06 January 2013 | comments

‎( TAFAKUR ) NIKMAT BERNAFAS

Alhamdulillah. Kita masih lagi mampu bernafas, masih mampu bergerak, masih mampu berfikir dan masih hidup. Andainya pagi tadi kita bangun dari tidur, dan tidak dapat melihat, apakah kita mampu berganjak daripada tempat tidur kita? Andainya setelah terjaga dari tidur pagi tadi telinga kita tidak dapat menangkap sebarang bunyi, kepada siapa kita akan mengadu? SubhanaAllah. Banyak sungguh nikmat yang kita perolehi setiap hari. Hmm… berapakah bayaran untuk semua ini? Bayaran untuk udara yang dihirup, air yang diminum, tenaga yang digunakan, kewarasan ketika berfikir dan masa yang mematangkan kita?

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah yang dilimpahkannya kepada kamu, tiadalah kamu akan dapat menghitungnya satu persatu, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha mengasihani.” (an-Nahl, 16: 18 )

Sesungguhnya nikmat Allah adalah terlalu banyak diberikan kepada makhlukNya. Namun manusia sering lalai dan leka dengan nikmat yang dikecapi ini sehingga Allah bertanya kepada mereka yang sering mendustakan nikmat-nikmat yang diberikanNya.

Setiap hari manusia bernafas lebih dari 25 ribu kali. Dalam kurun waktu tersebut, setidaknya 180 meter persegi udara yang mengandung 5-6 meter persegi oksigen terhirup ke dalam tubuh. Kemudian setelahnya, terjadilah proses filterisasi darah secara sempurna dengan menghilangkan gas arang dan pemberian oksigen yang penting untuk tubuh. Setidaknya terdapat 200 meter persegi jaringan saluran yang membentang luas untuk bekerja menyaring darah.

Bernafas adalah proses yang melibatkan banyak sekali komponen yang tergabung dalam sistem pernafasan. Ibnu Qoyyim menjelaskan, saluran pernafasan manusia bercabang menjadi beberapa saluran yang akhirnya sampai pada saluran akhir yang sangat tipis. Setiap saluran diliputi selaput tipis yang bersambungan dengan dinding urat darah kecil. Disinilah darah dibersihkan dan mengangkut oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh.

Prof. Adnan Oktar (Harun Yahya) menjelaskan, bahwasannya setelah terhirup pertama-tama udara dibersihkan dalam hidung dan udara diatur dengan bulu-bulu yang berfungsi sebagai saringan. Bulu-bulu ini mengolah udara yang tercemar atau dingin menjadi udara yang cocok untuk paru-paru. Bulu-bulu dalam hidung bertugas menyaring, membersihkan, melembabkan, menghangatkan, dan memurnikan udara dari bakteri. Setidaknya bulu ini melindungi tubuh dari 20 miliar partikel zat asing setiap harinya.

Sesungguhnya bernafas adalah proses memberi makan sel-sel tubuh dengan oksigen. Sel-sel tubuh tidak bisa bertahan hidup kecuali jika mereka diberi oksigen. Itulah sebabnya manusia hanya dapat menahan nafas untuk waktu yang singkat saja. Juga di ketinggian, ketika kadar oksigen semakin menipis, seseorang akan merasakan berat bernafas dan dadanya kian terhimpit lantaran kesulitan mendapat oksigen. Jika hilangnya pasokan oksigen dibiarkan lebih lama lagi, maka sel-sel tubuh kemudian akan mati dan akhirnya manusia akan tewas. 
 
(Taken from Facebook Yusuf Mansur Network)

A Very Touching Story: Aminah Assilmi

28 December 2012 | comments


Jadilah seorang muslim/muslimah yang baik. Lakukan apa yang diperintahkan dan tinggalkan apa yang dilarang oleh Islam. Tanpa banyak ceramah, maka manusia di sekitarmu akan tercerahkan dengan cahaya akhlakmu. Itulah yang dilakukan seorang muallaf asal Amerika di bawah ini. Di akhir perjuangan, sinar mutiara keislaman yang dipancarkan oleh kepribadiannya, berhasil menjadi magnet bagi keluarga terdekatnya. Only one word,... masya Allah, its really inspiring and touching story :)

***************************

Islamedia - Tak banyak orang yang mengenal Aminah Assilmi. Ia adalah Presiden Internasional Union of Muslim Women yang telah meninggal dunia pada 6 Maret 2010, dalam sebuah kecelakaan mobil di Newport, Tennesse, Amerika Serikat.

Perjalanannya menuju Islam cukup unik. Perjalanan yang patut dikenang. Semuanya berawal dari kesalahan kecil sebuah komputer. Mulanya, ia adalah seorang gadis jemaat Southern Baptist – aliran gereja Protestan terbesar di AS, seorang feminis radikal, dan jurnalis penyiaran.

Sewaktu muda, ia bukan gadis yang biasa-biasa saja, tapi cerdas dan unggul di sekolah sehingga mendapatkan beasiswa. Satu hari, sebuah kesalahan komputer terjadi. Siapa sangka, hal itu membawanya kepada misi sebagai seorang Kristen dan mengubah jalan hidupnya secara keseluruhan.


Tahun 1975 untuk pertama kali komputer dipergunakan untuk proses pra-registrasi di kampusnya. Sebenarnya, ia mendaftar ikut sebuah kelas dalam bidang terapi rekreasional, namun komputer mendatanya masuk dalam kelas teater. Kelas tidak bisa dibatalkan, karena sudah terlambat.

Membatalkan kelas juga bukan pilihan, karena sebagai penerima beasiswa nilai F berarti bahaya.

Lantas, suaminya menyarankan agar Aminah menghadap dosen untuk mencari alternatif dalam kelas pertunjukan. Dan betapa terkejutnya ia, karena kelas dipenuhi dengan anak-anak Arab dan ‘para penunggang unta’. Tak sanggup, ia pun pulang ke rumah dan memutuskan untuk tidak masuk kelas lagi.

Tidak mungkin baginya untuk berada di tengah-tengah orang Arab. ”Tidak mungkin saya duduk di kelas yang penuh dengan orang kafir!” ujarnya kala itu.

Suaminya coba menenangkannya dan mengatakan mungkin Tuhan punya suatu rencana di balik kejadian itu. Selama dua hari Aminah mengurung diri untuk berpikir, hingga akhirnya ia berkesimpulan mungkin itu adalah petunjuk dari Tuhan, agar ia membimbing orang-orang Arab untuk memeluk Kristen.

Jadilah ia memiliki misi yang harus ditunaikan. Di kelas ia terus mendiskusikan ajaran Kristen dengan teman-teman Arab-nya.
”Saya memulai dengan mengatakan bahwa mereka akan dibakar di neraka jika tidak menerima Yesus sebagai penyelamat.

Mereka sangat sopan, tapi tidak pindah agama. Kemudian saya jelaskan betapa Yesus mencintai dan rela mati di tiang salib untuk menghapus dosa-dosa mereka.”

Tapi ajakannya tidak manjur. Teman-teman di kelasnya tak mau berpaling sehingga ia memutuskan untuk mempelajari alquran untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang salah dan Muhammad bukan seorang nabi.

Ia pun melakukan penelitian selama satu setengah tahun dan membaca alquran hingga tamat.

Namun secara tidak sadar, ia perlahan berubah menjadi seseorang yang berbeda, dan suaminya memperhatikan hal itu. ”Saya berubah, sedikit, tapi cukup membuat dirinya terusik. Biasanya kami pergi ke bar tiap Jumat dan Sabtu atau ke pesta. Dan saya tidak lagi mau pergi. Saya menjadi lebih pendiam dan menjauh.”

Melihat perubahan yang terjadi, suaminya menyangka ia selingkuh, karena bagi pria itulah yang membuat seorang wanita berubah.

Puncaknya, ia diminta untuk meninggalkan rumah dan tinggal di apartemen yang berbeda. Ia terus mempelajari Islam, sambil tetap menjadi seorang Kristen yang taat.

Hingga akhirnya, hidayah itu datang. Akhirnya pada 21 Mei 1977, jemaat gereja yang taat itu menyatakan, ”Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.”

Perjalanan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, seperti halnya mualaf lain, bukanlah perkara yang mudah. Aminah kehilangan segala yang dicintainya.

Ia kehilangan hampir seluruh temannya, karena dianggap tidak menyenangkan lagi. Ibunya tidak bisa menerima dan berharap itu hanyalah semangat membara yang akan segera padam.

Saudara perempuannya yang ahli jiwa mengira ia gila. Ayahnya yang lemah lembut mengokang senjata dan siap untuk membunuhnya.

Tak lama kemudian ia pun mengenakan hijab. Pada hari yang sama ia kehilangan pekerjaannya.

Lengkap sudah. Ia hidup tanpa ayah, ibu, saudara, teman dan pekerjaan. Jika dulu ia hanya hidup terpisah dengan suami, kini perceraian di depan mata.

Di pengadilan ia harus membuat keputusan pahit dalam hidupnya; melepaskan Islam dan tidak akan kehilangan hak asuh atas anaknya atau tetap memegang Islam dan harus meninggalkan anak-anak. ”Itu adalah 20 menit yang paling menyakitkan dalam hidup saya,” kenangnya.

Bertambah pedih karena dokter telah memvonisnya tidak akan lagi bisa memiliki anak akibat komplikasi yang dideritanya.

”Saya berdoa melebihi dari yang biasanya. Saya tahu, tidak ada tempat yang lebih aman bagi anak-anak saya daripada berada di tangan Allah. Jika saya mengingkari-Nya, maka di masa depan tidak mungkin bagi saya menunjukkan kepada mereka betapa menakjubkannya berada dekat dengan Allah.”

Ia pun memutuskan melepaskan anak-anaknya, sepasang putra-putri kecilnya.

Namun, Allah Maha Pengasih. Ia diberikan anugerah dengan kata-katanya yang indah sehingga membuat banyak orang tersentuh dan perilaku Islami-nya. Dia telah berubah menjadi orang yang berbeda, jauh lebih baik. Begitu baiknya sehingga keluarga, teman dan kerabat yang dulu memusuhinya, perlahan mulai menghargai pilihan hidupnya.

Dalam berbagai kesempatan ia mengirim kartu ucapan untuk mereka, yang ditulisi kalimat-kalimat bijak dari ayat Al-Quran atau hadist, tanpa menyebutkan sumbernya.

Beberapa waktu kemudian ia pun menuai benih yang ditanam. Orang pertama yang menerima Islam adalah neneknya yang berusia lebih dari 100 tahun. Tak lama setelah masuk Islam sang nenek pun meninggal dunia.

”Pada hari ia mengucapkan syahadat, seluruh dosanya diampuni, dan amal-amal baiknya tetap dicatat. Sejenak setelah memeluk Islam ia meninggal dunia, saya tahu buku catatan amalnya berat di sisi kebaikan. Itu membuat saya dipenuhi suka cita!”

Selanjutnya yang menerima Islam adalah orang yang dulu ingin membunuhnya, ayah.

Keislaman sang ayah mengingatkan dirinya pada kisah Umar bin Khattab. Dua tahun setelah Aminah memeluk Islam, ibunya menelepon dan sangat menghargai keyakinannya yang baru. Dan ia berharap Aminah akan tetap memeluknya.

Beberapa tahun kemudian ibu meneleponnya lagi dan bertanya apa yang harus dilakukan seseorang jika ingin menjadi Muslim. Aminah menjawab bahwa ia harus percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya.

”Kalau itu semua orang bodoh juga tahu. Tapi apa yang harus dilakukannya?” tanya ibunya lagi.

Dikatakan oleh Aminah, bahwa jika ibunya sudah percaya berarti ia sudah Muslim. Ibunya lantas berkata, ”OK, baiklah. Tapi jangan bilang-bilang ayahmu dulu,” pesan ibunya.

Ibunya tidak tahu bahwa suaminya (ayah tiri Aminah) telah menjadi Muslim beberapa pekan sebelumnya. Dengan demikian mereka tinggal bersama selama beberapa tahun tanpa saling mengetahui bahwa pasangannya telah memeluk Islam.

Saudara perempuannya yang dulu berjuang memasukkan Aminah ke rumah sakit jiwa, akhirnya memeluk Islam. Putra Aminah beranjak dewasa. Memasuki usia 21 tahun ia menelepon sang ibu dan berkata ingin menjadi Muslim.

Enam belas tahun setelah perceraian, mantan suaminya juga memeluk Islam. Katanya, selama enam belas tahun ia mengamati Aminah dan ingin agar putri mereka memeluk agama yang sama seperti ibunya.

Pria itu datang menemui dan meminta maaf atas apa yang pernah dilakukannya. Ia adalah pria yang sangat baik dan Aminah telah memaafkannya sejak dulu.

Mungkin hadiah terbesar baginya adalah apa yang ia terima selanjutnya. Aminah menikah dengan orang lain, dan meskipun dokter telah menyatakan ia tidak bisa punya anak lagi, Allah ternyata menganugerahinya seorang putra yang rupawan.

Jika Allah berkehendak memberikan rahmat kepada seseorang, maka siapa yang bisa mencegahnya? Maka putranya ia beri nama Barakah.

Ia yang dulu kehilangan pekerjaan, kini menjadi Presiden Persatuan Wanita Muslim Internasional. Ia berhasil melobi Kantor Pos Amerika Serikat untuk membuat perangko Idul Fitri dan berjuang agar hari raya itu menjadi hari libur nasional AS.

Pengorbanan yang yang dulu diberikan Aminah demi mempertahankan Islam seakan sudah terbalas. ”Kita semua pasti mati. Saya yakin bahwa kepedihan yang saya alami mengandung berkah.”

Aminah Assilmi kini telah tiada meninggalkan semua yang dikasihinya. Termasuk putranya yang dirawat di rumah sakit, akibat kecelakaan mobil dalam perjalanan pulang dari New York untuk mengabarkan pesan tentang Islam.

Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci.


***

Taken from Facebook, Islamedia KISAH MENGHARUKAN ISLAMNYA AMINAH ASSILMI

Rumah Masa Depan

| comments



Inilah rumah yang bakal kita semua diami suatu hari nanti. Lambat cepat bergantung kepada ketentuan Ilahi. Selain dari sibuk menyediakan harta kekayaan untuk diri dan keluarga, jangan sesekali kita lupa untuk mengumpul kekayaan amal sebagai bekal menuju ke rumah yang bakal kita diami ini sehingga berkumpulnya di padang Mahsyar...

taken from facebook, "Temukan Aku Dalam 'ISTIKHARAH-MU' Duhai Belahan Jiwa Ku"'s photo.

Bergeraklah !!!

19 December 2012 | comments

 

1.Bismillahirrahmanirrahim, selain kemampuan 'baca' yang hebat, generasi awal umat Islam hebat karena kemampuan 'gerak' mereka. Proaktif.
2.Begitu mereka masuk Islam, mereka tak tinggal diam. Mereka segera bangkit dan gerak.

3.Setidak2nya mereka tergerak bertanya,"Apa tugas saya ya, Rasulullah?" Begitu dijawab tugas Rasul jadi tugas mereka juga, mrka membantu.

4.Tercatat Sa'ad bin Abi Waqash ra masuk Islam oleh gerak dan ajakan Abu Bakar Ashshiddiq ra.

5.Mereka tidak menunggu Al Qur'an selesai diturunkan semuanya, tapi mereka gerak dengan beberapa ayat yang telah mereka pahami dan imani.

6.Tentu terkadang mereka keliru dlm bertindak. Tetapi 'berkah' gerak lebih besar dibandingkan akibat kekeliruan. Bukankah Allah Maha Pemaaf?

7.Lagi pula mereka selalu hati-hati dlm bertindak. Ini meminimalkan kekeliruan gerak. Dan mekanisme syura semakin meminimalkan kekeliruan.

8.Jadi, mereka mengambil jalan pertengahan. Tidak gegabah dan tidak takut keliru. Karenanya mereka mampu gerak.

9.Mereka menyadari bahwa dalam gerak terbuka kesempatan dan peluang. Terbuka rezeki u mereka. Juga rezeki hidayah untuk umat manusia.

10.Suasana rabbani yg Allah SWT anugerahkan kpd mereka berupa suasana belajar plus mengajarkan al Qur'an, jg mminimalkan kekeliruan gerak.

11.Dmkianlah, para sahabat secara dinamis terus gerak. Seprti air yg selalu mencari tempat yg rendah. Seperti angin yg menerobos dedaunan.

12.Karakter gerak ini menunjukkan mereka sebagai aktor kehidupan. Karenanya Allah SWT berikan panggung kehidupan sebagai umat terbaik.

13.Dengan karakter gerak, mereka terbebaskan dari peran penonton, yang hanya bisa bersorak atau ikut sedih bila aktornya sedih.

14.Dengan karakter gerak, mereka terbebas dari peran pengamat, yang sok tahu padahal belum tentu mampu.

15.Mrk amalkan QS At Taubah ayat: Dan katakan: Bekerjalah kalian niscaya Allah, Rasulullah, dan orang2 beriman melihat kerja kalian.

16.Perhatikanlah kekuatan gerak yg mengalahkan kata2. Saat para sahabat tak berkenan dgn perintah Nabi SAW u tahallul dan sembelih qurban.

17.Ummu Salamah ra menasihati suaminya (Nabi SAW): Silakan kakanda keluar, lalu bertahallul, dan sembelih qurban.

18.Tanpa kata Nabi SAW gerak dgn keluar kemah, bertahallul, dn sembelih qurban. Para sahabat tersentak. Mrka pun trgerakkan u mncontohnya.

19.Gerak menunjukkan kesungguhan. Karena itu ia menggerakkan siapa saja yang menyaksikannya. Dan menggerakkan pertolongan datang.

20.Karena itu bila Anda dan komunitas Anda terjangkit penyakit diam, waspadalah. Tiada kemenangan kecuali bersumber dari gerak.

kultwit @dedhi_suharto

Good Habits...

| comments


Keterbatasan...

| comments

Husnudzhon bukan sebaga angan2. Husnudzhon harus dibarengi dengan amal sholeh nyata. Tapi kita punya keterbatasan2. Kita ingin masuk syurga tapi kita bukan ahli ibadah. Berarti tiap malam kota harus ikhlas memaafkan semua kesalahan orang. Kita ingin alam kubur kita nanti luas dan terang benderang, padahal kita tidak punya banyak hafalan AlQuran, berarti kita harusnaca AlQuran setiap hari. Kita ingin menjadi pebisnis sukses padahal kita tidak kaya harta, berarti kita harus pandai berhubungan baik dengan orang lain dan tidak hidup boros. Dst dst..
*taken from Femina Sagita`s status

A Test

| comments


Label baru

| comments

Bukaaan...ini bukan tentang label yang suka nempel di baju atau benda-benda lainnya. Tapi ini tentang label di blog ini. Ceritanya saya mo nambah label "Facebook", yang isinya status teman-teman di facebook, atau hasil copas status dari orang lain, yang saya rasa bermanfaat dan menginspirasi. Bentuknya bisa tulisan, gambar, atau apa ajah.

Sebabnya sayang aja, kalau dibiarkan lewat, tanpa disimpan dan diingat-ingat. Begitu ceritanya. Sengaja pake pengumuman, biar pemirsa ngga kaget ada channel baru...*tipi kaleee*

Ujian=stress

15 December 2012 | comments (2)


 "Hhhhh....enaknya kalau sekolah di Jepang. Ngga perlu ada ujian."
Tiba-tiba si sulung mengeluh, di suatu pagi, dalam perjalanan menuju sekolahnya.
Tumben, pikir saya. Karena selama ini, setelah dua tahun sekolah di Indonesia, dia kelihatan enjoy saja. Paling mengeluhnya ngga jauh-jauh, dari soal kebersihan sampai kebiasaan teman-temannya yang dianggap aneh dari sudut pandang dia, yang lahir dan besar di Jepang.

Saya pikir, mungkin dia stress, karena sejak duduk di kelas 6, yang namanya belajar, benar-benar full. Lah, emangnya kemarin ngga belajar? Ya belajar sih, tapi di sekolahnya dia yang semi sekolah alam, anak kelas 1-5 lumayan santai belajarnya, duduknya pun lesehan. Tapi khusus kelas 6, duduk harus di kursi, --biar kesannya serius-- dan jumlah pelajaran tambahan pun diperbanyak. Ulangan harian jadi santapan rutin. Ini saja, menjelang UAS, anak-anak dah dijejalin sama UH selama seminggu.

Hm, kebayang deh, maboknya ni anak. Mana di rumah, masih disuruh belajar lagi sama emaknya. *emak singa nih*. Yaaa, daripada dia hanya main game atau nonton tivi, kan mendingan belajar,...
Kasian juga sih sebenarnya.

Jadi inget lagi, masa-masa tu anak masuk sekolah SD di Jepang. Dari kelas 1 sampai 3, dia merasakan suasana yang menyenangkan. Secara di sana, anak-anak ngga dicecokin sama pelajaran-pelajaran yang ngga perlu. Karena kebanyakan yang dipelajari adalah skill dasar terkait moral dan kemandirian, yang tentu saja berguna untuk kehidupan mereka ketika dewasa kelak.

Moral yang diajarkan, seperti menghargai orang lain, mengutamakan kepentingan umum, menjaga lingkungan, dll. Hal ini bisa dilihat dari kebiasaan orang Jepang dari anak usia SD sampai dewasa, mereka sudah terbiasa dengan budaya disiplin, menjaga kebersihan, mengantri, tertib berlalulintas, dll.

Contoh nyata, bisa kita lihat di kejadian tsunami, Maret 2011 yang lalu. Seluruh dunia bahkan terkagum-kagum, dengan masyarakat Jepang, yang dalam kondisi sulit sekalipun, masih bisa tertib dan tidak egois. Lihat saja, tidak ada toko yang dijarah, tidak ada pencurian, tidak ada saling sikut berebut bantuan. Semua mengutamakan kepentingan bersama.

Mandiri, karena selama sekolah, mereka harus mengerjakan sendiri, pekerjaan bebersih, bebenah dan beberes. Mereka bergantian menjadi petugas yang membagikan makanan katering di masing-masing kelas. Mengatur meja, menata piring dan gelas, sampai merapikannya kembali. Mereka juga yang  menyiapkan perlengkapan belajar di kelas, memastikan lampu dan peralatan listrik dalam kondisi mati ketika meninggalkan kelas. Mereka juga yang bergiliran membersihkan wc sekolah.

Mata pelajaran di SD Jepang juga sedikit. Yang utama: Matematika (sansuu), Bahasa (kokugo), Sains (riika), dan Ilmu Sosial (syakai). Selebihnya ada Musik (onggaku), Olahraga (taiiku) dan Seni Menulis Kanji (shosya). Ujian sih tetap ada, tapi bukan UTS atau UAS, yang ada cuma semacam ulangan harian. Yang jelas, ngga ada istilah anak SD di Jepang stress karena pelajaran :D

Kapan-kapan saya tulis lagi deh, tentang sekolah di Jepang. Banyak banget yang bisa dishare :)
Saya berpikir, ngga heran Jepang bisa maju. Karena sejak dini, mereka sudah diajarkan dan dibiasakan untuk memiliki good attitude.

Kembali ke dialog saya di atas.
Saya cuma bisa jawab..
"Ya sudahlah, itukan dulu waktu kamu masih di Jepang. Sekarang, shoganai (mau ga mau), kamu harus ngikutin ritme sekolah di Indonesia. Yang jelas, Mama ngga nuntut kamu untuk juara, or punya nilai tinggi. Yang penting kamu usaha. Apapun hasilnya. Sabar ya sayang.."

Saya dan suami memang berprinsip, kemampuan akademik bukan penentu kesuksesan. Yang penting adalah, kemampuan mengenal diri sendiri, kemampuan berinteraksi dengan orang lain dan yang terutama kemampuan mengaplikasikan nilai-nilai spiritual yang diyakini. Kalau ini sudah dipegang dan dipahami dengan benar, saya yakin, manusia akan sukses bukan cuma di dunia tapi di akhirat nanti. Insya Allah.


Renovasi

13 December 2012 | comments


Rencana renovasi sebenarnya sudah lama. Berhubung adaaaa saja yang rusak di rumah ini. Kusen pintu yang hancur dimakan rayap. Genteng yang bocor. Toilet yang airnya menggenang. Banjir di teras belakang. Tangga besi yang dah copot. Plafon yang bolong gara-gara keseringan kena hujan. Sampe tikus, yang makin ke sini, populasinya kok tambah banyak saja ya.

Karena saya, ehm, yang merasa paling menderita, kalau ada tukang di rumah...*tau sendirilah, ngga bebas gitu loh, belum lagi suara-suara berisik alat-alat pertukangan*, walhasil rencana renov diunduuurrr berbulan-bulan....sampai akhirnya kesampaian juga minggu ini. Maklum, musim hujan kemaren, ini rumah, terutama di kamar saya, di penuhi dengan baskom dan ember. Yasud, palu diketok. Siap-siap panggil tukang.

Acara panggil tukang akhirnya diundur pulak, karena setelah timbang sana timbang sini, kok ya lebih sreg pake tukang insinyur aka arsitek ya. Secara renovasinya sekalian mau ngeluasin dan nambah ruangan dan ngedak sekian atap, yang berarti, akan ada pergeseran dinding dan tentu berarti akan terjadi perubahan struktur rumah, walau cuma sedikit. Pikiran saya dan suami, kalau arsitek, dia pastinya lebih paham masalah kekuatan bangunan dan juga bisa ngasih masukan dari sisi desain artistik.

Soalnya seperti yang pernah saya baca di internet dan tabloid rumah, ada beberapa kejadian, dimana rumah yang di renov, entah lantai 2 nya jadi agak ambles dan miring, sampai yang lantainya bergetar kalau dipake jalan..*serem amat*. Ya itu kan gara-gara si empunya rumah dan si tukang, main asal tambah sana, tambah sini, hancurin sana-sini, tanpa mengetahui kekuatan asal struktur bangunan. Yang penting muraaahh. Padahal resikonya tentu saja jauh lebih mahal, karena ini menyangkut keselamatan jiwa para penghuni rumah.

Ya kalau cuma ngecet, atau sekedar pasang keramik, atau benerin genteng bocor, ya pake tukang saja cukup. Lagian mangnye ada arsitek yang mau turun tangan buat ngerjain itu...hehe

Setelah usaha browsing, nyari jasa renov yang cocok, alhamdulillah, akhirnya ketemu juga.
Saya baru tahu, ada poin-poin penting yang perlu dijalanin sebelum deal sama sang kontraktor:

1. Kirim imel ke mereka, tentang apa yang kita inginkan terkait masalah renov. Plus jangan lupa, sertain pulak gambar design awal rumah kita.

2. Biasanya nanti pihak kontraktor meminta waktu untuk survey ke rumah. Melihat dan mengamati apa saja yang perlu dilakukan supaya rumah jadi bener. Survey ini gratis. Kita ngga perlu bayar.

3. Kita bisa diskusi dan minta mereka untuk membuatkan RAB (rencana anggaran biaya) terkait item-item perbaikan yang harus dilakukan.

4. Mereka akan nyerahin RAB via imel, kurleb 2-3 hari. Di situ kita bisa cek biayanya berapa. Nah, di sini kita bisa lanjutkan, mau teken deal, atau cari kontraktor lainnya.
Kalau rajin, memang sebaiknya ada beberapa kontraktor yang kita hubungi sekaligus, untuk perbandingan harga. Tapi secara saya merasa repot, jadi saya cuma cukupkan dua kontraktor saja, yang bisa saya bandingin RABnya.

5. Setelah ok dengan RAB, kita bisa minta ke mereka untuk dibuatkan gambar 3D, bagaimana penampakan rumah kita, setelah direnov. Gambar 3D ini, akan dipresentasikan oleh sang arsitek di rumah kita. Karena pake software khusus, jadi ngga bisa dikirim via imel. Pas presentasi itu, kita bisa diskusi, misalnya, bagaimana kalau posisi pintu dirubah ke bagian ujung, atau bagaimana kalau posisi tembok dimundur sekian meter. Nanti di software itu, sang arsitek akan merubah gambar sesuai keinginan kita, dan ...teraaaaa.....dalam sekejap, langsung terlihat perubahan dalam gambar tsb.
Wah, pokoknya keren deh. Saya dan suami sampai takjub melihat pemandangan 3D tersebut ^-^ *norak.com*

6. Kalau sudah puas, 1-2 hari kemudian mereka akan datang ke rumah, sambil membawa surat perjanjian  kontrak renovasi dalam jangka waktu tertentu, yang sudah ditempeli materai. Di surat itu juga dituliskan, DP dan termin pembayaran sekian waktu yang harus kita lunasi. Biasanya pembayaran tersebut disesuaikan dengan progress renov.

Oiya, selama proses renov, kita juga bisa milih, mau tetap tinggal di rumah, atau hijrah alias ngontrak ke rumah lain. Kalau saya milih bertahan, karena ngga mau repot...hehehe. Walaupun tetep aja repot sih..secara kita hijrahnya ke lantai 2. Karena punya tiga balita, kudu penuh perjuangan juga, untuk bisa menahan mereka, ngga ngelayap ke bawah. Teteeeuup aja ada repotnya.
Yah, namanya juga hidup, ya memang penuh kerepotan, atau bahasa kerennya, penoeh perdjoeangan ^-^: Bener kan??





 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Kehidupan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger