada airmata yang keluar loh. ck..ck..ck, kenapa saya bisa mati rasa kayak gini ya? ^-^)

Selama di Narita, ada satu pemandangan aneh yang terlihat di mata saya. Ketika menggunakan eskalator, semua orang berada di posisi kiri, alias merapat ke bagian kiri eskalator. Jadinya yang sebelah kanan selalu kosong. Ternyata bagian kanan ini, dikhususkan untuk orang-orang yang berjalan menaiki/menuruni eskalator. Pantesan, tadi saya sempat ditegur suami, saat saya dengan cueknya naik eskalator di posisi kanan.

Di Narita, saya juga berjumpa dengan orang Jepang yang berpenampilan unik. Rambut dibuat nge-punk tajam ke atas semua dengan warna menyolok, persis seperti penyanyi rock n roll.
Selainnya, orang-orang dengan penampilan rapi, dan padanan pakaian yang pas berwarna gelap. Cocok dengan kulit mereka yang berwarna terang. Rata-rata bermata sipit.

Ada pemandangan aneh lagi yang baru saya lihat. Saat kereta listrik datang, calon penumpang berbaris dan mengantri dengan teratur di pintu kereta. Menunggu penumpang dari dalam kereta turun, Setelah itu baru mereka menaiki kereta. Tentu saja tanpa adegan dorong mendorong atau rebutan kursi.

Welcome to Japan, Rina. Seru hati saya.
Dalam perjalanan dengan kereta listrik menuju rumah yang berjarak kurang lebih 3 jam, saya sempat termenung, memikirkan petualangan seperti apa yang akan saya alami.
Hidup jauh dari orangtua dan lingkungan yang membesarkan saya.
Hidup bersama seorang pria yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya.
Hidup di negeri orang dengan bahasa aneh dan tulisan yang serba keriting.......

Menghitung Minggu

28 February 2010 | comments (2)


Insya Allah besok sudah tanggal 1 Maret. Dan insya Allah juga, tanggal 1 bulan berikutnya, saya sudah mendarat di tanah air. Memulai hidup baru. Setelah 10 tahun sebelumnya, menghabiskan hari demi hari di negeri sakura ini.

Hiks, mulai mellow nih.
Namanya juga pertemuan, pasti ada perpisahan. Dan pastinya lagi, banyak kenangan yang tertinggal selama menjalani hidup di Jepang.
Apalagi justru di Jepang inilah, pengalaman serba "pertama" saya alami.

Pertama kali pergi dan tinggal di luar negeri.
Pertama kali merasakan jadi seorang isteri.
Pertama kali melahirkan dan menjadi ibu.
Pertama kali nganterin anak ke dokter tanpa perlu ngeluarin duit.
Pertama kali bekerja full dalam rumah.
Pertama kali bertemu dan berteman dengan orang asing dari berbagai negara.
Pertama kali makan sushi dan tempura.
Pertama kali tahu nama-nama bumbu dapur.
Pertama kali naik kereta dan bus yang selalu tepat waktu.
Pertama kali merasakan jadi konsumen yang dilayanin seperti raja.
Pertama kali melihat salju.
Pertama kali merasakan upacara masuk sekolahnya anak.
Pertama kali belanja macam-macam dengan naik sepeda.
Pertama kali beli barang tapi bisa dikembaliin ke tokonya karena ternyata barangnya dirasa ngga perlu.
Pertama kali punya handphone.
Pertama kali membuang sampah pake dipisah-pisahin mana yang terbakar dan ngga terbakar dan dibungkus dengan rapi.
Pertama kali kehilangan dompet di taman tapi dompetnya tetap utuh dan tidak bergeser sedikitpun beberapa jam saat ditemukan di kursi taman.
Pertama kali mecahin gelas di toko tapi ngga disuruh ngganti alias ngga bayar.
Pertama kali melihat bunga sakura.
Pertama kali belanja di supermarket tapi belanjaannya disuruh bungkus sendiri.
Pertama kali melihat orang berjas ke kantor naik sepeda...hehehe

Wah, banyak banget edisi "pertama"nya yak.
Sebenarnya masih banyak lagi sih.....tapi ntar deh ditulisnya.
Walaupun banyak juga yang malu-maluin....hehe

(to be continued ^-^)








Salju....

12 February 2010 | comments (6)



Berapa kali saya sempat melihat salju?
Kalau dihitung-hitung, mungkin pake jari-jari dari satu tangan saja sudah cukup.
Maklum, Tokyo tergolong kota yang langka tersiram salju.

Kali pertama saya melihat salju, di awal tahun 2000. Waktu itu belum genap enam bulan saya menghuni sebuah rumah di Kawasaki, wilayah yang bersebelahan dengan Tokyo. Telepon berdering-dering berulang kali. Dari suami. Selanjutnya telepon berdering lagi dari teman saya. Semua mengabarkan hal yang sama. Ada salju turun dengan lebat di luar sana.
Huaa, saya senang sekali. Cepat saya sambar coat dan membuka jendela. Butiran-butiran halus berwarna putih sedang turun dengan derasnya. Secepat kilat saya pergi ke dapur mengambil baskom, dan segera melesat keluar. Saya ambil beberapa kepal salju. Dan saya masukkan ke dalam baskom, sambil sorak-sorak kegirangan. Hihi. Norak sekali. Yah,  namanya pertama kali melihat salju secara live, jadinya kalap

Kali kedua saya lupa tahun berapa. Mungkin tahun 2003. Kali ini di kota Hino. Daerah di pinggiran Tokyo. Waktu itu anak saya sudah lahir dan berumur 3 tahun. Wow, indah banget. Itu yg namanya jalan, nyaris ngga keliatan lagi, kecuali bagian yang dilewati ban mobil. Atap-atap dan halaman rumah seperti tertutup hamparan permadani putih. Alhamdulillah, saya masih sempet foto dari teras rumah di lantai 3. Fotonya yang di atas itu loh.

Kali ketiga sekitar awal tahun 2005. Masih di lokasi yang sama. Sayangnya ngga selebat yang dulu. Tapi lumayanlah, karena di taman deket rumah, hamparan rumputnya nyaris tertutup dengan salju. Dan si big M masih sempet bikin yuki darma (boneka salju) walopun itu boneka penuh dengan bompel-bompel tanah di sana sini. Hehe. Soalnya saljunya ngga tebel banget, jadi agak-agak kecampur dengan tanah.

Kali keempat mungkin tahun 2007 awal. Lokasinya sudah pindah, bukan di Tokyo, tapi di Saitama. Ya, masih masuk daerah wilayah sekitar Tokyo. Tema saljunya sama. Ngga terlalu lebat bin tebal. Sebenarnya, semakin tebal juga semakin ngga enak. Kitanya jadi susah untuk jalan kaki. Apalagi kalau saljunya belum dibersihin. Wah, alamat bakal kepeleset dengan sukses. Kecuali punya sepatu khusus untuk jalan di salju. Tapi ngapain juga beli. Lah saljunya juga jarang turun Sekalinya turun, paling lama sehari dua hari. Setelah itu, bongkahan salju akan segera berubah menjadi bongkahan es batu.

Itulah sekelumit rekaman kisah manis antara saya dengan salju. Yang ngga tau, kapan bisa terulang lagi. Hiks.

Kemarin saya sempetin nonton tenki yoho (prakiraan cuaca).
Hari kemarin hujan, dan diperkirakan malamnya akan turun salju.
Di tivi diperlihatkan sang reporter sedang memegang payung, sambil sesekali memegang
tetesan hujan yang mungkin nanti malam akan berubah menjadi butiran salju.
Waduh, sampai segitu hebohnya laporan tenki yohonya ^-^
Ternyata, semalam ngga ada salju tuh. Padahal anak saya sudah riang gembira, begitu saya bilangin mungkin besok akan terlihat sisa-sisa salju.

Dibanding wilayah lainnya, Tokyo memang amat sangat langka disinggahi salju. Tidak setiap tahun, salju akan menyapa wilayah ini. Beda banget sama Sapporo, yang benar-benar terbiasa banget melihat pemandangan serba putih. (ini mah, tante Tethy bisa jadi saksi sejarah :D)
Ada enaknya juga sih. Orang Tokyo ngga perlu capek-capek bersihin salju dari atap rumah, mobil, sepeda, trotoar, jalan, de el el.
Ngga enaknya ...ya itu tadi. Jadi rada norak bin heboh kalau melihat salju turun


Bunuh Diri

10 December 2009 | comments

Jumat kemaren, suami pulang terlambat. Bukan, bukan karena lembur. Tapi karena kereta yang ditumpangi terlambat datang karena satu masalah. Ya, masalah apalagi kalau bukan orang bunuh diri di rel kereta.
Secara kereta disini kagak pernah terlambat biar kate itungan detik. Kecuali kalo itu tadi, ada yg bunuh diri.

Duluuuu, waktu saya masih tinggal di pinggiran Tokyo. Saya pernah ngalamin sendiri, betapa menjengkelkannya kalau kereta berhenti di tengah jalan gara2 ada orang yang pengen mati konyol di rel. Ceritanya, kita sekeluarga rencana liburan ke Indonesia. Nah, jarak dari rumah ke Narita, airport utama di Tokyo, sekitar 3 jam dengan kereta. Biasanya kita naik kereta lebih awal, supaya nyampe di bandaranya sekitar 2 jam sebelum boarding. Yah, buat jaga-jaga. Minimal masih ada waktu sejam-an untuk duduk2 nyante.

Tapi karena waktu itu, kitanya agak lelet persiapan berangkat. Walhasil kita naik kereta dengan jadwal yang mepet. Perkiraan nyampe di narita bakal cuma punya waktu 1 jam sebelum take-off. Belum waktu untuk jalan kaki dari stasiun ke tempat check-in, ngambil kopor (disini kopor dikirim ke bandara sehari sebelumnya, spy ga repot bawa2 gembolan dlm kereta), check-in, ngantri and nulis2 di imigrasi....

Ternyata, dalam perjalanan, kereta terpaksa berhenti. Karena ada orang yang lagi lari2 di lintasan rel, dan sedang dalam pengejaran petugas. Haayyyahh....lagi2 orang yang niat mati konyol. Saya dan suami cuma bisa berdoa dalam hati, mudah2an tu orang cepet ketangkap. Kan gawat kalo sampe ketinggalan pesawat. Dalam hati saya rada ngutuk2 juga. Napa sih ni orang, bunuh diri aja kudu ngerepotin orang banyak. Harus di lintasan rel. Kenapa ga kayak di Indonesia gitu loh. Cukup nenggal obat nyamuk, atau nyangkutin leher di tali. Beres kan? Murmer lagi.....

Asal tau aja, orang yg mati bunuh diri di rel kereta itu, bakal morotin duit keluarga yang ditinggal. Karena si keluarga harus membayar kerugian yang ditimbulkan karena tertundanya sekian banyak jadwal keberangkatan kereta. Dan ini jumlahnya besaaaaaar sekaleee.

Tapi syukurnya, selama ini saya belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri (...iyalah, masa mata kepala orang ^-^), orang yang mati kelindes kereta. Teman saya pernah tuh jadi saksi mata. Dan sampai sekarang, dia masih trauma untuk naik kereta. (padahal di tokyo, kereta termasuk transportasi utama loh). Jadinya temen saya itu, ngga mau pergi jauh2. Paling ngiter2 ke tempat yang masih bisa dijangkau dengan sepeda.

Ngomong-ngomong soal bunuh diri, Jepang termasuk negara dengan angka kematian bunuh diri yg tinggi. Bingung juga yak, ini negara makmur, kaya, aman damai bin tentram sejahtera. Apa yang kurang?

Dalam satu seminar Islam di mesjid Turki, seorang profesor asal Jepang yang memiliki interest tinggi terhadap Islam, -sayangnya belum masuk Islam-, mengatakan satu hal. Masyarakat Jepang sering memilih mengakhiri kehidupannya dengan bunuh diri. Karena, mereka tidak memiliki tempat untuk menyandarkan diri. Mereka tidak memiliki sesuatu yang bisa diharapkan untuk menyelesaikan masalah mereka.

Berbeda dengan umat Islam. Mereka punya Tuhan. Tuhan yang bisa dijadikan tempat untuk mengadu. Tuhan yang bisa dijadikan tempat menggantungkan semua harapan. Tiba-tiba saya teringat dengan kawan-kawan saya muslimah Jepang. Wajah mereka berbeda, dengan orang2 yg sering saya temui di jalan. Tidak berlebihan kalau saya katakan wajah mereka lebih teduh dan bersinar. Dengan balutan jilbab dan baju muslimah yang rapi, mereka tampak seperti mutiara. Di tengah-tengah perempuan yang hanya memakai baju alakadarnya. Apalagi di musim panas yang begitu panaaaass.

Jadi inget juga, lagi pengajian bersama mereka. Ketika ada kuesioner tentang apa yang mereka rasakan sebelum dan sesudah berIslam. Rata-rata mereka menulis, merasa sangat bahagia dan sangat nyaman, karena sekarang sudah memiliki Tuhan. Walaupun keluarga dan kawan2 dekat menjauh sejak mereka masuk Islam, tapi tetap terasa aman, karena selalu ada Tuhan bersama diri mereka. Subhanallah.

Kalau seluruh penduduk di negeri sakura ini kembali kepada fitrahnya. Saya yakin, angka bunuh diri pasti menurun dengan drastis. Solusinya memang cuma satu. Kembali kepada Sang Pencipta. Menghadapkan hati dan diri sepenuhnya kepada wajah-Nya. Memeluk kembali rengkuhan Kasih Sayang-Nya.

Mesjid

09 November 2009 | comments (3)


Alhamdulillah, kemarin berkesempatan mengunjungi mesjid di yokohama. Walaupun jaraknya cukup jauh, sekitar 1,5 jam dari rumah, tapi begitu melihat cantik dan luasnya mesjid ini, langsung hilang rasa capeknya...

Sekedar info, mesjid di Jepang pada umumnya bentuknya imut-imut sekalleee...
maklum saja, harga tanah di Jepang benar-benar mencekik banget.

Di Tokyo, setahu saya cuma dua mesjid, yang benar-benar luas bin lapang. Mesjid Hiroo dan mesjid Jami. Oiya, kalau mesjid yokohama yang lagi saya rumpiin ini, letaknya bukan di Tokyo tapi Kanagawa, masih termasuk pinggiran Tokyo....(ya, kayak depok kali ya)

Begitu masuk ke dalam mesjid, ada dua ruangan yang buueesaaar. Satu untuk sholat, satu lagi biasanya dipake untuk pengajian. Di bagian belakang, ada dapur yang luaaaassss. Bisa main bola kali. (bolanya anak balita..hehe) Tapi bener loh, luas euy. Dilengkapi dengan kulkas guueede, microwave, kompor gas versi terbaru, tempat cuci piring yang gede juga. Kayaknya panci segeda gajah juga bisa dicuci di tempat cuci piring itu..hihi. Trus ada tempat masak yang lumayan besar untuk meletakkan kompor-kompor tambahan.
Duh, jadi ngiler euy, pengen masak-masak di mesjid ini...eh bukan masak2, tapi nyicipin masakan :D

Untuk tempat wudhu ada ruangannya. Toiletnya juga mantap euy, pake pencet-pencet. Itu istilah saya untuk toilet yang ada mesin penceboknya. (maap, sulit nyari kata yang rada halus :D)
Ini baru lantai 1 loh ya. Lantai khusus wanita. Saya belum liat yang lantai 2 dan lantai 3nya. Tapi kata suami, yang dulu pernah ke mesjid ini juga, lantai 2 dan 3 juga sangat luaaaaasss.

Mesjid yang baru beberapa tahun berdiri ini, memang belum punya kegiatan rutin khusus, selain untuk sholat berjamaah. Syukurnya, beberapa muslimah dari Indonesia dan Jepang, berinisiatif membuat aktifitas pendidikan Islam untuk anak-anak Indonesia/Jepang secara reguler setiap hari Jumat.

Sayang, akses ke mesjid ini agak susah. Line keretanya pun, termasuk line yang mahal. Belum lagi jarak dari stasiun ke mesjid, cukup jauh, sekitar 20-25 menit jalan kaki. Bisa sih naik bis, tapi jadwal busnya cuma satu jam sekali...hehe.

Tapi tetep saja, berpuluh-pulu jempol saya acungin untuk para pendiri mesjid, yang tidak lain dan tidak bukan adalah para pengusaha muslim dari Pakistan. Tentu butuh biaya yang tidak sedikit untuk membangun mesjid sebesar ini. Mesjid, apalagi di negeri yang muslimnya minoritas, amat sangat dibutuhkan keberadaannya.

Subhanallah, jadi pengen tiap hari ke sini. Ngeramein rumahnya Allah.
Saya hanya berangan-angan, kapan yaaa, bisa bikin mesjid segede ini di pusat Tokyo. Tentu saja bukan cuma mesjid yang fisiknya besar bin luas, tapi juga mesjid yang sehari-harinya padat dan dipenuhi dengan aktifitas keislaman.

Oiya, ada satu lagi mesjid yang baru berdiri. Letaknya di Okachimachi, downtown terkenal di pusat Tokyo. Bentuknya imut. Satu bangunan kecil, berlantai 5. Lantai 1 untuk wudhu laki-laki. Lantai 2 untuk perempuan. Di ruangan khusus perempuan ini, kalau dihitung-hitung bisa menampung 30-an orang. Ada toilet pencet-pencet dan tempat wudhu yang masih mengkilap, saking barunya. Lantai  3 untuk tempat sholat laki-laki dan lantai 4 untuk tempat makan-makan. Lantai 5 untuk kamarnya imam.

Letaknya strategis banget. Hanya 3 menit jalan kaki dari stasiun okachimachi. Downtown satu ini memang selalu full manusia. Barang-barang yang dijual murmer juga banyak dijual bumbu, rempah atau makanan-makanan asing, yang susah ditemuin di supermarket-supermarket biasa. Di sini dari pisang kepok, mpe bawang merah juga ada tuh. Ikan-ikan segar juga murah banget. Harganya jauuuhhh lebih muraaaaaah dari yang dijual di supermarket.

Jadinya enak tuh, habis belanja, trus kalau mau sholat, tinggal pergi ke mesjid deh. Ngga perlu repot nyari-nyari tempat untuk sholat. Alhamdulillah, mesjid yang dibangun oleh seorang pengusaha muslim dari Srilanka ini, benar-benar bagai oase di padang pasir. Mungkin hanya mesjid imut ini, satu-satunya mesjid yang dibangun di daerah downtownnya Tokyo.

Ah, mesjid...mesjid.....benar-benar tempat yang selalu dirindukan. Tempat yang mbikin hati terasa tenaaaaang. Di sini semua makhluk-Nya bisa berkumpul tanpa ada perbedaan. Di sini semua berkumpul dengan satu tujuan, menghadapkan hati dan wajah hanya ke hadapan-Nya.
Mengingat dan menyebut nama-Nya. Meneruskan risalah kebenaran yang dibawa manusia termulia di muka bumi.

Mesjid, I really love you



Setelah satu tahun

30 November 2007 | comments

Dua hari yang lalu, alhamdulillah big M akhirnya menamatkan kelas satu SDnya dengan selamat :D Sebenarnya sih, semua murid kelas satu  ya lulus....hehe

Ngga terasa euy, si big M dah kelas 2. Time flies so fast....

Ada banyak catatan yang terkesan bagi saya, selama setahun big M sekolah...
Yang jelas, saya ngga serepot ketika dia masih TK dulu. Saya ngga perlu antar jemput, atau ikutan sibuk berpartisipasi dalam acara TK....
Yang lainnya??

Pertama, ngiriiiittt ....
Di jepang ini, seluruh sekolah negeri memang gratis. Kita ngga perlu bayar uang sekolah, seperti ketika anak masih di TK. Yang perlu dibayar cuma biaya makan siang yang disediakan setiap hari dan biaya-biaya study tour.
Buku pelajaran tidak dijual bebas, hanya pihak sekolah saja yang menyediakan dan harganya juga tergolong murah. Padahal kalau  melihat isinya.....huaaaa.....menarik sekaleeee....
Sampe kepikiran, ini teh buku pelajaran atau buku cerita ya
Di setiap halaman, pasti ada gambar-gambar dan tulisan dengan warna yang menarik. Entah itu buku pelajaran matematika, keterampilan, musik, sampe kanji, semuanya menarik !!!
Bener-bener beda euy, dengan buku SD saya jaman baheuuulaaa yang semua serba black n white

Kedua, pihak sekolah yang peduli banget sama perkembangan anak muridnya.
Setiap beberapa bulan sekali, selalu ada pertemuan khusus antara walimurid dan ortu, membicarakan perkembangan masing-masing anak, juga apa yang diharapkan ortu dari pihak sekolah terkait dengan pendidikan anaknya.
Di pertemuan ini, sang guru selalu menekankan kepada para ortu, untuk mensupport dan mengexplore lebih dalam anak mereka. Apa kekurangannya, apa kelebihannya, dan jangan lupa untuk selalu memberi pujian terhadap hal-hal baik yang dikerjakan si anak.

Pertemuan ini diadakan di masing-masing kelas. Saya paling senang memperhatikan kondisi ruangan dalam kelas. Dinding-dinding sekeliling ruangan dipenuhi dengan tempelan hasil karya anak-anak, entah berupa tulisan ataupun gambar.

Selain pertemuan dengan guru, juga ada waktu khusus dua bulan or tiga bulan sekali, dimana ortu boleh mengunjungi sekolah di saat jam belajar untuk melihat proses belajar mengajar yang berlangsung di kelas sang anak.

Ketiga, selalu ada pemeriksaan kesehatan rutin.
Dari awal masuk, tiap anak diperiksa secara general. Dan berikut-berikutnya dilanjutkan dengan pemeriksaan khusus. Dari pemeriksaan mata, telinga, gigi, sampe bagian dalam.
Inget banget deh dulu, sering dapet kiriman kertas keterangan pemeriksaan, termasuk diantaranya tube-tube kecil yang dipake utk menyimpan `hasil hajatan anak di toilet'...

Keempat, anak-anak jadi lebih sehat karenaaa....kudu jalan kaki PP dari rumah sampe sekolah.
Di sini ga ada ceritanya, anak SD dianterin sama emak atau epaknya atau pake mobil jemputan. Pokoknya harus jalan kaki...mo hujan-hujanan kek mo panas-panasan kek
Tapi memang lokasi SD yang dimasuki, sudah disesuaikan dengan wilayah masing-masing anak....hm,...apa ya istilahnya.
Jadi, wilayah terjauh...ya sekitar 45 menit jalan kaki sampai sekolah. Dan itupun berjalannya harus berkelompok dengan anak-anak yang tinggal di wilayah berdekatan.
Rute jalan kaki pun dah ditentukan untuk setiap wilayah.
Alhamdulillah, jarak dari rumah ke sekolah si M, masih tergolong dekat. Ya sekitar 10-15 menit jalan kaki dengan kecepatan ala anak2

Jadi inget, minggu-minggu pertama sekolah, si big M dan temen sekelompoknya suka telat nyampe rumah. Saking khawatirnya, saya sampai nelpon ke salah satu ibu yang anaknya satu kelompok pulang dengan big M. (hmm, kalau ga penting banget, saya paling males nelponin orang jepang, takut salah ngomong, maklum level bhs jepangnya masih level isyarat doang )
Trus, kata ibu itu, saya ngga usah khawatir krn anak-anak yg baru sekolah memang begitu, suka lambat karena adaaaa aja yang dikerjain selama perjalanan menuju rumah. Entah untuk istirahat, ngeliatin bunga di halaman orang,  or nangkepin serangga kecil....belum lagi kalau ada pertengkaran di antara mereka....hayaaah...bisa lebih lama lagi deh pulangnya
Kalau istilah ibu lainnya, anak-anak itu tampak luarnya aja SD, padahal jiwanya, masih jiwa TK....

Kelima, anak diajarkan untuk mandiri. Untuk makan siang yang disediakan di sekolah, mereka yang harus menyiapkan loh.
Jadi pihak sekolah hanya menyediakan makanan yang berkuah ataupun lauk dalam panci-panci besar. Beberapa anak ditugaskan untuk menjadi `pelayan` selama seminggu. Mereka menggunakan celemek besar berwarna putih, dan bertugas menata baki-baki dan piring, juga membagikan makanan ke anak-anak lainnya. Sementara anak-anak yang tidak bertugas, mengatur meja-meja kecil mereka, digabungkan, sehingga terbentuk meja yang agak besar. Setelah itu mereka berbaris, membentuk barisan memanjang, mengantri, untuk mengambil makanan. Ck..ck..ck...luar biasa.

Keenam, anak-anak dibiasakan banyak bergerak.
Lihat saja, untuk menuju sekolah saja, mereka harus berjalan kaki. Tidak boleh naik sepeda. Tidak boleh diantar orangtua dengan kendaraan.
Sudah menjadi standar, setiap sekolah di Jepang, harus mempunyai lapangan dan aula besar untuk olahraga. Tiap dua hari sekali, ada pelajaran olahraga. Dan setahun sekali, diadakan pertandingan olahraga, yang dikenal dengan undokai. Untuk undokai ini, mereka latihan berminggu-minggu sebelumnya.
Ngga heran, di sini jarang banget ketemu anak gemuk :D. Rata-rata pada kurus, tapi kurus berisi. Ya, berisi otot ...hehe

Trus apalagi ya??
Oiya, untuk rapor, penilaiannya tidak menggunakan angka. Tapi kalimat2 yang memotivasi. Ngga ada istilah rangking. Saya lupa apa kalimatnya :(

Hm, baru ini yang keingat.
Kalau ada yang baru, nanti saya tulis lagi.
Sebagai kenang2an....ttg per-sekolah-an di Jepang :)









Koleksi Yang Aneh

15 April 2007 | comments (5)

Jumat siang kemarin, jadwal renangnya si M di swimming school dekat rumah. Di sana saya ketemu dengan Kumiko-san, teman saya yang anaknya dulu satu yochien dengan si M. Cukup lama juga ngga ketemuan sama Kumiko, berhubung liburan musim semi, dan juga karena si M dan Kaito-kun, anaknya Kumiko, sejak Senin yang lalu masuk SD yang berbeda.

"Rina, hisashiburi !! Sehat?? Gimana Goji-kun di SD yang baru??"
Si M di sekolahnya memang dipanggil dengan sebutan Goji, nama tengahnya yang seharusnya Ghozi. Tapi karena lafal "Zi" tidak ada dalam perbendaharaan aksara Jepang, jadinya berubah menjadi "Ji".

Si M senang sekali bisa ketemu Kaito. Dalam waktu singkat, mereka sibuk main kejar-kejaran berdua di areal swimming school yang cukup luas itu sambil menunggu jam mulai latihan.

"Kaito....cepat ke sana!"
Teriak Kumiko sambil menunjuk ke arah sensei yang mulai melakukan pemanasan dengan murid-murid renang lainnya.
Dengan cepat si M dan Kaito lari ke tempat murid-murid berkumpul.

"Gigi depan Goji dah copot juga ya..", kata Kumiko.
"Iya, baru beberapa hari yang lalu tuh copotnya."
"Nangis ngga anaknya?"
"Ngga, soalnya dah lama banget goyangnya. Akhirnya copot dengan sendirinya. Padahal saya dah gemes banget pengen nyabutin, tapi dia ngga mau, takut sakit katanya...hehehe."
"Trus giginya kamu apain?"
"Ya saya buang aja di tempat sampah." Jawab saya dengan santainya.
"Haa?? Kamu buang?? Ya ampun, teganya...".
Kumiko menatap saya seakan-akan saya habis melakukan perbuatan yang zholim banget..hihihi.

"Loh, emangnya mo diapain? Kan jijik lagi, udah bentuknya kecil, trus ada darahnya lagi."
jawab saya dengan mimik bingung sambil mikir apa ada yang salah dengan tindakan saya..

"Rina, tau ngga, kalo kebiasaan kami sebagai orang Jepang, biasanya gigi yang copot itu dikumpulkan. Sebelumnya dibersihkan dulu pake air sampai darahnya hilang, dilap sampai kering, trus disimpan di dalam kotak kecil."
Kumiko menjelaskan panjang lebar.

"Giginya Kaito dah ada lima biji loh yang saya simpan di kotak itu."
"Haaah?? Rajin banget !! Trus diapain tuh gigi??", tanya saya cengo bin heran.
"Ya untuk dilihat-lihat atau diamat-amati. Ntar kalo anaknya dah besar, kan bisa jadi kenangan tersendiri."
"O gitu ya...".
"Iya. Malah ada juga kakek-kakek atau neneknenek yang giginya copot, juga disimpan baik-baik."
"Loh, untuk apa??" tanya saya bertambah heran.
"Ya untuk dikumpulin. Dan kalo dah banyak, bisa disatuin dan dijadiin gigi palsunya sendiri.."
"Haaaaa?????", saya terkejut asli.
"Ha..ha..ha..ha...ha....", Kumiko tertawa lebar melihat saya.
Jadinya kami tertawa bareng. Untuk yang terakhir ini, saya tidak tahu, apakah Kumiko serius atau bercanda.

Saya jadi teringat kejadian enam tahun yang lalu, ketika si M baru lahir. Saat pulang dari rumah sakit, kami mendapatkan hadiah dari rumah sakit dan sponsor, termasuk didalamnya kotak kayu berukuran mungil. Di bagian atas kotak itu, tertulis nama lengkap si M. Setelah saya tanyakan ke suami, ternyata dalam kotak itu tersimpan ari-ari alias tali pusar si M !!

Waduh, saya jelas tidak berani melihat dan memang tidak ada niat sama sekali untuk mengoleksinya. Sampai sekarang, saya lupa, apakah kotak itu sudah saya buang atau tidak. Yang jelas di laci-laci rumah, kotak itu sudah tidak ada lagi.

Hm, saya baru tahu, ternyata orang Jepang terbiasa mengoleksi yang aneh-aneh. Dari pusar bayi, sampai gigi yang copot. Saya penasaran, apakah mereka juga akan mengoleksi bagian tubuh mereka yang lain, kalau misalnya satu saat terjadi kecelakaan yang menimpa?
Saya tidak berani membayangkan misalnya, ada jari yang terputus karena luka tersimpan dengan manisnya dalam kotak mungil  atau ginjal hasil operasi yang disimpan dalam toples cantik berisi air pengawet.
Siapa tahu satu saat nanti jadi kenang-kenangan, dan bisa dilihat-lihat kapan saja bila diinginkan.

Hiiiiiiiiiiiyyy.......



 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Kehidupan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger