Showing posts with label copas. Show all posts
Showing posts with label copas. Show all posts

RAPUH

07 December 2022 | comments

 


Ada suatu waktu dimana keyakinan kita mulai melemah,
harapan pada-Nya kian pudar,
tersebab ujian yang datang begitu berat, membuat kita mulai mempertanyakan keyakinan kita pada-Nya,
Ya Allah mengapa?
Mengapa ini hanya terjadi padaku?

Pertanyaan yang selalu bergemuruh dipikiran, hingga membuat hati kita rapuh, serapuh-rapuhnya.
Tapi, sungguh kawan, kita menyadari,
Kita menyadari betul bahwa
tak ada kesedihan yang selamanya.
Memang tidak dalam waktu dekat.
Bukan dalam waktu dekat.
Tapi, pasti Allah akan ganti dengan yang lebih baik.
…

Ketika kamu telah menyusun rencana sesempurna yang dipikirkan.
Namun, rencana yang telah kamu siapkan dengan sematang mungkin.
Ternyata gagal, tidak sesuai harapan, harapan yang telah kamu mimpikan sejak lama.
Dan saat itu terjadi,
Kamu tahu apa artinya?

Allah sudah punya rencana terbaik,
lebih dari yang kamu mimpikan,
lebih dari yang kamu harapkan.

Hal yang paling spesialnya,
rencana Allah yang tak pernah
terbayangkan di hidup kita terjadi,
layaknya sebuah kejutan spesial
dari Allah untukmu,
atas kesabaranmu selama ini,
atas ketegaranmu,
sebagaimana perjalanan hatimu yang begitu kuat menahan tangis,
hanya ditiap-tiap heningnya malam pipimu basah, mencurahkan segala isi hatimu pada-Nya.

Tak ada keraguan sekecil apapun.
Kamu yakin Allah Maha Kuasa atas segala apa yang ada di langit dan dibumi ini.
Mudah bagi Allah bila berkehendak.
…

Ya Allah, maafkan aku yang dulu juga pernah meragukan rencana-Mu.

Maafkan aku yang selalu bertanya mengapa dan kenapa ini terjadi.

Ya Allah, sungguh aku tak pantas bertanya mengapa pada-Mu,
sedang Engkau Maha mengetahui atas segala apa yang ada dilangit dan dibumi ini.

Engkau Maha Mengetahui apa yang akan terjadi padaku nanti dan sesudahnya.

Ya Allah, kini aku menyadari rencana-Mu sungguh indah, sangat indah Ya Allah.

Sesuatu yang tak terkira dan lama baru kusadari bahwa ini sebuah nikmat.

Ternyata inilah jalan dari-Mu untukku,
Memberiku kesempatan berubah jadi lebih baik.

#unknownauthor
#refleksi
#renunganpagi




JANGAN MENINGGALKAN AMAL

16 May 2022 | comments

 


๐ŸŒœNasihat dari Ust. Nashir Harist., Lc๐ŸŒ›

๐ŸŒณJangan Meninggalkan Amal

Jangan meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripada tidak beramal sama sekali.

Jangan meninggalkan zikir karena ketidakhadiran hati. Kelalaian kita dari zikir lebih buruk daripada kelalaian kita saat berzikir.

Jangan meninggalkan tilawah karena tak tau maknanya. Ketidaktauan makna dalam tilawah masih lebih baik daripada ketidakmauan membaca firman-Nya.

Jangan meninggalkan dakwah karena kecewa. Kesabaran kita bersama orang-orang shalih lebih baik daripada kesenangan kita bersama orang-orang yang tidak shalih.

Jangan meninggalkan amanah karena berat. Beratnya amanah yang kita emban insyaAllah sebanding dengan beratnya timbangan amal yang akan kita dapatkan.

Jangan meninggalkan medan juang karena terluka. Kematian di medan juang lebih baik baik daripada hidup dalam keterlenaan.

Jangan meninggalkan kesantunan karena lingkungan kasar. Santun kita saat dikasari hanya akan menambah kemuliaan dan mengundang simpati-Nya.

"Allahumma mushorrifal quluub shorif quluubana 'ala tho'atik, Yaa muqollibal quluub tsabbit quluubanaa 'alaa diinik,.."

"Ya Allah yg memalingkan hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan pada-Mu, Wahai yg membolak balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.."

#pengingathati
#belajarlebihbaik
#motivasidiri

BELAJAR MENGHARGAI

23 February 2021 | comments

 


Yang tinggal di gunung merindukan pantai.
Yang tinggal di pantai merindukan gunung.

Di musim hujan merindukan musim kemarau.
Di musim kemarau merindukan hujan.

Yang berambut hitam mengagumi yang pirang
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam.

Diam di rumah merindukan bepergian.
Setelah bepergian merindukan rumah.

Ketika masih jadi karyawan ingin jadi pebisnis supaya punya kebebasan waktu.
Begitu jadi pebisnis ingin jadi karyawan, biar tidak pusing.

Waktu tenang mencari keramaian.
Waktu ramai mencari ketenangan.

Saat masih bujangan pengen menikah
Saat sudah menikah pengen jadi bujangan lagi.

Punya anak 1 mendambakan banyak anak
Punya banyak anak mendambakan 1 anak saja.

Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah hanya sebelum dimiliki.
Namun setelah dimiliki tak indah lagi.

Kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada?
Namun mengabaikan apa yang sudah dimiliki tanpa rasa syukur?

Semoga kita menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur dengan anugrah yang sudah kita miliki.

Jangan menutup mata kita, walau hanya dengan daun kecil.
Jangan menutup hati kita, walaupun hanya dengan sebuah pikiran negatif.

Bila hati kita tertutup, tertutuplah semua.

Hargai dan syukuri apa yg ada, karena HIDUP ADALAH ANUGERAH BAGI JIWA-JIWA YANG IKHLAS.

#copas
#unknownauthor
#refleksi
#todaysnote

10 December 2019 | comments



Indonesia, kadang bikin bangga, kadang bikin haru, kadang bikin malu. Yup, tingkah laku warga dan pemerintah negara berflower ini (termasuk yang nulis), yaa...begitulah.
Yang jelas, seburuk apapun kondisi negara +62 ini, I still love it.

Ini ada tulisan menarik, saya dapat di fb. Penulisnya pak Aad. Akun fbnya: Aad.
Selamat menyimak :)

****


BANGSAKU DALAM PUSARAN ANTAR BANGSA

Bis yang kutumpangi baru saja satu jam berangkat dari Bir Ali, tempat miqat ihram, ketika pak supir yang Pakistani tampak marah-marah lewat handphone. Ku tak tahu apa yang ia ributkan... Beberapa kali kata "Andunisi" dia ucapkan...

Aku bertanya pada amir perjalananku : apa gerangan yang ia berangkan ? Jawaban pembimbing Umrahku itu mencengangkanku :

"Pak, jama'ah asal Indonesia itu jadi rebutan di sini. Kita bangsa yang ramah, lebih tertib, mudah diatur dan nggak banyak komplain... Tadi dia marah-marah kepada manajernya karena jarang kebagian mengantar jama'ah Indonesia. Padahal supir lain telah berkali-kali dapat jatah "Andunisi". Dia merasa diperlakukan tak adil..."

Lama aku terdiam... Ku putar kembali ingatan lima hari di Madinah, ketika ada puluhan bangsa berkumpul di Masjid Nabawi setiap kumandang adzan : Pakistan, India, Turki, Bosnia, Chehnya, Mesir, Sudan, Mauritanianya, Indonesia... Ada yang tampak kumuh... Ada yang berserakan di pelataran masjid, dan berantakan... Ada yang melangkahi bahu-bahu dalam shaff tanpa ijin... Ada yang memaksa menyelip di shaff yang sudah padat... Ada yang tak mau tahu akan hak orang lain di Raudhah...

Tapi itu bukan bangsaku... Bangsaku, yang sering aku keluhkan  perangainya di negeri sendiri, adalah mutiara berkilau di negeri orang : akhlaqnya terpuji... Mungkin bangsa Turki adalah pesaing beratnya dalam tertib, disiplin dan teamwork... Nuansa Eropa memang mereka punya, dan tampak lebih well-educated...

Aku memang harus belajar bersyukur tentang bangsaku sendiri. Walau masih banyak hal yang begitu menjengkelkan, tapi harus diakui dan disyukuri bahwa kita telah banyak berubah... Dalam kancah dakwah antar bangsa, ku ingat dulu betapa bangsa ini dianggap pecundang : under-qualified dalam kelayakan keilmuan dan ruhiyyah, kumpulan para du'at muda yang tak hapal juz 30 dan banyak bercanda...

Dalam perkemahan-perkemahan dakwah Internasional, kita seakan diundang lewat wild card, karena tak memiliki syarat minimal. Kita tetap diundang, karena gairah dan manuver dakwahnya luar biasa, walau tetap dengan ciri khasnya : cengengesan... Almarhum ustadz Rahmat Abdullah dengan rendah hati menghibur diri dengan kalimat :

"Kita mungkin dari golongan para pendosa penegak Islam di akhir zaman"

Ya, aku memang pernah mendengar sebuah hadits yang berbunyi : "Akan datang suatu zaman,  di mana Islam akan ditegakkan oleh para pendosa diantara mereka"... Mungkinkah itu bangsaku ?

Tapi bandul zaman berubah... Bangsa becanda dan cengengesan ini, dan masih tetap seperti itu, kini mulai dihormati dan diperhitungkan di kancah dakwah antar bangsa... Sedikit demi sedikit bahkan mulai jadi benchmark... Karena ada kualitas kislaman yang meningkat signifikan... Karena ada ilmu yang semakin dalam... Karena ada akhlaq yang terus membaik...

Lalu apa lagi yang mengindikasikan bahwa bangsa ini makin menunjukkan kepemimpinannya dalam Islam ? Mungkin ini yang paling indikatif : semakin dimusuhi oleh aparat negaranya sendiri, atas tekanan internasional tentunya. Jenggotnya dipermasalahkan... Cadarnya dipermasalahkan... Cingkrangnya dipermasalahkan... Bendera Tauhidnya dipermasalahkan... Mereka melakukan aksi damai dan reuni aksi damai dalam jumlah yang mencengangkan...

Dari Haramain aku membawa optimisme : pelan tapi pasti, bangsaku sedang mengerek bendera peradaban ummat ini, atas izin Allah, sambil tetap cengengesan...

Jeddah, 12 November 2019

Wakil Rakyat Sejati

17 April 2019 | comments

Masih banyak wakil rakyat....yg benar2 merakyat....dlm makna sebenar2nya..

#######

Pak Sunman: "Memberi Berarti Menghormati Diri"

Kalian pernah gak si, ketemu orang yang auto bikin kita ngerasa jadi sampah? Ketemu orang yang bikin kita menyesali diri, hina-dina, "Qoon..selama ini lo ngapain aja siihh?"

Orang-orang spesial itu ku temui waktu syuting segmen Ceritalks @akutanpabatas .

Namanya Sunmanjaya Rukmandis. Seorang anggota DPR RI yang ke kantor naik angkot-KRL-ojek, Bogor-senayan. Wawancara berlangsung pukul 10-11 malam, setelah pak Sunman menyelesaikan 4 ageda. Kunjungan 3 titik reses dengan jarak ratusan kilometer, dan mengisi ceramah di masjid terpecil tentang Isra' Miraj.

Dibenak kami, "pasti bapaknya udah capek. Udah ngantuk. Wawancaranya bakal efektif ga yaa??" Di luar dugaan, bapaknya masih seger buger. Hepi, beberapa kali melontarkan jokes, gak pelit ngasih ilmu, tiap katanya mengandung mutiara-mutiara. Masya Allahh :"")

Mari ku ceritakan, Pak Sunman ini hidup dalam prinsip memberi-memberi-memberi. Mengambil porsi yang sedikit untuk dunianya, dan menginvestasikan sebanyak mungkin untuk akhiratnya. Baginya, Memberi berarti menghormati diri.

Pak Sunman, gak pernah makan di restauran macem K*C, M*D, Pizza H*t, dll karena menurutnya mahal. "Kalau keluar negeri untuk kunker saya suka bawa masakan rumah, biar selalu ingat keluarga." ujar pak Sunman. Ku tertohok, gajiku tak sebanyak Pak Sunman, tapi sering gegayaan nugas di cafe :"(

Bapak ini juga pernah kesal saat tau biaya cukur rambutnya 100 ribu. "Jangan cukur di sana lagi ah. Saya biasa cukur yang 14 ribu. Udahlah rambut kita diambil, bayarnya mahal lagi." kami tertawa.

Rumahnya juga di perkampungan biasa. "Sempet sih nyari rumah di perumahan. Tapi terus mikir lagi, nanti kalau ada saudara-saudara berkunjung, mereka susah masuk ke dalamnya jauh... masjidnya juga jauh."

Pak Sunman pernah ngasih mobil dua kali ke orang yang menurutnya membutuhkan. "Saya kasih aja mobil saya buat dia. Saya ngangkot lagi deh.. hehe" ucapnya santai.

Pertanyaannya nih gais, dengan gaji plus tunjangan anggota DPR RI Rp70-90 juta per bulan, dan gaya hidup Pak Sunman (yang kayaknya masih lebih hedon gue), duitnya dia kemanaaaain?

"Dengan begitu, kita jadi bisa berbagi.." jawabnya begitu tulus.

Tiap Idul Fitri beliau bisa berbagi ke ratusan keluarga, di ratusan desa. Kalau Idul Adha bisa berkurban sampe 70 ekor!!!!

Pusing ga sih mikirin gimana banyaknya pahala bapak ini ๐Ÿ˜‚

Nih orang, bener-bener udah putus ikatannya sama dunia. Gak mikirin rumah, tabungan, mobil, jabatan, gengsi, dia cuma mikirin kesuksesan terbesarnya, "Saat manusia sudah di bawah batu nisan."

Obrolan 60 menit kami yang sangat berharga dengan beliau berakhir. Ia pulang dengan membayar seluruh tagihan makan kami di cafe tersebut, dan menyelipkan lembaran merah di atas meja, "Ini buat ongkos pulang kalian ya.. saya duluan, Assalamualaikum."

8 lembar uang berwarna merah. Dia bersikeras tidak mau dikembalikan.

Malam itu sudah larut. Kami kelelahan. Harusnya usai wawancara kami segera pulang. Tapi tidak, kami semua termenung. Semua diam menyadari betapa lalainya kami selama ini. "Siapa tadi orang yang bersama kita?"

"Sampah! tadi waktu luang kita malah main ludo! gak guna banget dah.." ujar Gilang yang merasa tertampar berulang kali.

Dian menggeleng-gelengkan kepalanya, "Hatinya pasti murni banget deh, gak ada nodanya.."

"Jangan-jangan banyak orang yang kaya dia, cuma gak ketauan ajaa.. yang ikhlas-ikhlas mah emang gak suka eksistensi.."

Aku? menitikkan air mata. Sukses terpecundangi kebaikannya yang terlampau deras.

Pada akhirnya, kami bersyukur Allah beri kesempatan belajar banyak dari Pak Sunman. Bersyukur bisa mengangkat sosok Anggota Legislatif, sekeren beliau ke khalayak publik. Semoga ini jadi usaha kami memasukkan orang-orang baik ke dalam parlemen. Orang soleh, yang kalau Allah beri harta dan jabatan, membuahkan kebaikan yang tak terkira.

Salam hormat padamu, Sunmajaya Rukmandis, Anggota Legislatif Fraksi PKS 2014-2019. Tahun ini beliau nyaleg lagi, pilih pilih lah caleg macem dia ye gaiss..

Sunmanjaya Rukmandis

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10205939147633284&id=1697397704



( written by Farah Qoonita)

10 Juta

16 April 2019 | comments

❤❤ MARI MENABUNG....❤❤



Di grup WA aku, ada yang ngirim gambar ini, nabung tiap minggu selama 1 tahun dengan nominal berbeda tiap minggu dan selama setahun bisa terkumpul 10 juta (pake 52 minggu? Bukannya setahun lebih dari 52 minggu?, iya, karena  sisanya dipake buat jalan-jalan atau liburan atau umroh jadi nggak nabung selama jalan-jalan itu)

๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ๐Ÿ’ฆ

Pelajaran cara menabung kayak gini, pernah diajarkan oleh seorang konsultan keuangan rumah tangga padaku dulu, saat itu kami bekerja sama dalam sebuah acara.

Jadi, setiap minggu pilih salah satu angka, coret, lalu tabung uang sejumlah angka tersebut. Nah nominal yang dipilih sesuaikan dengan kondisi di minggu tersebut. Misal awal bulan banyak bayaran ini itu seperti listrik, uang keamanan, uang sekolah anak, dll maka pilihlah nominal yang kecil.

Minggu yang gak ada kondangan, gak ada bayaran apa2 hanya rutinitas aja, maka pilihlah angka yang besar. Nominal  terbesar itu bisa dipilih saat dapat bonus, atau saat dapat THR, atau saat jualan lagi laku banget banyak pesanan, Jika disiplin, maka selama 1 tahun berarti telah menabung 10 juta.

Untuk yang pendapatannya lebih banyak, dan ingin menargetkan menabung 20 juta setahun misalnya, maka angka-angka di gambar ini tetap bisa dipakai tapi kalikan dua.

Ini bermanfaat banget buat yang punya penghasilan lumayan tapi kesulitan menabung. Malah selama ini suka ngutang karena manajemen keuangan yang berantakan. Silakan disiplin memulai menabung dengan cara ini.

Udah banyak yang berhasil. Aku ajarkan ini pada tim ku dulu, dari sini mereka jadi bisa beli motor cash tanpa riba, bisa mudik saat lebaran, bisa jalan2 menjelajah bumi Allah tanpa gesek ngutang ke credit card, bahkan bisa umroh. Alhamdulillah.

Tapi, diatas segalanya...jangan lupa, tabungan sebenarnya adalah apa yang kita berikan pada mesjid, pada rumah quran, pada yatim dan dhuafa, pada anak-anak yang kita bantu uang sekolahnya...seimbanglah...menabung untuk masa depan di dunia sekaligus untuk akhirat.

Semoga kita bisa menabung untuk dunia akhirat kita. Aamiin

By Fitra Wilis Masril

*menulis caraku menasehati diri sendiri

Pendidikan (Negara) Kita

20 March 2019 | comments






Postingan di fb, lima tahun lalu...
Dan masih sangat relevan ๐Ÿ˜Ž

******************************

DALAM CENGKERAMAN ILMU DASAR

(RHENALD KASALI, Guru Besar Universitas Indonesia)

SETIAP bangsa punya pilihan: melahirkan atlet bermedali emas atau perenang yang tak pernah menyentuh air; melahirkan sarjana yang tahu ke mana langkah dibawa atau sekadar membawa ijazah.

Tak termungkiri, negeri ini butuh lebih banyak orang yang bisa membuat ketimbang pandai berdebat, bertindak dalam karya ketimbang hanya protes.Tak banyak yang menyadari universitas hebat bukan hanya diukur dari jumlah publikasinya, melainkan juga dari jumlah paten dan impak pada komunitasnya.

Pendidikan kita masih berkutat di seputar kertas. Kita baru mahir memindahkan pengetahuan dari buku teks ke lembar demi lembar kertas: makalah, karya ilmiah, skripsi, atau tesis. Kita belum menanamnya dalam tindakan pada memori otot, myelin.

Seorang mahasiswa dapat nilai A dalam kelas pemasaran bukan karena dia bisa menerapkan ilmu itu ke dalam hidupnya, minimal memasarkan dirinya, atau memasarkan produk orang lain, melainkan karena ia sudah bisa menulis ulang isi buku ke lembar-lembar kertas ujian.

Pendidikan tinggi sebenarnya bisa dibagi dalam dua kelompok besar: dasar dan terapan. Pendidikan dasar itulah yang kita kenal sejak di SD: matematika, kimia, biologi, fisika, ekonomi, sosiologi, dan psikologi. Terapannya bisa berkembang menjadi ilmu kedokteran, teknik sipil, ilmu komputer, manajemen, desain, perhotelan, dan seterusnya.

Kedua ilmu itu sangat dibutuhkan bangsa memajukan peradaban. Namun, investasi untuk membangun ilmu dasar amat besar, membutuhkan tradisi riset dan sumber daya manusia bermutu tinggi. Siapa menguasai ilmu dasar ibaratnya mampu menguasai dunia dengan universitas yang menarik ilmuwan terbaik lintas bangsa. Negara-negara yang berambisi menguasainya punya kebijakan imigrasi yang khas dan didukung pusat keuangan dan inovasi progresif.

Dengan bekal ilmu dasar yang kuat, bangsa besar membentuk ilmu terapan. Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris adalah negara yang dibangun dengan keduanya. Namun, sebagian negara di Eropa dan Asia memilih jalan lebih realistis: fokus pada studi ilmu terapan. Swiss fokus dengan ilmu terapan dalam bidang manajemen perhotelan, kuliner, dan arloji. Thailand dengan ilmu terapan pariwisata dan pertanian. Jepang dengan elektronika. Singapura dalam industri jasa keuangannya.

Tentu terjadi pergulatan besar agar ilmu terapan dapat benar-benar diterapkan. Pada mulanya ilmu terapan dikembangkan di perguruan tinggi untuk mendapat dana riset dan menjembatani teori dengan praktik. Akan tetapi, mindset para ilmuwan tetaplah ilmu dasar yang penekanannya ada pada metodologi dan statistik untuk mencari kebenaran ilmiah yang buntutnya ialah publikasi ilmiah.

Melalui pergulatan besar, program studi terapan berhasil keluar dari perangkap ilmu dasar. Ilmu Komputer keluar dari Fakultas Matematika dan Manajemen menjadi Sekolah Bisnis. Dari lulusan dengan ”keterampilan kertas”, mereka masuk pada karya akhir berupa aplikasi, portofolio, mock up, desain, dan laporan pemecahan masalah.

Metodologi dipakai, tetapi validitas eksternal (impak dan aplikasi) diutamakan. Hanya pada program doktoral metodologi riset yang kuat diterapkan. Itu pun banyak ilmuwan terapan yang meminjam ilmu dasar atau ilmu terapan lain sehingga terbentuk program multidisiplin seperti arsitektur yang dijodohkan dengan antropologi atau arkeologi, akuntansi dengan ilmu keuangan.

Anak-anak kita

Kemerdekaan yang diraih program studi ilmu terapan di perguruan tinggi melahirkan revolusi pada tingkat pendidikan dasar. Bila mengunjungi pendidikan anak-anak usia dini, TK, dan SD di mancanegara, Anda akan melihat kontras dengan di sini. Alih-alih baca-tulis-hitung dan menghafal, mereka mengajarkan executive functioning, yang melatih anak-anak mengelola proses kognisi (memori kerja, reasoning, kreativitas-adaptasi, pengambilan keputusan, dan perencanaan-eksekusi).

Sekarang jelas mengapa kita mengeluh sarjana tak siap pakai: pendidikan didominasi kultur ilmu dasar yang serba kertas dan mengabaikan aplikasi. Perhatikan, Indonesia masih menjadi negara yang mewajibkan lulusan sekolah bisnis (MM) menulis tesis yang pengujinya getol memeriksa validitas internal dan metodologi yang sempit. Kegetolan ini juga terjadi pada banyak penguji program studi perhotelan atau terapan lain yang merasa kurang ilmiah kalau tidak ada pengolahan data secara saintifik.

Saya ingin menegaskan: hal itu hanya terjadi pada negara yang ilmu terapannya masih terbelenggu mindset ilmu dasar. Keluhannya sama: tak siap pakai, kalah dalam persaingan global.

Pertanyaannya hanya satu, kita biarkan terus seperti ini atau dengan legawa kita mulai pembaruan agar para sarjana ilmu terapan mampu menerapkan ilmunya? Itu terpulang pada kesadaran kita, bukan kesombongan atau ego ilmiah.

- Kompas, 18 Maret 2014

Insiden Masjid Annur

16 March 2019 | comments

Tak bisa menahan sedih dan perasaan sejenis, sejak membaca dan mengikuti berita serangan teroris di mesjid An-Nuur, Selandia Baru.

Bagaimanapun, ini adalah salah satu peristiwa dari milyaran kejadian yang sudah tertulis di Lauh Mahfuz, jauh sebelum bumi ini diciptakan.

Tak ada kejadian tanpa hikmah dan ibrah yang bisa diambil.
Tulisan di bawah ini adalah salah satunya.

**********************



Sejak semalam, Hampir semua masjid di negeri2 Barat jamaahnya bertambah hingga 3 kali lipat. Sebagian ummat Islam disana yang sebelumnya tidak pernah atau jarang terlihat di masjid, Sejak maghrib kemarin hingga subuh ini berebut datang menghadap kepadaNya.

Mereka memenuhi rumah rumah Allah bukan sekedar untuk menunjukkan solidaritas. Lebih jauh lagi mereka sedang mengadu kepada Allah tentang kedzaliman demi kedzaliman yang terjadi sejak hari-hari sebelum ini, Dengan puncaknya kemarin itu di New Zealand.

Sekaligus mereka berdoa, Berharap perlindungan, Serta memasrahkan segalanya, Yang akan terjadi hari ini dan di masa depan, KepadaNya.

Temen saya di Australia, Yang selama ini hidupnya urakan, Mendadak 3 waktu terakhir hadir shaf depan di masjid dekat rumah. Dia marah besar. Hpnya dibanting saking gemasnya baca berita New Zealand. Tapi dengan sebab kemarahan itu rupanya Allah turunkan hidayah.

Ibunya chatting sama saya pagi tadi. Nangis-nangis bahagia anaknya shalat maghrib isya subuh di masjid. Bahkan sejak kemarin terus nginep disana. Tilawah dan banyak merenung. Padahal sebelum ini dia ga kenal shalat kecuali jumat dan Iedul Fitri.

Si anak, Dalam kemaksiatan dan kebangsatan hidup yang selama ini dijalani, Ternyata masih menyimpan ghirah, Kecemburuan, Pada Islam dan kaum muslimin. Makanya kemarin itu tubuhnya bergetar hebat. Emosinya tak terbendung, Lalu memutuskan pergi ke masjid, Menjaganya sampai pagi bersama belasan muslim lainnya.

Alasan kawan saya tadi sederhana saja :

"Serangan kemarin kemungkinan besar akan memicu bangkitnya ekstrimis-ekstrimis sayap kanan. Dan pasti rumah-rumah Allah yang kembali akan menjadi sasaran. Jadi kita harus menjaganya sampai suasana reda.

Lagipula saya ini pendosa. Sudah terlalu banyak dosa saya. Kalau misalnya masjid ini diserang, Semoga saya ada ketika itu. Lalu saya menghentikan serangan tersebut atau gugur di tangannya sebagai syuhada.

Mana saja yang menjadi takdir Allah, Saya sudah siap. Semoga dengan itu Allah mengampuni saya"

(Fatih Yazid Attamimi)

Berkah Yang Sesungguhnya

23 December 2018 | comments



Sore kemarin ada yang menarik terjadi.

Saya naik angkot Riung Bandung dari simpang dago. Karena kursi di depan kosong, jadilah saya pilih duduk di depan, di sebelah pak sopir. Awalnya gak ada interaksi positif yang terjadi, sampai akhirnya mobil sampailah di sekitar gedung sate.

(Aslinya obrolan pakai bahasa Sunda, tapi saya terjemahkan dan rangkum biar lebih ringkas...obrolan terjadi hampir selama dua jam.)

"Mau turun di mana?", tanyanya pada saya. "Riung, pak". "Neng, Bu, turun di mana?", tanyanya pada penumpang lainnya. "Kiara condong.". Tidak ada yang aneh saya rasa dengan pertanyaan itu.

Pas di depan Pusdai, angkot tidak belok kanan ke jalan Citarum tapi lurus ke Supratman, jalan lebih pendek tapi konsekuensi gak bisa dapat muatan. Jadilah saya bertanya, "Mau langsung pulang pak?". "Enggak, saya ngepasin waktu, mau shalat Maghrib. Kalau hanya sampai Kiara condong rasa-rasanya masih cukup.", Jleb...cukup menohok jawabannya.

(Komentar saya gak dimasukkan, soalnya gak penting nambah nilai obrolan ini...)

"Kalau udah biasa shalat apalagi berjamaah mah rasanya ada beban kalau udah masuk waktu shalat masih di jalan. Saya mah kalau masuk waktu shalat insya Allah mengusahakan buat berhenti dulu. Terutama Maghrib yang waktunya pendek. Ya, sebelumnya minta maaf dulu sama seluruh penumpang yang saya turunkan di jalan. Semua penumpang gak akan saya tarik bayaran, bayarnya ke angkot selanjutnya saja."

"Gak perlu rasanya terlalu semangat mencari uang, sampai mengorbankan kewajiban utama kita. Cari nafkah itu wajib, tapi shalat lebih wajib. Yang penting itu bawa rejeki yang barokah. Bawa 100 ribu atau 10 ribu asal barokah mah insyaallah bermanfaat. Allah itu gak akan marah kalau kita mati gak punya mobil atau gak punya rumah. Tapi Allah akan marah kalau kita mati gak punya iman. Bahkan Rasulullah pun pernah berdoa supaya dimatikan dalam keadaan miskin supaya hisabnya ringan."

Tak lama sampailah kami di Kiara condong, semua sudah turun kecuali saya. "Maaf atuh mas, cuma bisa ngantar sampai Kiara condong.". "Sekalian saya juga mau shalat kok pak, bareng aja.". Lalu kami shalat di pom bensin terdekat. Setelah shalat, saya dibelikan kopi di tukang rokok langganannya di pinggir rel. Lanjutlah kami mengobrol.

"Saya mah bawa mobil ini mah anggap aja sebagai jembatan shirotol mustaqim, yang akan melalukan saya ke kehidupan selanjutnya. Saya juga ingin supaya mobil ini jadi saksi kalau saya ini banyak beribadah. Mobil ini sudah sering berhenti di banyak masjid. Saya pernah sebelumnya punya banyak mobil, ada yang angkot ada yang mobil biasa. Tapi ya kok gak bikin saya tenang, soalnya waktu itu mobil-mobil itu berhubungan dengan riba. Akhirnya saya lepas semuanya. Mendingan satu ini aja tapi bebas dari riba."

"Saya mah kalau di jalan, pas mobil kosong ya biasa aja, gak jadi kesel kalau mobil teman penuh. Lha kan kita juga pernah merasakan angkotnya penuh. Kadang teman-teman suka ada yang kesal kalau mobilnya kosong sedangkan yang lain penuh. Padahal kalau gitu berarti kita punya penyakit hati. Saya mah selalu minta sama Allah supaya dijauhkan dari penyakit hati seperti itu."

"Pas kita nanti mati mah yang dibawa kan cuma harta yang dibelanjakan di jalan Allah, ilmu yang diamalkan dan diajarkan dan anak Sholeh yang mendoakan. Tapi ingat, kalau mau punya anak shaleh, orang tuanya harus shaleh dulu. Apa yang dilakukan anak itu bisa jadi cerminan perilaku kita."

"Kita itu harus banyak beramal, supaya umur kita panjang. Bukan berarti umur tubuh kita, tapi umur dari kebaikan yang kita lakukan yang terus akan memberi manfaat dan diingat oleh orang yang ditinggalkan."

Terus kami mengobrol sampai akhirnya sampailah kami di Riung Bandung. Ah rasanya masih kurang lama saya menimba ilmu dari beliau. Mudah-mudahan perjalanan bapak setiap hari dari Riung ke Dago menjadi perjalanan ibadah dan dakwah. Dan ilmu yang disampaikan terus memberikan manfaat buat semuanya...

(Copas dari WA, Penulis Tidak Diketahui)

#PelajaranTtgHidup
#MaknaBerkah
#YangPalingPentingItuRidho-Nya

Asuransi Terbaik

28 August 2014 | comments



Oleh Ustadz Budi Ashari, Lc

Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.

Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.

Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita. Lihatlah kisah berikut ini:

Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.

Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fi sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000 pasukan penunggang kuda.

Apa yang membedakan keduanya? Keberkahan.
Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.

Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.
Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.

Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.
Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,

Ayat yang pertama,
ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„ْุฌِุฏَุงุฑُ ูَูƒَุงู†َ ู„ِุบُู„َุงู…َูŠْู†ِ ูŠَุชِูŠู…َูŠْู†ِ ูِูŠ ุงู„ْู…َุฏِูŠู†َุฉِ ูˆَูƒَุงู†َ ุชَุญْุชَู‡ُ ูƒَู†ْุฒٌ ู„َู‡ُู…َุง ูˆَูƒَุงู†َ ุฃَุจُูˆู‡ُู…َุง ุตَุงู„ِุญًุง ูَุฃَุฑَุงุฏَ ุฑَุจُّูƒَ ุฃَู†ْ ูŠَุจْู„ُุบَุง ุฃَุดُุฏَّู‡ُู…َุง ูˆَูŠَุณْุชَุฎْุฑِุฌَุง ูƒَู†ْุฒَู‡ُู…َุง ุฑَุญْู…َุฉً ู…ِู†ْ ุฑَุจِّูƒَ
“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)

Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.
Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,
“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,
“Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”

Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,
“Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam

Ayat yang kedua,
ุฅِู†َّ ูˆَู„ِูŠِّูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„َّุฐِูŠ ู†َุฒَّู„َ ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ ูˆَู‡ُูˆَ ูŠَุชَูˆَู„َّู‰ ุงู„ุตَّุงู„ِุญِูŠู†َ
“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)
Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.
 Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.

Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”
Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”
Mereka pun mendudukkannya.

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah:
ุฅِู†َّ ูˆَู„ِูŠِّูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„َّุฐِูŠ ู†َุฒَّู„َ ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ ูˆَู‡ُูˆَ ูŠَุชَูˆَู„َّู‰ ุงู„ุตَّุงู„ِุญِูŠู†َ
Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)

Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.

Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka.
Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.
Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.

Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:
Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.
Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.

Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.
Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.
Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi, dijaga, dan ditolong Allah.

***************
 gambar dari sini

Belajar Tanggung Jawab dari Merapikan Barang

| comments



Memiliki anak memang pasti ada konsekuensinya, salah satunya adalah rumah atau kamar yang berantakan karena mainan anak berserakan. Betapa melelahkannya kalau siang-malam harus bolak-balik merapikan mainan anak hanya untuk diserakkan lagi olehnya.

Nah, oleh sebab itu, yuk, Ma, mulai ajari anak untuk membereskan dan merapikan baran-barangnya sendiri. Bukan hanya membantu meringankan Anda, tapi juga untuk mengajarinya untuk bertanggung jawab memelihara baran-barang miliknya, sekaligus agar Ia sadar bahwa membereskan mainan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari bermain.

Sebaiknya, anak diajak untuk membantu membereskan barang-barangnya sejak dini. Bagaimana merapikan dan seberapa banyak yang dibereskan tentu harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Anak balita yang disuruh membereskan kamar berantakan tentu merasa kewalahan dan bisa jadi malah ngambek. Jadi sabar-sabar mengajarinya ya, Ma.

• Saat anak batita sudah bisa mengikuti permintaan Anda, cobalah minta Ia memasukkan mainan yang sedang dipegangnya ke dalam kotak atau keranjang khusus yang Anda sediakan. Jadikanlah itu sebagai permainan.

• Selanjutnya, Anda bisa meningkatkan ‘level’. Mintalah Ia memungut mainan tertentu untuk dimasukkan ke kotak, misal “Ambil bolanya sayang, masukkan ke kotak biru. Sekarang ambil boneka bebeknya, masukkan juga ke kotak sama bola”. Sebutkan bendanya satu-satu secara spesifik. Lakukan ini setiap hari, setiap kali selesai bermain.

• Lebih baik ajak Ia beres-beres mainan yang sudah selesai dimainkan dulu sebelum mengizinkannya ‘menyebar’ mainan-mainan lain. Soalnya kalau sudah telanjur berantakan hebat, anak malah jadi enggan membereskan, sama seperti kita yang sering merasa bingung mulai membereskan dari mana saat melihat tempat yang berantakan bak kapal pecah. Berhasil melakukan tugas-tugas kecil akan menumbuhkan rasa percaya dirinya.

• Kalau dari kecil sudah terbiasa dilatih membereskan barang-barangnya, di usia TK biasanya sudah bisa dipercaya melakukan tugas yang lebih menantang. Mama mulai bisa untuk mengatakan, “Kakak, beresin mobil-mobilannya, dong!” Bahkan jika mobil-mobilan beserta jenis mainan lain berserakan di area bermainnya, Ia sudah akan mampu membereskan.

• Yang penting, jadikanlah waktu beres-beres menyenangkan bagi anak. Jadikan itu sebuah permainan juga, Anda bisa mengajaknya berlomba memasukkan barang ke keranjang, atau memutar sebuah lagu dan berusaha memasukkan semua barang ke kotak penyimpanan saat lagu selesai.

(Copas dari FB Karima Edukasi)

**********
gambar dari sini

Pentingkah Memaksakan Anak Usia Dini Dan SD Wajib Bisa Baca Tulis Hitung?

07 July 2014 | comments

Another article dan foto yang saya ambil dari fb Komunitas Ayah Edy.
Sayang kalo ngga dibaca, supaya bikin kita termelek-melek, seperti apa pendidikan yang baik dan benar itu :)

*************************************

Seorang guru di Australia pernah berkata kepada saya
“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”
Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?

Saya mengekspresikan keheranan saya, karena yang terjadi di negara kita kan justru sebaliknya.
Inilah jawabanya;

1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.

2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”
”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;” jawab guru kebangsaan Australia itu.

1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain
dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.
Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
2. Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
3. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
4. Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
5. dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?

Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?
Ah sayang sekali jika orang tua, guru, SEKOLAH2 dan Kementerian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya.

Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.
Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral. ?
Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini ?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.

Yuk kita ajari anak kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik,
Yuk kita mulai dari keluarga kita terlebih dahulu, ... mau ?
Salam syukur penuh berkah...
Ayah Edy Parenting

Cara Memperlakukan Bayam

19 February 2014 | comments



Bayam yang kaya manfaat, ternyata juga perlu mendapatkan perlakuan khusus dalam memasaknya, lho Bun! Berikut ini 4 aturan memasak bayam yang perlu diketahui :

1. Sayur bayam tidak boleh dipanaskan ulang : Bayam mengandung zat besi yang baik bagi tubuh. Zat besi tersebut adalah ferro ( Fe2+), ketika dipanaskan ulang, ferro tersebut akan mengalami oksidasi yaitu peristiwa pengikatan oksigen. Ferro akan berubah menjadi ferri (Fe3+) yang beracun untuk tubuh.

2. Segera makan sayur bayam L Bayam juga mengandung senyawa nitrat (N03). Ketika terlalu lama terpapar dengan udaram nitrat tersebut akan berubah menjadi nitrit ( NO2) yang merupakan senyawa tak berwarna, tidak berbau dan BERACUN. Oleh karena itu, sayur bayam yang sudah matang sebaiknya langsung dimakan. Disarankan untuk tidak memakan sayur bayam tersebut setelah lebih dari 5 JAM

3. Pilihlah bayam yang segar!: Pemilihan bayam yang segar ini terkait dengan kandungan nitrit dalam bayam. Bayam segar yang baru dicabut mengandung lebih kurang 5 mg nitrit per kilogram bayam Bila bayam disimpan dalam lemari pendingin selama dua minggu, maka kadar nitrit dapat meningkat hingga 300 mg per kg, artinya dalam 1 hari penyimpanan bayam dalam lemari pendingin, nitrit bertambah sebanyak 7 %

4. Gunakan panci stainless steel ketika memasak bayam : Senyawa ferro dalam bayam ternyata dapat berinteraksi dengan panci yang terbuat dari alluminium. Bila ferro/zat besi tersbeut berinteraksi dengan aluminium, maka akan terjadi perubahan senyawa yang berrsifat racun untuk tubuh. Oleh karena itu, disarankan memasak sayur bayam dengan panci stainless steel
 

(sumber artikel:hidupkusehat.com)
gambar dari sini

What?? 12 Anak??

17 February 2014 | comments

Habis browsing, ketemu sama cerita bagus. Pengalaman sepasang suami istri dalam membesarkan ke-12 anak mereka. Kereeeeen. Secara saya aja dengan empat anak berasa ngos-ngosan.
Biar ngga penasaran, ceritanya saya copas di bawah. Linknya sendiri saya ambil dari sini.

*********



Bagaimana Cara Saya Membesarkan Ke-12 Anak Saya

Saya dan istri memiliki 12 orang anak saat usia pernikahan kami 15
setengah tahun. Bulan Maret mendatang, kami akan merayakan ulang tahun
pernikahan yang ke 40 tahun.

Sekarang anak pertama saya sudah berusia 37 tahun dan yang paling kecil
berusia 22 tahun. Saya memiliki pekerjaan yang mapan dan punya banyak
uang untuk bisa memberikan apapun bagi anak-anak saya. Namun saya dan
istri sudah sepakat untuk tidak melakukan hal itu.

Saya akan berbagi pengalaman kepada Anda bagaimana cara saya dan istri
membesarkan anak-anak kami dan apa saja yang sudah kami lakukan untuk
mereka. Namun sebelumnya, 1 hal yang ingin saya tunjukkan kepada Anda
bahwa hasil akhir dari usaha kami adalah semua anak kami sudah
menyelesaikan pendidikan mereka dengan bergelar sarjana, dan kami
sebagai orang tua tidak membayar apapun untuk biaya kuliah mereka.

Mereka yang sudah menikah juga memiliki pasangan istri atau suami
berparas cantik dan tampan, beretika baik, dan juga bergelar sarjana.
Saat ini saya dan istri sudah dikaruniai 18 orang cucu yang kesemuanya
belajar hal yang sama dengan apa yang dulu saya ajarkan kepada anak-anak
saya tentang rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain, selalu
bersyukur, dan rasa berbagi kepada sesama.

Anak-anak kami tinggal dan membangun keluarga kecil mereka di beberapa
tempat berbeda. Ada yang di Utah, Florida, dan California. Sedangkan
saya dan istri sekarang tinggal di Colorado. Landasan kami selama hidup
berkeluarga adalah Cinta yang nyata. Kami ingin membuat anak-anak kami
merasa dicintai dan bahagia.

Oleh karena itu mereka akan selalu melihat kehidupan rumah yang nyaman,
stabil dan berkomitmen . Jadi inilah yang telah kami lakukan kepada
anak-anak kami (walaupun kami terkadang juga melakukan kesalahan, tapi
itu ada di daftar yang lainnya) :

Tugas Rutin

  * Anak-anak kami sudah memiliki tugas wajib sejak mereka berusia 3
    tahun. Walaupun di umur 3 tahun mereka belum bisa membersihkan
    toilet dengan rapi dan bersih akan tetapi ketika mereka berusia 4
    tahun, tugas ini akan dikerjakan dengan sangat baik.
  * Mereka akan mendapat imbalan atas tugas-tugas rutin itu sesuai
    dengan hasil yang sudah dilakukan selama seminggu.
  * Anak-anak kami juga mencuci pakaian mereka sendiri saat berusia 8 tahun.
  * Ketika mereka mulai bisa membaca, mereka harus membuat makan malam
    dengan membaca resep masakan. Mereka juga harus belajar menggandakan
    resep tersebut.
  * Anak-anak kami pun harus belajar menjahit baik yang laik-laki maupun
    perempuan.

Waktu Belajar

Pendidikan sangat penting dalam keluarga kami.

  * Kami punya waktu belajar sendiri mulai pukul 6 PM hingga 8 PM setiap
    hari kecuali sabtu dan minggu. Tidak ada televisi, komputer, games,
    atau aktifitas lainnya hingga 2 jam ini selesai. Bila ada diantara
    mereka yang tidak memiliki tugas rumah dari sekolah, mereka
    diwajibkan membaca buku pelajaran / pengetahuan umum lainnya. Dan
    bagi anak kami yang belum bersekolah, kami punya orang untuk
    membacakan mereka buku cerita atau pengetahuan ringan. Setelah 2 jam
    waktu belajar ini selesai barulah mereka boleh melakukan kegiatan
    apa saja yang mereka inginkan hingga batas jam malam.
  * Mereka semua wajib mengambil kelas tambahan yang ada untuk menunjang
    nilai-nilai sekolah, dan kami sebagai orang tua berjanji untuk
    mendukung mereka sepenuhnya dengan cara meluangkan waktu menemani
    mereka belajar untuk memastikan bahwa mereka benar-benar mengerti
    dengan pelajaran di sekolah.
  * Jika ada anak kami yang pulang sekolah protes dengan sikap guru atau
    temannya yang mengatakan “guru itu tidak menyukaiku”, “temanku jahat
    dan memukul aku”. Respon kami sebagai orang tua adalah memahami
    perasaannya dan memberi pengertian bahwa hidup memang berjalan
    sebagaimana mestinya. Kami mengajari mereka bahwa kita terkadang
    perlu memahami orang lain dan menemukan cara bagaimana bisa bergaul
    dengan teman atau menjaga hubungan baik terhadap guru ataupun orang
    lain di sekitar kita.

Sebagai orang tua kita perlu mengajari mereka belajar tentang kehidupan
itu sendiri.

Karena di dunia nyata banyak hal yang bisa terjadi. Kami tidak
membiarkan anak-anak kami tumbuh untuk menyalahkan orang lain tanpa
belajar sesuatu, tetapi kami menanamkan rasa tanggung jawab sejak dini.
Dan tentu saja, itulah alasan kami akan selalu berada di antara mereka
pada waktu jam belajar agar kami bisa membantu mereka.

Aturan makan

  * Kami semua selalu sarapan dan makan malam bersama. sarapan dimulai
    pukul 5.15 am karena mereka harus menyelesaikan tugas rutin mereka
    sebelum berangkat ke sekolah. Sedangkan makan malam pukul 5.30 pm.
  * Lebih luas lagi, kami menginginkan diet seimbang.

Saat kita masih kecil, orang tua kita sering memaksa kita untuk makan
makanan yang tidak kita sukai dan harus menghabiskannya walaupun kita
sudah kenyang.

Aturan di keluarga kami adalah kami tetap menyiapkan menu makanan yang
tidak disukai di awal makan seperti sayuran, setelah itu kami baru
mengeluarkan makanan kesukaan mereka. Kami tidak memaksa anak-anak kami
harus makan tapi kami memberikan pilihan bila mereka tidak mau makan
silahkan tinggalkan meja makan.

Tapi jika setelah itu ada yang mengeluh lapar, mereka dipersilahkan
menghangatkan sendiri makanannya di /microwave/. Sekali lagi, kami tidak
pernah memaksakan  anak-anak kami harus makan makanan yang disediakan
saat itu, tapi mereka tidak punya pilihan lain sampai jam makan berikutnya.

  * Tidak ada snack diwaktu makan. Kami selalu memiliki empat kelompok
    makanan seperti daging, susu, kacang-kacangan, buah-buahan, sayuran
    dan ada beberapa hidangan penutup.
  * Sampai saat ini anak-anak kami tidak takut untuk mencoba makanan
    yang berbeda dan tidak ada yang memiliki alergi terhadap makanan
    apapun. Mereka mencoba semua jenis makanan baru dan makan hanya
    sampai mereka kenyang. Tidak satupun dari mereka yang punya masalah
    dengan berat badan. Mereka kurus dan atletis. Dengan memiliki 12
    orang anak, mungkin Anda berpikir akan ada satu yang memiliki
    alergi. Nyatanya tidak. Mereka semua sehat. Dan saya bukanlah
    seorang dokter.

Ekstrakulikuler

  * Semua anak wajib berolahraga. Mereka harus memilih 1 atau lebih
    jenis olahraga. Tapi memilih untuk tidak bermain bukan salah satu
    pilihan bagi kami. Kami memulainya dari sekolah dasar. Tidak peduli
    itu berenang, sepak bola, basket, baseball, tennis atau apapun
    asalkan mereka tetap bermain sesuatu. Jika ada yang ingin beralih ke
    olahraga lain, kami mengizinkannya.
  * Semua anak juga harus ikut klub seperti pramuka misalnya, pementasan
    drama, dll.
  * Mereka diminta juga untuk bergabung dalam komunitas pelayanan kepada
    masyarakat. Ikut kegiatan amal secara suka rela dalam komunitas di
    lingkungan maupun keagamaan. Melalui kegiatan ini mereka diajarkan
    untuk melihat kehidupan sesungguhnya di beberapa keluarga yang
    berbeda dan bagaimana menghargai setiap perbedaan.

Kemandirian

  * Ketika anak-anak kami berusia 16 tahun, saya membeli sebuah mobil
    untuk mereka. Anak pertama saya belajar sesuatu ketika ia
    mendapatkan mobil barunya diderek ke bagasi mobil rumah kami.

Dia langsung berteriak,“Ayah, ini mobil rusak!” Kataku,“Ya Ayah tahu ini mobil bekas
kecelakaan. Ini buku panduannya dan perbaiki sendiri. Semua peralatan
bengkel ada di garasi, Ayah akan membayar semua suku cadang yang kamu
perlukan untuk memperbaiki mobil ini tapi tidak akan membayar upahmu.”

Sebelas bulan kemudian, mobil itu sudah selesai dikerjakan dengan mesin
baru, transmisi dan suspensi baru serta tidak ketinggalan cat mobil baru
yang mengkilap.

Putri saya (ya dia wanita, anak pertama saya) punya mobil paling keren
di sekolahnya. Dan ia bangga sekali dengan mobil hasil buatannya sendiri
yang melampaui bayangannya. Sebagai catatan, tidak ada satupun anak saya
pernah ditilang polisi karena alasan ngebut di jalanan walaupun mobil
mereka bertenaga sama dengan 450 kali tenaga kuda.

  * Kami sebagai orang tua membiarkan anak-anak kami melakukan kesalahan.

Lima tahun sebelum anak-anak kami berulang tahun ke 16 dan tentu saja
sebelum mereka mendapatkan mobil barunya, mereka harus membantu merawat
mobil keluarga kami. Contohnya, ketika saya meminta putra saya Samuel
untuk mengganti oli mobil, saya bertanya,

“apa kamu butuh bantuan atau instruksi Sam?”

“Tidak ayah, saya bisa melakukannya sendiri”.

Satu jam kemudian, dia datang menghampiri saya dan berkata

“Ayah, saya membutuhkan 18 liter oli untuk mengganti oli mobil kita”.

Saya bertanya dimana dia akan menempatkan 18 liter oli itu ketika biasa
hanya diperlukan 5 liter oli saja?

Jawabannya :

“Di skrup besar di atas bagian mesin.”

Kataku,“Maksudmu Radiator?”

Yaaah. Setelah dia mengisi air radiator dengan oli, terpaksa dia harus
mengeluarkan kembali oli itu darisana. Akhirnya kami membeli alat
penghisap agar mempermudah proses pengeluaran oli tersebut. Kami tidak
menyalahkan ataupun menghukum Samuel atas kesalahan yang dia perbuat.

Kami membiarkan pengalaman menjadi guru bagi mereka. Dengan begitu
anak-anak kita tidak akan takut untuk mencoba hal-hal baru nantinya.
Mereka dilatih bahwa jika melakukan kesalahan tidak akan dihukum tapi
belajar dari kesalahan itu sendiri. Terkadang kesalahan membuat kita
mengeluarkan uang lebih banyak, ya tapi itulah cara kami membersarkan
dan mendidik anak-anak kami bukan untuk menyimpan uang.

  * Setiap anak punya komputer masing-masing, tapi mereka juga harus
    merakitnya sendiri. Saya hanya membeli perangkat penunjang komputer
    seperti prosesor, hardisk, memori dll dan mereka yang merakit semua
    item hingga menjadi sebuah komputer utuh. Dan ini terjadi ketika
    mereka berumur 12 tahun.
  * Kami juga membiarkan anak-anak memiliki pilihan mereka sendiri tapi
    terbatas. Misalnya, “kamu ingin tidur sekarang atau membersihkan
    kamar tidurmu dulu?”

Jarang sekali kami langsung mengarahkan atau memerintahkan mereka pada 1
pilihan kecuali menyangkut dengan aturan-aturan bersama yang telah
disepakati. Hal ini membiarkan anak merasa dia memiliki kendali atas
hidupnya sendiri.

* Bekerjasama*

  * Kami meminta anak-anak kami untuk bisa bekerjasama. Misalnya disaat
    belajar bersama anak yang sudah SMP membantu adiknya menyelesaikan
    PR matematika misalnya.
  * Kami menugaskan anak yang lebih tua membantu pekerjaan rutin adiknya.
  * Kami membiarkan anak-anak kami membuat aturan dalam keluarga.
    Sebagai contoh, anak-anak menginginkan “tidak ada mainan berantakan
    di ruang tamu”. Mainan hanya akan dimainkan di kamar tidur atau di
    ruang bermain saja. Sebagai tambahan mereka merapihkan sendiri
    tempat tidurnya setiap hari atau membiarkannya berantakan. Itu
    pilihan mereka sendiri. Kami juga memberikan mereka kesempatan untuk
    membuat peraturan baru setiap bulan yang tentu saja hak veto tetap
    ada di kami orang tua.
  * Kami berusaha selalu konsisten. Ketika mereka diharuskan untuk
    belajar selama 2 jam setiap malam, maka kami tidak akan membuat
    pengecualian untuk itu.
  * Aturan jam malam kami, pukul 10pm di hari biasa dan jam 12 tengah
    malam di akhir pekan atau hari libur sekolah. Tidak ada pengecualian
    dan toleransi untuk aturan itu.

*Kebijakan Liburan*

  * Kami akan berlibur setiap musim panas selama 2 atau 3 minggu
    lamanya. Kami bisa saja menginap di hotel mewah dengan segala
    fasilitas dan pelayanan terbaik hotel berbintang tapi kami tidak
    memilih liburan seperti itu. Kami pergi berkemah atau berpetualang.
    Kami akan mendirikan 5-6 tenda. Tentu saja yang saya bawa berkemah
    adalah anak-anak saya yang berusia 6 tahun ke atas. Sedangkan istri
    dan anak-anak saya yang masih kecil tinggal di rumah. Maklum, saat
    itu istri saya dalam kondisi hamil ataupun baru saja melahirkan
    selama 15 tahun pernikahan kami. Saya mengajak anak-anak mendaki ke
    Grand Canyon, ke puncak gunung Whitney, melintasi Continental Divide
    di Yosemite.
  * Pilihan liburan lainnya adalah kami akan mengirimkan mereka berlibur
    di rumah beberapa kerabat kami di Eropa atau Amerika Serikat selama
    2 atau 3 minggu pada saat yang besamaan. Ini sudah kami mulai sejak
    mereka SD. Kami tidak terlalu khawatir karena maskapai penerbangan
    akan memberikan perlakuan khusus bagi anak yang berumur 5 tahun ke
    atas saat terbang sendiri tanpa didampingi orang tua asal melengkapi
    dokumen-dokumen pendukung. Kami hanya akan mengirim mereka jika
    mereka mau pergi. Rupanya hal ini menjadi motivasi tersendiri bagi
    anak-anak kami yang masih kecil karena dengan melihat kakak-kakaknya
    pergi berpetualang sendiri, mereka juga ingin merasakan hal yang
    sama. Kami ingin anak-anak kami sejak dini belajar bahwa kami
    sebagai orang tua akan selalu ada untuk mereka dan membiarkan mereka
    tumbuh dan bisa membentangkan sayapnya dan terbang di masa depan.

* Uang dan Materi*

  * Walaupun kami memiliki cukup uang, kami tidak pernah membantu
    anak-anak kami membeli rumah, membayar pendidikannya apalagi untuk
    membiayai pernikahan mereka (Ya kami tidak membantu biaya pernikahan
    mereka). Kami hanya memberikan semua informasi lengkap dan mengajari
    mereka melakukan sesuatu untuk mencapai itu. Bagaimana cara membeli
    property untuk disewakan kembali atau cara-cara lain yang akan
    membuat mereka mendapatkan penghasilan dan mengembangkan kemakmuran.

Kami tidak MEMBERIKAN sesuatu kepada mereka tapi kami memberi
informasi dan mengajari mereka CARA mendapatkan sesuatu. Bantuan kami
hanya sebatas menghubungi rekan di perusahaan akan tetapi mereka tetap
harus menjalankan serangkaian wawancara pekerjaan sesuai dengan aturan
di perusahaan itu dan diterima bekerja.

  * Kami hanya akan memberikan anak-anak kami kado saat mereka berulang
    tahun dan hari natal. Kami akan memainkan peran Santa Claus namun
    saat mereka mulai remaja dan bertanya siapakah Santa Claus itu, kami
    akan jujur. Kami memberi tahu mereka bahwa ini hanyalah sebuah
    permainan untuk bersenang-senang. Hal ini juga kami lakukan bagi
    cucu-cucu kami sekarang.

* Dunia Nyata*


  * Kami mencintai anak-anak kami terlepas dari apa yang mereka lakukan.
    Akan tetapi kami tidak akan mentoleransi sebuah akibat yang timbul
    dari setiap keselahan mereka. Kami membiarkan mereka menanggung
    konsekuensi atas akibat perbuatannya dan tidak akan mencoba untuk
    mengurangi rasa sakit mereka hanya karena kami tidak tega melihat
    mereka menderita. Kami juga akan turut menangis dan sedih, tapi
    tidak akan melakukan apa pun untuk mengurangi konsekuensi itu.
    Karena kami ingin mengajari mereka rasa tanggung jawab. Apa yang
    dilakukan harus dipertanggung jawabkan.


gambar dari sini

Islam? Jepang?

15 February 2014 | comments

Hehe...ini judulnya kok kayak orang bingung. Embeerr....
Saya heran saja, kenapa kok di Jepang malah lebih sering ketemu dengan hal-hal yang sangat Islami, seperti yang ditulis di artikel ini.
Tapi kok nemunya malah di negeri yang mayoritas penduduknya ateis yak?
Ya sudahlah, jadikan hikmah saja....dan pelajaran, supaya kita, as a moslem, bisa benar-benar mengaplikasikan nilai-nilai keIslaman dalam keseharian.
Bukan cuma teori dan disimpan dalam otak saja.

*************************************************************************



Mutiara Islam Dibawa Pergi Bangsa Jepang ?

Ditulis oleh : Zainal Bumi Minang

Banyak orang-orang sukses berasal dari Jepang. Akan tetapi ternyata penyebab majunya mereka sudah diajarkan dalam agama Islam jauh sebelum negara Jepang ada.

Kita bisa berkaca kepada sejarah, di mana belum ada dalam sejarah dunia, yang bisa menguasai sepertiga dunia hanya dalam waktu 30 tahun. Itulah masa para Khalifah Rasyidin. Kaum muslimin sendiri yang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga inilah yang diberitakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,ุฅِุฐَุง ุชَุจَุงูŠَุนْุชُู…ْ ุจِุงู„ْุนِูŠู†َุฉِ ูˆَุฃَุฎَุฐْุชُู…ْ ุฃَุฐْู†َุงุจَ ุงู„ْุจَู‚َุฑِ ูˆَุฑَุถِูŠุชُู…ْ ุจِุงู„ุฒَّุฑْุนِ ูˆَุชَุฑَูƒْุชُู…ْ ุงู„ْุฌِู‡َุงุฏَ ุณَู„َّุทَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุฐُู„ًّุง ู„َุง ูŠَู†ْุฒِุนُู‡ُ ุญَุชَّู‰ ุชَุฑْุฌِุนُูˆุง ุฅِู„َู‰ ุฏِูŠู†ِูƒُู…ْ“Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, memegangi ekor-ekor sapi [sibuk berternak, pent], dan menyenangi pertanian dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan pada kalian kehinaan, tidak akan mencabutnya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian”.[HR. Abu Daud dan lain-lainnya dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah No. 11] Berikut kita bahas, bahwa apa yang menjadi penyebab majunya mereka ternyata ada dalam ajaran Islam sejak dahulu.

10 Kunci Bangsa Jepang:

1.Malu#“Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang.

Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dalam pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pemimpin yang terlibat korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.”‪#‎Malu‬ yang terpuji jelas adalah ajaran Islam. Bahkan jelas dan tegas dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,ุฅِู†َّ ู„ِูƒُู„ِّ ุฏِูŠْู†ٍ ุฎُู„ُู‚ًุง ูˆَุฎَู„ُู‚ُ ุงْู„ุฅِุณْู„ุงَู…ِ ุงู„ْู€ุญَูŠَุงุกُ.“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.”[Shahรฎh: HR.Ibnu Mรขjah (no. 4181) dan ath-Thabrรขni dalam al-Mu’jรขmush Shaghรฎr (I/13-14) dari Shahabat Anas bin Malik. Lihat Silsilah al-Ahรขdรฎts ash-Shahรฎhah (no. 940)]Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ุงَู„ْู€ุญَูŠَุงุกُ ู„ุงَ ูŠَุฃْุชِูŠْ ุฅِู„ุงَّ ุจِุฎَูŠْู€ุฑٍ.“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan semata-mata.”[HR. Bukhari & Muslim]Dalam riwayat Muslim disebutkan,ุงَู„ْู€ุญَูŠَุงุกُ ุฎَูŠْุฑٌ ูƒُู„ُّู‡ُ.“Malu itu kebaikan seluruhnya.”[HR. Muslim dari Sahabat ‘Imran bin Husain]Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemalu. Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu anhu berkata,ูƒَุงู†َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฃَุดَุฏَّ ุญَูŠَุงุกً ู…ِู†َ ุงู„ْุนَุฐْุฑَุงุกِ ูِู€ูŠْ ุฎِุฏْุฑِู‡َุง.“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pemalu daripada gadis yang dipingit di kamarnya.”[HR.al-Bukhari (no. 6119]

2.Mandiri# “Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri.

Bahkan seorang anak TK sudah harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Biasanya mereka mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang nantinya akan mereka kembalikan di bulan berikutnya.”‪#‎Anjuran‬ untuk berusaha sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain adalah ajaran agama Islam.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ู„ุฃَู†ْ ูŠَุฃْุฎُุฐَ ุงََุญَุฏُูƒُู…ْ ุงَุญْุจُู„َู‡ُ ุซُู…َّ ูŠَุงْุชِู‰ ุงู„ْุฌَุจَู„َ ูَูŠَุงْุชِู‰َ ุจِุญُุฒْู…َุฉٍ ู…ِู†ْ ุญَุทَุจٍ ุนَู„َู‰ ุธَู‡ْุฑِุฎِ ูَูŠَุจِูŠْุนَู‡َุง ูَูŠَูƒُูَّ ุงู„ู„ู‡ُ ุจِู‡َุง ูˆَุฌْู‡َู‡ُ ุฎَูŠْุฑٌู„َู‡ُ ู…ِู†ْ ุงَู†ْ ูŠَุณْุฃَู„َ ุงู„ู†َّุงุณَ ุงَุนْุทَูˆْู‡ُ ุงَูˆْ ู…َู†َุนُูˆْู‡ُ.“Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak”.[HR Bukhari, no. 1471]Demikian juga nabi Dawud, seorang Raja besar, tetapi ia tetap makan dari hasil kerjanya yaitu mengolah besi.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ู…َุง ุงَูƒَู„َ ุงَุญَุฏٌุทَุนَุงู…ًุง ู‚َุทُّ ุฎَูŠْุฑًุง ู…ِู†ْ ุงَู†ْ ูŠَุฃْูƒُู„َ ู…ِู†ْ ุนَู…َู„ِ ูŠَุฏِْู‡ِ, ูˆَุงِู†َّ ู†َุจِูŠَّّ ุงู„ู„ู‡ِ ุฏَุงูˆُุฏُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุงู„ุณَّู„ุงู…ُ ูƒَุงู†َ ูŠَุฃْูƒُู„ُ ู…ِู†ْ ุนَู…َู„ِ ูŠَุฏِْู‡ِ.“Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri, sedang Nabi Daud Alaihissalam juga makan dari hasil usahanya sendiri”.[HR. Bukhari No.1930]

3. Pantang menyerah#“Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah.

Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki , disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambah dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo, ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen).Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan).”‪#‎Semangat‬ dan pantang menyerah!! Ini adalah ajaran Islam.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaุงุญุฑุต ุนู„ู‰ ู…ุง ูŠู†ูุนูƒ، ูˆุงุณุชุนู† ุจุงู„ู„ู‡ ูˆู„ุง ุชุนุฌุฒู†، ูˆุฅู† ุฃุตุงุจูƒ ุดูŠุก ูู„ุง ุชู‚ู„ ู„ูˆ ุฃู†ูŠ ูุนู„ุช ู„ูƒุงู† ูƒุฐุง ูˆูƒุฐุง؛ ูˆู„ูƒู† ู‚ู„: ู‚ุฏุฑ ุงู„ู„ู‡ ูˆู…ุง ุดุงุก ูุนู„، ูุฅู† ู„ูˆ ุชูุชุญ ุนู…ู„ ุงู„ุดูŠุทุงู†“Bersemangatlah kamu terhadap apa-apa yang bermanfaat bagi kamu, dan mohonlah pertolongan pada Allah dan jangan merasa lemah (pantang menyerah). Dan jika meminpamu sesuatu maka jangan katakan andaikata dulu saya melakukan begini pasti akan begini dan begini, tetapi katakanlah semua adalah takdir dari Allah dan apa yang dikehendakiNya pasti terjadi.”[HR Muslim]Ada tawakkal dalam ajaran Islam, lihat bagaimana motivasi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamagar kita mencontoh burung dalam berusaha, burung tidak tahu pasti di mana ia akan mendapat makanan, akan tetapi yang terpenting bagi burung adalah ia berusaha keluar dan terbang mencari.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ู„َูˆْ ุฃَู†َّูƒُู…ْ ุชَุชَูˆَูƒَّู„ُูˆู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ุญَู‚َّ ุชَูˆَูƒُّู„ِู‡ِ ู„َุฑَุฒَู‚َูƒُู…ْ ูƒَู…َุง ูŠَุฑْุฒُู‚ُ ุงู„ุทَّูŠْุฑَ ุชَุบْุฏُูˆ ุฎِู…َุงุตุงً ูˆَุชَุฑُูˆุญُ ุจِุทَุงู†ุงً”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”[HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no. 310]“selalu ada Jalan”. ya, ini juga adalah ajaran Islam. Jika kita berusaha dan tawakkal, maka kita akan medapat jalan keluar dari arah yang tidak kita sangka-sangka.Allah Ta’ala berfirman,ูˆَูŠَุฑْุฒُู‚ْู‡ُ ู…ِู†ْ ุญَูŠْุซُ ู„َุง ูŠَุญْุชَุณِุจُ ูˆَู…َู† ูŠَุชَูˆَูƒَّู„ْ ุนَู„َู‰ ุงู„ู„َّู‡ِ ูَู‡ُูˆَ ุญَุณْุจُู‡ُ“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (At-Thalaq: 3)

4.Loyalitas#”Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi.

Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan.”‪#‎Dalam‬ ajaran Islam seorang muslim diajarkan agar mematuhi persyaratan yang telah mereka sepakati. Jika dalam suatu perusahan mereka bekerja, maka mereka harus mematuhi persyaratan perusahaan yaitu harus mencurahkan yang terbaik serta loyal dengan perusahaan teresebut selama tidak melanggar batas syariat.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,ุงู„ู…ُุณْู„ِู…ُูˆْู†َ ุนَู„َู‰ ุดُุฑُูˆุทِู‡ِู…ْ “Umat Islam berkewajiban untuk senantiasa memenuhi persyaratan mereka.“[Riwayat Abu Dawud, Al Hakim, Al Baihaqy dan oleh Al Albany dinyatakan sebagai hadits shahih]

5.Inovasi#”Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat.

’‪#‎Islam‬ juga mengajarkan agar kita mengembangkan Ilmu dan belajar (bukan inovasi dalam urusan agama = bid’ah). Bahkan kedudukan orang yang berilmu tinggi baik. Baik Ilmu dunia maupun akhirat.Allah Ta’ala berfirman,ูŠَุฑْูَุนِ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ู…ِู†ูƒُู…ْ ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ุฃُูˆุชُูˆุง ุงู„ْุนِู„ْู…َ ุฏَุฑَุฌَุงุชٍ“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah: 11)

6. Kerja keras#“Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras.

Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun).Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan.”‪#‎Kerja‬ keras juga Ajaran Islam.

Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa sallam mengajarkan kita berlindung kepada Allah dari sifat malas,ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฅِู†ِّู‰ ุฃَุนُูˆุฐُ ุจِูƒَ ู…ِู†َ ุงู„ْุนَุฌْุฒِ ูˆَุงู„ْูƒَุณَู„ِ ูˆَุงู„ْุฌُุจْู†ِ ูˆَุงู„ْู‡َุฑَู…ِ ูˆَุงู„ْุจُุฎْู„ِ ูˆَุฃَุนُูˆุฐُ ุจِูƒَ ู…ِู†ْ ุนَุฐَุงุจِ ุงู„ْู‚َุจْุฑِ ูˆَู…ِู†ْ ูِุชْู†َุฉِ ุงู„ْู…َุญْูŠَุง ูˆَุงู„ْู…َู…َุงุชِYa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian).”[HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706]

Bahkan kita harus bersegera dalam kebaikan untuk diri kita.

Allah Ta’ala berfirman,ูَุงุณْุชَุจِู‚ُูˆุงْ ุงู„ْุฎَูŠْุฑَุงุชِ“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan”. (Al-Baqarah: 148)ูˆَุณَุงุฑِุนُูˆุงْ ุฅِู„َู‰ ู…َุบْูِุฑَุฉٍ ู…ِّู† ุฑَّุจِّูƒُู…ْ ูˆَุฌَู†َّุฉٍ ุนَุฑْุถُู‡َุง ุงู„ุณَّู…َุงูˆَุงุชُ ูˆَุงู„ุฃَุฑْุถُ ุฃُุนِุฏَّุชْ ู„ِู„ْู…ُุชَّู‚ِูŠู†َ“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (Al-Imran:133)

7. Jaga tradisi, menghormati orang tua dan Ibu Rumah Tangga#“Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya.

Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari Anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki, maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan.”‪#‎Tentu‬ saja tradisi yang baik yang dilestarikan. Tradisi yang sesuai dengan nilai luhur dan ajaran Islam. Ajaran Islam juga melertarikan tradisi yang baik. Sebagaimana tradisi orang Arab Jahiliyah yang memuliakan tamu, menepati janji dan sumpah walaupun sumpah itu berat sekali. Bahkan adat/tradisi bisa dijadikan patokan hukum dalam ajaran Islam. Sebagaimana kaidah fiqhiyah.ุงู„ุนุงุฏุฉ ู…ุฌูƒู…ุฉ“Adat/tradisi dapat dijadikan patokan hukum”Syaikh Doktor Muhammad Al-Burnu Hafizahullah menjelaskan makna kaidah ini, “Bahwasanya adat manusia jika tidak menyelisihi syari’at adalah hujjah dan dalil, wajib beramal dengan konsekuensinya karena adat dapat dijadikan hukum”.Mengenai perempuan yang sudah menikah dan tidak bekerja (IRT), ini juga ajaran utama agama Islam (Ibu rumah tangga bukan pekerjaan yang sepele dan hina, akan tetapi adalah sebuah kehormatan dan butuh pengorbanan yang akan melahirkan dan mendidik generasi terbaik).ู„ุง ุชู…ู†ุนูˆุง ู†ุณุงุกูƒู… ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ูˆุจูŠูˆุชู‡ู† ุฎูŠุฑ ู„ู‡ู†“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian pergi ke masjid-masjid, dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”[14] Mengenai menghormati orang tua. Jelas ini ajaran Islam. Bahkan digandengkan dengan ridha Allah.Allah Ta’ala berfirman:ูˆَู‚َุถَู‰ٰ ุฑَุจُّูƒَ ุฃَู„َّุง ุชَุนْุจُุฏُูˆุง ุฅِู„َّุง ุฅِูŠَّุงู‡ُ ูˆَุจِุงู„ْูˆَุงู„ِุฏَูŠْู†ِ ุฅِุญْุณَุงู†ًุง ۚ ุฅِู…َّุง ูŠَุจْู„ُุบَู†َّ ุนِู†ْุฏَูƒَ ุงู„ْูƒِุจَุฑَ ุฃَุญَุฏُู‡ُู…َุง ุฃَูˆْ ูƒِู„َุงู‡ُู…َุง ูَู„َุง ุชَู‚ُู„ْ ู„َู‡ُู…َุง ุฃُูٍّ ูˆَู„َุง ุชَู†ْู‡َุฑْู‡ُู…َุง ูˆَู‚ُู„ْ ู„َู‡ُู…َุง ู‚َูˆْู„ًุง ูƒَุฑِูŠู…ًุง ูˆَุงุฎْูِุถْ ู„َู‡ُู…َุง ุฌَู†َุงุญَ ุงู„ุฐُّู„ِّ ู…ِู†َ ุงู„ุฑَّุญْู…َุฉِ ูˆَู‚ُู„ْ ุฑَุจِّ ุงุฑْุญَู…ْู‡ُู…َุง ูƒَู…َุง ุฑَุจَّูŠَุงู†ِูŠ ุตَุบِูŠุฑًุง“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya danhendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” (Al-Israa’ : 23-24)

8.Budaya baca#“Jangan kaget kalau Anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran.

Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca”‪#‎Ayat‬ yang pertama kali turun adalah perintah membaca. Ini adalah ajaran Islam.Alla Ta’ala berfirman,ุงู‚ْุฑَุฃْ ุจِุงุณْู…ِ ุฑَุจِّูƒَ ุงู„َّุฐِูŠ ุฎَู„َู‚َ“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan” (Al-Alaq: 1) Begitupula jika kita membaca teladan para ulama, misalnya syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah yang membaca setiap hari 12 jam. Begitu juga ulama yang lain, ada yang membaca sambil berjalan, hingga ia terperosok dalam lubang. Ada yang membaca sampai ia tertidur dengan buku di atas wajahnya.

9. Hidup hemat#“Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian.

Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan.

Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, mungkin kita sedikit heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30, dan ternyata sebelum tutup itu pihak supermarket memotong harga hingga setengahnya.”‪#‎jelas‬ ini ajaran islam, hemat dan berusaha qona’ah.

Allah Ta’ala berfirman,ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ุฅِุฐَุง ุฃَู†ูَู‚ُูˆุง ู„َู…ْ ูŠُุณْุฑِูُูˆุง ูˆَู„َู…ْ ูŠَู‚ْุชُุฑُูˆุง ูˆَูƒَุงู†َ ุจَูŠْู†َ ุฐَู„ِูƒَ ู‚َูˆَุงู…ًุง“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (hartanya), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan: 67)

10.Kerjasama kelompok#”Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik.

Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut.Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, namun 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”.”#Anjuran untuk bekerja sama adalah ajaran Islam. Saling membantu dalam kebaikan dan pahala.

Allah Ta’ala berfirman,{ูˆَุชَุนَุงูˆَู†ُูˆุง ุนَู„َู‰ ุงู„ْุจِุฑِّ ูˆَุงู„ุชَّู‚ْูˆَู‰ ูˆَู„َุง ุชَุนَุงูˆَู†ُูˆุง ุนَู„َู‰ ุงู„ْุฅِุซْู…ِ ูˆَุงู„ْุนُุฏْูˆَุงู†ِ} [ุงู„ู…ุงุฆุฏุฉ: 2]“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Qs. Al Maidah: 2.)Syaikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah menafsirkan,{ูˆَุชَุนَุงูˆَู†ُูˆุง ุนَู„َู‰ ุงู„ْุจِุฑِّ ูˆَุงู„ุชَّู‚ْูˆَู‰} ุฃูŠ: ู„ูŠุนู† ุจุนุถูƒู… ุจุนุถุง ุนู„ู‰ ุงู„ุจุฑ. ูˆู‡ูˆ: ุงุณู… ุฌุงู…ุน ู„ูƒู„ ู…ุง ูŠุญุจู‡ ุงู„ู„ู‡ ูˆูŠุฑุถุงู‡، ู…ู† ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุธุงู‡ุฑุฉ ูˆุงู„ุจุงุทู†ุฉ، ู…ู† ุญู‚ูˆู‚ ุงู„ู„ู‡ ูˆุญู‚ูˆู‚ ุงู„ุขุฏู…ูŠูŠู†.“Hendaknya sebagian kalian menolong sebagian yang lain dalam al birr, dan ia adalah sebuah kata yang mencakup setiap apa yang dicintai oleh Allah dan diridha-Nya berupa amalan-amalan yang lahir dan batin dari hak-hak Allah dan manusia.“[1]
Dan Allah memerintah kita agar bersatu dan bekerja sama,
Allah Ta’ala berfirman,ูˆَุงุนْุชَุตِู…ُูˆุงْ ุจِุญَุจْู„ِ ุงู„ู„ّู‡ِ ุฌَู…ِูŠุนุงً ูˆَู„ุงَ ุชَูَุฑَّู‚ُูˆุงْ“Dan berpeganglah kalian dengan tali Allah seluruhnya, dan jangan bercerai-berai” (Ali ’Imran : 103)

Demikian, semoga bermanfaat.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.



************************


gambar dari sini
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Kehidupan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger