Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

MENUNDA KESENANGAN

14 June 2020 | comments






Ngga terasa, sudah tiga bulan lebih, anak-anak sekolahnya #dirumahaja.
Termasuk epaknya yang terpaksa, kerja dari rumah aja. Dah biasa banget deh, denger konfrens yang sahut-sahutan dari ruang depan dan belakang.

Trus, gimana kabar sang emak?
Seharusnya ya, dengan semua anggota keluarga ngumpul di rumah, mau tak mau kerjaan sang emak jadi melonjak tajam. Masak berulang, cuci piring yang ngga brenti-brenti, belum upacara beberes rumah dan nggosek kamar mandi. Plus cucian dan jemuran yang melambai-lambai minta disentuh juga.

Tapi, alhamdulillah, kondisi malah terbalik. Emak ngga capek, malah makin banyak me time.
Loh, kok bisa?

Ya, bisalah.
Caranya cuma satu harus TEGA.
Tega menyuruh anak-anak untuk bergantian mengerjakan tugas domestik sang emak.
Tentu saja sebelumnya mereka dikasih pengertian, kalo merawat rumah dan menjaga kebersihannya, adalah tanggung jawab 'SELURUH' anggota keluarga. Bukan cuma emaknya.

Jadi, sejak adegan sekolah #dirumahaja dimulai, sang emak udah bikin jadwal piket yang harus dikerjakan bergantian. Mulai dari masak sarapan, cuci piring pagi-siang-malam, buang sampah, lipat pakaian, sapu-pel, nggosek kamar mandi, angkat jemuran. Semua diserahkan ke anak-anak. Secara ada empat gitu loh. Sayang kalo ngga diberdayakan. Wkwkwk.

Lalu, emaknya ngapain dong. Ya emak bagian masak siang dan masak malam, plus cuci-cuci peralatan masak. Udah itu doang. Enak kan?

Abis itu emak bisa khusyuk balik lagi ke 'dunia'nya. Ngajar di kelas online, ngoreksi tugas peserta, desain flyer, rekaman materi kelas, sambil sesekali ngoprekin aplikasi.

Jadi ngga ada ceritanya, emaknya capek-capek, sedangkan anaknya cuma dibiarin leyeh-leyeh doang. Apalagi untuk anak yang usianya sudah di atas 8 tahun ke atas. Apalagi yang remaja. Mereka harus belajar dan dilatih untuk melaksanakan tugas-tugas rumah.

Ingat ya, ngga ada yang tau, apakah kita sebagai ortu bisa mendampingin anak selamanya.
Jika kondisi yang tidak diharapkan datang menimpa, misal ortu sakit, atau bahkan wafat. Anak-anak sudah terlatih dan terbiasa mengerjakan  segala sesuatunya dengan mandiri. Tidak tergantung orang lain.

Seorang pakar pernah berkata, berilah anakmu tantangan satu tingkat di atas kemampuannya. Dan berikan anak fasilitas, satu tingkat di bawah kebutuhannya.

Artinya apa? Kasih tantangan, kasih kerjaan, kasih tugas yang berat. Misal anak bisanya ngepel satu kamar, ya harus bisa ngepel tiga kamar. Kalo dia mampunya cuma dua kamar, ya sudah, gapapa. Dihargai. Minimal dia berlatih mengerjakan sesuatu satu tingkat di atas kemampuannya. Nantinya dia akan terbiasa.
Dan urusan pengerjaan tugas standar menjadi hal ringan buat dia. Karena sudah TERBIASA melakukan yang lebih berat.

Sebaliknya, kalau anak butuh fasilitas, misalnya yaa...peralatan melukis yang super komplit. Dari canvas, kuas, cat yang high grade. Walaupun ortu mampu, ya ngga perlu disediakan secara komplit.
Sediakan saja peralatan yang sederhana.
Latih dia untuk melukis dengan hanya menggunakan peralatan secukupnya.

Jangan terbiasa memenuhi semua permintaan anak dengan cepat dan memanjakannya dengan aneka fasilitas.
Bahkan hal sepele, seperti jajan cemilan.
Biasakan anak supaya bisa menunda kesenangan.

Saya pernah membaca tentang penelitian yang dilakukan tim psikolog dari universitas ternama di barat sana di tahun 1970-an. Saya lupa negara apa. Intinya, tim peneliti melakukan riset terhadap sekelompok anak usia 4-7 th.

Tiap anak secara bergilir dimasukkan ke satu ruangan. Duduk berhadapan dengan meja yang diatasnya sudah diletakkan aneka cemilan.
Lalu anak itu dikasih petunjuk, bahwa mereka akan ditinggal sendirian dalam ruangan.
Tetapi mereka tidak boleh menyentuh dan memakan cemilan itu,  sampai nanti diperbolehkan ketika ada tim yang masuk ke dalam ruangan tsb.

Apa yang terjadi?
Dari balik kamera tersembunyi, terlihat beberapa anak tidak sanggup menahan godaan. Ada yang langsung memakannya. Ada yang sekedar memegang-megang cemilan dulu beberapa saat, baru dimakan.

Tapi beberapa anak ada juga yang mampu menahan dirinya. Sama sekali tidak menyentuh cemilan tersebut, sampai anggota tim masuk kembali ke ruangan dan mengijinkannya memakan cemilan.

Puluhan tahun kemudian, tim tersebut mengontak anak-anak yang sudah berubah menjadi orang dewasa. Dan tahukah kita?

Segelintir orang dewasa yang dihubungi, berada di  posisi orang sukses. Mempunyai pekerjaan mapan dengan kehidupan yang bahagia.

Ya, mereka yang sukses itu adalah jelmaan anak-anak yang mampu menahan keinginannya sekuat tenaga. Mereka TERLATIH untuk menahan keinginan dan MENUNDA kesenangan.

Menunda kesenangan akan membuat orang menjadi sosok yang kuat, yang terbiasa bekerja keras dan cerdas, sebelum menikmatinya.

Menunda kesenangan akan membuat orang terlatih untuk membelanjakan sesuatu yang sesuai dengan KEBUTUHAN bukan KEINGINAN.

Menunda kesenangan akan membuat orang terbiasa untuk MENGHARGAI apa yang sudah dimiliki.

Dalam Islam pun, di bulan Ramadhan, kita sudah dibiasakan selama satu bulan, untuk menunda salah satu kesenangan kita. Makan.
Dan memang, saat waktunya dibolehkan makan alias berbuka, kita cenderung menikmatinya dengan luar biasa, walau hanya segelas air putih biasa. Terasa sangat nikmat.

Menunda kesenangan memang susah. Tapi itu adalah skill yang harus dilatih. Untuk kita sendiri dan masa depan anak-anak kita.

Apalagi di jaman sekarang. Banyak sekali yang menawarkan kesenangan sesaat. Hanya untuk gaya hidup, atau sekedar mendapat pujian dari orang lain, rela terlibat utang alias kredit. Beli perlengkapan rumah tangga yang baru, ganti gadget, tukar mobil dengan keluaran terbaru. Hanya untuk memenuhi keinginan, bukan kebutuhan.

Dan terlihat pula efeknya di saat wabah pandemi seperti sekarang. Mereka yang survive biasanya adalah orang yang 'mampu menahan kesenangan'.
Tidak punya utang dan tidak terlibat riba.

Saya pernah membaca, keluarga pemilik puluhan properti mahal dengan penghasilan pasif mencapai setengah milyar perbulan (pasif loh ya, belum termasuk penghasilan aktifnya).
Memilih untuk tinggal di salah satu kamar kost miliknya.
Padahal, kalau dia mau, bisa saja beli rumah mewah besar di tengah kota.

Tau Warren Buffet? Salah satu orang terkaya di dunia, memilih untuk tinggal di rumah tua sederhana. Anak-anaknya pun dididik untuk hidup sederhana dan jauh dari bergelimang fasilitas.

Itu cuma segelintir sosok yang sukses, karena memiliki prinsip hidup "MENUNDA KESENANGAN'.

Jadi, yuk belajar lagi...belajar sama-sama...
Belajar tega dan belajar menunda kesenangan๐Ÿ˜Š

#mywrite
#refleksidiri
#parentinglife
#belajarjadiorangtua
#belajarlebihbaik
#instropeksi

Kamu Tuh Harusnya.....

24 August 2016 | comments

Hapal dengan kalimat di atas?

Sebagai emak-emak, itu kalimat yang kalau tidak direm, bisa setiap saat meluncur dari mulut saya.
Terutama setelah melihat anak-anak yang sikapnya bikin ngurut dada, sama kepala, pundak, lutut kaki....lutut kaki.....(kok jadi nyanyi)

Kalimat ..."kamu tuh harusnya" sebenarnya menggambarkan, kalo saya tuh sedang sebel bin kecewa, kok bisa-bisanya anak-anak berbuat seperti itu. Alias, mereka bersikap di luar harapan.

Contoh kecil, saya selalu membiasakan anak-anak untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya. Baju kotor letakkan di keranjang, mainan di kotaknya, alat tulis di lacinya, dan seterusnya. Supaya nanti, pas perlu, mereka ngga perlu teriak-teriak manggil emaknya hanya karena ada properti mereka yang hilang.

Walau sudah ribuan kali (...hm...mungkin ratusan kali ya...tapi drama dikit lah...) saya mengingatkan mereka, teteeeuuup aja yang namanya kehilangan selalu kejadian. Dan ujung-ujungnya, keluarlah kalimat ....
"Kamu tuh harusnya udah ngerti dong,.....kan udah berapa kali mama ngomong, jangan taruh apa-apa sembarangan.....!!!

Biasanya sih kalo sudah kejadian, beberapa hari kemudian, mereka benar-benar jadi taat aturan. Semua benda-benda tetiba jadi tahu diri, kembali ke kandangnya masing-masing. Tapiiiiii.....seminggu dua minggu kemudian, kejadian dan adegan yang sama plus omelan si emak, terulang lagih....mirip pita kaset yang direwind berulang-ulang....

******

Bukan hanya sikap ceroboh yang kadang muncul, kadang-kadang attitude lain yang tidak kalah menyebalkan, juga muncul. Contoh kecil, saat diomelin, mereka balas dengan nada tinggi.

Emak ngambil do tinggi....mereka ngambil re tinggi
Emak ngambil mi tinggi....mereka ngambil fa tinggi....

Walhasil keluarlah semua asap dan tanduk si emak. Pluuusss..... kalimat yang sama...
"Kalian tuh harusnya udah tau. Kan berapa kali mama bilangin, jangan ngomong kencang sama orangtua !!! Ada adabnya..... bedain ngomong sama teman dan ngomong sama mama !!!

Kalo udah gitu, semua diam. Dan beberapa hari kemudian tetiba semua jadi anak yang sangaaaat beradab terhadap emaknya.
Tapiiiiii.....seminggu dua minggu kemudian, kejadian dan adegan yang sama, plus omelan si emak, terulang lagih....mirip pita kaset yang direwind berulang-ulang....




Saya bukan emak yang sabar, baik hati dan tidak sombong dan gemar menabung. Saya hanya emak-emak biasa yang sumbunya sangat-sangat pendek. Walaupun, segunung teori parenting saya hapal, tetapi teteeuup....untuk aplikasinya hanya bisa dilakukan pada saat-saat tertentu. Saat emak kondisi ruhiyahnya lagi tinggi, hatinya lagi lapang, perutnya lagi kenyang, tidurnya cukup dan rekeningnya lagi penuh. (abaikan yang terakhir)

Kadang-kadang rasanya melelahkan sekali, menghadapi situasi dan kondisi yang sama dalam waktu yang panjang.
Apalagi sebagai orangtua yang punya idealisme tinggi, bahwa ketika si anak yang sudah masuk fase ini, harusnya punya sikap seperti itu. Dengan empat anak yang fasenya berbeda-beda, ada yang fase kanak-kanak, prabaligh dan baligh, cukup membuat saya sangat tertekan dengan tuntutan-tuntutan yang ada, terutama dari diri saya sendiri.

Dengan gunungan teori, tumpukan buku, status-status keren para suhu parenting....kadang membuat saya tidak pede dengan diri sendiri.

"Udeehh, ngaku aja.....loe tuh emak yang gagal...."
"Inget yaaa....loe tuh ngga akan pernah berhasil jadi emak yang baik...."
"Ngapain loe ngabisin waktu baca buku, toh jarang loe praktekin...."
"Buat apa loe hidup, kalo hanya bikin anak-anak loe menderita......"

ITU...adalah kalimat-kalimat kasar yang kadang keluar dari sebelah LAIN dari jiwa saya.
Dan, kalo kalimat itu sudah keluar, yang saya lakukan hanya menangis, menangis, dan berdoa. Saya takut, saya akan melakukan hal-hal di luar kontrol, apalagi dengan kondisi sendirian di rumah.

Sesekali....ya....sesekali, saya harus BISA menerima kenyataan. Bahwa inilah saya dengan segala kekurangan dan keterbatasan. Apalah saya dibanding emak-emak sana yang begitu sabaaaarr dan coooolll menghadapi gejolak dan huru hara pengasuhan. Tapi mereka...ya mereka.....

Bukankah kemampuan tiap orang berbeda-beda? Ada orang yang kuat makan pedas, dengan level pedas tertinggi ala mak icih. Ada yang bisanya cuma sampe level pertengahan. Ada pula yang cuma level satu. Malah, boro-boro masuk level, ternyata tetap ada juga orang yang sama sekali ngga bisa makan pedas.

Begitu juga dengan level sabar, setiap emak pasti berbeda-beda.
Ada yang kalem  ngeliat batitanya numpahin susu, ada yang gerah ngeliat batitanya menarik semua pakaian yang sudah dirapikan.
Ada yang diem ngeliat balitanya melempar makanan, ada yang gerah ngeliat anaknya rebutan mainan.
Ada yang cool ngeliat anaknya manjat pohon tinggi, ada yang langsung teriak-teriak ngeliat anaknya lompat-lompat di atas sofa empuk.
Ada yang cuek ngeliat remajanya ngedugem, ada yang gelisah ngeliat remajanya ngga sholat lima waktu.

Mengetahui bahwa level sabar berbeda-beda, itu cukup menghibur saya. Tapi, tetap saja yang namanya usaha, untuk jadi lebih baik harus teruuuuusss diusahakan. Ngga usah berlebihan, secukupnya saja, sesuai kemampuan. Ngga usah maksain diri harus seperti emak-emak lain, cukup terimalah kenyataan bahwa dirimu adalah dirimu, bukan mereka.

Gimanapun ada satu rambu yang selalu saya hayati dan terapkan ke diri saya, bahwa, saya boleh memilih untuk TIDAK SABAR terhadap setiap sikap dan kebiasaan anak yang MENYIMPANG dari syariat. Tapi untuk hal di luar itu, maka saya harus teruuuuus berlatih untuk bersabar. Semampunya, sekuatnya, sebisanya. Walau harus mengalami episode rewind adegan seperti di atas. Pede aja, akan ada satu masa.....adegan demi adegan berubah dan berakhir dengan happy ending.
Insyaa Allah.







Skill Yang Sering Dilupakan

28 November 2014 | comments

Nemu ini di status fb Pendidikan Karakter. Bagus banget ini dijadikan referensi. Apalagi di negara kita, yang lebih mengutamakan keterampilan berpikir. Padahal, keterampilan atau skill yang ngga kalah pentingnya, adalah skill yang terkait dengan hubungan sosial.

Gimana caranya, kalau pinter, tapi ngga bisa gaul? Ngga bisa bekerja sama. Ngga bisa menganalisa masalah. Ngga bisa fokus ke solusi. Ngga bisa disiplin. Ngga punya tanggung jawab?



Nah, mumpung masih melek, coba dipelototin skill penting ini. Walau ini tujuannya untuk mendidik anak, tapi ngga ada salahnya, sebagai orang gede, kita juga evaluasi. Apa kita sendiri sudah punya skill seperti di bawah ini.

Ngomong-ngomong, kalau di Jepang sendiri, skill ini sudah melekat menjadi tradisi mereka. Ngga heran deh, diantara negara-negara maju sekalipun, mereka berada di urutan terdepan dalam urusan ini. Masih inget ngga sih, ketika kejadian tsunami 2011 yang lalu, mereka masih bisa untuk tetap tertib, disiplin dan bertanggungjawab, bahkan di saat-saat genting sekalipun? Tidak ada penjarahan, tidak ada rusuh, tidak ada rebut-rebut dan sikut-sikutan saat menerima bantuan. Hebat banget ya?

Iya deh, silakeun disimak skill sosial apa aja yang perlu dimiliki oleh kita dan anak-anak kita.

**********************

10 Keterampilan Sosial yang Wajib dimiliki Anak

Daftar ini dibuat berdasarkan survei terhadap 8000 guru SD pada tahun 2006 dan penelitian selama lebih dari 20 tahun di berbagai sekolah dasar di Amerika Serikat.
Ke-10 ketrampilan sosial tersebut adalah:

1. Kemampuan mendengarkan orang lain
2. Mengikuti petunjuk
3. Menaati peraturan
4. Mengacuhkan gangguan
5. Meminta bantuan
6. Berbicara secara bergantian
7. Berkumpul bersama orang lain (teman sebaya, saudara, dll.)
8. Bersikap tenang ketika berada di tengah banyak orang (misalnya ketika tengah berada di mall, diundang ke sebuah acara keluarga, dll.)
9. Bertanggung jawab atas segala tindakan
10. Melakukan hal baik untuk orang lain.
apakah anda sudahmengajarkan kepada anak anda? hal ini juga sangat relevan di negara kita bukan?
daftar ini juga bisa dijadikan acuan bagi guru-guru mata pelajaran untuk membiasakan hal ini pada anak didiknya, juga dirumah orangtua memperkuatnya lagi. sehingga kita memiliki anak yang santun dan berkarakter.


Cintai Anakmu untuk Selamanya

15 November 2014 | comments

Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi... Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan. Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita. Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita. Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka. Entah kapan. Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini....

Sebagian di antara kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta. Orangtua dan anak hanya berjumpa di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala, saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka itu tak mau menerima dirinya tercampakkan sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.

Adakah itu termasuk kita? Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala.

Inilah hari ketika kita tak dapat membela pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri. Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat? Dan dunia ini adalah ladangnya...

Sebagian di antara kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati. Mereka berpisah untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Jalla wa 'Ala. Tingkatan amal mereka boleh jadi tak sebanding. Tapi Allah Ta'ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi.

Allah Ta'ala berfirman:


"ูˆุงู„ุฐูŠู† ุขู…ู†ูˆุง ูˆุงุชุจุนุชู‡ู… ุฐุฑูŠุชู‡ู… ุจุฅูŠู…ุงู† ุฃู„ุญู‚ู†ุง ุจู‡ู… ุฐุฑูŠุชู‡ู… ูˆู…ุง ุฃู„ุชู†ุงู‡ู… ู…ู† ุนู…ู„ู‡ู… ู…ู† ุดูŠุก ูƒู„ ุงู…ุฑุฆ ุจู…ุง ูƒุณุจ ุฑู‡ูŠู†"

"Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. Ath-Thuur, 52: 21).

Diam-diam bertanya, adakah kita termasuk yang demikian ini? Saling disusulkan kepada yang amalnya lebih tinggi. Termasuk kitakah?

Adakah kita benar-benar mencintai anak kita? Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit. Kita tangisi mereka saat terluka. Tapi adakah kita juga khawatiri nasib mereka di akhirat? Kita bersibuk menyiapkan masa depan mereka. Bila perlu sampai letih badan kita. Tapi adakah kita berlaku sama untuk "masa depan" mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?

Tengoklah sejenak anakmu. Tataplah wajahnya. Adakah engkau relakan wajahnya tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya? Ingatlah sejenak ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya. Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala karena lalai menanamkan tauhid dalam dirinya?




Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali. Adakah ketika itu kita saling disusulkan ke dalam surga atau saling bertikai?

Maka, cintai anakmu untuk selamanya! Bukan hanya untuk hidupnya di dunia. Cintai mereka sepenuh hati untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta'ala. Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga. Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk kariernya di dunia yang sesaat. Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang. Masa yang tak bertepi.

********

Taken from FB Ust. Mohammad Fauzil Adhim

gambar dari sini 

Asuransi Terbaik

28 August 2014 | comments



Oleh Ustadz Budi Ashari, Lc

Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.

Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.

Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita. Lihatlah kisah berikut ini:

Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh Hani Al Hajj dibandingkan tentang dua khalifah di jaman Dinasti Bani Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz. Keduanya sama-sama meninggalkan 11 anak, laki-laki dan perempuan. Tapi bedanya, Hisyam bin Abdul Malik meninggalkan jatah warisan bagi anak-anak laki masing-masing mendapatkan 1 juta Dinar. Sementara anak-anak laki Umar bin Abdul Aziz hanya mendapatkan setengah dinar.

Dengan peninggalan melimpah dari Hisyam bin Abdul Malik untuk semua anak-anaknya ternyata tidak membawa kebaikan. Semua anak-anak Hisyam sepeninggalnya hidup dalam keadaan miskin. Sementara anak-anak Umar bin Abdul Aziz tanpa terkecuali hidup dalam keadaan kaya, bahkan seorang di antara mereka menyumbang fi sabilillah untuk menyiapkan kuda dan perbekalan bagi 100.000 pasukan penunggang kuda.

Apa yang membedakan keduanya? Keberkahan.
Kisah ini semoga bisa mengingatkan kita akan bahayanya harta banyak yang disiapkan untuk masa depan anak-anak tetapi kehilangan keberkahan. 1 juta dinar (hari ini sekitar Rp 2.000.000.000.000,-) tak bisa sekadar untuk berkecukupan apalagi bahagia. Bahkan mengantarkan mereka menuju kefakiran.

Melihat kisah tersebut kita juga belajar bahwa tak terlalu penting berapa yang kita tinggalkan untuk anak-anak kita. Mungkin hanya setengah dinar (hari ini sekitar Rp 1.000.000,-) untuk satu anak kita. Tapi yang sedikit itu membaur dengan keberkahan. Ia akan menjadi modal berharga untuk kebesaran dan kecukupan mereka kelak. Lebih dari itu, membuat mereka menjadi shalih dengan harta itu.
Maka ini hiburan bagi yang hanya sedikit peninggalannya.

Bahkan berikut ini menghibur sekaligus mengajarkan bagi mereka yang tak punya peninggalan harta. Tentu sekaligus bagi yang banyak peninggalannya.
Bacalah dua ayat ini dan rasakan kenyamanannya,

Ayat yang pertama,
ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„ْุฌِุฏَุงุฑُ ูَูƒَุงู†َ ู„ِุบُู„َุงู…َูŠْู†ِ ูŠَุชِูŠู…َูŠْู†ِ ูِูŠ ุงู„ْู…َุฏِูŠู†َุฉِ ูˆَูƒَุงู†َ ุชَุญْุชَู‡ُ ูƒَู†ْุฒٌ ู„َู‡ُู…َุง ูˆَูƒَุงู†َ ุฃَุจُูˆู‡ُู…َุง ุตَุงู„ِุญًุง ูَุฃَุฑَุงุฏَ ุฑَุจُّูƒَ ุฃَู†ْ ูŠَุจْู„ُุบَุง ุฃَุดُุฏَّู‡ُู…َุง ูˆَูŠَุณْุชَุฎْุฑِุฌَุง ูƒَู†ْุฒَู‡ُู…َุง ุฑَุญْู…َุฉً ู…ِู†ْ ุฑَุจِّูƒَ
“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Qs. Al Kahfi: 82)

Ayat ini mengisahkan tentang anak yatim yang hartanya masih terus dijaga Allah, bahkan Allah kirimkan orang shalih yang membangunkan rumahnya yang nyaris roboh dengan gratis. Semua penjagaan Allah itu sebabnya adalah keshalihan ayahnya saat masih hidup.
Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan,
“Ayat ini menunjukkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada dirinya dan pada anaknya walaupun mereka jauh darinya. Telah diriwayatkan bahwa Allah ta’ala menjaga orang shalih pada tujuh keturunannya.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menukil kalimat Hannadah binti Malik Asy Syaibaniyyah,
“Disebutkan bahwa kedua (anak yatim itu) dijaga karena kesholehan ayahnya. Tidak disebutkan kesholehan keduanya. Antara keduanya dan ayah yang disebutkan keshalihan adalah 7 turunan. Pekerjaannya dulu adalah tukang tenun.”

Selanjutnya Ibnu Katsir menerangkan,
“Kalimat: (dahulu ayah keduanya orang yang sholeh) menunjukkan bahwa seorang yang shalih akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan melingkupi mereka di dunia dan akhirat dengan syafaat bagi mereka, diangkatnya derajat pada derajat tertinggi di surga, agar ia senang bisa melihat mereka, sebagaimana dalam Al Quran dan Hadits. Said bin Jubair berkata dari Ibnu Abbas: kedua anak itu dijaga karena keshalihan ayah mereka. Dan tidak disebutkan kesholehan mereka. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ia adalah ayahnya jauh. Wallahu A’lam

Ayat yang kedua,
ุฅِู†َّ ูˆَู„ِูŠِّูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„َّุฐِูŠ ู†َุฒَّู„َ ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ ูˆَู‡ُูˆَ ูŠَุชَูˆَู„َّู‰ ุงู„ุตَّุงู„ِุญِูŠู†َ
“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Qs. Al A’raf: 196)
Ayat ini mengirimkan keyakinan pada orang beriman bahwa Allah yang kuasa menurunkan al Kitab sebagai bukti rahmatNya bagi makhlukNya, Dia pula yang akan mengurusi, menjaga dan menolong orang-orang shalih dengan kuasa dan rahmatNya. Sekuat inilah seharusnya keyakinan kita sebagai orang beriman. Termasuk keyakinan kita terhadap anak-anak kita sepeninggal kita.
 Untuk lebih jelas, kisah orang mulia berikut ini mengajarkan aplikasinya.

Ketika Umar bin Abdul Aziz telah dekat dengan kematian, datanglah Maslamah bin Abdul Malik. Ia berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau telah mengosongkan mulut-mulut anakmu dari harta ini. Andai anda mewasiatkan mereka kepadaku atau orang-orang sepertiku dari masyarakatmu, mereka akan mencukupi kebutuhan mereka.”
Ketika Umar mendengar kalimat ini ia berkata, “Dudukkan saya!”
Mereka pun mendudukkannya.

Umar bin Abdul Aziz berkata, “Aku telah mendengar ucapanmu, wahai Maslamah. Adapun perkataanmu bahwa aku telah mengosongkan mulut-mulut anakku dari harta ini, demi Allah aku tidak pernah mendzalimi hak mereka dan aku tidak mungkin memberikan mereka sesuatu yang merupakan hak orang lain. Adapun perkataanmu tentang wasiat, maka wasiatku tentang mereka adalah:
ุฅِู†َّ ูˆَู„ِูŠِّูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„َّุฐِูŠ ู†َุฒَّู„َ ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ ูˆَู‡ُูˆَ ูŠَุชَูˆَู„َّู‰ ุงู„ุตَّุงู„ِุญِูŠู†َ
Anaknya Umar satu dari dua jenis: shalih maka Allah akan mencukupinya atau tidak sholeh maka aku tidak mau menjadi orang pertama yang membantunya dengan harta untuk maksiat kepada Allah.” (Umar ibn Abdil Aziz Ma’alim At Tajdid wal Ishlah, Ali Muhammad Ash Shalaby)

Begitulah ayat bekerja pada keyakinan seorang Umar bin Abdul Aziz. Ia yang telah yakin mendidik anaknya menjadi shalih, walau hanya setengah dinar hak anak laki-laki dan seperempat dinar hak anak perempuan, tetapi dia yakin pasti Allah yang mengurusi, menjaga dan menolong anak-anak sepeninggalnya. Dan kisah di atas telah menunjukkan bahwa keyakinannya itu benar.

Umar bin Abdul Aziz sebagai seorang khalifah besar yang berhasil memakmurkan masyarakat besarnya. Tentu dia juga berhak untuk makmur seperti masyarakatnya. Minimal sama, atau bahkan ia punya hak lebih sebagai pemimpin mereka.
Tetapi ternyata ia tidak meninggalkan banyak harta. Tak ada tabungan yang cukup. Tak ada usaha yang mapan. Tak ada asuransi seperti hari ini.
Tapi tidak ada sedikit pun kekhawatiran. Tidak tersirat secuil pun rasa takut. Karena yang disyaratkan ayat telah ia penuhi. Ya, anak-anak yang shalih hasil didikannya.

Maka izinkan kita ambil kesimpulannya:
Bagi yang mau meninggalkan jaminan masa depan anaknya berupa tabungan, asuransi atau perusahaan, simpankan untuk anak-anak dari harta yang tak diragukan kehalalannya.
Hati-hati bersandar pada harta dan hitung-hitungan belaka. Dan lupa akan Allah yang Maha Mengetahui yang akan terjadi.

Jaminan yang paling berharga –bagi yang berharta ataupun yang tidak-, yang akan menjamin masa depan anak-anak adalah: keshalihan para ayah dan keshalihan anak-anak.
Dengan keshalihan ayah, mereka dijaga.
Dan dengan keshalihan anak-anak, mereka akan diurusi, dijaga, dan ditolong Allah.

***************
 gambar dari sini
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Kehidupan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger