Showing posts with label anak2. Show all posts
Showing posts with label anak2. Show all posts

MENUNDA KESENANGAN

14 June 2020 | comments






Ngga terasa, sudah tiga bulan lebih, anak-anak sekolahnya #dirumahaja.
Termasuk epaknya yang terpaksa, kerja dari rumah aja. Dah biasa banget deh, denger konfrens yang sahut-sahutan dari ruang depan dan belakang.

Trus, gimana kabar sang emak?
Seharusnya ya, dengan semua anggota keluarga ngumpul di rumah, mau tak mau kerjaan sang emak jadi melonjak tajam. Masak berulang, cuci piring yang ngga brenti-brenti, belum upacara beberes rumah dan nggosek kamar mandi. Plus cucian dan jemuran yang melambai-lambai minta disentuh juga.

Tapi, alhamdulillah, kondisi malah terbalik. Emak ngga capek, malah makin banyak me time.
Loh, kok bisa?

Ya, bisalah.
Caranya cuma satu harus TEGA.
Tega menyuruh anak-anak untuk bergantian mengerjakan tugas domestik sang emak.
Tentu saja sebelumnya mereka dikasih pengertian, kalo merawat rumah dan menjaga kebersihannya, adalah tanggung jawab 'SELURUH' anggota keluarga. Bukan cuma emaknya.

Jadi, sejak adegan sekolah #dirumahaja dimulai, sang emak udah bikin jadwal piket yang harus dikerjakan bergantian. Mulai dari masak sarapan, cuci piring pagi-siang-malam, buang sampah, lipat pakaian, sapu-pel, nggosek kamar mandi, angkat jemuran. Semua diserahkan ke anak-anak. Secara ada empat gitu loh. Sayang kalo ngga diberdayakan. Wkwkwk.

Lalu, emaknya ngapain dong. Ya emak bagian masak siang dan masak malam, plus cuci-cuci peralatan masak. Udah itu doang. Enak kan?

Abis itu emak bisa khusyuk balik lagi ke 'dunia'nya. Ngajar di kelas online, ngoreksi tugas peserta, desain flyer, rekaman materi kelas, sambil sesekali ngoprekin aplikasi.

Jadi ngga ada ceritanya, emaknya capek-capek, sedangkan anaknya cuma dibiarin leyeh-leyeh doang. Apalagi untuk anak yang usianya sudah di atas 8 tahun ke atas. Apalagi yang remaja. Mereka harus belajar dan dilatih untuk melaksanakan tugas-tugas rumah.

Ingat ya, ngga ada yang tau, apakah kita sebagai ortu bisa mendampingin anak selamanya.
Jika kondisi yang tidak diharapkan datang menimpa, misal ortu sakit, atau bahkan wafat. Anak-anak sudah terlatih dan terbiasa mengerjakan  segala sesuatunya dengan mandiri. Tidak tergantung orang lain.

Seorang pakar pernah berkata, berilah anakmu tantangan satu tingkat di atas kemampuannya. Dan berikan anak fasilitas, satu tingkat di bawah kebutuhannya.

Artinya apa? Kasih tantangan, kasih kerjaan, kasih tugas yang berat. Misal anak bisanya ngepel satu kamar, ya harus bisa ngepel tiga kamar. Kalo dia mampunya cuma dua kamar, ya sudah, gapapa. Dihargai. Minimal dia berlatih mengerjakan sesuatu satu tingkat di atas kemampuannya. Nantinya dia akan terbiasa.
Dan urusan pengerjaan tugas standar menjadi hal ringan buat dia. Karena sudah TERBIASA melakukan yang lebih berat.

Sebaliknya, kalau anak butuh fasilitas, misalnya yaa...peralatan melukis yang super komplit. Dari canvas, kuas, cat yang high grade. Walaupun ortu mampu, ya ngga perlu disediakan secara komplit.
Sediakan saja peralatan yang sederhana.
Latih dia untuk melukis dengan hanya menggunakan peralatan secukupnya.

Jangan terbiasa memenuhi semua permintaan anak dengan cepat dan memanjakannya dengan aneka fasilitas.
Bahkan hal sepele, seperti jajan cemilan.
Biasakan anak supaya bisa menunda kesenangan.

Saya pernah membaca tentang penelitian yang dilakukan tim psikolog dari universitas ternama di barat sana di tahun 1970-an. Saya lupa negara apa. Intinya, tim peneliti melakukan riset terhadap sekelompok anak usia 4-7 th.

Tiap anak secara bergilir dimasukkan ke satu ruangan. Duduk berhadapan dengan meja yang diatasnya sudah diletakkan aneka cemilan.
Lalu anak itu dikasih petunjuk, bahwa mereka akan ditinggal sendirian dalam ruangan.
Tetapi mereka tidak boleh menyentuh dan memakan cemilan itu,  sampai nanti diperbolehkan ketika ada tim yang masuk ke dalam ruangan tsb.

Apa yang terjadi?
Dari balik kamera tersembunyi, terlihat beberapa anak tidak sanggup menahan godaan. Ada yang langsung memakannya. Ada yang sekedar memegang-megang cemilan dulu beberapa saat, baru dimakan.

Tapi beberapa anak ada juga yang mampu menahan dirinya. Sama sekali tidak menyentuh cemilan tersebut, sampai anggota tim masuk kembali ke ruangan dan mengijinkannya memakan cemilan.

Puluhan tahun kemudian, tim tersebut mengontak anak-anak yang sudah berubah menjadi orang dewasa. Dan tahukah kita?

Segelintir orang dewasa yang dihubungi, berada di  posisi orang sukses. Mempunyai pekerjaan mapan dengan kehidupan yang bahagia.

Ya, mereka yang sukses itu adalah jelmaan anak-anak yang mampu menahan keinginannya sekuat tenaga. Mereka TERLATIH untuk menahan keinginan dan MENUNDA kesenangan.

Menunda kesenangan akan membuat orang menjadi sosok yang kuat, yang terbiasa bekerja keras dan cerdas, sebelum menikmatinya.

Menunda kesenangan akan membuat orang terlatih untuk membelanjakan sesuatu yang sesuai dengan KEBUTUHAN bukan KEINGINAN.

Menunda kesenangan akan membuat orang terbiasa untuk MENGHARGAI apa yang sudah dimiliki.

Dalam Islam pun, di bulan Ramadhan, kita sudah dibiasakan selama satu bulan, untuk menunda salah satu kesenangan kita. Makan.
Dan memang, saat waktunya dibolehkan makan alias berbuka, kita cenderung menikmatinya dengan luar biasa, walau hanya segelas air putih biasa. Terasa sangat nikmat.

Menunda kesenangan memang susah. Tapi itu adalah skill yang harus dilatih. Untuk kita sendiri dan masa depan anak-anak kita.

Apalagi di jaman sekarang. Banyak sekali yang menawarkan kesenangan sesaat. Hanya untuk gaya hidup, atau sekedar mendapat pujian dari orang lain, rela terlibat utang alias kredit. Beli perlengkapan rumah tangga yang baru, ganti gadget, tukar mobil dengan keluaran terbaru. Hanya untuk memenuhi keinginan, bukan kebutuhan.

Dan terlihat pula efeknya di saat wabah pandemi seperti sekarang. Mereka yang survive biasanya adalah orang yang 'mampu menahan kesenangan'.
Tidak punya utang dan tidak terlibat riba.

Saya pernah membaca, keluarga pemilik puluhan properti mahal dengan penghasilan pasif mencapai setengah milyar perbulan (pasif loh ya, belum termasuk penghasilan aktifnya).
Memilih untuk tinggal di salah satu kamar kost miliknya.
Padahal, kalau dia mau, bisa saja beli rumah mewah besar di tengah kota.

Tau Warren Buffet? Salah satu orang terkaya di dunia, memilih untuk tinggal di rumah tua sederhana. Anak-anaknya pun dididik untuk hidup sederhana dan jauh dari bergelimang fasilitas.

Itu cuma segelintir sosok yang sukses, karena memiliki prinsip hidup "MENUNDA KESENANGAN'.

Jadi, yuk belajar lagi...belajar sama-sama...
Belajar tega dan belajar menunda kesenangan😊

#mywrite
#refleksidiri
#parentinglife
#belajarjadiorangtua
#belajarlebihbaik
#instropeksi

Anak Kecil Dan Akhirat

19 March 2015 | comments (1)

Mengajarkan masalah iman tentang hari akhir kepada anak usia 7 th kebawah, tidak semudah seperti mengajarkan anak untuk ngantri, buang sampah pada tempatnya atau merapikan mainannya. Pelajaran seperti itu lebih kelihatan dan bisa dicontohkan dan praktek langsung.

Kalau pelajaran iman, terutama yang menyangkut hari akhir, adalah sesuatu yang gaib, dan tentu saja abstrak bagi mereka. Jelasinnya harus sabar, dan mengikuti daya tangkap mereka.

Kematian opa sebulan yang lalu, jadi pelajaran emas buat anak-anak. Mereka melihat sendiri, seperti apa opa --yang biasanya bercanda dan tertawa bersama mereka-- tiba-tiba berubah menjadi jasad yang terbujur kaku. Diam tak bergerak.

Mereka mengikuti bagaimana jenazah opa mereka diperlakukan, saat diangkat untuk dimandikan, dikafani sampai dimasukkan ke liang lahat. Dan ingatan ini melekat dan terus menjadi pertanyaan besar buat mereka.

"Mama, opa sekarang di surga ya?"
"Opa disana makan sama minum juga ngga?"
"Trus opa ditemenin sama siapa?"
"Rumahnya opa yang sekarang kayak apa luasnya?"

Saya berusaha jawab dengan bahasa mereka.

"Ngga. Opa belum masuk surga. Insyaa Allah opa lagi nunggu di taman yang luas dan indah. Opa ditemenin sama amal baik opa yang bentuknya kayak manusia. Tapi manusianya cakeeepp dan haruuuum banget.
Opa sekarang lagi dikasih lihat sama Allah terus-terusan, surga tempat opa tinggal nanti.
Ya, kayak Muaz kalo mo liburan yang jauh, kan sama mama diliatin dulu di komputer. Tempat liburannya seperti apa. Ada restorannya, ada kolam renangnya, ada kamarnya yang luas, ada tempat main anak-anak. Trus Muaz senang kan, kalo mama liatin seperti itu? Muaz jadi ngga sabaran kan pengen cepat-cepat kesana?"

Muaz (7 th) ngangguk-ngangguk. Termasuk adek-adeknya, mutia (6 th) dan oyi (4,5 th)

"Nah, opa juga seperti itu. Kata Allah swt, orang sholeh dalam kuburnya, diliatin tempatnya di surga. Biasanya sih, orang sholehnya jadi ngga sabaran pengen cepet-cepet hari kiamat. Supaya bisa masuk surga, kumpul sama anak dan cucu-cucunya.

"Kalau semuaaaa manusia sudah mati, kalau kiamat sudah selesai, semua manusia dikumpulin di padang mahsyar. Semuaaa orang dari jaman nabi Adam sampai nabi Muhammad saw, dihitung trus ditimbang pahala sama dosanya. Kalau pahalanya lebih banyak, nanti dimasukin surga. Kalau dosanya yang lebih banyak, dimasukin ke neraka."
Setelah perhitungan selesai, manusia harus ngelewatin jembatan yang sempit dan tajam, namanya shirat. Di bawah shirat ada neraka yang panaaas yang apinya menyala-nyala. Kalau orang sholeh, sama Allah dikasih kekuatan supaya bisa lewat jembatan dengan selamat. Tapi kalau orang jahat dan durhaka, baru sebentar jalan, tahu-tahu terjatuh ke neraka."

"Tapi mama, kenapa Allah masukin orangnya ke neraka?". Si mutia nanya.

"Itu karena orangnya bandel sama Allah. Ngga mau dengerin Allah. Allah suruh sholat, suruh baca Qur'an, suruh banyak berbuat baik, orangnya yang ngga mau denger.
Allah itu sebenarnya sayaaaaaanngg banget sama manusia. Lebih dari sayangnya mama-mama ke anak-anaknya. Semua mama kan ngga ada yang mau kalau anaknya celaka, luka-luka, sakit. Semua mama pengen anak-anaknya sehat, senang-senang. Apalagi Allah. Allah ngga mau manusia masuk ke neraka. Makanya Allah turunin Qur'an supaya manusia tau, yang Allah suruh apa, yang Allah larang apa. Kalo yang dengerin, yang jalanin perintah Allah, nanti dimasukin ke surga. Kalo yang ngga mau dengerin, ya dihukum, dimasukin ke neraka."

"Trus kalo udah dari jembatan, ngapain lagi orang-orangnya?"

"Setelah itu, semuaaaa orang yang selamat dari shirat, dimasukin ke surga sama Allah. Tau ngga surga itu kayak apa? Surga itu besaaaaaarr banget. Trus enaaaaaakkk banget disana. Muaz, mutia sama oyi bisa minta mainan apa aja sama Allah. Ngga usah beli, ngga usah cape-cape ke toko mainan. Ngga usah rebutan. Semua dapat bagian. Malah kalo mau mainan yang banyaaaaaaaakk semua ada.
Mau minta yang lain juga bisa, mo minta es krim, atau coklat yang banyak. Ngga usah takut giginya lobang. Soalnya kan di surga udah ngga ada yang namanya sakit-sakit. Capek-capek.

"Kalo mutia....maunya minta dibikinin sayap sama Allah. Mutia mau kayak kupu-kupu."
"Kalo oyi maunya naik perosotan. Tapi perosotannya dari pelangi, ada warna warni."
"Kalo muaz maunya berubah jadi boboiboy..."

***

Hampir setiap hari, obrolan tentang alam barzakh, surga, neraka jadi topik mereka. Mereka jadi lebih ngerti, kalau mau masuk surga, harus banyak berbuat baik supaya Allah sayang.

"Mama, mutia bawain piring-piring kotornya ya."
"Mama sini biar mutia aja yang rapiin koran-korannya."
"Mama tadi oyi ngalah, ngga rebutan masuk rumah."
"Tadi oyi berbagi kue  di sekolah..."

Kalau si muaz lain lagi. Alhamdulillah, belakangan dia jadi makin rajin ke mesjid. Apalagi pas waktu sholat subuh. Tiap malam sebelum tidur, dia selalu minta dibangunin subuh supaya bisa ke mesjid. Dan banguninnya pun ngga pake heboh seperti dulu. Mudah-mudahan bisa terus-terus kayak gini, biar emaknya senang.

Satu hari, tiba-tiba si muaz nanya.
"Mama, ada ngga ya, anak kecil yang mati di mesjid?"
"Hmm, mama kurang tau. Mungkin saja ada."
"Mama,....muaz pengen mati di mesjid juga. Kayak opa."

Ah. Saya terdiam. Saya anggukin kepala dan bilang supaya muaz lebih gambatte lagi untuk bisa sholat di mesjid. Gambatte berbuat baik. Karena nanti, Allah akan matiin orang sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan. Orang sholeh, karena terbiasa melakukan ibadah dan berbuat baik, maka Allah matikan mereka dalam keadaan baik pula.

Saya jadi lebih sering termenung. Anak-anak ...percakapan mereka masih polos. Pemikiran mereka masih sederhana, tapi mampu me
Masih banyak sekali pelajaran keimanan yang menjadi PR saya. PR yang harus saya selesaikan sebelum jatah saya di dunia selesai. Karena, inilah pelajaran terpenting. Sangat-sangat penting dalam kehidupan mereka. Yang dengannya kehidupan akhirat mereka

Mampukah saya mengawal mereka, mengasuh dan membina mereka, untuk tetap setia di jalan-Nya. Sedangkan saya sendiri masih sering terjatuh mengawal iman sendiri....
Mudahkanlah ya Allah.....

****
gambar dari sini







Anak Berendeng

22 August 2014 | comments

Anak saya berendeng.....alias berurutan kayak not lagu...do...re....mi....
Benernya sih, yang berendeng cuma tiga anak terakhir. Yang pertama si sulung, sempat menjadi anak tunggal selama 7 tahun. Sampe punya adek langsung tiga biji berturut-turut. Alhamdulillah.


Kisah punya anak berendeng gini penuh drama deh. Secara saya termasuk penderita PCOC  (silakan googling yak..*malesnulis.com). Salah dua ciri-ciri penderita PCOC adalah haid tidak teratur, dan sulit punya anak.

Waktu masih di Jepang, setelah si sulung usianya 3 tahun, mulailah dia nanya-nanya kapan bisa punya adek. Dia ngiri soalnya, ngeliat temen-temennya pada punya adek. Malah ada yang adeknya 2 biji. Saya mah lempeng aja, bilang ke dia untuk berdoa. Walopun dalam hati, sedih juga sih, karena kok si adek bayi ngga nongol-nongol di perut saya.

Akhirnya bareng suami, saya pergi ke klinik untuk konsultasi dan terapi. Setelah diperiksa macam-macam, luar dalem sampe diobok-obok dan nyaris bikin pingsan, si dokter ngambil kesimpulan kalo saya tuh menderita PCOC. Terapinya, dengan minum obat, dan kontrol rutin sebulan sekali.

Naah..., saya yang dasarnya males bolak balik ke RS (soalnya kudu naik turun tangga di stasiun kereta,  plus jalan kaki 15 menitan untuk menuju ke RS sono), cuma bertahan sebulan dua bulan ngikutin ntu sesi terapi.  Selanjutnya....ya....terserah saya. Hehehe...

Kurleb dua bulan setelah si sulung berumur 6 tahun, saya hamil. Tapi sayangnya, si janin cuma bisa bertahan sampe 8 minggu saja. Duh, ini termasuk episode yang bikin saya banjir airmata dan darah.
Sampe bikin tulisan curhat nan mellow ini *ni tulisan aslinya dah ngga ada di saya. Syukurnya pas di google ada yang muatin ternyata...

Naaahh.....serunya lagi. Setelah keguguran, saya ngga sempet haid....tau-tau udah hamil lagi !!! Dan saya baru nyadar setelah usia kandungan sudah 2 bulanan. Karena itu tadi, haid saya kan ngga beraturan. Alhamdulillah, si bayi sehat-sehat aja. Sampe lahir pun ni anak kedua asliiiiiii, yang paling lincaahh dan banyak gerak dari sodara-sodaranya.

Yang paling senang tentu saja si sulung. Dia selalu ulang-ulang ngomong,"Yume mitai naa...".
Bahasa gaulnya, Its like a dream !!! Apalagi adeknya ini laki-laki. Bertambah senanglah dia. Bakal ada temen buat maen bola n maen berantem-beranteman. Hehe...alhamdulillah..

Anak yang ketiga pun sama. Saya ngga nyadar, tau-tau dia nongol aja di perut. Padahal waktu itu, saya lagi sibuk-sibuknya pindahan. Dari pinggiran Tokyo ke pusat Tokyo. Tau sendiri kan gimana yang namanya pindahan? Apalagi pas pindahan sekarang, ngga pake jasa packing. Walhasil, semuaaaa dipacking sendiri. Belum acara bongkar muatan dan beres-beres di rumah yang baru. Fiiiuuuhh.

Tapi ya itu tadi, Masya Allah, si janin yang masih imut itu bisa bertahan kuat di perut saya. Dan...akhirnya si bayi perempuan cantik ini lahir dengan sehat dan normal, tepat ketika anak kedua saya berusia 1 tahun 10 hari !!! Yup, mereka hanya beda setahun sodara-sodara.

Sayapun ngalamin saat-saat heboh, merawat dua bayi sekaligus. Dua tangan penuh sama bayi, terutama pas waktu nyusu. Gendong mau ngga mau harus bergantian. Syukurnya, anak sulung saya sering ngebantuin. Plus si bayi yang gede juga ngga terlalu rewel. Begitu juga si bayi perempuan, yang kalo udah kena kasur, langsung teparrr dengan nyenyak. Persis emaknya.

Daaaaan, tanpa disadari, saya hamil lagi !!!  Pas usia kehamilan 4 bulan, kami sekeluarga back for good ke tanah air tercintah. Ketika anak perempuan saya berusia 1,5 tahun, lahirlah anak keempat kami, laki-laki yang putiiiiiiihh....seperti bule. Padahal ni anak doang yang lahir di Indonesia, tapi kok malah lebih terang dan mengkilap dibanding kakak-kakaknya. Hehehe.

Awal-awal punya balita tiga biji sekaligus, benar-benar deh, bikin hidup seperti alam mimpi. Bawaannya pengen ngimpi mulu, saking susahnya cari waktu untuk bobo. Giliran si bayi bule bobo, kakak-kakaknya yang heboh, yang minta susu, yang minta digarukin, de el el. Giliran kakak-kakaknya bobo, ehhh....si bayi bule yang on. Jadinya, kalo mereka bertiga bisa tidur pules berbarengan, adalah satu anugerah banget buat si emak.

Belum termasuk deg-deg-annya, kalo ninggalin si bayi bule sendirian. Entah berapakali kejadian, saya nemuin si bayi lagi dijadiin kuda-kudaan sama kakaknya yang 1,5 th. Hadeeeuuuhh. Untung kejadiannya di kasur, jadi si bayi bule ga terlalu berasa sakit.

Setelah 3 tahun pertama punya balita berendeng, baru terasa nikmatnya. Karena mereka dah bisa maen sesama mereka. Dan ga terlalu bergantung penuh ke emaknya. Apalagi sekarang, setelah usia mereka masing-masing 6 th, 5 th dan 4 th. Makin keenakan dah emaknya. Secara masing-masing dah terbiasa makan dan mandi sendiri, termasuk urusan buang-buang hajat. Ehh...kecuali si bule deng. Ni anak lebih manja. Agak susah disuruh latihan makan sendiri.

Yaaaaaa....alhamdulillah banget, bisa punya anak empat. Sesuatu yang saya dan suami ngga pernah bayangkan. Cuma lucunya, kalo saya tanya ke si sulung yang sekarang dah masuk usia remaja, "Gimana masih mo punya adek lagi ngga??"
Dia akan dengan semangat berkata,"Tidaaaaakk....cukup 3 ajaaaaa"


Asyiiikk...Ramadhan Mau Dateng :)

28 June 2014 | comments

Alhamdulillah.... sore ini, si tamu besar nan agung udah mau dateng :)
Nyok disiapin target dan checklist yang mo dikerjain selama si tamu dateng. Mumpung masih idup dan bernapas ^-^..
Ini contoh checklist yang bisa dicontek. Alhamdulillah, dapet contekan dari temen saya yang keceh, baik hati n tidak sombong. Diambil dari fb temen saya: Siti Nurjanah (lov u sis :-*)

Untuk anak-anak seperti gambar ini:


Kalau untuk orang gede seperti ini:


Kalo mo download filenya, klik aja ini:

Ok....selamat bersenang-senang dan bermesraan dengan Allah swt  di bulan Ramadhan  V^-^V


Sekolah Alam

16 February 2014 | comments



Tadi abis ikutan sesi wawancara di SAI cabang studio alam. Sehari sebelumnya, saya sempat nelpon, nanya kalo anaknya perlu ikut atau tidak. Dan dijawab tidak perlu, karena yang akan diwawancara hanya ortu saja, yaitu si epak dan si emak. Ngga boleh cuma salah satu.

Wah, hebat juga ni sekolah, pikir saya. Lain dari yang lain. Sementara kebanyakan sekolah umumnya yang diseleksi dan ditest adalah calon siswanya....lah ini, malah ortunye. Ck ck ck.

Sampai di sana, saya dan suami berhadapan dengan dua orang guru. Seorang guru yang bertugasnya mewawancarai kami. Satunya lagi menulis. Sebelum bertanya, si guru biasanya  mengawali dengan penjelasan singkat kondisi dan konsep-konsep yang diterapkan di sekolah alam seperti apa. Terus terang, saya suka sekali dengan penjelasan, bahwa di sekolah alam ini, akhlak dan kepemimpinan berada di urutan pertama dalam target pembelajaran siswa. Karena akhlak adalah suatu hal yang perlu proses panjang untuk sampai pada tahap melekat menjadi satu sikap yang menempel terus pada anak.
Adapun akademik, adalah sesuatu yang bisa dikejar dalam waktu singkat.

Bagaimana sang anak bisa berpikir, menganalisa suatu masalah, mengambil keputusan, menyelesaikan konflik, percaya dengan dirinya sendiri, bertanggung jawab dan mampu bersosialisasi dengan baik, itulah yang dijadikan patokan selama masa belajar di sekolah alam ini. Bukan semata-mata menekankan pada kemampuan menghitung, membaca, menghapal, menyelesaikan soal dan lain-lain yang sifatnya kognitif.
Wah, ini sih, sejalan banget dengan orientasi saya.

Pertanyaan yang diajukan, ngga jauh-jauh dari yang ada di benak saya. Seperti, pola asuh yang diterapkan di rumah seperti apa. Gimana tingkah laku anak sehari-hari di rumah. Bagaimana sikap ortu kalo anaknya terlibat kasus bully, atau misalnya si anak ternyata dari aspek akademik agak tertinggal dibanding temen lainnya.

Hehe, saya jawabnya lempeng. Pola asuh, sementara ini masih bebas. Dalam artian, anak-anak saya persilakan melakukan apapun di rumah.  Mau bermain, mau nonton tivi, mau nge-game, mau nginternet....ya silakan saja. Selama makan dan tidur ngga dilupain.

Seperti si Muadz, yang beberapa bulan terakhir, lagi tergila-gila sama crafting. Yang namanya kertas, kardus, styrefoam, piring kertas....semua jadi bahan percobaan dia. Sambil nonton di youtube, si muadz ini, mulai bereksperimen. Bikin boomerang, pesawat kertas, katapel, ranjau, mobil-mobilan, rumah-rumahan, sampe spinner, semacam gasing yang dibuat dari kertas. Itu yang namanya lantai, always fullllll sama kertas dan kardus bekas potongan. Meja belajar saya pun tiap hari penuh dengan gunungan kertas.... -__________-; Tapi takpelah, kayak kata orang malaysia. Saya sih seneng aja kreatifitasnya bisa tinggi, walokate kadang-kadang bete juga liat kondisi rumah sudah seperti kapal pecah, karam, dan hancur berantakan. *lebay.com

Sampe berjam-jam, ini anak betaaaahh banget nge-craft. Ya, namanya juga kesenangan alias hobi. Padahal kalo di sekolah, kata guru TK-nya, giliran disuruh belajar iqro dan baca, pasti dia dah ngilang duluan. Entah kemana. Padahal tadinya keliatan sedang duduk manis. Hehe.

Nah, dalam hal bully, si guru nanya nih. Kira-kira gimana sikap yang diambil saya dan suami, seandainya anak kami dalam posisi sebagai pembully, atau sebagai korban bully.
Suami saya ngomong, bisa jadi anak jadi pembully, karena energinya yang mungkin saja amat sangat berlebih,  kurang tersalurkan. Mungkin bisa dicarikan alternatif kegiatan. Seandainya itu anak saya, ya saya akan carikan kegiatan tambahan yang bersifat fisik di luar jam sekolah.

Trus gurunya nanya lagi, gimana misalnya kalo sebagai ortu pembully, kami dijadikan common enemy oleh para ortu lainnya. Catet ya para ortu. Secara anak-anak sendiri biasanya sangat mudah memaafkan.

Hehe, ini saya yang langsung nyamber jawab. Saya nyerocos saja jawab, pertama, yang jelas, saya akan nyelesain dulu masalah anak saya. Sampe dia bisa insap, ngga ngebully lagi.  Kedua, kalo pun  ternyata masih ada saja ortu yang menyimpan dendam, well, its not a problem. Saya paling ngga peduli dengan sikap orang terhadap saya. Apalagi kalo saya memang tidak melakukan perbuatan kriminal yang merugikan orang lain or maksiat yang dilarang agama. So whats the problem? Cuek aja. Hehehe.

Si guru cerita, kalo kasus ini pernah ada di sekolah alam pusat. Dan herannya, masalah di tingkat anak sudah selesai, tapi malah ortunya yang ngga selesai-selesai.

Yo weislah. Berikutnya, masalah anak yang tertinggal secara kognitif dibanding teman lainnya, saya dan suami sepakat, itu bukan masalah. Ada masanya anak-anak akan punya kemampuan akademik secara alami. Dan kalo masa itu sudah muncul, dia bisa dengan mudah mengejar ketertinggalannya.

Saya ngasih contoh anak saya pertama. Dia lahir dan besar di Jepang. Dia sekolah sampe kelas 3 SD di sekolah Jepang. Dan dia masih tidak bisa menulis dan membaca bahasa Indonesia ketika kami pindah ke Indonesia. Saya sendiri waktu itu ngga panik sama ketertinggalan anak saya. Waktu itu ya...saya berpikir, selama anak saya ngga punya motivasi untuk belajar baca tulis, ya saya pun ngga akan maksa. Karena percuma saja, yang ada saya yang darting, dan anak saya yang bete. Gara-gara dipaksa dan terpaksa.

Dan, syukurnya, ngga sampe dua bulan, anak saya bisa baca dan tulis sendiri dengan lancar. Tanpa perlu manggil guru privat, dan sayapun ngga perlu capek marah-marah. Itu karena dia sendiri yang termotivasi untuk belajar bhs Indonesia. Secara di sekolahnya, semua anak pastinya sudah bisa baca tulis lancar. Kelas 4 SD gitu loh. Walhasil karena dia sendiri yang gambatte belajar, Alhamdulillah, ketertinggalan itu bisa dia kejar dalam waktu singkat. Yaaa...paling kosa kata aja sih yang dia masih suka bingung.

Cuma, khusus untuk muadz ini, saya belum tau modelnya seperti apa. Model yang harus diarahin, didampingin terus menerus, atau cukup dibiarkan saja seperti kakaknya itu.

Yaaa....apapun itu, sekarang ini yang ada dipikiran saya, semoga semua anak-anak saya menikmati masa kanak-kanak mereka dengan enjoy. Tanpa tekanan, tanpa paksaan. Menikmati masa-masa sekolah sesuai tahapan perkembangan usia mereka. Menjalani proses pembelajaran dengan senang hati, dengan keceriaan, dengan senyum dan tawa bahagia........

*gambar dari sini





 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Kehidupan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger