Hidup Tanpa PRT

18 April 2013 | comments (4)


Sejak ditinggalin khodimat aka PRT.. yang baik hati itu, waktu kok terasa cepat banget yak. Ngga terasa tau-tau sudah sebulan lewat, saya melewati hari demi hari dengan segambreng tugas kenegaraan, yang rasanya ngga akan pernah habis 8-)

"Ngga pengen cari pembantu aja?" tanya suami saya. Yang mungkin tiap malam pulang kantor, cuma disambut dengan tampang si istrih yang sudah sekarat...saking telernya.

"Udah, pake pembantu aja, ini kan bukan di Jepang", kata bapak saya.

"Baguslah kalau begitu, biar ngana banyak bergerak," kata mama saya.

"Mama kok ngga cari pembantu lagi?". Kata si sulung, yang belakangan sering saya manfaatkan jadi tangan kanan dan kiri saya.

Yah....itulah beberapa komentar dari orang-orang tersayang. Sebenarnya ada banyak alasan kenapa saya memutuskan tidak perlu pake pembantu lagi.

Pertama, saya "terpaksa" bergerak. Atas bawah, kanan kiri, depan belakang. Persis seterikaan. Bikin sarapan, bangunin anak, mandiin si kembar (beda setahun) yang suka heboh kalau dibangunin dengan paksa. Nganterin yang sulung ke sekolahnya. Nyuapin si bungsu, plus mandiiin setelah itu. Lalu sambung dengan acara cuci jemur. Kemudian siapin  masak-masak. Trus ngelappy sebentar, sambil nunggu cucian kering. Masak buat siang, plus cucpir. Lalu ngelipet baju, n setrika beberapa lembar.

Menjelang siang, nyambut kedatangan si kembar dari TK-nya. Bersambung dengan acara heboh, minta mereka ganti baju dan cuci tangan kaki. Belum nyeret-nyeret suruh makan siang sendiri. Setelah itu biasanya duel dimulai antar si kembar dan si bungsu, ya rebutan pad, atau lappy, atau channel tv, sampe rebutan maen. Hadoooohhh. Sementara emaknya mo ngelempar badan yang mulai remuk di kasur, mereka bertiga ngga kalah cepat rebutan cari tempat VIP di samping mamanya.

Belum berapa menit rebahan, tau-tau dah harus jemput si sulung. Maka di panas bolong yang menyengat, pergilah si emak dengan ketiga balitanya dalam mobil roti tawar alias luxio. Di dalam mobil pun, masiiiiiiihhh aja ni anak tiga pada berantem, rebutan tempat lagiih...Hadooohhh.

Pulang dari sekolah, acaranya adalah ngingetin si sulung yang selaluuuu aja, perlu di rewind perintahnya, untuk mandi n belajar. Sambung dengan acara sapu pel, n siap-siap masak untuk makan malam. Setelah sholat maghrib, giliran ngejejerin tiga anak kecil untuk makmal. Alhamdulillah, dah pada terbiasa makan sendiri, jadi lumayan terbantu si emak. Paling si bungsu doang yang sambil nyendok sendiri, tetep harus disuapin, secara tu anak masih banyak mainnya daripada makan beneran.

Menjelang isya, ni anak tiga pada dimandiiin, supaya cepet bobo. Ehhhh, ngga taunya masih pada heboh di tempat tidur. Sementara si emak dengan mata yang mulai redup, udah ngga sabar pengen ngampar. Biasanya prolog sejam-an, baru anak-anak bener-bener tepar.

Kaaaan, banyak banget ternyata yang harus dikerjakan seharian. Dengan luas rumah yang empat kali lipat dari di  Jepang dulu, plus jumlah anak yang bertambah, memang bener-bener menguras tenaga dan emosi jiwa euy. Tapi sekali lagi, saya (harus) nganggep ini sebagai latihan. Ya latihan olahraga, latihan mengelola emosi, latihan ngatur prioritas kerjaan, de el el. Selain itu, sebagai latihan untuk  suami dan anak-anak supaya terbiasa bahu membahu dan bertanggungjawab dengan tugasnya masing-masing.

Kedua, privacy lebih terjaga. Sepuluh tahun berumah tangga di Jepun tanpa pembantu, bener-bener bikin saya, suami dan si sulung, sangat kompak. Di rumah bisa bebas ngapa-ngapain. Aurat lebih terjaga, aib juga terjaga...hehe. Namanya juga keluarga, dah saling tau belang bentong masing-masing. Sekarang dengan kondisi anak yang bertambah tiga, dan yang satu menjelang remaja, tentunya harus lebih kompak lagi dong. Tidak ada orang lain yang bisa saja tanpa sengaja mendengar/melihat aib keluarga. Yaa, kadang-kadang kan ada aja kebiasaan-kebiasaan aneh di rumah, yang mungkin rada aib kalau sampe ketahuan orang lain. Makanya dulu, awal-awal pindah ke Ina, si sulung sempat protes, kok ada orang lain *aka mba PRT* yang tinggal bareng kita.

Ketiga, saya terhindar dari perbuatan zholim. Tau sendiri kan, kalau punya pembantu, bawaaannya jadi ngandelin, pengennya minta tolong terus. Karena merasa kita sudah nggaji dia. Kan ujung-ujungnya jadi zholim. Astaghfirullah. Siapa tau tanpa kita sadar, kita sudah berlebihan dalam hal menggunakan tenaga mereka. Belum lagi anak-anak yang ikutan jadi manja, karena merasa ada orang yang bertanggungjawab terhadap semua urusan baju, masakan, dll dalam rumah.

Keempat, saya jadi lebih rapih, dan terdorong untuk selalu dalam kondisi on. Tiap jalan kesana kemari, otomatis ni tangan ikutan bekerja, mengembalikan barang-barang yang ngga pada tempatnya, ngerapihin mainan yang belum sempet dirapiin para krucil, buangin sampah, ngelap-lap, dst. Hal mana yang jarang saya lakukan dulu pas ada pembantu, karena...ya itu tadi, selalu ngandelin dia.

Sebenarnya masiiiiiih banyak lagi.
Tapi dah setengah 12 malam nih. Saya harus cepet tidur, karena besok, rutinitas akan berulang :)
Yang jelas, walaupun memulai lagi dari level beginner, dan agak terseok-seok beradaptasi, saya mulai menikmati rutinitas dan kehebohan pekerjaan RT fulllll seperti di Jepun dulu. Segala-gala ditanganin sendiri. Ngga ada istilah minta tolong or  andel-andelan ke orang lain. Yang diandelin hanya Allah SWT semata.

Alhamdulillaah .....





Hidayah....

22 March 2013 | comments






Tersebutlah seorang pemuda ahli maksiat. Tiada satu haripun dia lalui kecuali dia gunakan untuk mabuk-mabukkan, berjudi, main wanita dan sederet kemaksiatan lainnya.

Suatu malam dia berkeliling mencari wanita yang mau diajak kencan.Pucuk dicinta ulampun tiba. Dari sebuah rumah berlentera terang, terdengar olehnya suara merdu. Pemuda itu segera tahu bahwa didalam rumah berdiam seorang wanita cantik tak bersuami, dan tanpa pikir panjang diapun segera masuk. Namun ketika sudah berada di dalam rumah, dia malah tertegun. Dia melihat wanita tersebut sedang membaca Al-quran.

Diapun semakin terhanyut, tatkala mendengar wanita itu membaca ayat ke-16 dari QS Al-Hadid (57); “BELUM TIBAKAH WAKTUNYA BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN UNTUK TUNDUK HATI MEREKA UNTUK MENGINGAT ALLAH DAN KEPADA KEBENARAN YANG TELAH TURUN KEPADA MEREKA?”

Sontak saja hati sang pemuda tergetar. Ayat itu seakan-akan ditujukan kepadanya. Hatinya yang sekian lama dibaluri karatan dosa seakan terkuak. Cahaya Iman yang telah sekian lama padam kini bersinar kembali. Saat itu, ambruklah nafsu syahwatnya. Dia tertunduk lesu dan menangis.Dia berlari ke mesjid untuk bersujud kepada Allah yang telah lama dilupakannya.

Sejak peristiwa itu, kelakuan sang pemuda berubah 180 derajat. Dia larut dalam ibadah dan mencari ilmu. Pemuda itu bernama Fudhail bin’ Iyadh. Kemudian dia dikenal sebagai Sufi besar pada zamannya.

***
Sedikit saja anak panah bergeser fokusnya, maka akan terjadi pergeseran sangat besar dari titik balik. Perubahan kecil pada masa sekarang, akan membawa perubahan besar dimasa yang akan datang. Karena itu , kemampuan memilih sikap bisa mengubah total kehidupan seseorang dimasa datang. Itulah yang terjadi pada Fudhail bin ‘Iyadh.

Hanya lewat satu peristiwa , dia mengubah haluan hidupnya, sehingga berubah pula perjalanan nasibnya, dari seorang ahli maksiat menjadi ahli Taat yang namanya terus abadi hingga berabad-abad lamanya. “TEGURAN” dari Allah benar-benar menohok jiwanya, hingga dia tersadarkan dari tidur panjang berselimutkan kejahiliyahan.

Tiada diragukan lagi, hidayah Allah-lah yang menjadikan seseorang berubah. Namun hidayah dari Allah bukan barang Gratisan, karena ia harus dicari. Tidak bisa kita mengatakan bahwa Allah belum memberi kita hidayah, sementara hidayah Allah bertebaran dimana-mana, disetiap waktu, disetiap tempat dan disetiap peristiwa. Masalahnya mau atau tidak kita mengambilnya.

Andaikan hidayah itu Televisi, maka kita harus berikhtiar agar dapat menyalakannya.
Andaikan Hidayah itu ada di majelis Ilmu , kita harus rajin mendatanginya.
Andaikan hidayah itu ada dalam doa, rajin-rajinlah berdoa memohon hidayah.
Berdoalah untuk diri sendiri, untuk pasangan hidup, untuk orang tua, untuk anak cucu, untuk sanak saudara, serta orang-orang yang kita kenal maupun tidak kita kenal. Orang yang belum pernah berbuat baik maupun orang yang pernah menzalimi kita.

Sekali lagi Allah Ta’ala menebarkan kunci-kunci hidayah disekitar kita.
Didalam setiap peristiwa yang ditakdirkan , terkandung limpahan hidayah yang bisa membuat seseorang terbangkitkan energi dirinya.

Ada yang berubah ketika ditinggal mati orangtuanya.
ada yang berubah ketika mendapat hinaan dari atasannya,
ada yang berubah ketika bangkrut usahanya,
ada yang berubah ketika mendapat nasehat dari orang berilmu,
ada yang berubah ketika dia masuk penjara,
ada yang berubah ketika patah hati dan dikecewakan,
ada yang berubah ketika melihat bening mata bayi kecilnya, dsb.

Bahkan jatuhnya sebutir Apel dari pohon dapat mengubah wajah dunia secara keseluruhan, seperti yang terjadi pada Isaac newton. Jatuhnya Apel telah menginspirasinya untuk menemukan Hukum relativitas.

Yang terpenting maukah kita membuka hati dan pikiran?
Maukah kita belajar serta mau mengakui kelemahan diri?
Jika hal ini dilakukan , akan lebih mudah bagi kita untuk meraih limpahan hidayah Allah, kapanpun dan dimanapun kita berada. Namun jika belum mau juga, tampaknya kita harus menderita terlebih dulu sebelum melakukan perubahan. Biasanya penderitaan Efektik mengubah seseorang***


(Dikutip dari “ Mengantar Ginjal Ke Surga” karya Eman Sulaiman )

06 January 2013 | comments

‎( TAFAKUR ) NIKMAT BERNAFAS

Alhamdulillah. Kita masih lagi mampu bernafas, masih mampu bergerak, masih mampu berfikir dan masih hidup. Andainya pagi tadi kita bangun dari tidur, dan tidak dapat melihat, apakah kita mampu berganjak daripada tempat tidur kita? Andainya setelah terjaga dari tidur pagi tadi telinga kita tidak dapat menangkap sebarang bunyi, kepada siapa kita akan mengadu? SubhanaAllah. Banyak sungguh nikmat yang kita perolehi setiap hari. Hmm… berapakah bayaran untuk semua ini? Bayaran untuk udara yang dihirup, air yang diminum, tenaga yang digunakan, kewarasan ketika berfikir dan masa yang mematangkan kita?

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah yang dilimpahkannya kepada kamu, tiadalah kamu akan dapat menghitungnya satu persatu, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha mengasihani.” (an-Nahl, 16: 18 )

Sesungguhnya nikmat Allah adalah terlalu banyak diberikan kepada makhlukNya. Namun manusia sering lalai dan leka dengan nikmat yang dikecapi ini sehingga Allah bertanya kepada mereka yang sering mendustakan nikmat-nikmat yang diberikanNya.

Setiap hari manusia bernafas lebih dari 25 ribu kali. Dalam kurun waktu tersebut, setidaknya 180 meter persegi udara yang mengandung 5-6 meter persegi oksigen terhirup ke dalam tubuh. Kemudian setelahnya, terjadilah proses filterisasi darah secara sempurna dengan menghilangkan gas arang dan pemberian oksigen yang penting untuk tubuh. Setidaknya terdapat 200 meter persegi jaringan saluran yang membentang luas untuk bekerja menyaring darah.

Bernafas adalah proses yang melibatkan banyak sekali komponen yang tergabung dalam sistem pernafasan. Ibnu Qoyyim menjelaskan, saluran pernafasan manusia bercabang menjadi beberapa saluran yang akhirnya sampai pada saluran akhir yang sangat tipis. Setiap saluran diliputi selaput tipis yang bersambungan dengan dinding urat darah kecil. Disinilah darah dibersihkan dan mengangkut oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh.

Prof. Adnan Oktar (Harun Yahya) menjelaskan, bahwasannya setelah terhirup pertama-tama udara dibersihkan dalam hidung dan udara diatur dengan bulu-bulu yang berfungsi sebagai saringan. Bulu-bulu ini mengolah udara yang tercemar atau dingin menjadi udara yang cocok untuk paru-paru. Bulu-bulu dalam hidung bertugas menyaring, membersihkan, melembabkan, menghangatkan, dan memurnikan udara dari bakteri. Setidaknya bulu ini melindungi tubuh dari 20 miliar partikel zat asing setiap harinya.

Sesungguhnya bernafas adalah proses memberi makan sel-sel tubuh dengan oksigen. Sel-sel tubuh tidak bisa bertahan hidup kecuali jika mereka diberi oksigen. Itulah sebabnya manusia hanya dapat menahan nafas untuk waktu yang singkat saja. Juga di ketinggian, ketika kadar oksigen semakin menipis, seseorang akan merasakan berat bernafas dan dadanya kian terhimpit lantaran kesulitan mendapat oksigen. Jika hilangnya pasokan oksigen dibiarkan lebih lama lagi, maka sel-sel tubuh kemudian akan mati dan akhirnya manusia akan tewas. 
 
(Taken from Facebook Yusuf Mansur Network)

A Very Touching Story: Aminah Assilmi

28 December 2012 | comments


Jadilah seorang muslim/muslimah yang baik. Lakukan apa yang diperintahkan dan tinggalkan apa yang dilarang oleh Islam. Tanpa banyak ceramah, maka manusia di sekitarmu akan tercerahkan dengan cahaya akhlakmu. Itulah yang dilakukan seorang muallaf asal Amerika di bawah ini. Di akhir perjuangan, sinar mutiara keislaman yang dipancarkan oleh kepribadiannya, berhasil menjadi magnet bagi keluarga terdekatnya. Only one word,... masya Allah, its really inspiring and touching story :)

***************************

Islamedia - Tak banyak orang yang mengenal Aminah Assilmi. Ia adalah Presiden Internasional Union of Muslim Women yang telah meninggal dunia pada 6 Maret 2010, dalam sebuah kecelakaan mobil di Newport, Tennesse, Amerika Serikat.

Perjalanannya menuju Islam cukup unik. Perjalanan yang patut dikenang. Semuanya berawal dari kesalahan kecil sebuah komputer. Mulanya, ia adalah seorang gadis jemaat Southern Baptist – aliran gereja Protestan terbesar di AS, seorang feminis radikal, dan jurnalis penyiaran.

Sewaktu muda, ia bukan gadis yang biasa-biasa saja, tapi cerdas dan unggul di sekolah sehingga mendapatkan beasiswa. Satu hari, sebuah kesalahan komputer terjadi. Siapa sangka, hal itu membawanya kepada misi sebagai seorang Kristen dan mengubah jalan hidupnya secara keseluruhan.


Tahun 1975 untuk pertama kali komputer dipergunakan untuk proses pra-registrasi di kampusnya. Sebenarnya, ia mendaftar ikut sebuah kelas dalam bidang terapi rekreasional, namun komputer mendatanya masuk dalam kelas teater. Kelas tidak bisa dibatalkan, karena sudah terlambat.

Membatalkan kelas juga bukan pilihan, karena sebagai penerima beasiswa nilai F berarti bahaya.

Lantas, suaminya menyarankan agar Aminah menghadap dosen untuk mencari alternatif dalam kelas pertunjukan. Dan betapa terkejutnya ia, karena kelas dipenuhi dengan anak-anak Arab dan ‘para penunggang unta’. Tak sanggup, ia pun pulang ke rumah dan memutuskan untuk tidak masuk kelas lagi.

Tidak mungkin baginya untuk berada di tengah-tengah orang Arab. ”Tidak mungkin saya duduk di kelas yang penuh dengan orang kafir!” ujarnya kala itu.

Suaminya coba menenangkannya dan mengatakan mungkin Tuhan punya suatu rencana di balik kejadian itu. Selama dua hari Aminah mengurung diri untuk berpikir, hingga akhirnya ia berkesimpulan mungkin itu adalah petunjuk dari Tuhan, agar ia membimbing orang-orang Arab untuk memeluk Kristen.

Jadilah ia memiliki misi yang harus ditunaikan. Di kelas ia terus mendiskusikan ajaran Kristen dengan teman-teman Arab-nya.
”Saya memulai dengan mengatakan bahwa mereka akan dibakar di neraka jika tidak menerima Yesus sebagai penyelamat.

Mereka sangat sopan, tapi tidak pindah agama. Kemudian saya jelaskan betapa Yesus mencintai dan rela mati di tiang salib untuk menghapus dosa-dosa mereka.”

Tapi ajakannya tidak manjur. Teman-teman di kelasnya tak mau berpaling sehingga ia memutuskan untuk mempelajari alquran untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang salah dan Muhammad bukan seorang nabi.

Ia pun melakukan penelitian selama satu setengah tahun dan membaca alquran hingga tamat.

Namun secara tidak sadar, ia perlahan berubah menjadi seseorang yang berbeda, dan suaminya memperhatikan hal itu. ”Saya berubah, sedikit, tapi cukup membuat dirinya terusik. Biasanya kami pergi ke bar tiap Jumat dan Sabtu atau ke pesta. Dan saya tidak lagi mau pergi. Saya menjadi lebih pendiam dan menjauh.”

Melihat perubahan yang terjadi, suaminya menyangka ia selingkuh, karena bagi pria itulah yang membuat seorang wanita berubah.

Puncaknya, ia diminta untuk meninggalkan rumah dan tinggal di apartemen yang berbeda. Ia terus mempelajari Islam, sambil tetap menjadi seorang Kristen yang taat.

Hingga akhirnya, hidayah itu datang. Akhirnya pada 21 Mei 1977, jemaat gereja yang taat itu menyatakan, ”Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.”

Perjalanan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, seperti halnya mualaf lain, bukanlah perkara yang mudah. Aminah kehilangan segala yang dicintainya.

Ia kehilangan hampir seluruh temannya, karena dianggap tidak menyenangkan lagi. Ibunya tidak bisa menerima dan berharap itu hanyalah semangat membara yang akan segera padam.

Saudara perempuannya yang ahli jiwa mengira ia gila. Ayahnya yang lemah lembut mengokang senjata dan siap untuk membunuhnya.

Tak lama kemudian ia pun mengenakan hijab. Pada hari yang sama ia kehilangan pekerjaannya.

Lengkap sudah. Ia hidup tanpa ayah, ibu, saudara, teman dan pekerjaan. Jika dulu ia hanya hidup terpisah dengan suami, kini perceraian di depan mata.

Di pengadilan ia harus membuat keputusan pahit dalam hidupnya; melepaskan Islam dan tidak akan kehilangan hak asuh atas anaknya atau tetap memegang Islam dan harus meninggalkan anak-anak. ”Itu adalah 20 menit yang paling menyakitkan dalam hidup saya,” kenangnya.

Bertambah pedih karena dokter telah memvonisnya tidak akan lagi bisa memiliki anak akibat komplikasi yang dideritanya.

”Saya berdoa melebihi dari yang biasanya. Saya tahu, tidak ada tempat yang lebih aman bagi anak-anak saya daripada berada di tangan Allah. Jika saya mengingkari-Nya, maka di masa depan tidak mungkin bagi saya menunjukkan kepada mereka betapa menakjubkannya berada dekat dengan Allah.”

Ia pun memutuskan melepaskan anak-anaknya, sepasang putra-putri kecilnya.

Namun, Allah Maha Pengasih. Ia diberikan anugerah dengan kata-katanya yang indah sehingga membuat banyak orang tersentuh dan perilaku Islami-nya. Dia telah berubah menjadi orang yang berbeda, jauh lebih baik. Begitu baiknya sehingga keluarga, teman dan kerabat yang dulu memusuhinya, perlahan mulai menghargai pilihan hidupnya.

Dalam berbagai kesempatan ia mengirim kartu ucapan untuk mereka, yang ditulisi kalimat-kalimat bijak dari ayat Al-Quran atau hadist, tanpa menyebutkan sumbernya.

Beberapa waktu kemudian ia pun menuai benih yang ditanam. Orang pertama yang menerima Islam adalah neneknya yang berusia lebih dari 100 tahun. Tak lama setelah masuk Islam sang nenek pun meninggal dunia.

”Pada hari ia mengucapkan syahadat, seluruh dosanya diampuni, dan amal-amal baiknya tetap dicatat. Sejenak setelah memeluk Islam ia meninggal dunia, saya tahu buku catatan amalnya berat di sisi kebaikan. Itu membuat saya dipenuhi suka cita!”

Selanjutnya yang menerima Islam adalah orang yang dulu ingin membunuhnya, ayah.

Keislaman sang ayah mengingatkan dirinya pada kisah Umar bin Khattab. Dua tahun setelah Aminah memeluk Islam, ibunya menelepon dan sangat menghargai keyakinannya yang baru. Dan ia berharap Aminah akan tetap memeluknya.

Beberapa tahun kemudian ibu meneleponnya lagi dan bertanya apa yang harus dilakukan seseorang jika ingin menjadi Muslim. Aminah menjawab bahwa ia harus percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya.

”Kalau itu semua orang bodoh juga tahu. Tapi apa yang harus dilakukannya?” tanya ibunya lagi.

Dikatakan oleh Aminah, bahwa jika ibunya sudah percaya berarti ia sudah Muslim. Ibunya lantas berkata, ”OK, baiklah. Tapi jangan bilang-bilang ayahmu dulu,” pesan ibunya.

Ibunya tidak tahu bahwa suaminya (ayah tiri Aminah) telah menjadi Muslim beberapa pekan sebelumnya. Dengan demikian mereka tinggal bersama selama beberapa tahun tanpa saling mengetahui bahwa pasangannya telah memeluk Islam.

Saudara perempuannya yang dulu berjuang memasukkan Aminah ke rumah sakit jiwa, akhirnya memeluk Islam. Putra Aminah beranjak dewasa. Memasuki usia 21 tahun ia menelepon sang ibu dan berkata ingin menjadi Muslim.

Enam belas tahun setelah perceraian, mantan suaminya juga memeluk Islam. Katanya, selama enam belas tahun ia mengamati Aminah dan ingin agar putri mereka memeluk agama yang sama seperti ibunya.

Pria itu datang menemui dan meminta maaf atas apa yang pernah dilakukannya. Ia adalah pria yang sangat baik dan Aminah telah memaafkannya sejak dulu.

Mungkin hadiah terbesar baginya adalah apa yang ia terima selanjutnya. Aminah menikah dengan orang lain, dan meskipun dokter telah menyatakan ia tidak bisa punya anak lagi, Allah ternyata menganugerahinya seorang putra yang rupawan.

Jika Allah berkehendak memberikan rahmat kepada seseorang, maka siapa yang bisa mencegahnya? Maka putranya ia beri nama Barakah.

Ia yang dulu kehilangan pekerjaan, kini menjadi Presiden Persatuan Wanita Muslim Internasional. Ia berhasil melobi Kantor Pos Amerika Serikat untuk membuat perangko Idul Fitri dan berjuang agar hari raya itu menjadi hari libur nasional AS.

Pengorbanan yang yang dulu diberikan Aminah demi mempertahankan Islam seakan sudah terbalas. ”Kita semua pasti mati. Saya yakin bahwa kepedihan yang saya alami mengandung berkah.”

Aminah Assilmi kini telah tiada meninggalkan semua yang dikasihinya. Termasuk putranya yang dirawat di rumah sakit, akibat kecelakaan mobil dalam perjalanan pulang dari New York untuk mengabarkan pesan tentang Islam.

Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci.


***

Taken from Facebook, Islamedia KISAH MENGHARUKAN ISLAMNYA AMINAH ASSILMI

Rumah Masa Depan

| comments



Inilah rumah yang bakal kita semua diami suatu hari nanti. Lambat cepat bergantung kepada ketentuan Ilahi. Selain dari sibuk menyediakan harta kekayaan untuk diri dan keluarga, jangan sesekali kita lupa untuk mengumpul kekayaan amal sebagai bekal menuju ke rumah yang bakal kita diami ini sehingga berkumpulnya di padang Mahsyar...

taken from facebook, "Temukan Aku Dalam 'ISTIKHARAH-MU' Duhai Belahan Jiwa Ku"'s photo.

Bergeraklah !!!

19 December 2012 | comments

 

1.Bismillahirrahmanirrahim, selain kemampuan 'baca' yang hebat, generasi awal umat Islam hebat karena kemampuan 'gerak' mereka. Proaktif.
2.Begitu mereka masuk Islam, mereka tak tinggal diam. Mereka segera bangkit dan gerak.

3.Setidak2nya mereka tergerak bertanya,"Apa tugas saya ya, Rasulullah?" Begitu dijawab tugas Rasul jadi tugas mereka juga, mrka membantu.

4.Tercatat Sa'ad bin Abi Waqash ra masuk Islam oleh gerak dan ajakan Abu Bakar Ashshiddiq ra.

5.Mereka tidak menunggu Al Qur'an selesai diturunkan semuanya, tapi mereka gerak dengan beberapa ayat yang telah mereka pahami dan imani.

6.Tentu terkadang mereka keliru dlm bertindak. Tetapi 'berkah' gerak lebih besar dibandingkan akibat kekeliruan. Bukankah Allah Maha Pemaaf?

7.Lagi pula mereka selalu hati-hati dlm bertindak. Ini meminimalkan kekeliruan gerak. Dan mekanisme syura semakin meminimalkan kekeliruan.

8.Jadi, mereka mengambil jalan pertengahan. Tidak gegabah dan tidak takut keliru. Karenanya mereka mampu gerak.

9.Mereka menyadari bahwa dalam gerak terbuka kesempatan dan peluang. Terbuka rezeki u mereka. Juga rezeki hidayah untuk umat manusia.

10.Suasana rabbani yg Allah SWT anugerahkan kpd mereka berupa suasana belajar plus mengajarkan al Qur'an, jg mminimalkan kekeliruan gerak.

11.Dmkianlah, para sahabat secara dinamis terus gerak. Seprti air yg selalu mencari tempat yg rendah. Seperti angin yg menerobos dedaunan.

12.Karakter gerak ini menunjukkan mereka sebagai aktor kehidupan. Karenanya Allah SWT berikan panggung kehidupan sebagai umat terbaik.

13.Dengan karakter gerak, mereka terbebaskan dari peran penonton, yang hanya bisa bersorak atau ikut sedih bila aktornya sedih.

14.Dengan karakter gerak, mereka terbebas dari peran pengamat, yang sok tahu padahal belum tentu mampu.

15.Mrk amalkan QS At Taubah ayat: Dan katakan: Bekerjalah kalian niscaya Allah, Rasulullah, dan orang2 beriman melihat kerja kalian.

16.Perhatikanlah kekuatan gerak yg mengalahkan kata2. Saat para sahabat tak berkenan dgn perintah Nabi SAW u tahallul dan sembelih qurban.

17.Ummu Salamah ra menasihati suaminya (Nabi SAW): Silakan kakanda keluar, lalu bertahallul, dan sembelih qurban.

18.Tanpa kata Nabi SAW gerak dgn keluar kemah, bertahallul, dn sembelih qurban. Para sahabat tersentak. Mrka pun trgerakkan u mncontohnya.

19.Gerak menunjukkan kesungguhan. Karena itu ia menggerakkan siapa saja yang menyaksikannya. Dan menggerakkan pertolongan datang.

20.Karena itu bila Anda dan komunitas Anda terjangkit penyakit diam, waspadalah. Tiada kemenangan kecuali bersumber dari gerak.

kultwit @dedhi_suharto

Good Habits...

| comments


Keterbatasan...

| comments

Husnudzhon bukan sebaga angan2. Husnudzhon harus dibarengi dengan amal sholeh nyata. Tapi kita punya keterbatasan2. Kita ingin masuk syurga tapi kita bukan ahli ibadah. Berarti tiap malam kota harus ikhlas memaafkan semua kesalahan orang. Kita ingin alam kubur kita nanti luas dan terang benderang, padahal kita tidak punya banyak hafalan AlQuran, berarti kita harusnaca AlQuran setiap hari. Kita ingin menjadi pebisnis sukses padahal kita tidak kaya harta, berarti kita harus pandai berhubungan baik dengan orang lain dan tidak hidup boros. Dst dst..
*taken from Femina Sagita`s status

A Test

| comments


Label baru

| comments

Bukaaan...ini bukan tentang label yang suka nempel di baju atau benda-benda lainnya. Tapi ini tentang label di blog ini. Ceritanya saya mo nambah label "Facebook", yang isinya status teman-teman di facebook, atau hasil copas status dari orang lain, yang saya rasa bermanfaat dan menginspirasi. Bentuknya bisa tulisan, gambar, atau apa ajah.

Sebabnya sayang aja, kalau dibiarkan lewat, tanpa disimpan dan diingat-ingat. Begitu ceritanya. Sengaja pake pengumuman, biar pemirsa ngga kaget ada channel baru...*tipi kaleee*
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Kehidupan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger