Nafsul Insan

16 February 2012 | comments





Dalam diri manusia, ada dua unsur, yaitu unsur ruh dan nafsu.

Ada tiga kondisi manusia terkait dengan kedua unsur di atas.

Yang pertama, adalah ketika unsur nafsu lebih mendominasi dibanding ruh.
Kondisi ini disebut nafsu amara bis su'. Artinya didalam dirinya cuma tersisa nafsu yang selalu menyuruhnya kepada kemaksiatan.
Ketika nafsu menjadi tuhan dari si manusia. Segala tindakan, perbuatan,
perilaku, pemikiran, ideologi, sampai kebiasaannya, hanya berlandaskan hawa nafsu semata.
Jika ini terjadi, maka jangan heran, kalau manusia bisa sampai pada posisi lebih bejat dari binatang.

Yang kedua, adalah ketika unsur nafsu tarik menarik dengan ruh.
Ada saat dimana nafsu menang, tapi kadang-kadang, tarikan ruh juga menang.
Kondisi ini disebut nafsu lawamah. Lawamah artinya yang menyesali.
Dikatakan menyesali, karena terkadang si manusia menyadari keadaannya yang telah bermaksiat,
lalu diapun beristighfar, dan menyesali dirinya yang telah telanjur berbuat dosa. Maka diapun melakukan ketaatan kembali. Di lain waktu, dia kembali tenggelam dalam dosanya, dan tidak berapa lama dia tersadar kembali.
Begitu terus, berulang, dan kembali lagi.
Keadaan ini terlukis dalam firman Allah swt di surat Ali Imran ayat 135.

Yang ketiga, adalah ketika unsur ruh lebih mendominasi dibanding nafsu.
Inilah yang disebut dengan nafsul muthmainnah. Yaitu suatu keadaan, dimana seorang manusia,
mencapai puncak ketenangan jiwanya. Dan dia terus istiqomah di atas jalan kebenaran sampai akhir hayatnya. Sampai ketika malaikat maut menjemputnya, dalam keadaan tenang dan bahagia, sebagaimana firman Allah di surat Al-Fajr.

*****

Nafsu manusia, tidak dapat dihilangkan. Karena justru dengan adanya nafsu, kehidupan manusia bisa berlangsung. Tetapi nafsu, seharusnya dikendalikan. Itulah gunanya aturan-aturan yang Allah turunkan dalam Islam. Tanpa aturan, apa bedanya manusia dengan hewan?

Semoga Allah senantiasa membimbing kita dan menjadikan nafsu kita menjadi nafsul muthmainnah, sampai ajal menjelang. Amin.

The Indestructibles

02 January 2012 | comments (2)




Itu nama program di BBC yang entah kali keberapa saya menontonnya. Program ini menayangkan tentang kecelakaan maut yang terjadi, dimana sang korban -yang secara logika harusnya tewas mengenaskan- ternyata... still alive !! Beberapa di antara korban itu, ada yang mengalami luka ringan dan ada juga yang mengalami koma sampai berbulan-bulan.

Kecelakaan yang terjadi juga bermacam-macam, tapi umumnya adalah kecelakaan tragis. Yang sempat saya tonton diantaranya: helikopter yang lepas kendali, jatuh di atap gedung dan seketika hancur berkeping-keping. Sementara pilot dan satu penumpangnya, selamat, dengan luka ringan !!
Ada lagi seorang pekerja di sebuah pelabuhan, yang berdiri di lintasan padat truk tronton dan kereta pengangkut barang. Yang mana kereta dan truk tronton tersebut bertabrakan tepat di hadapannya dan seketika melindas tubuh si pekerja itu. Teman-temannya mengira, dia sudah tewas. Tapi ternyata setelah ditemukan, si pekerja cuma pingsan, dan hanya menderita luka ringan !!

Di lain episode, ditampilkan tentang satu keluarga yang sedang berjalan-jalan di pinggiran toko. Sang ibu masuk ke toko, sementara bapaknya menunggu di luar toko sambil menggendong bayinya.
Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba sebuah sedan melaju kencang ke arah toko dan menabrak sang bapak beserta bayinya. Orang-orang yang berada di sekitarnya, segera menuju ke arah kejadian, dan berupaya memberikan pertolongan terhadap korban. Dan terlihat bagaimana sang bapak yang terjepit bumper mobil dan dinding depan toko, berusaha mengeluarkan diri dan bayinya. Dan, mereka selamat !! Si pengemudi mobil ternyata seorang nenek yang terkena serangan jantung saat sedang mengemudi di jalan depan pertokoan tersebut.

Program itu juga menayangkan, analisis para ahli kecelakaan terhadap peristiwa yang terjadi. Secara ilmiah dan juga teknis. Bahkan dilakukan reka ulang, dengan boneka manusia sebagai pemerannya, untuk mengetahui sejauh mana kemungkinan korban bisa selamat. Dan rata-rata hasil analisa menunjukkan, dengan model kecelakaan-kecelakaan seperti itu, kemungkinan para korban bisa selamat, sangatlah mustahil.
Dari sisi korban, juga dilakukan wawancara. Bagaimana perasaan, emosi serta kejiwaan mereka, pasca kejadian tragis tersebut. Semua korban, umumnya berkomentar," I shouldn`t be alive.. I thougt I was dead, dan komentar sejenisnya. Dengan raut wajah yang menggambarkan betapa traumanya mereka terhadap kejadian tersebut,

***
Ahh, maut memang dekat. Siapa yang tahu, bisa saja kita mengalami hal yang sama. Mereka, para korban, juga sama seperti kita. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa suatu saat, akan mengalami kejadian tragis yang tidak akan terlupakan seumur hidup. Dan seandainya hal itu terjadi, siapa yang bisa menebak, akankah kita tewas or still alive??


Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari musibah yang berat, celaka yang menimpa, keputusan (qada) yang buruk, dan kejahatan para musuh". (H.R. Bukhari)

Bikin kue lagiiiihhh

31 December 2011 | comments (5)

Alhamdulillah....
akhirnya kesampaian bikin kue sendiri ^-^
Setelah selama di ina, belum pernah nyentuh-nyentuh mixer n timbangan again.
asli, seneng banget...bisa makan kue sepuasnya dan sebanyak-banyaknya :)
namanya juga bikin sendiri, jadi puas bisa nentuin seberapa manis n gurihnya kue.
Kalo beli, adaaa aja yang ngga memuaskan..
yang seringnya sih, bolu yang dijual itu kok rasanya terlalu manis yak.

Itu juga bisa bikin setelah sebelumnya hunting oven kesana kemari.
Microwave yang dibawa dari jepun, sebenarnya bisa buat bikin kue. Tapi karena ngga pede sama daya listrik di rumah, plus khawatir ntar microwavenya malah rusak, jadinya mending beli oven baru.
Si microwave cukuplah untuk bagian ngangetin susu n makanan doang.

Setelah surfing n browsing di internet, baca sana sini, mbandingin antara oven tangkring (ituloh, oven yang ditaruh di atas kompor) sama oven listrik....pilihan pun jatuh ke yang terakhir. Soale ternyata harganya ngga beda jauh. Walaupun secara ukuran --dengan harga yan sama-- oven tangkring bisa bikin kue lebih banyak. Tapi toh, saya niatnya cuma untuk muasin hawa nafsu..*halah, ngga mutu banget yak niatnya ^-^* ...abis daripada keinget-inget masa-masa di jepun dulu, dimana saya bisa dengan kalap bikin dan makan kue setiap hari...hueehee...ketahuan deh gembulnye

Pertimbangan lain, oven listrik lebih simpel dan praktis  naruhnya, dibandingin oven tangkring.
Akhirnya pilihan jatuh ke oven listriknya merk KIRIN KBO-190RAWGambarnya seperti ini



Keren yak?
Harganya cuma 399.000 ribu.
Belinya di Carrefour deket rumah.
Gambarnya saya pinjem dari tokobagus.com.

Oiya, ada pengalaman lucu sama ni oven.
Pertama kali pake, kan kudu dilap n dipanasin dulu selama 30 menit.
Ok, saya jalanin sesuai buku manual.
Tapi pas giliran saya mau pake untuk manggang kue, laahh...kok timernya ngga jalan. Ampyuuun, baru beli kok sudah rusak gini. Mana nanggung ni adonan sudah dibikin. Masak mo ditelantarin gitu aja,...atau pinjem oven tetangga aja yak...Duh, binun deh...

Syukurnya --setelah sempat putus asa beberapa jenak-- saya perhatiin, walo kate timer ngga jalan, tapi ternyata ovennya tetep panas dengan suhu yang sudah kita tentuin, selama penunjuk timernya tidak mengarah ke OFF. Walhasil untuk ngitungin berapa lama waktu memanggang, saya pake alat timer  yang saya beli dari toko 100 yen jaman baheula dulu. Alhamdulillah, suksess....ntu adonan bisa terpanggang dengan sempurna.

Truuuss, pas berikutnya saya mo pake lagi untuk yang kedua kalinya, ngga sengaja setelah cetakan kue dimasukin, itu pintu oven agak kebanting keras. Eeehh, tiba-tiba timernya langsung bunyi, tanda dia sudah berfungsi normal. Halaaah, ternyata kudu pake acara banting-banting pintu dulu, baru tu timer bisa on....

Btw, baru dua kue bolu, yang sudah dibikin,
bolu pisang n bolu wortel.

Resepnya saya tulis di sini.
Besok-besok kalo mo bikin, tinggal buka contekan yang ini ajah ^-^

BOLU PISANG

bahan:
pisang ambon 5 buah
mentega 175 gr
terigu 150 gr
gula 125 gr
telur 4 buah (pisahin putih sm kuningnya)
baking powder 1/2 sdt

cara mbuat:
- Kocok putih telur dengan mixer sampai mengembang dan kaku
- Di wadah lain, mentega dan gula dimixer sampai kental. Masukkan kuning telur satu persatu sambil dimixer.
- Masukkan pisang, lalu mixer sampai tercampur semua
- Masukkan terigu (yang sudah dicampur dengan baking powder). Jangan dimixer, tapi aduk pake spatula sampai merata
- Masukkan putih telur yang sudah dikocok tadi.
- Panaskan oven dengan suhu 180 derajat selama 10 mnt
- Panggang adonan selama 40 menit di dengan suhu 180 derajat.
- Udah deh jadiiii ^-^
Sayang, bolu pisang ini ngga ada potonye.....dah telanjur dimaem n dibawa ke pengajian....hehehehe


BOLU WORTEL

bahan:
- wortel  200 gr diparut
- terigu 200 gr
- mentega 175 gr dicairkan
- gula halus 150 gr
- telur 4 buah
- soda kue 1/4 sdt
- baking powder 1/2 sdt

cara membuat:
- Mixer gula halus dan telur sampai halus dan mengembang
- Masukkan mentega yang sudah cair, mixer kembali
- Masukkan terigu (yang sudah dicampur soda kue dan baking powder) aduk dengan spatula
- Masukkan parutan wortel, aduk lagi dengan spatula
- Panaskan oven dengan suhu 180 derajat selama 15 menit
- Panggang adonan dalam oven selama 40 menit
- Udah deeehh....begitu jadi, harruuuummm banget....

Apalagi pas dimakan, masya Allah...alhamdulillah...nikmaaaaattt banget...halus dan gurih banget bagian pinggirannya. Jadi ngga bosen pengen nambah n nambah lagiiiih ^-^V
Penampakannya seperti ini nih:



Oiya, saya sengaja agak lama dipanggang. Supaya bagian pinggirnya lebih kecoklatan dan gurih. Si bungsu yang lagi susah banget makan, alhamdulillah mau makan ni kue. Lumayan bergizilah, pan ada wortelnya ^-^.

Ok deh, selamat ngiler yak




Trauma ke RS

30 October 2011 | comments (5)


Kemarin anak saya demam lagi. Seperti biasa, anak satu ini kalo demam bisa sampai 40 derajat.
Selain demam, pilek n batuk pulak. Syukurnya, adek-adeknya cuma ketularan dikit. Pilek dan batuk doang. Yah, gimana ngga nular, maen n tidur bareng mulu ^-^

Saya sama sekali ngga ke dokter atau ke RS. Asli deh. Bener-bener ngga mau. Bukannya saya ngga sayang anak. Justru karena sayang, saya ngga mau anak saya dicekokin macam-macam obat yang ngga perlu. Tau sendiri kan, gimana ganasnya kondisi pelayanan kesehatan di sini. Mata, telinga dan hati saya, benar-benar sampai mendidih, kalau membaca/mendengar berita-berita shahih seputar korban yang berjatuhan akibat buruknya pelayanan dan prosedur perawatan di rumah-rumah sakit.

Mengapa saya sebut berita shahih? Karena saya mendengar langsung cerita-cerita tersebut dari kerabat/teman korban. Tau tidak, ibu dari temen sekolah anak saya, meninggal setelah sebulan di rawat di RS yang berbeda. Dokter di RS kedua mengatakan, bahwa RS pertama telah melakukan kesalahan diagnosa yang berakibat fatal terhadap kondisi si ibu itu. Akibatnya obat-obat oral/infus yang diberikan bukannya menyembuhkan malah memperburuk kesehatan sang ibu.

Beberapa berita lainnya, memang saya dapatkan lewat berita tivi atau internet. Masih inget kan kasus Prita?  Ada cerita lain lagi. Seorang ibu membawa anaknya yang kejang karena demam tinggi, berobat ke RS. Oleh dokter langsung diinfus dan dikasih antibiotik. Besoknya, si anak divonis kena radang otak dan harus diopname sampai sekian minggu. Keluar RS bukannya si anak sembuh, yang ada anak batitanya itu, kemampuannya malah turun drastis, kembali seperti bayi 1 bulan !! Kalau dihitung-hitung, entah sudah berapa banyak terjadi kasus-kasus seperti di atas.

Hmm, entah itu RS pemerintah ataupun RS International, yang jelas saya sudah ilfil alias hilang kepercayaan dengan semua RS yang ada di sini. Ingat, RS ya. Bukan dokter. Karena saya tau, di Ina sini, masih banyaaakk dokter-dokter yang baik hati. Sayangnya, saya belum ketemu dengan dokter baik hati yang tinggalnya di dekat rumah -_-;

Walhasil, sejak punya bayi berturut-turut selama tiga kali, dan setelah pindah ke sini, saya jadi terbiasa, menguat-nguatkan hati kalau melihat anak-anak demam tinggi. Selama mereka masih mau makan, masih bisa main -walaupun tidak seaktif ketika sehat-, saya tetap tidak membawa mereka ke dokter. Syaratnya, selama demamnya tidak lebih dari 72 jam. Alhamdulillah, selama ini belum pernah melewati limit tersebut :)

Selama sakit, paling anak-anak saya kasih minum jus, susu atau teh. Makan juga paling makan buah, seperti mangga n pepaya. Makan nasi memang agak susah. Paling banter makan roti atau telur. Pokoknya apapun yang bisa masuk ke mulut mereka, saya masukin. Selama itu bukan obat dari dokter ;)


Tabrakan??

13 October 2011 | comments (4)


Pfff, akhirnya kejadian juga. Tabrakan ?? Nabrak or ditabrak??

Hm, dari dulu sejak bisa bawa mobil sendiri di Ina, saya dah siap-siap akan kejadian seperti ini. Mo kita yang hati-hati bawa mobil, tetep aja ngga ngaruh.
Buktinya, ini mobil dah berapa kali keserempet angkot Tau sendiri kan, gaya supir angkot kalo lagi ngejar setoran. Suka nyalip-nyaliplah, ngga mau ngantri lah, suka berhenti sembarangan. Halah, bener-bener bikin orang darting. Kadang-kadang kalau pas lagi macet, angkot kan suka nyalip tuh,, nah saya ngga mau ngalah juga. Tetep nge-gas. Walhasil, keserempet deh. Entah dah berapa kali.

Pas saya cerita ke suami, doi cuma bilang," Ngalah aja napah, itu sopir angkot kan bawa mobilnya orang. Mo lecet juga kagak ngaruh. Dia ngga peduli. Lah kalau kita?"
Saya cuma nyengir. Secara saya ngga begitu perhatian sama barang. Beda sama suami, yang kalau punya barang, asli dirawat abiiisss. Kasian banget deh ni mobil selama dipegang saya. Kanan kiri, depan belakang, dah pernah keserempet macem-macem. Dari angkot, trotoar, sampe tembok.
Walhasil, sejak saat itu, saya terpaksa meredam napsu, tiap ketemu angkot

Sebenarnya bukan cuma angkot yang bikin darting. Kadang-kadang, motor termasuk yang suka sembarangan. Contohnya, motor tuh, sering banget saya dapetin, lampu sen sebelah kanannya menyala, tapi ternyata ntu motor malah belok kiri. Atau sebaliknya. Pernah juga tau-tau ada motor main nyelonong saja, saat mobil maju untuk menyeberang jalan. Padahal kendaraan lainnya dalam posisi berhenti semua.

Tapi ngga semua pengemudi motor seperti itu kok. Saya kenal dekat dengan emak-emak temen-temen saya, yang selalu berhati-hati n membawa motornya dengan baik dan benar.

Di jalan gede, kecuali jalan dalam komplek, memang harus hati-hati banget. Termasuk terhadap truk-truk besar, yang melaju dengan kecepatan tinggi, di jalan yang sempit.
Ini juga saya sempet dapet pengalaman mengerikan. Ketika hujan deras, di tikungan yang agak tajam, sebuah truk melaju kencang dari arah berlawanan arah, dan menyerempet spion sebelah kanan mobil sampai terlipat. Pffiuuh, alhamdulillah, cuma kena spion doang. Coba kalo kena saya...Hiks, benar-benar ngga berani mbayanginnya.

Yang kayak gini nih, bener-bener jadi makanan sehari-hari. Itulah kenapa, saya selalu meyakini, bahwa semata-mata perlindungan Allah, sampai detik ini saya masih bisa selamat berkendara di belantara jalan-jalan Jakarta dan Depok. Masih syukur, saya ngga perlu lewat jalan tol, yang penuh dengan truk-truk gandeng super raksasa, dengan kecepatan yang tinggi pulak.

Oiya, saya sebenarnya mau cerita tentang tabrakan yang menimpa saya. Eh, kok tabrakan. Hm, sebenarnya mobil saya, ditabrak sama motor. Ceritanya, di jalan satu jalur, mobil saya agak melesat dengan kencang. Saya memang agak buru-buru waktu itu. Di jalur yang searah, depan mobil, saya melihat motor dikendarai seorang anak sekolah, melaju dengan kencang.

Gerbang perumahan saya, tinggal lima ratus meter ke depan. Saya yang sedang terburu-buru mulai menginjak gas. Tak lama sen ke kiri pun saya nyalakan, dan beloklah saya menuju gerbang. Tiba-tiba.....braakkkk....bunyi rada kencang terdengar dari arah belakang mobil. Hm, saya pikir paling ada batu nemplok. Tiba-tiba terdengar klakson mobil yang ditekan berulang-ulang dari mobil yang posisinya ada di belakang saya.
Sepertinya bunyi klakson itu ditujukan ke mobil saya. Hm, kenapa ya.

Tiba-tiba pula anak saya berteriak sambil menunjuk ke arah belakang mobil,
" Mama, liat...itu ada motor jatuh. Kayaknya gara-gara mobil mama !!."

Haah?? Secepat kilat mesin mobil saya matikan, dan langsung turun menuju motor tersebut. Halaah, ternyata itu motor anak sekolah yang saya liat tadi. Si anak (perempuan) itu tampak mengaduh-aduh kesakitan. Segera saya papah dia. Satpam komplek juga ikutan membantu dan meminggirkan motor si anak.

Haduhh, saya sempet ngedumel dalam hati. Ini anak apa ngga liat ya, lampu sen mobil saya menyala, ke sebelah kiri. Harusnya dia hati-hati dong. Jaga jarak kek. Jadinya kan seperti ini. Dan pastinya, orang-orang bakal nyalahin saya nih.  Tapi sudahlah, yang penting ni anak diselamatin dulu.

Tapi ternyata orang-orang..eh maksud saya, para satpam yang lagi ngetem depan gerbang, tidak menuduh saya. Karena mereka juga melihat, kalau yang salah adalah anak itu. Dan pada akhirnya si anak mengakui, kalau dia lagi dalam keadaan bengong, sampai ngga memperhatikan lampu sen mobil di depan dia yang akan belok ke kiri.

Syukurnya, ni anak baik-baik aja. Setelah diperiksa di dokter klinik, hasilnya tulang-tulangnya utuh semua, cuma memar sedikit di kaki sebelah kiri.
Fiiuuhh...alhamdulillah.
Saya akui, saya bersalah juga, karena bawa mobil dengan kecepatan tinggi.
Sempat terlintas dalam pikiran, seandainya saya sabar, dan ngga ngebut, mungkin ngga ada kejadian ini. Astaghfirullah..., saya cepat-cepat istighfar. Ini sih setan yang nyuruh berpikir seperti itu. Pastinya kejadian ini sudah tertulis lengkap di Lauh Mahfuzh sana.

Paling ngga bener-bener jadi pelajaran untuk saya, supaya lebiiiiiiiiiiihhhh berhati-hati. Apalagi kalau ada motor. (Lah, di Depok ini mana ada sih jalan yang ngga ada motornya :D) Sejak kejadian itu, saya memang lebih hati-hati. Terutama kalau mau belok, masuk ke dalam gerbang komplek...hehehe.

Jadi kembali teringat di Jepang. Teringat cerita dari temen-temen yang ngambil SIM. Betapa susahnya untuk bisa lulus. Saya yakin banget, makna `kesusahan` di balik itu, adalah perlunya setiap orang untuk benar-benar memahami aturan berkendara di jalan. Baik secara teori, dan terutama lagi secara praktik.

Seorang teman cerita, ketika ujian praktik, polisi yang duduk di sampingnya, benar-benar melihat dengan seksama sikap teman saya ketika membawa mobil. Apa yang dikerjakannya, saat menemui perempatan jalan. Dia harus melihat ke spion kanan, spion kiri, spion atas. Bagaimana cara dia menginjak rem, dan melihat ke depan, apakah ada pejalan kaki, atau pengendara sepeda, atau mobil dan kendaraan lainnya yang melintas.
Pokoknya semuaaaa diperhatikan detil, oleh polisi sang pengawas.

Ngga heran, kalau untuk mendapatkan SIM, orang perlu ujian sampai bosen :D
Dan tentu saja ini berdampak besar terhadap tegaknya disiplin para pengguna jalan.
Tidak ada yang ugal-ugalan, dan tidak ada salip menyalip yang bikin orang mangkel.
Suami cerita, kalau lagi naik mobil dengan teman sekantornya yang japanese, mereka tidak akan menyalip mobil di depannya, walau kata jalan di sampingnya sedang kosong.

***

Hmm, kalau lagi bete bawa mobil gara-gara sering darting di perjalanan, jadi keinget masa-masa lalu di Jepang. Nyaman banget yak.Kemana-mana naik sepeda. Ngga takut menabrak dan ditabrak. Sepeda gitu loh. Cuma memang kalau bawa belanjaan banyak rada ribet juga. Atau kalau pas lagi hujan deras, taifu or turun salju, harus gambatte bawa sepedanya. Mana bawa anak pulak.

Hm, harus banyak-banyak bersyukur nih. Mau di Jepang or di Ina. Mau naik sepeda or naik mobil. Jangan banyak mengeluh. Mesti banyak bersyukur.Yang penting, masih bisa bernafas dan hidup !!! ^-^





Sayonara Nyamuk

11 October 2011 | comments (2)

Akhirnya, setelah sekian lama memendam keinginan untuk menjadi mompreneur, dengan menyebut nama Allah, saya membuka gerai kelambu online bernama "Kelambu Lipat Praktis" :D

Kok kelambu? Kenapa ngga baju, buku atau yang lain?
Hehehe, sebenarnya sih, saya tadinya pengen jualan jilbab. Lama-lama kok jadi pengen jualan baju sekalian. Lama-lama-lama lagi, jadi pengen jualan perlengkapan bayi. Wah wah wah, semakin lama kok idenya semakin banyak yak...Apa sekalian buka retail online, supaya bisa tertampung semua barang yang ingin dijual

Sampailah di suatu saat, ketika saya dan sekeluarga mengalami kejadian traumatis, saat nginep di rumah ortu di Ciledug. Ini sih sebenarnya peristiwa biasa dan selalu berulang. Tapi malam takbiran kemaren, bener-bener menjadi malam bersejarah terutama untuk saya. Kalau orang lain ngga tidur karena takbiran, lah ini, ngga tidur gara-gara sibuk berperang sama nyamuk !! Sudahlah kedinginan sama AC *maklum saya ngga kuat banget sama dingin* tambah lagi harus tepak tepok kanan kiri depan belakang, nenangin anak-anak yang silih berganti terbangun. Padahal sebelumnya dah bela-belain pasang kelambu (tradisional) yang baru dibeli si opa. Walhasil keesokan harinya, lebaran disambut dengan mata ngantuk dan kepala pusing karena begadang. Grrh, semuanya gara-gara nyamuk

Saking traumanya, saya sampe bilang ke mama, kalau untuk sementara saya ngga mau nginep di Ciledug. Asli capek deh begadang mulu. Sebenarnya rada nyesel juga sih ngomong begitu. Tapi untung mama saya ngga tersinggung :D
Selang beberapa minggu setelah itu, si mama nelpon ke rumah. Dan dengan bahagia bercerita, kalau beliau sudah menemukan solusi untuk "peristiwa traumatis" yang saya alami :D
Si mama cerita, kalau sekarang sudah ganti kelambu. Pakenya kelambu canggih yang bernama JavanBedCanopy, yang tanpa sengaja beliau temuin di Puri Mall. Harganya memang mahal tapi karena butuh, si mama langsung beli tanpa mikir-mikir lagi. Dan alhamdulillah, sejak pake kelambu itu, si mama juga bisa tidur lebih nyenyak lagi.

Saya langsung tersengat dan tertarik banget. Pengen banget nyobain. Seminggu kemudian, saya sekeluarga nginep di Ciledug. Dan tentu saja sebelum tidur, kita pasang kelambu JBC itu. Halah, cuma butuh 3-5 menit untuk bukain itu kelambu. Kelambunya memang dalam keadaan terlipat kecil. Dan untuk dipakai, cukup dibentangin saja, dan....kelambupun langsung terbentang lebar di atas tempat tidur.

Pintunya juga pake restleting luar dalam. Sisi-sisinya juga menempel rapi di atas permukaan tempat tidur. Dan di sudutnya, ada karet yang bisa dipasang untuk memperkuat posisi kelambu.
Waah, selama berada di dalam `tenda`, saya asli deh takjub bin bahagia. Takjub, karena kok bisa ya, ada ide untuk menciptakan kelambu secanggih ini *yang konon katanya produk Japan*. Bahagia, karena saya tidak melihat satupun nyamuk berseliweran dalam kelambu !!

Fiuuhh, benar-benar malam itu saya lalui dengan bahagia :)
Oiya, balik lagi ke cerita awal.
Karena saya dah ngerasain nikmatnya tidur tanpa nyamuk dan pengen banget semua orang bisa seperti saya. Plus, ada keinginan untuk jadi seorang mama yang punya usaha sendiri, maka jadilah saya memberanikan diri membuka gerai kelambu online

Untuk yang mau lihat seperti apa wujud kedainya, silakeun mampir ke sini:
http://www.kelambulipatpraktis.com/
Maap yak, ngga bisa dijamu dengan kopi atau teh.
Atau kalau mau melihat, menyentuh dan merasakan si kelambu canggih ini, silakeun mampir ke rumah saya di depok. Bisa sekalian ngupi-ngupi, ngeteh, or nge-indomie *serasa di warkop aja*. Oya, fyi, harga kelambu JBC di gerai saya, jauh lebih murah loh dari yang ada di mall-mall

Mudah-mudahan, gerai online ini bisa sukses dan impian saya untuk menjadi mompreneur beneran bisa terwujud. Amin.

Mohon doanya ya pemirsa


Sekolah oh sekolah

18 July 2011 | comments (4)


Ngga terasa minggu ini sudah mid test. Kayaknya baru kemarin masuk ajaran baru.
Masih teringat sekali, saat penerimaan rapor kenaikan kelas, empat bulan yang lalu. Yang pertama kali saya tanyakan ke walikelas anak saya, adalah....apakah anak saya naik kelas atau tidak. Alhamdulillah, ternyata naik, dan itupun si walikelas menjawabnya sambil cengar cengir karena melihat tampang saya yang ngga jelas bentuknya saking khawatirnya.

Ini adalah kali pertama saya merasa khawatir tentang naik or tidak naik kelasnya anak saya. Gimana ngga, kosa kata anak saya masih terbatas -terutama untuk kata-kata resmi yang sering muncul di buku-buku pelajaran- padahal materi yang harus dipelajari, banyaaaakk sekali. Secara baru setahun dia sekolah di Indonesia. Di semester akhir memang sudah lumayan kemajuannya, tidak seperti bulan-bulan pertama dia sekolah dulu, yang baca tulis masih seperti anak kelas 1 sd.

Kalau melihat materi pelajaran untuk anak kelas 4 sd, kok sepertinya berat banget ya. Seperti melihat materi  pelajaran jaman saya SMP dulu. Anak saya sendiri mau ngga mau belajar dengan keras, di awal sekolah, untuk sekedar menambah dan memahami kosa kata baru setiap harinya di setiap buku pelajaran yang berbeda. Ini baru belajar kosa kata loh yah, belum sampai tahap paham akan isi materi yang terkandung di buku.

Untuk pelajaran matematika, yang banyak menggunakan angka, dia masih mudah untuk adaptasi. Tapi untuk pelajaran-pelajaran dengan kalimat-kalimat rumit, seperti PKn, IPS dan bahasa Indonesia, wah, benar-benar butuh kesabaran ekstra deh. Baik emaknya ataupun anaknya. Lah emaknya yang udah sepuh gini ikutan bete baca buku pelajarannya.  Syukurnya, sekolah tempat anak saya sekolah, tidak termasuk sekolah yang suka "menyiksa" anak. Tidak ada tekanan. Setengah serius setengah santai. Yang serius cuma untuk anak kelas 6 saja, untuk persiapan UAN. Guru-gurunya juga baik dan berbaur dengan murid-muridnya. Sholat bareng-bareng sampai main bola juga bareng-bareng.

Sebenarnya, setelah menetap di Indonesia, saya dan suami, ngga terlalu berharap muluk .dengan prestasi akademik sang anak. Yang penting anaknya enjoy sekolah dan bisa naik kelas itu sudah cukup. Apalagi dengan kondisi pendidikan di sini, yang umumnya lebih menekankan kecerdasan akademik pada anak usia sekolah. Seakan-akan di dunia ini cuma satu jenis kecerdasan itu saja yang dibutuhkan untuk hidup. Padahal hasilnya? Lihat saja sendiri. Anak-anak jadi malas sekolah, bosan dengan sekian banyak mata pelajaran yang harus mereka kuasai, hanya untuk mendapatkan ranking.

Jadi inget dengan pengalaman nyekolahin anak selama 6 tahun di Jepun sono. Benar-benar asli santaiiiii. Baik anak ataupun ortu. Di sana ngga ada istilah ngga naik kelas. Semua anak pasti naik kelas. Ngga ada rangking-rangkingan. Ngga ada UTS, ngga ada UAS. Yang ada cuma ulangan harian. Ulangan harian ini pun ngga dibuat susah. Karena fungsinya cuma untuk mengetahui sejauh mana anak paham dengan materi pelajaran yang diberikan.

Untuk anak kelas 6, UAN pun tidak ada. Semua anak pasti lulus, dan bisa langsung masuk ke SMP. Jadi anak-anak ngga akan stress, dan ngga perlu sampe ada kasus contek massal segala, demi lulus sekolah. Penilaiaan yang tertulis di raport pun, tidak berbentuk angka. Tetapi  berbentuk tiga kalimat: Baik sekali, Baik, dan Lebih Berusaha. Saya melihat ini sebagai bentuk penghargaan kepada setiap anak, apapun kecerdasan yang mereka miliki.

Fasilitas sekolah negeri juga standar. Mau yang dipelosok desa ataupun di tengah kota, sama-sama punya lapangan olah raga yang luas dan kolam renang. Biaya pendidikan juga gratis. Buku-buku ngga perlu beli. Langsung dibagikan ke semua murid oleh pihak sekolah. Yang bayar cuma biaya catering, atau kegiatan sekolah yang dilakukan di luar seperti tur, dll. Baju seragam juga ngga perlu, karena untuk SD, baju yang dipakai adalah baju bebas.

Saya melihat, beginilah profil sistem pendidikan yang mendekati ideal. Tidak ada proyek-proyekan dalam sekolah, tunjangan guru sama dengan pegawai swasta, fasilitas belajar yang lengkap dan nyaman yang bisa dinikmati semua anak di seluruh penjuru negeri, tanpa terbebani biaya di luar kemampuan orangtua.

Kapan ya, anak-anak Indonesia bisa merasakan seperti ini :(







Kangen

07 July 2011 | comments

 Lagi kangen sama Jepun dan seisinya. Jadinya browsing lagu-lagu Ken Hirai yang serba mellow itu and di donlot. Trus diputar di kompie sambil melototin foto-foto jadul dari tahun 2000 sampe 2010.
Duh...bener-bener sinetron banget nih. Bikin mata ampe berkaca-kaca.

Si sulung  yang lagi nongkrong di belakang saya, sampe bosan dengerin suara Ken yang mellow banget. Ni anak sebenarnya lagi pengen pake internet, cuma terpaksa ngantri. Ngalah demi emaknya yang lagi sentimeter ini ^-^
"Ngapain sih mama dengerin lagu itu mulu, ngga bosen apa. Dah nadanya hampir sama semua lagi.." protes dia.

Hehe, ember sih. Ntu lagu-lagu nadanya hampir sama. Cuma beda tipis. Tapi dasar si emak lagi blues ginih...teteeeeuup aja menikmati alunan lagu yang mendayu-dayu...

Iseng saya minta dia untuk translate lirik lagunya Ken ke bahasa Ina. Nyuruh dia baca lirik dengan tulisan kanji. Maksudnya biar dia ada kerjaan gitu...daripada bosen nongkrong di belakang maknye.
Tau ngga apa jawabannya...
"..Duh mama...aku sih ngerti artinya. Tapi kata-katanya susah dicari bahasa Indonesianya..."

Ampun deh. Yasud.
Tu anak akhirnya pergi juga maen ama adik-adiknya. Ninggalin emaknya yang lagi asyik masyuk tenggelam di masa lalu

***************
......
Kotae nado dokonimo nai
Daremo oshietekurenai
Demo kimi o omou to kono mune wa
Nanika o sakenderu sore dake wa shinjitsu
............
Life Is… Another Story



ASI

20 April 2011 | comments (2)



Alhamdulillah, akhirnya pertanyaanku terjawab sudah, setelah nyasar ke blog ini. Ternyata wajar banget, kalo bayi ASI dibilang kurus. Soalnya grafik yang selama ini dipake di RS dan dimana-mana, adalah grafik bayi yang minum sufor !!

Sebelum itu, aku selalu merasa bersalah n kepikiran terus nih,...kenapa ya...bayiku kuyus bener. Kesannya kan maknye kagak bisa ngurus bayinya. Mana sama DSAnya dianjurin pake sufor lagi. Aku sih ngga anti sama sufor, secara dr anak pertama smp ketiga semuanya produk mix ASI n sufor. Masalahnya, anakku yang keempat ini, anti banget sama sufor. Maunya cuma gentong milik emaknya doang. Aku sih seneng-seneng aja, apalagi ngga perlu repot-repot nyiapin susunya...tinggal buka layar doang..hehehe. Ngga pake acara nyuci n sterilin botol :D

Setelah dari DSA itu, aku mutusin ngganti dokter. Mo nyari yang pro ASI. Alhamdulillah, setelah nyari info di internet...ketemu nama dr Rianita. Syukurnya lagi, beliau praktek juga di HGA Depok. Huaaa, seneng banget. Pas ketemu sama beliau, wah memang bener-bener mantep. Orangnya informatif....dan ngga nganjurin pake sufor. Beliau cuma bilang tetep kasih ASI n makannya dibanyakin aja...secara bayiku dah di atas 6 bulan ini.

Btw, ini grafik dari WHO, khusus untuk bayi yang minum ASI doang....
huaaa....asli lega.....



Abal abal

13 April 2011 | comments



Sejak masih tinggal di Jepang, saya sering banget dapetin istilah ini dari sodara saya. Abal-abal...atau tiruan...atau jadi-jadian...atau bo`ongan..lebih sering distempelkan ke produk-produk Ina yang murah meriah. Dari yang ringan seperti sendal, sampai yang berat seperti lemari ^-^.

Dan sekarang, saya mengalami dan mendapatkan sendiri makna abal-abal itu. Tau sendal crocs? Nah, ntu sendal..buaanyaaakk banget bisa ditemuin dimana-mana dengan harga yang murah. 15 ribu juga dapet, untuk ukuran anak-anak. Tadinya saya pikir, crocs dimanapun kualitasnya sama saja. Mau yang murah atau yang mahal, keliatannya fisiknya sama aja tuh.

Crocs krem punya saya, yang saya beli di sunshine city ikebukuro ketika musim panas, harganya cuma 1500 yen dapat 2 pasang. Satu pasang untuk saya, sepasang lagi untuk si sulung. Crocs punya saya, sampe sekarang awet, dan nyamaaaan banget. Makanya, kemanapun saya pergi, selalu sama si crocs ini. Sampe-sampe temen pengajian saya penasaran, dan dengan santainya megangin ntu sandal, n langsung komentar...."wah, ini mah yang asli punya, plastiknya beda tuh". Saya cuma manggut-manggut bingung. Kirain saya, di seluruh dunia ini, crocs sama semua bahannya.

Soalnya waktu itu, di sini saya pernah ngebeli crocs untuk anak saya yang kecil. Dengan pemikiran seperti di atas. Tapi, baru satu kali pake, kaki anak saya langsung lecet n luka !! Weleh-weleh...ternyata...bener-bener crocs abal-abal :(

Selain sendal, saya juga tertimpa produk abal-abal lainnya. Yaitu lemari buku. Itu lemari, saya beli di Index Depok. Sengaja beli di sana, karena memang lumayan terpercaya untuk urusan furniture dan kebanyakan barang-barang impor pulak. Lemari buku yang terpajang di sana, memang mahal-mahal euy. Untuk yang dua pintu saja, di atas 5 juta. Kalau mau yang tiga pintu, sekitar 7 juta ke atas. Glek..mahal banget. Tau-tau kita ketemu lemari yang lagi di sale sampai 40%, harganya 1,5 juta. Wah, kayaknya lumayan  nih. Akhirnya, kita belilah itu lemari buku.

Dan ternyata, setelah baru seminggu dipake, raknya mulai miring. Terutama di bagian tengah, seperti melengkung. Halaaahhh....kayaknya kayunya abal-abal punya nih :( ngga berat nahan beban buku-buku yang tebal. Saya baru inget, ternyata lemari ini terbuat dari bahan MDF. Pantesaaan.
Hiks, jadi inget sama lemari buku yang saya beli ketika sale di Sanwa, Toyoda tujuh tahun yang lalu...harganya cuma 4500 yen, tapi sampai sekarang masih awet...n ga pernah melengkung...

Jadi? Yup, itu pelajaran berharga buat saya. Lain kali, jangan percaya sama barang discount. N jadi rada nyesel, kenapa ngga beli lemari yang banyak waktu di Jepang...hehehe emangnya mau buka toko apa. Secara di sana kagak ada yang namanya produk abal-abal. Semua standar.
Tapi paling ngga, saya jadi mengerti pula. Kalo mau beli macem-macem, terutama barang-barang yang longtime pakenya, mending beli sekalian mahal. And, yang penting, kudu ngumpulin info dulu dari mana-mana.

Saya baru tau, ternyata furniture di sini, banyak yang terbuat dari bahan serbuk kayu. Yang paling rendah kualitasnya disebut particle board. Campuran bubur kayu dengan bahan kimia tertentu. Biasanya dipake untuk furniture yang pemakaiannya ngga tahan lama, alias cepet rusak #_#. Di atasnya ada MDF berupa serbuk kayu yang dipadetin. Kualitasnya hampir sama dengan particleboard.

Di atasnya ada Multipleks, yang tersusun dari beberapa lapis kayu yang disatuin. Yang ini lumayan kuat. Di atasnya lagi namanya Blockboard.Ini bener-bener dari potongan kayu yang disatuin. Kuat deh. Naaahh..yang paling kuat, adalah jenis kayu yang masih utuh, alias bukan gabungan dari mana-mana kayu. Misalnya kayu jati. Ini nih baru yang superkuat. Tapi harganya...bisa bikin kita nelen ludah berkali-kali.
Jadi, kalau mau belanja lemari, meja..atau apa saja yang terbuat dari kayu, jangan lupa tanyain, bahan pembuatnya apa. Supaya ngga terjatuh di lubang yang sama seperti saya...:D

Saya sendiri kok jadinya paranoid untuk beli furniture dari bahan kayu, termasuk kayu jati. Bukan apa-apa, takutnya itu kayu jati yang abal-abal-an juga. Hayaahh....bener-bener deh, krisis kepercayaan banget...selaku konsumen di Ina :(

Saya nyaranin banget, untuk temen-temen di LN, wabilkhusus yang ada di Jepun, kalau ada kesempatan pulang ke Ina...mending beli furniture dari sana deh. Harganya tidak semahal di sini, tapi kualitasnya beda jauh.

Untuk barang-barang elektronik, hm, kayaknya mendingan beli di Ina saja. Selain voltasenya beda, di Ina tegangannya sering naik turun. Tau sendiri kan, di sini mati lampu dah jadi makanan rutin. Khawatirnya produk Jepun ngga akan kuat sama kondisi tegangan seperti itu. And, tenang saja, produk elektronik susah di abal-abal-in...:D
Saya sendiri, tetep membawa alat elektronik dari Jepang. Seperti mesin cuci, kulkas n microwave. Bukannya apa-apa, tapi pengen ngirit, supaya setelah di Ina, ngga perlu beli macem-macem lagi.

Karena voltasenya beda, tentu saja diperluin transformator. Nah, alat ini, sebaiknya beli di Jepang. Di Ina agak sulit menemukan transformator dengan daya 1500 watt. Kalaupun ada dan tertulis 1500 watt, kekuatan sebenarnya ngga sampai 1500 tapi 1000watt saja. Itu informasi dari petugas di toko-toko elektronik di Ina, yang saya datengin.
Syukurnya, suami saya berhasil  ndapetin lungsuran gratis transformator dari temen kerjanya yang nihon-jin. Dapat 3 biji pulak. Itu juga setelah rada-rada nebelin muka nanyain tentang transformator yang ngga kepake ^-^.

Selain barang-barang berat, alat-alat makan seperti piring dan gelas sudah banyak banget tersedia di Ina. Jadi ngga perlu bawa deh dari Jepun, kecuali untuk kenang-kenangan ^-^. Tapi kalo barang dari plastik yang tahan panas dan bisa dimasukkan ke microwave, mending bawa dari Jepun saja. Lebih terjamin, dan bukan abal-abal :)
Terutama yang punya anak kecil nih. Kudu banyakin alat-alat makan dari plastik. Secara di Ina, lantainya dari ubin semua...bukan kayu.

Hm...apalagi ya?...
Sementara ini dulu deh....
Sambil berusaha keras mengingat-ngingat kejadian setahun yang lalu..^-^
maklum...dah uzur...hehehe

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Kehidupan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger