Cerita Haji: Menjelang Keberangkatan

28 January 2007 | comments (11)

Adegan india yang berlangsung beberapa saat di siang hari itu, akhirnya selesai sudah. Saya kembali disibukkan dengan urusan perkoporan... (kok belom beres2 siiiihhh).
Iya nih, sebenarnya udah beres, cuma kan kudu ngecek lagi. Apalagi sorenya, sang kopor besar akan diambil oleh jasa pengiriman kopor ke bandara. Kami biasa memakai jasa ini, karena jarak dari rumah ke bandara yang.....jauuuuhh sekali. Sekitar tiga jam-an. Harganya lumayanlah, dibanding hebohnya ngangkut-ngangkut naik turun tangga di stasiun kereta dimana itupun harus beberapa kali berganti-ganti kereta.

Sebisa mungkin, saya mengurangi jumlah barang dalam kopor. Maksudnya, yang perluuuu banget yang dibawa. Soalnya saya yakin banget, balik dari haji, pasti isi kopor udah beranak pinak sampai ke buyut

Satu jam sebelum diambil, kopor dah rapi. Berikutnya, saya disibukkan kembali dengan urusan beresin rumah. Saya pengennya meninggalkan rumah dalam keadaan rapi jali. Supaya pas balik nanti, ngga stres gitu loh ...ngeliat ada kapal yang pecah di rumah..
Segala isi rumah saya rapihin dan bersihin, dari kamar mandi, wc, dapur, kamar tidur, kulkas...dan semuanya beres setelah jam 11 malam !!! Waduh, lama juga ya.

Oiya, diselang saya melakukan kegiatan bersih-bersih, tiba-tiba ada telepon berdering jam 10 malam. Saya perhatikan nomornya, oooo....ternyata dari Mamanya Fadhil.
Wah, ada apa nih, pikir saya. Pasti ada apa-apa dengan si Mushab....

"Halo, assalamualaikum, Rin. Masih sibuk yah? Ini ....si Mushab mau ngomong."

"Waalaikumsalam. Loh bu Robiah, bukannya udah pada bobo jam segini?"

"Iya...udah pada bobo. Tinggal Mushab aja yang belum. Katanya dia ngga bisa tidur. Mo nelpon dulu ke mama."

Suara di seberang telepon tiba-tiba sudah berubah....

"Mama....ini Mushab. Mushab nemuranai....".
Suara makhluk kecil di seberang terdengar pelan.

"Ya ampun, Mushab kenapa sayang? Mushab belum baca doa bobo kali?
Udah sholat Isya belum? Trus tiap malam sebelum bobo, jangan lupa sikat gigi ya.
Trus jangan nahan-nahan pipis. Jangan.....".
Saya tanpa perasaan terus nyerocos dengan doktrin-doktrin harian

"Mama.....", Mushab menghentikan omongan saya yang melaju seperti shinkansen.

"Iya, kenapa sayang?"
Saya berusaha mendengar secara seksama dan mengira-ngira nada suaranya yang makin lama terdengar seperti sedang menahan tangis.

"Mama,.....Mushab... Mushab....mau....mau... ketemu... Mama...".

Suara sesenggukan itu semakin jelas, menyelingi kata-kata yang diucapkannya.

Hhhhh, saya menarik napas. Setahu saya, anak ini tegar sekali. Malah minggu-minggu sebelumnya, ketika latihan nginep di rumah Fadhil, dia begitu senang. Sampai-sampai keenakan ngga mau pulang dari sana.

"Mushab sayang, dengerin Mama yah. Insya Allah, Mushab nanti bisa ketemu Mama sama Papa, kalau Mama Papa udah selesai naik haji. Mushab doain aja supaya Mama Papa sehat trus bisa ketemu lagi sama Mushab yaaa...
Mushab kan anak sholeh, pasti disayang Allah. Kalo udah disayang Allah, nanti doa-doanya didengeri sama Allah.
Sekarang, Mushab berdoa sama Allah ya sayang. Minta sama Allah, supaya Mushab bisa bobo nyenyak ya...."

"Iya...."

"Insya Allah kalau udah sampai di sana, Mama nanti telpon Mushab kok sayang..."

"Nanti Mama telponnya mainichi ya?"

"Hmm, nanti Mama liat dulu....soalnya mahal sayang..".
Hihihi, jiwa ngiritnya kambuh lagi nih :D

"Udah sayang. Mushab jangan nangis lagi ya.
Sekarang bobo aja sayang. Jangan lupa berdoa."

"Haik, wakatta. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Gagang telpon berpindah. Saya minta maaf ke bu Robiah karena sudah merepotkan. Bu Robiah dengan suaranya yang ramah menjawab kalau dia malah senang ada Mushab. Jadi berasa punya anak kecil lagi.....hehehe. Anaknya memang sudah besar-besar. Yang tertua kuliah di Jogja. Yang kedua sudah SMP. Yang ketiga kelas 6 SD, dan si bungsu laki-laki satu-satunya kelas 3 SD. Makanya beliau senang dengan Mushab, apalagi si Fadhil, jadi punya adik laki-laki

Kembali ke soal beres-beres dan bersih-bersih, setelah jam 11 malam lewat sedikit, saya memutuskan untuk tidur. Apalagi si doi sudah dari tadi mendarat ke pulau kapuk.
Hoaaammm....saya menguap berkali-kali.
Tidak berapa lama, saya terkapar dengan sukses dibalik hangatnya selimut

****************

Pagi hari, setelah sholat subuh, saya dan suami langsung bergerak. Mengerjakan beberapa yang tersisa. Suami kebagian membuat label untuk digantungkan di dua buah kopor besar kami, di bandara nanti.

Bukan cerita baru, kopor-kopor jamaah haji banyak yang hilang ngga jelas rimbanya. Untuk menghindari hal itu, maka setiap anggota rombongan memasang label dengan cara menempel atau mengikatkan di kopor dan tas miliknya.

Saya kebagian mengecek kembali isi barang-barang di dua kopor kecil. Setelah itu saya
memasak sarapan pagi, yaitu telor dadar...hehehe. Pilih yang gampang lagi :D

Jam setengah sembilan, kami sudah siap. Saya membawa tas kecil yang diselempang dan kopor dorong berukuran kecil. Suami memakai tas pinggang dan tas kopor yang disanding ke punggung seperti ransel.

"Bismillahirrahmanirrahim...". Dalam hati saya berdoa, semoga tidak ada yang tertinggal. Saya berusaha mengingat semua berkas yang diperlukan. Saya buka kembali tas kecil. Paspor, tiket...semua ada.

"Ya Allah, semoga aku dan suami masih diberi kesempatan untuk kembali ke rumah ini lagi."
Doa saya selanjutnya, setelah suami mengunci pintu rumah kami yang terletak di lantai tiga.

Kami berpamitan dengan oya-san, yang rumahnya terletak di samping apartemen. Kemudian kami berjalan kaki menuju stasiun kereta yang jaraknya sekitar 13 menit dari rumah.

Baru limapuluh meter berjalan.....

"Mama..udah dicek semua? Tiket? Paspor? ID-card?"
Suami saya mengingatkan.

"Astaghfirullah,.....ID-Cardnya....ketinggalan !!", setengah teriak saya teringat, hanya memasukkan uang ke dalam dompet baru. Seluruh isi dompet lama, termasuk ID-card, masih tetap tersimpan di dompet lama yang saya tinggalkan di rumah.

Sebelum mendengar ucapan suami berikutnya, saya segera berlari menuju apartemen kami. Terburu-buru saya menaiki tangga menuju lantai tiga.

"Ya Allah, Alhamdulillah, Engkau mengingatkan saya lewat suami. Ngga kebayang deh keluar Jepang ngga bawa ID-card....", saya bersyukur dalam hati sambil menyesali kecerobohan saya yang memindahkan isi dompet lama ke dompet baru dengan tidak teliti.
ID-card atau KTP untuk warga asing di Jepang, memang harus dibawa kemanapun, termasuk ketika bepergian keluar Jepang.
Kalau tidak, bisa-bisa saya ga boleh masuk ke Jepang lagi

Duh, semoga ini kecerobohan pertama dan terakhir selama perjalanan haji ....















Cerita Haji: Siap-siap

25 January 2007 | comments (12)

"Jilbab, blus panjang, kulot, handuk, perlengkapan mandi....."
Saya periksa kembali isi kopor yang sudah tertata sebagian. Sambil sesekali melihat kertas print yang berisi list barang-barang yang perlu dibawa.

"Ya ampun, senter kecil belum dibeli. Bantal tiup juga belum...."
Ternyata masih ada beberapa barang yang masih harus dibeli lagi.

Besoknya, ketika melanjutkan usaha penataan dua kopor besar dan dua kopor kecil, lagi-lagi adaaaaa saja barang-barang yang masih perlu dibeli.

"Waduh, kalo gini kapan beresnya yak..", saya jadi bingung sendiri. Padahal waktu keberangkatan tinggal dua hari lagi.
Walhasil, sampai malam sebelum hari H, saya masih terus berburu.
"Wajar kali ya, bolak balik belanja gini. Namanya juga perjalanan panjang".
Hehe...nyari pembenaran nih judulnya

Alhamdulillah, akhirnya beres juga. Sekarang tinggal nyiapin mental, ninggalin si Mushab.
Selama haji, si Mushab dititipkan di rumah kawan saya, yang kebetulan anak bungsunya jadi idolanya Mushab
Makanya si Mushab bahagia banget pas saya bilangin dia bakal tinggal serumah sama Fadl selama saya dan suami haji.

Kami berangkat hari Minggu pagi, dan rencananya Sabtu siang nanti, Mushab diantar suami ke rumah teman saya itu. Saya sendiri ngga ikut, karena lagi ngga enak badan....(kecapean abis bolak balik belanja mulu..hehehe)

Sabtu pagi, saya siapkan barang-barangnya Mushab. Siangnya, setelah sholat Dzuhur....
"Mushab, Mama ngga ikut antar ya. Mushab sama Papa aja perginya.".
Masih dengan mukena, saya belai rambut halus Mushab sambil menahan hati yang bergejolak dan gumpalan air di mata saya.

"Iya, Mushab ngga apa-apa kok. Mama istirahat aja di rumah yah, kan besok Mama mo pergi..."
Wajah mungil di hadapan saya terlihat tenang, sambil tangannya mengelus wajah saya.

"Mushab, gomen ne. Mama suka marah-marah sama Mushab. Hontou wa..., Mama sayang banget sama Mushab".
Saya peluk badan kecilnya. Gumpalan air di mata saya langsung tumpah. Membasahi coatnya Mushab.

"Mama...kenapa nangis? Mama jangan nangis dong..Mushab jadi sedih juga nih.."
Tiba-tiba mata mungilnya mulai memerah.
"Mama, Mushab juga gomen ne. Mushab suka ngga dengerin Mama......".
Dipeluknya saya erat-erat.

"Ayo Mushab, berangkat.", ajak suami saya yang dari tadi sudah berdiri di dekat pintu.

Saya lepaskan pelukannya.
"Mushab, gambatte ne. Doain Mama sama Papa ya..."

Akhirnya, badan mungil itu lenyap dari hadapan saya. Terdengar dari balik pintu suara Mushab yang melengking karena menangis.
Pipi saya pun semakin basah....




Kenangan Haji

| comments (18)

Dua minggu yang lalu saya tiba di Jepang, setelah 18 hari melewati perjalanan yang begitu indah.
Fiuuuh, cepatnya waktu berlalu. Bagaikan mimpi indah yang hanya berlangsung sekian jam, tiba-tiba saya sudah terbangun dari balik selimut tebal dan menjalani kembali rutinitas hidup seperti semula .

Hari-hari pertama di Jepang, saya lewati dengan susah payah. Bukannya apa-apa, tapi ada dua orang yang sedang sakit di rumah ini yang harus saya rawat.
Yang pertama, anak saya yang terkena cacar air, dan yang kedua....ya saya sendiri.....

Alhamdulillah banget, saya tumbang justru setelah berhaji. Ngga kebayang deh kalo tumbangnya pas di sana....glek

Karena saya tumbang, terpaksa deh umat di rumah, makannya jadi kurang gizi. Kalo ga abon, ya indomi...
Sekali-sekali suami beli juga sih makanan jadi di luar, tapi ya itu ..pilihannya ga banyak.

Sama dengan si kecil, selama berhari-hari, saya kerjanya cuma: makan...tidur...sholat...makan...tidur...sholat.....
Walhasil, rumah dah seperti kapal yang pecah berkeping-keping. Dua kopor besar dan kecil tergeletak tak berdaya dengan sebagian isinya yang berceceran di sana sini.
Saya yang sebenarnya pecinta kerapihan..(ciee) terpaksa bertahan melihat ada kapal yang pecah di rumah ini.

Alhamdulillah, seminggu kemudian kondisi sudah mulai membaik. Dan gerakan bersih-bersih dan beres-berespun bisa dilaksanakan

Cuma, hati saya kok ga bisa diajak riang ya. Walaupun saya dah mulai banyak berkicau seperti biasanya, tapi teteeeeeeuuuup aja hati masih terasa sedih.

Iya...memang bener....saya masih teringat-ingat dengan perjalanan haji. Saya masih ingat dengan jelas, bukit-bukit batu di kota Mekkah, iringan manusia yang menyemuti Masjidil Haram, orang-orang yang thawaf di sekeliling Kabah, tenda-tenda besar berwarna putih yang terhampar di Mina dan Arafah, sebuah mesjid megah di Madinah yang didalamnya terbujur jasad manusia paling mulia di muka bumi.......

Masih banyak lagi, kepingan-kepingan kenangan yang selalu membayangi pikiran saya entah sampai kapan....

"Mama, kenapa menangis? Mama ingat haji lagi ya?
Kalau begitu Mama ngga boleh nonton haji lagi ah....abis nangis mulu..."

Anak saya protes, setiap saya menonton film-film dokumenter seputar haji, hasil browsing di internet, selalu saja ada air yang jatuh...setetes demi setetes...

Ah, perjalanan yang sangat indah dan seumur hidup tidak akan terlupakan. Juga kawan-kawan seperjalanan yang sudah seperti keluarga sendiri, membuat perjalanan haji semakin indah dan bermakna......

********

Sejak beberapa hari yang lalu, saya mencoba menuliskan pengalaman haji yang saya alami.
Tapi yang ada, saya malah keasikan mengingat, menghayati dan meresapi potongan-potongan memori yang berkelebat di pikiran saya......seolah-olah saya benar-benar sedang hadir di sana

Ngga ah....saya harus kuat, masak cengeng banget sih
Kalo terus-terusan sentimental begini, gimana bisa hidup normal....

Ayo  nulis...nulis





Kok Ngga Sedih Sih??

19 December 2006 | comments

Tinggal hitungan hari, saya dan suami insya Allah berangkat menunaikan ibadah haji. Sementara kami pergi, si Mushab saya titipin di rumah kawan. Kawan saya itu seorang ibu dengan tiga anak gadis, dan seorang perjaka kecil kelas 4 sd.

Nah, si mushab ini lengkeeeeett banget sama si fadl, perjaka kecil itu. Biasalah, si Mushab paling ngefans sama anak-anak yang lebih besar dari dia. Sejak berbulan-bulan sebelumnya, rencana naik haji ini sudah saya dan suami sampaikan ke Mushab, begitu juga dengan rencana 'penitipan' dia di rumah Fadl.

Tadinya saya pikir, tu anak bakal sedih ditinggalin ortunya barang dua mingguan. Tapi ternyata, dia hepi hepi aja tuh :D Apalagi sudah beberapa kali sabtu minggu, dia diinepin di sana, dalam rangka latihan nginep. Dan setiap pulang dari nginep, cuma satu pertanyaan yang keluar dari mulut saya, "Mushab kangen ngga sama Mama?", sambil dalam hati saya berharap dia menjawab...."Iyaaaa, Mushab kangeeeeeeenn banget sama Mama"..lalu saya dipeluknya erat-erat.

Ternyata, sebaliknya, dengan santainya dia ngomong....."Ngga, zenzen ngga kangen. Mushab kan senang di sana, main terus sama Fadl", jawab si Mushab dengan muka innocent. Gubrakkk!! Bener-bener deh,...khayalan saya yang membayangkan peristiwa seperti di film india langsung hancur berkeping-keping.....

Dan tanya jawab seperti ini, berulang-ulang terus dengan latar dan waktu yang berbeda-beda dan dengan sad-ending yang sama :( Saya jadi penasaran banget. Masak sih ni anak udah mati rasa sama emaknya, sampe ngga ada perasaan kehilangan. Padahal setau saya, si Mushab itu sensitif banget.

Seperti waktu itu. Pernah satu kali, kita sekeluarga nonton dvd tentang petualangan ke dasar bumi. Si Mushab dari awal enjoy banget nontonnya. Sampai di satu adegan yang menggambarkan kematian seorang awak roket dalam perjalanan menuju dasar bumi. Teman-teman si awak ini begitu bersedih dan menangis hebat sambil memandang sebuah buku kecil. Buku kecil itu memuat foto sang awak bersama isteri dan anak lelakinya yang masih kecil. Di samping foto ada tulisan anaknya, I love you Dad. Setelah adegan itu, saya dan suami, masih khusyuk menonton. Tanpa saya sadari, sesosok tubuh kecil di samping saya sudah dalam keadaan menelungkup, dengan badan yang terguncang-guncang..... "Mushab...kenapa sayang?" Si Mushab meluruskan badannya, dan dengan sesenggukan menjawab... "Mushab takut Papa mati. Huaaaaaa....", dia menjerit dengan kencang. Abis itu, dia ngga mau ngelanjutin nonton filmnya. Jadinya malah minta bobo sambil peluk-pelukan bertiga...hehehe

Nah, dari situ saya pikir, dia bakal sedih juga kalo ditinggal selama beberapa minggu sama ortunya, terutama sama emaknya yang galak ini :D Tiba-tiba saya punya ide, gimana caranya menjatuhkan airmata si kecil... (kejam ya :D) Satu waktu, ketika dia lagi asyik sama mainannya, saya kembali mengulang dialog yang sama.....

"Nee, Mushab, sebentar lagi mama sama papa dah mo pergi haji loh....Mushab ngga sedih??"

"Nggg......sedih sih (tetep dengan tampang cuek bin dingin)... Tapi kan nanti Mushab sama Fadl desyou, jadi Mushab ngga sedih lagi, kan bisa main-main terus sama Fadl ..."

"Tapi Mushab, hmm, kalo pergi haji itu bisa jadi mama sama papa ngga pulang lagi....", saya tetep ngotot pengen ngeliat ni anak sedih....

"Iya ya?....."

=======================

Maap pemirsa, kepotong smp sini :(
Berhubung ini tulisan saya yg ngga selesai, dan baru hari ini Mei 2009 saya update....jadinya ya...begitu aja. Saya juga udah lupa, lanjutan dialognya kyk apa....huuu...penonton kecewa.
Duh, makanyeee....kl nulis ampe selesai napah....jangan ditinggalin.....

Mall Jamur

09 September 2006 | comments (13)

Selintas baca berita di internet, tentang pembukaan sebuah pusat perbelanjaan (lagi) di kawasan pusat Jakarta. Kabarnya sih, pusat perbelanjaan ini bukan seperti trade centre yang harganya murah meriah tapi pembeli harus berdesak-desakan untuk berbelanja *kayak yang di Mangga Dua itu loh*. Bukan pula seperti mall yang harganya mahal2, tapi pembeli nyaman berbelanja.

JACC or Jakarta City Centre, nama bakal si pusat perbelanjaan, ceritanya akan menggabungkan model trade centre dan mall menjadi satu. Promosinya sih, 'barang mal harga grosir'. Didalamnya ada 8000 gerai...(bayangin, 8000 !!...ck ck ck), ada hypermart, pusat perlengkapan elektro yang akan dibuka. Belum termasuk apartemen yang akan melengkapi JACC....... **apartemen kok untuk ngelengkapin #_#**

Jadi takjub euy, merhatiin perkembangan kota Jakarta, yang makin lama makin sesak dengan mall, hypermart, trade centre atau apalah yang sejenis. Mereka bermunculan seperti jamur di musim hujan. Jadi kepikiran, apa sudah sebegitu besarnya kebutuhan penduduk Jakarta terhadap shopping centre? Sampai-sampai tiap ada lahan yang kosong dengan segera akan berubah menjadi tempat shopping, shopping n shopping....

Memang sih, shopping perlu.  Malah termasuk hajat hidup semua orang, termasuk saya.  Tapi kalo dimana2, sejauh mata memandang, yang ada cuma shopping mall doang, apa ngga enek? Memangnya hidup hanya untuk belanja?? Waduuhh...

Yang terasa banget, seperti di Jalan Margonda tuh. Dua shopping mall gede berhadap-hadapan. Saya sebagai calon warga Depok sampai kaget bin takjub melihat perubahan di jalan Margonda itu. Entah sudah berapa banyak shopping mall bertebaran di kanan kiri jalan, yang tentu saja berefek terhadap keruwetan lalulintas sekitarnya. Belum lagi efek sosialnya.....

Kadang2 kepikiran..daripada shopping mall, mendingan pemerintah membangun sebuah taman hijau yang luaassss dengan pohon2 yang rindang dan daunnya lebat2 dan tetumbuhan n bunga2 yang cantik, dengan fasilitas bermain untuk anak-anak yang unik-unik....
Tapi ya...begitulah, tahu sendiri. Kepentingan pribadi lebih utama dari kepentingan rakyat banyak :D

Beberapa kali hidup berpindah-pindah di Jepang ini, membuat saya hapal betul sama letak shopping centre di tiap tempat. Kalau shopping centre beneran alias mall, cenderung berkumpul di satu tempat. Biasanya sih di dekat stasiun2 kereta yang besar. Yang lebih banyak sih, ya supermarket dengan luas bangunan yang...ya....tergolong kecil kali ya kalau dibandingin sama yang di indonesia. Dan memang justru model yang kecil begini yang banyak pengunjungnya. Yang model hypermart seperti Carrefour malah jaraaaaaaanng banget. Sekalinya ada malah ga bertahan lama alias ditutup, karena pengunjungnya sepi :D
Yang bangunannya lebih luas, umumnya bukan supermarket atau hypermart, tapi homecenter. Di sini yang dijual bener-bener peralatan pritil2 untuk urusan rumah, dari paku, obeng, sekrup all size sampai kayu-kayu dan pipa-pipa besi yang besar.

Yang unik, di beberapa kawasan di Tokyo, masih banyak model toko-toko kecil yang berdempet-dempetan dengan ruas jalan yang agak luas untuk pejalan kaki di depannya.
Mirip seperti Pasar Baru di Jakarta. Di tempat seperti ini, dijamin ga akan ketemu sama shopping mall yang besar-besar. Sebab untuk kawasan seperti ini, pemerintah melarang pembangunan shopping mall besar, karena akan mematikan usaha toko-toko kecil tersebut.

Hhhmmm, kapan pemerintah Indonesia bisa seperti itu ya?

Nikah??

08 September 2006 | comments (29)

"Ma, Mushab mau kekkon...Tapi kekkon-nya sama Rin-chan"

Dengan polos, tiba-tiba malam itu anak saya mengajukan permintaan aneh, yang membuat hati saya serasa kayak petasan.....byaaarrr, pletuk...
Oh..no, anak seupil kayak gini dah kepikiran nikah???

"Kenapa?? Kok Mushab tau-tau mau kekkon?", tanya saya.
"Abis Rin-channya kawaiiiii"

Mushab menyebut nama teman perempuannya satu yochien, campuran Vietnam-Jepang.
Rin-chan memang lumayan dekat dengan Mushab, karena ibunya yang Vietnam juga menjadi kawan akrab saya. Berhubung diantara ibu-ibu lainnya, hanya ibunya Rin-chan yang fasih berbahasa inggris :D

Terus terang, saya khawatir juga dengan pertanyaannya itu. Apa anak saya udah masuk usia pubertas? Pubertas dini? Tapi kan masih kecil...hiks.
Mungkin, pikiran saya terlalu berlebihan. Seperti satu waktu, saat saya curhat ke seorang teman dekat yang juga dokter, mengenai si kecil yang dengan terkaget2 saya dapati tengah memainkan alat kelaminnya.

"Tenang aja, Rin", kata teman saya.
"Walaupun dia asyik mainin itunya, bukan berarti dia sedang mikirin yg jorok2 loh, layaknya orang gede. Itu hanya karena dia merasakan enak waktu itunya dipegang-pegang.
Ngga usah ngasih respon berlebihan. Apalagi sampe curiga, kalo anakmu udah dewasa sebelum waktunya...hehehe".

Saya memang orangnya panikan dan kagetan. Apalagi kalau mengalami hal-hal diluar dugaan, seperti mendapati si kecil melakukan kegiatan yang tidak patut, atau mendengar pertanyaan aneh banget kayak di atas

Pfiuuh, tenang-tenang. Saya berusaha menenangkan pikiran, inget nasihat temen supaya ngga berlebihan merespon.

"Ngg, Mushab kekkon-nya sama yang lain aja ya....Kan masih banyak tomodachi lain yang sama-sama Isuramu-jin. Kalau Rin-chan kan bukan orang Islam."

"Aaaah, ngga mau. Mushab mau sama yang Nihon-jin aja. Kan lebih kawaaiii.."

Waduh, gubrak deh. Tiba-tiba keinget sama teman dekat orang Indonesia bersuamikan orang Jepang. Sang suami yang masuk Islam sebelum nikah, dengan si ibu yang sudah seperti ustadzah, membuat anak-anak mereka terlihat 'Islam'nya dibanding anak-anak hasil kawin campur lainnya.
Jadi punya ide...

"Eh, Mushab. Ada kok tomodachi yang kawai...Papanya Nihon-jin juga kok. Mau ngga sama ****-chan." Saya sebut nama anak itu, sambil nyengir.
Hihi, sekalian aja ngomporin. Daripada dibawa serius bikin kepala pusing :D

"Nngg...", si Mushab keliatan mikir-mikir.
"Ngga apa-apa Mushab. Mikirnya nanti aja ya. Sekarang tidur dulu. Yang penting berdoa terus sama Allah supaya Mushab nanti kalo sudah besar dapat isteri yang solihah."
sambil tersenyum saya usap-usap rambutnya.

Hhh, leganya bisa tenang menghadapi pertanyaan 'seram' kayak di atas .
Ternyata, menjadi orangtua itu seperti naik jetcoster saja. Ada saat-saat kita terkejut bahkan mungkin berteriak sekeras mungkin (dalam hati aja sih :D) di waktu jetcosternya menukik turun. Ada juga saat-saat anteng dan tenang di waktu jetcosternya berjalan datar.
Bedanya, jetcoster yang dialami para ortu, bakal berlangsung teruuuuuss sepanjang hayat :)



kekkon = menikah
kawai = cantik
tomodachi = teman
yochien = taman kanak-kanak
Isuramu-jin = orang Islam
Nihon-jin = orang Jepang







Yochien Baru

04 September 2006 | comments (11)

Senin, pukul tujuh pagi hari. Saya bergegas menyalakan kompor, memasak untuk sarapan pagi dan bento si M. Sambil menunggu masakan matang, saya menuju kamarnya.
"Bangun sayang..., hari ini kan mau ke gakko."
Badan kecil itu hanya bergerak sedikit, dengan mata yang masih tertutup rapat.
Duh, paling susyah deh, kalo udah pagi, pasti acaranya ga jauh dari keributan dan pemberontakan dari si M :D
"Ayo sayang, bangun doongg..."
Saya cium pipinya berkali-kali, sementara yang dicium masih tergeletak tak berdaya :D
Wah, kalo udah gini, kudu epaknya yang turun tangan. Berhubung telinga si M lebih sensitif mendengar suara epaknya daripada emaknya :D
Satu kali panggilan saja sudah cukup membuat matanya terbuka lebar..hehe
Padahal suami manggilnya biasa-biasa aja sih..., ga tereak-tereak gitu. Apa karena satu frekuensi?? :D

Setelah ngulet-ngulet sebentar, si M bangun dengan mata yang masih merem melek langsung menuju meja makan. Dan makan pagi dengan susah payah, masih terbawa sleep mode :D ...selanjutnya mandi sendiri, pake baju sendiri, ke sekolah sendiri..eehh ga deng masih dianter emaknya...

"Jangan lupa pake sendalnya...tuh ada di situ", seru saya menunjuk sendal jepit dengan alas tatami.
Si M yang ngga terbiasa bersandal jepit ria, memakainya dengan kagok.
"Iiihhh, susah bener sih", protesnya.
"Ga pa pa, gambatte. Lama-lama juga biasa, sayang".

Hee?? Ke sekolah pake sendal??
Iya bener ! Yochien yang baru ini unik deh :D
Secara penampilan, baik gedung sekolah maupun perlengkapan sekolah seperti tas dan seragam, yochien ini tergolong elit. Beda banget sama yochien yang dulu.
Secara baju seragam dan tas juga beda. Termasuk juga alas kaki :D
Kalo dulu, pergi sekolahnya pake sepatu, ntar nyampe sekolah, ganti pake uwabaki (sepatu untuk dalam ruangan). Trus, supaya baju seragamnya ngga kotor, dialasin pake baju sumoku. Kalo natsu, sumoku ini bentuknya seperti rompi, biar ngga gerah.

Nah, di yochien yang baru ini, ternyata ngga perlu uwabaki. Cukup sendal jepit lucu dengan alas tatami, sebanyak dua biji. Yang satu fungsinya kayak sepatu, untuk dipake di luar. Satu lagi untuk dalam ruangan.
Secara hukum kemudahan, ya lebih mudah bersendal jepit ria sih. Paling ngga emaknya ngga perlu repot2 nyuci uwabaki sama sepatu tiap akhir pekan ...hehe :D
Tapi secara penampilan, kok gubrak banget ya...hehe
Bagian atas sih keren, eh pas ngeliat bagian bawah...duuh.. itu jempol kinclong bener :D

Selain uwabaki ga ada, ternyata sumoku juga ngga ada. Jadi anak-anak itu, pas ke sekolah juga bawa kaos olahraga plus celana (taisogi), untuk diganti sesampainya di sekolah. Pulangnya, itu taisogi dicopot, diganti pake seragam kembali.
Ribet bener ya, pikir saya. Pake acara ganti baju di kelas, tiap pagi dan sore.
Kalo pake sumoku aja kan lebih enak, ga ada acara buka-bukaan gitu loh :D

Kembali ke prosesi di pagi hari...
Saya pun bersepeda ria nganterin si M ke sekolah barunya dengan jarak tempuh sekitar 7 menit untuk kecepatan tinggi, atau 12 menitan kalo lagi lemes :D ato kalo pas dapet lampu merah mulu.

Oiya, hari ini dah bawa bento. Alias sekolahnya sudah full, sampe jam 3.
Padahal baru abis liburan. Di yochien yg dulu, kalo abis liburan panjang, maka selama satu minggu pertama, sekolahnya hanya setengah hari. Lumayan bikin repot para emak yang rasanya baru saja nganterin, dah harus ngejemput lagi #_#

Nyampe sekolah, jam setengah 9 lewat dikit. Lumayan tepat waktu nih :D
Jadi inget dulu, suka terlambat di tempat halte bus sekolah. Kadang2 busnya suka nungguin kita. Hiiy, malunya....Walopun kadang2 juga bukan kita yang lambat deng, kadang2 ntu bus kecepetan lagih nyampenya :D
Sekarang berhubung si yochien baru kagak ada fasilitas bus-busan, mau ga mau ya saya harus gambatte nganter jemput si M. Tapi gapapa lah, itung2 olahraga, ..lagian jalannya lempeng aja n datar ini :D

Balik lagi ke sekolah ...
Saya lihat sekeliling dah ramai dengan para ibu yang nganterin anaknya. Ada yang pake mobil, ada yang bersepeda, ada juga yang jalan kaki aja. Tiba-tiba mata saya tertumbuk ke satu benda...
Eiit, bentar dulu, kok anak-anak pada bawa termos minum sih? Waduh...
Saya cuma bawain si M bento sama gelas aja. Sebab biasanya minuman kayak kocha (teh) dah disediain di sekolah.
Sambil cengar cengir, campuran antara malu dan ga pede karena kudu bernihonggoria, saya deketin seorang sensei...
"Engg, maaf, saya ngga tau kalau harus bawa termos minum. Gimana ya, apa saya balik aja ke rumah dan ke sini lagi?"
(ini sih cuma di tulisan aja keliatan rapi ngomongnya, aslinya saya ngomong banyakan pake bahasa isyarat...hihi)

Si sensei dengan ramah menjawab pertanyaan saya.
"Kalau minum air keran, gapapa kan? atau susu aja ya? Ngga perlu repot-repot pulang ke rumah. Nanti besok saja termos minumnya dibawa."
(ini juga terjemahan bebas banget, semoga aja bener :D)

Hhh, alhamdulillah, legaaa.....ga perlu cape-cape bolak balik euy..

Yochien..yochien. Ada aja perbedaannya :)
Keinget terus sama yochien yang dulu. Yang padat banget kegiatannya. Sampe-sampe para emak juga ikutan repot, ngurusin acara2 sekolah. Kayak onggakai, pertunjukan musik dari tiap kelas. Dimana si anak-anak dilatih selama beberapa bulan sebelumnya, dan latihan berlangsung setiap hari!
Tau ngga, karena tiap hari disiksa dan didoktrin dengan not-not musik, walhasil anak-anak pada fasyeeehh bener ama ntu not lagu. Sampe-sampe untuk kelas yang gede, pas latihan, matanya ditutup, supaya terbiasa bermain pianika tanpa melihat keyboardnya :D
Lucunya, si M waktu itu, kalo lagi tidur, sering ngigau nyanyiin not-not musik ...hehe. Ternyata ibu temennya, cerita juga, kalo tiap bangun tidur yang diucapin pertama kali sama anaknya adalah not-not musik...

Selain onggakai, ada juga undokai (pertandingan olahraga). Nah, ini juga latihannya hampir tiap hari. Jadinya baju olahraga juga dipake tiap hari. Walhasil, hampir tiap hari, para emak kudu nyikatin tu baju yang sudah berubah warna dari putih ke abu-abu cenderung item :D

Trus ada lagi happyoukai (pertunjukan seni). Kayak tari-tarian dan teater. Kalo ini lain lagi efeknya. Si anak jadi doyan komat kamit sendiri dengan gerakan2 lucu di rumah. Latihan teater katanya :D

Trus....(hiiy, banyak bener ya) ada lagi bazar. Di sini setiap murid ngumpulin barang-barang baru ataupun bekas tapi yang masih layak pakai untuk dijual di bazar dengan harga yang murah. Yang bikin repot sih, ya itu. Tiap emak2 dapat jatah bikin satu macem barang yang sudah ditentuin bentuknya. Misalnya kelas ini kebagian bikin masker penutup mata (untuk latihan pianika), kelas lain bikin epron (celemek), yang lainnya bikin tas bento, dll.
Bikinnya itu kudu jahit loh :D Jadi maluuuww deh, inget dulu jahitan saya yang tampak luar keliatan rapi, tapi tampak dalem...asli kacau balau ....hihihi

Tapi ya itu, dengan banyaknya kegiatan, paling ngga saya jadi terdorong belajar jahit-jahit lagi :D ato ningkatin nihonggo saya, karena kudu sering ketemu n rapat sesama ortu.
Dan juga, jadi banyak kenangan yang ga terlupakan deh...:)
Melihat penampilan anak-anak kecil, dengan berbagai pertunjukan kemampuan mereka dalam bentuk yang berbeda-beda....membuat saya takjub dan kagum juga terharu.....

Di yochien yang baru ini, kegiatan-kegiatan tidak seramai yang dulu sih....
tapi.......sayanya sih, seneng-seneng aja...hehehe...dasar..
Hm, cuma satu aja sih harapan saya. Semoga si M betah sekolah di sini, dan nemuin temen2 yg baek...aaamiiiiiiiiiiiiinn

Nulis Lagi

18 December 2005 | comments




"last update August 2005"...
Terkaget saya membaca keterangan tersebut, ketika barusan saya log-in ke blogger. Selama itukah saya tidak menulis ?
Sebenarnya keinginan menulis itu besar sekali. Tapi entah kenapa, selalu saja ada kesibukan yang saya rasa lebih penting dari sekedar menulis.

Ya.., menulis masih saya anggap hanya kegiatan sekedar. Padahal keuntungan menulis sangat banyak. Sayangnya saya masih saja lebih senang berkutat mempelajari software aplikasi baru, membaca email atau surfing ke beberapa situs berita.

Dua minggu yang lalu, FLP-Jepang mengadakan workshop dengan mengundang Helvy Tiana Rosa dan Fauzil Adhim. Juga Lily Yulianti seorang wartawan NHK yang bermukim di Jepang. Walaupun saya hanya sempat mengikuti setengah hari dari dua hari kegiatan workshop, tapi saya sangat terkesan dengan sesi yang diisi oleh bu Lily. Dari kata-katanya tersirat pengetahuan yang sangat luas, juga jiwa kepenulisannya yang terlihat begitu menggelora dari ucapan-ucapannya yang menarik perhatian peserta.

Saya termasuk didalamnya. Saya merasa tersindir sekaligus termotivasi dengan ucapan beliau. Ada satu kalimat yang tercatat manis di hati saya. Untuk menjadi seorang penulis yang baik, kalian harus mempunyai sensitivitas dan kreatifitas yang tinggi. Sensitivitas dalam artian sensitif/peka terhadap lingkungan sekitar. Dimana dengan kesensitivisan ini, mampu memunculkan ide-ide yang dituangkan dalam satu bentuk tulisan kreatif.

Sensitif ?? Wow, jauh sekali. Akhir-akhir ini saya justru merasa amat sangat tidak sensitif. Saya tidak peduli ketika ada satu kejadian baru entah di Jepang maupun di belahan dunia lainnya.
Kreatif ?? Wow, apalagi....Menuangkan ide yang bermunculan saja tidak pernah, apalagi membungkusnya menjadi satu tulisan kreatif.

Tapi, akhirnya saya menulis lagi. Dan jangan heran dengan perubahan gaya menulis saya yang terkesan lebih resmi. He-he.
Saya hanya sedang belajar, bagaimana menulis dengan EYD, dan bagaimana menulis dengan serius...
Ternyata susah juga ya >_<

Miskom dan Kacamata

11 December 2005 | comments

Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah teman, yang baru saja pulang dari liburan di ina. Selain mencicipi aneka makanan ringan sampai buah-buahan seperti mangga dan salak --rasanya dah sekian tahun saya sudah lama sekali ga makan salak..hehe--, saya juga mengambil titipan dari keluarga saya.

Setelah kembali ke rumah, rasanya ga sabaran pengen cepat2 buka titipan. Walaupun saya sudah tau isinya, karena memang sesuai dengan permintaan saya, yaitu abon 5 bungkus, yang tadinya saya cuma minta dibeliin sebungkus, ternyata sama papa saya dibelikan 5 kali lipatnya, taulah di jepun ini mana ada abon, lalu ada celana katun hitam milik mama, berhubung saya ga punya sama sekali celana panjang berbahan katun untuk musim panas sekarang, juga jilbab merah bata...eeh bentar, ternyata bukan merah bata, tapi merah asli..ya merah yang menyala dan asli ngejreng!

Waduh, ternyata terulang lagi kesalahan yang sama. Hmm, saya geleng-geleng kepala, dan menelan ludah dalam-dalam. Hiks, padahal saya sudah membayangkan, mengenakan jilbab merah bata dengan beberapa baju atasan yang motifnya berwarna senada.
Kesalahan pertama terjadi, waktu adik saya menitip ke temannya untuk membelikan jilbab berwarna merah bata. Ternyata persepsi temannya, merah bata itu...ya coklat muda. Walhasil jilbab yang dibelinya tidak bisa ditukar lagi berhubung besoknya sudah harus diserahkan ke suami teman saya yang saat itu cuma sekian hari dinas di ina dan harus berangkat hari itu juga.

Walaupun akhirnya, jilbab kaos berwarna coklat muda itu cukup sering saya pakai sebagai pengganti jilbab saya sebelumnya yang sudah cukup belel...hehe.
Saya sebenarnya sudah mengira, kemungkinan salah tangkap mengenai warna jilbab yang saya maksud. Tadinya saya pikir temannya saja yang salah tangkap, ternyata adik saya juga sama, malah lebih parah...duhhh...mana ada merahnya batu bata yang segitu ngejrengnya...ada juga merahnya kaos salah satu partai yang berlambang banteng.

Ya sudahlah, memang kesalahan saya juga, kenapa ga ngasih tau secara detil, mengenai warna tsb. Toh srkg teknologi tinggi. Tinggal nyuruh adik saya buka internet n nunjukin warna yang saya inginkan, dan ngomong di YM, ini loh warna merah bata yg saya maksud..sudah selesai deh, bisa sama persepsinya.

Saya jadi teringat, sama berita yang lagi hot di ina dan di milis2...seputar prokontra fatwa MUI terutama fatwa mengenai Ahmadiyah.
Pro kontra itu masih terus berlanjut, dimana masing2 pihak merasa dirinyalah yang benar. Yah, saya sih ga heran dengan masing2 kubu. Lah mereka ngeliatnya pake kacamata masing2, yg satu pake kacamata item, satu pake kacamata putih, ya jelas saja beda warna pandangan yang dilihat ! Yang satu melihat dari kacamata demokrasi. Menurut mereka, Ahmadiyah itu sejajar kedudukannya dengan agama2 lainnya seperti Kristen, Budha, Hindu..yang dibolehkan berkembang di Ina. Kalau mau konsisten, harusnya agama lain juga tidak boleh dibiarkan berkembang, datte. Yang satu lagi melihat dari kacamata Islam. Yang mana menurut syariah, Ahmadiyah sebagai salah satu aliran yang mengatasnamakan Islam, tetapi secara akidah malah membelot dari akidah Islam. Karenanya divonis sesat dan tidak boleh berkembang di ina.

Kalo menurut saya sih, ga ada yang salah....yg salah adalah kacamata yang dipake...hehe. Iyalah, selama sudut pandang yang dipake ga sama, jelas hasil pemikirannya juga ga sama. Mau contoh ?? ga usah jauh2, itu kisah pesenan jilbab saya di atas, bisa dijadikan contoh :)

Me and computer..

23 July 2005 | comments

Pertama kali berkenalan dengan si kompie, pas masih SD, di rumah sepupu, utk main game doang. Itupun masih versi baheula, yg monitornya cuma 2 warna, alias item putih doang..hihi.
Berikutnya, pas SMA, pas kebetulan di sekolah ada pelajaran komputer, apalagi kalo bukan WS sama..duh apalagi yah...hihi dah lupa. Pokoknya bedanya ama mesin tik, ga jauh2 amat..^-^

Nah, beberapa tahun kemudian, setelah masuk kuliah, dah mulai ngelirik2 komputer, apalagi kalo di pameran2. Jaman itu, internet dah ada, dan program2 yg ada dah makin canggih,...ujung2nya minta beliin ama ortu ^_^..kan alasannya buat ngetik skripsi...hihi.

Abis itu ?? Yah, komputer masih jadi tempat buat maen games, or sekedar nulis proposal. Internet ?? huaa masih jauh, harganya masih jauh di atas awan. Akhirnya internet hanya bisa diakses dari pameran ke pameran...gratis ini ^_^
Selain itu, artikel2 seputar komputer n internet, jadi bahan koleksian. Juga buku2 seputar komputer. Sayang, setelah mulai bekerja, dah jarang berhubungan sama kompie.

Interaksi sama kompie, makin mesra, setelah nikah n hijrah ke jepang. Walopun interaksinya masih seputar per-email-an. Waktu itu, akses internet masih menggunakan sistem dial-up. Jadi agak mikir2 juga, kalo kelamaan pake internet, khawatir aja kalo ada yg nelpon..kagak bisa masuk :(

Tahun 2001, ADSL sudah mulai muncul. Dan disinilah babak baru hubungan yg makin erat dgn si kompie, dimulai. Waktu itu, si kecil masih bayi sekian bulan, yg waktu bobonya masih byk. Jadinya waktu senggang pun masih byk....dan walhasil lbh banyak disita di depan si kompie. Tadinya sih cuma berselancar ngeliat situs2 berita, majalah, sampai situs personal. Lama2 kok jadi kagum dan penasaran, gimana caranya bikin situs. Akhirnya mulai deh ngegoogling, cari cara instan how to make a web. Beberapa ketemu, tapi ga puas, ..soalnya pake machine, jadi ga bisa berekspresi sepuasnya.

Akhirnya mutusin, kudu belajar HTML dulu nih. Yang ga terlupakan, referensi dari si Lissa...bocah SD di amrik yg bikin easy tutorial seputar html. Selanjutnya, jadi kepikir pake software yg gampang,...tadinya coba pake coffee cup, dll, smp beralih ke frontpage.

Ternyata pake frontpage tuh easy bgt, persis seperti ngoperasiin ms word. Dlm waktu singkat, situs pun bisa selesai ^_^. Hasil eksperimen pertama, adalah situs ummahattokyo...
Sampai di sini, sebagai amatiran yg baru bgt belajar HTML, saya masih tertantang belajar lebih banyaaaaaakkk lagi, sama program2 yg berhubungan sama HTML.  Walopun frontpage mudah, tapi masih banyak kekurangannya. Terutama buat kita yg pengen mendalami kode2 HTML secara mendalam. Nyari2 di internet, ternyata Dreamweaver MX, adl salah satu software yang sangat populer utk ngedit kode2. Apalagi ini software juga mensupport berbagai macam bhs pemograman, dari Javascript, PHP, ASP, dll.
Awalnya memang sulit. Tapi lama2 jadi biasa...malah terlanjur cinta dan ga mau beralih ke lain software...uhuy :D

Abis Dreamweaver, saya jadi tertantang lagi pengen belajar software2 lainnya yg diperlukan untuk ngedisain web.
Yang pertama, saya pelajari adl software yg berkaitan dgn image editor. Di sini yg saya pake Adobe Photoshop. Dgn software ini saya bisa ngedit image, ngedesign background, menu dan button. Alhamdulillah, saya jadi bisa berkreasi lebih banyak dengan si Adobe.

Beberapa template saya bikin, ..walopun sebagian besar nongkrong dengan manis di dalam folder. Pengennya sih dikomersilin..hehe, tapi ntar deh, belum pede ^-^
Setelah itu, saya mulai merasa boring dengan situs yg statik yg sudah saya buat. Pengennya yg lbh interaktif gitu loh...alias lebih bernyawa...cieeee :D
Lihat sana sini, and surfing ke beberapa situs interaktif, ternyata PHP salah satu bahasa program yg banyak digunakan untuk situs2 tersebut. Dari sini, saya kembali mbuletin tekad, bahwa saya harus bisa ngulikin si PHP ini....yoooosshh.

Melalui referensi situs2 tutorial PHP yg ada di internet, juga buku2 yg sempet saya beli, dan sekilas ngikutin short course online  **sekilas, krn saya byk absennya :D
akhirnya, dengan perjuangan yang amat sangat melelahkan, serta diiringi pengorbanan dari rakyat tak berdosa yang hidup serumah dengan saya **duuuh bahasanya #_# ......
saya pun berhasil mengerti, seperti apa si PHP ini hrs ditaklukkan... **gubrak
Maksudnye, pendekatannya gitu loh :)
Sebab utk tipe emak2 kyk saya yg dah lama ga makan bangku sekolah (kok bangku dimakan sih :D) jelas amaaaatt sangaaaat sulit walau sekedar membaca script2 kode PHP tsb, gitu loohhh !! Makanya, spy ga keriting2 bgt, saya pake teknik yg laen drpd yg laen.
Teknik ala emak2...hihihi, yaitu, easy going aja alias maju terus pantang mundur ama si PHP ini. Spy nyenengin diri, saya melototin, ngetikin, ngetes, ngupload, n ngaplikasiin sang script ini berulang2 teruuusss, walau cobaan berupa error selalu datang menerpa...
**Yang penting di samping saya, ada sang coklat yg setia menemani....hehehehe
Walopun berulang2  ngalamin error, saya malah makin tertantang n penasaran, sampe2 kebawa mimpi segala sama script2 ini :D
Dan, sekalinya berhasil, wuaaaahhhh.....bahagiaaaaaaa banget....

Puas ?? Not yet sodara2. Saya masih penasaran sama yg lainnya :D
Bosen dgn PHP, saya jadi tertarik ngeliat situs2 dengan hiasan flash yg menggoda..uhuy :)
Saya pun mulai berselancar lagi, nyari referensi kanan kiri depan belakang, melalui internet :D
Ternyata utk Flash, ada 2 software yg populer, Macromedia Flash MX (masih sodaranya Dreamweaver deeesu :D ) dan Swish Max.
Dua-duanya saya pelajarin secara membabi buta, krn ga sabaran pengen cepet2 nguasain :D
Dan seperti biasa, semangat saya yg menyeramkan ini, kembali diiringin dengan pengorbanan umat2 serumah #_#.
** mau tau jenis pengorbanan mereka ?? makan seadanya, alias 3 sehat 4 sempurna dah syukur banget..hihi. Tidur ga ditemenin krn ditinggalin begadang....:D , wah byk lagi deh, ampe jadi sedih sendiri sebenarnya -_-

Kembali ke Flash cs, ternyata kedua2nya memang top. Cuma untuk tipe yg ga sabaran kayak saya, Swish MX sementara jadi unggulan :D
Selain penggunaannya mudah, efek yg dihasilkan juga mantep euy.

Pffiuuuh, ngomongin komputer emang kagak ada matinye sodara2...^-^.
Jadi untuk sementara saya cukupin di sini dulu deh.
Kapan2 disambung lagi ye....di edisi yg laen, tapi kalo inget :D
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Kehidupan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger