Belajar Tanggung Jawab dari Merapikan Barang

28 August 2014 | comments



Memiliki anak memang pasti ada konsekuensinya, salah satunya adalah rumah atau kamar yang berantakan karena mainan anak berserakan. Betapa melelahkannya kalau siang-malam harus bolak-balik merapikan mainan anak hanya untuk diserakkan lagi olehnya.

Nah, oleh sebab itu, yuk, Ma, mulai ajari anak untuk membereskan dan merapikan baran-barangnya sendiri. Bukan hanya membantu meringankan Anda, tapi juga untuk mengajarinya untuk bertanggung jawab memelihara baran-barang miliknya, sekaligus agar Ia sadar bahwa membereskan mainan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari bermain.

Sebaiknya, anak diajak untuk membantu membereskan barang-barangnya sejak dini. Bagaimana merapikan dan seberapa banyak yang dibereskan tentu harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Anak balita yang disuruh membereskan kamar berantakan tentu merasa kewalahan dan bisa jadi malah ngambek. Jadi sabar-sabar mengajarinya ya, Ma.

• Saat anak batita sudah bisa mengikuti permintaan Anda, cobalah minta Ia memasukkan mainan yang sedang dipegangnya ke dalam kotak atau keranjang khusus yang Anda sediakan. Jadikanlah itu sebagai permainan.

• Selanjutnya, Anda bisa meningkatkan ‘level’. Mintalah Ia memungut mainan tertentu untuk dimasukkan ke kotak, misal “Ambil bolanya sayang, masukkan ke kotak biru. Sekarang ambil boneka bebeknya, masukkan juga ke kotak sama bola”. Sebutkan bendanya satu-satu secara spesifik. Lakukan ini setiap hari, setiap kali selesai bermain.

• Lebih baik ajak Ia beres-beres mainan yang sudah selesai dimainkan dulu sebelum mengizinkannya ‘menyebar’ mainan-mainan lain. Soalnya kalau sudah telanjur berantakan hebat, anak malah jadi enggan membereskan, sama seperti kita yang sering merasa bingung mulai membereskan dari mana saat melihat tempat yang berantakan bak kapal pecah. Berhasil melakukan tugas-tugas kecil akan menumbuhkan rasa percaya dirinya.

• Kalau dari kecil sudah terbiasa dilatih membereskan barang-barangnya, di usia TK biasanya sudah bisa dipercaya melakukan tugas yang lebih menantang. Mama mulai bisa untuk mengatakan, “Kakak, beresin mobil-mobilannya, dong!” Bahkan jika mobil-mobilan beserta jenis mainan lain berserakan di area bermainnya, Ia sudah akan mampu membereskan.

• Yang penting, jadikanlah waktu beres-beres menyenangkan bagi anak. Jadikan itu sebuah permainan juga, Anda bisa mengajaknya berlomba memasukkan barang ke keranjang, atau memutar sebuah lagu dan berusaha memasukkan semua barang ke kotak penyimpanan saat lagu selesai.

(Copas dari FB Karima Edukasi)

**********
gambar dari sini

Anak Berendeng

22 August 2014 | comments

Anak saya berendeng.....alias berurutan kayak not lagu...do...re....mi....
Benernya sih, yang berendeng cuma tiga anak terakhir. Yang pertama si sulung, sempat menjadi anak tunggal selama 7 tahun. Sampe punya adek langsung tiga biji berturut-turut. Alhamdulillah.


Kisah punya anak berendeng gini penuh drama deh. Secara saya termasuk penderita PCOC  (silakan googling yak..*malesnulis.com). Salah dua ciri-ciri penderita PCOC adalah haid tidak teratur, dan sulit punya anak.

Waktu masih di Jepang, setelah si sulung usianya 3 tahun, mulailah dia nanya-nanya kapan bisa punya adek. Dia ngiri soalnya, ngeliat temen-temennya pada punya adek. Malah ada yang adeknya 2 biji. Saya mah lempeng aja, bilang ke dia untuk berdoa. Walopun dalam hati, sedih juga sih, karena kok si adek bayi ngga nongol-nongol di perut saya.

Akhirnya bareng suami, saya pergi ke klinik untuk konsultasi dan terapi. Setelah diperiksa macam-macam, luar dalem sampe diobok-obok dan nyaris bikin pingsan, si dokter ngambil kesimpulan kalo saya tuh menderita PCOC. Terapinya, dengan minum obat, dan kontrol rutin sebulan sekali.

Naah..., saya yang dasarnya males bolak balik ke RS (soalnya kudu naik turun tangga di stasiun kereta,  plus jalan kaki 15 menitan untuk menuju ke RS sono), cuma bertahan sebulan dua bulan ngikutin ntu sesi terapi.  Selanjutnya....ya....terserah saya. Hehehe...

Kurleb dua bulan setelah si sulung berumur 6 tahun, saya hamil. Tapi sayangnya, si janin cuma bisa bertahan sampe 8 minggu saja. Duh, ini termasuk episode yang bikin saya banjir airmata dan darah.
Sampe bikin tulisan curhat nan mellow ini *ni tulisan aslinya dah ngga ada di saya. Syukurnya pas di google ada yang muatin ternyata...

Naaahh.....serunya lagi. Setelah keguguran, saya ngga sempet haid....tau-tau udah hamil lagi !!! Dan saya baru nyadar setelah usia kandungan sudah 2 bulanan. Karena itu tadi, haid saya kan ngga beraturan. Alhamdulillah, si bayi sehat-sehat aja. Sampe lahir pun ni anak kedua asliiiiiii, yang paling lincaahh dan banyak gerak dari sodara-sodaranya.

Yang paling senang tentu saja si sulung. Dia selalu ulang-ulang ngomong,"Yume mitai naa...".
Bahasa gaulnya, Its like a dream !!! Apalagi adeknya ini laki-laki. Bertambah senanglah dia. Bakal ada temen buat maen bola n maen berantem-beranteman. Hehe...alhamdulillah..

Anak yang ketiga pun sama. Saya ngga nyadar, tau-tau dia nongol aja di perut. Padahal waktu itu, saya lagi sibuk-sibuknya pindahan. Dari pinggiran Tokyo ke pusat Tokyo. Tau sendiri kan gimana yang namanya pindahan? Apalagi pas pindahan sekarang, ngga pake jasa packing. Walhasil, semuaaaa dipacking sendiri. Belum acara bongkar muatan dan beres-beres di rumah yang baru. Fiiiuuuhh.

Tapi ya itu tadi, Masya Allah, si janin yang masih imut itu bisa bertahan kuat di perut saya. Dan...akhirnya si bayi perempuan cantik ini lahir dengan sehat dan normal, tepat ketika anak kedua saya berusia 1 tahun 10 hari !!! Yup, mereka hanya beda setahun sodara-sodara.

Sayapun ngalamin saat-saat heboh, merawat dua bayi sekaligus. Dua tangan penuh sama bayi, terutama pas waktu nyusu. Gendong mau ngga mau harus bergantian. Syukurnya, anak sulung saya sering ngebantuin. Plus si bayi yang gede juga ngga terlalu rewel. Begitu juga si bayi perempuan, yang kalo udah kena kasur, langsung teparrr dengan nyenyak. Persis emaknya.

Daaaaan, tanpa disadari, saya hamil lagi !!!  Pas usia kehamilan 4 bulan, kami sekeluarga back for good ke tanah air tercintah. Ketika anak perempuan saya berusia 1,5 tahun, lahirlah anak keempat kami, laki-laki yang putiiiiiiihh....seperti bule. Padahal ni anak doang yang lahir di Indonesia, tapi kok malah lebih terang dan mengkilap dibanding kakak-kakaknya. Hehehe.

Awal-awal punya balita tiga biji sekaligus, benar-benar deh, bikin hidup seperti alam mimpi. Bawaannya pengen ngimpi mulu, saking susahnya cari waktu untuk bobo. Giliran si bayi bule bobo, kakak-kakaknya yang heboh, yang minta susu, yang minta digarukin, de el el. Giliran kakak-kakaknya bobo, ehhh....si bayi bule yang on. Jadinya, kalo mereka bertiga bisa tidur pules berbarengan, adalah satu anugerah banget buat si emak.

Belum termasuk deg-deg-annya, kalo ninggalin si bayi bule sendirian. Entah berapakali kejadian, saya nemuin si bayi lagi dijadiin kuda-kudaan sama kakaknya yang 1,5 th. Hadeeeuuuhh. Untung kejadiannya di kasur, jadi si bayi bule ga terlalu berasa sakit.

Setelah 3 tahun pertama punya balita berendeng, baru terasa nikmatnya. Karena mereka dah bisa maen sesama mereka. Dan ga terlalu bergantung penuh ke emaknya. Apalagi sekarang, setelah usia mereka masing-masing 6 th, 5 th dan 4 th. Makin keenakan dah emaknya. Secara masing-masing dah terbiasa makan dan mandi sendiri, termasuk urusan buang-buang hajat. Ehh...kecuali si bule deng. Ni anak lebih manja. Agak susah disuruh latihan makan sendiri.

Yaaaaaa....alhamdulillah banget, bisa punya anak empat. Sesuatu yang saya dan suami ngga pernah bayangkan. Cuma lucunya, kalo saya tanya ke si sulung yang sekarang dah masuk usia remaja, "Gimana masih mo punya adek lagi ngga??"
Dia akan dengan semangat berkata,"Tidaaaaakk....cukup 3 ajaaaaa"


Antara Orang Tekun dan Orang Jenius

07 July 2014 | comments

Copas dari tulisan teman di fb. Seorang peneliti senior yang sekolah S1 sampe S3 di Jepun. Namanya bu Is Helianti. Tulisan tentang orang tekun sama orang jenius. Silakan disimak tulisan yang singkat tapi padat inih :)

**************************

Douryoku ha Vs Sainou ha

Dalam mengkategorikan orang yang pandai, orang Jepang membaginya dalam 2 kategori. Yaitu, douryoku ha, mereka yang pandai karena akumulasi kerja keras dan kesungguhan, dan sainou ha, mereka yang pandai karena jenius dan mempunyai bakat lahir yang luar biasa.

Dalam tokoh kartun atau mangga kisah Naruto misalnya. Sahabat Naruto, Sasuke Uchiha mewakili sainou ha. Jenius menjadi ninja sejak lahir, dengan sentuhan latihan sedikit saja, dia jadi bintang di kelas ninja. Sedangkan, tokoh utama, Naruto sendiri mewakili douryoku dia bukan ninja pintar, bahkan sering tidak lulus ujian naik kelas ninja. Tetapi, Naruto pantang menyerah. Dia mencoba seribu kali lebih banyak dari Sasuke, dan akhirnya bisa menyamai level Sasuke.

Dalam masyarakat Jepang, sepertinya mereka menyadari, sainou ha hanyalah minoritas. Oleh karena itulah, dalam kamus bahasa mereka ada kata gambaru. Artinya lengkap, bisa kerja keras, terus berusaha, tak menyerah, terus semangat. Secara umum, mereka menghargai atitude sungguh-sungguh dan kerja keras. Orang biasa pun bisa menjadi luar biasa jika berusaha dengan sungguh-sungguh. Bakat menjadi non sense jika dia tak usaha.



Ada pemain baseball profesional Jepang yang berbakat tetapi selalu digambarkan sebagai douryoku ha. Ichiro Suzuki. Sampai saat ini, Ichiro masih bermain sebagai pemain baseball profesional di Amerika. Di Jepang, Ichiro adalah pemain yang top bgt. Dia relatif tak banyak memukul home run. Tapi pukulannya cerdas mengecoh lawan, dan pantang menyerah mencuri angka ketika berada di base. Kekhasannya dalam bermain baseball tidak hanya diakui di Jepang, tetapi juga di Amerika. Menjadi pemain terbaik dan masuk all stars menjadi langganan baik di Jepang maupun Amerika.

Tetapi Ichiro mencapai itu semua dengan kerja keras. Dia datang latihan beberapa jam lebih cepat dari yang lain, dan menyelesaikan latihan lebih lama dari yang lain. Di Amerika pun, saking fokusnya pada baseball, Bahasa Inggris sangat lambat dikuasainya, sehingga selalu pakai penerjemah ketika diwawancara.

Kita, anak kita, karakter masyarakat kita, harus jadi douryoku ha. Tidak bisa tidak.

*****************************
 gambar dari sini

Pentingkah Memaksakan Anak Usia Dini Dan SD Wajib Bisa Baca Tulis Hitung?

| comments

Another article dan foto yang saya ambil dari fb Komunitas Ayah Edy.
Sayang kalo ngga dibaca, supaya bikin kita termelek-melek, seperti apa pendidikan yang baik dan benar itu :)

*************************************

Seorang guru di Australia pernah berkata kepada saya
“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”
Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?

Saya mengekspresikan keheranan saya, karena yang terjadi di negara kita kan justru sebaliknya.
Inilah jawabanya;

1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.

2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”
”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;” jawab guru kebangsaan Australia itu.

1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain
dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.
Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata ”Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
2. Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata ”Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
3. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
4. Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
5. dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?

Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?
Ah sayang sekali jika orang tua, guru, SEKOLAH2 dan Kementerian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya.

Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.
Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral. ?
Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini ?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.

Yuk kita ajari anak kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik,
Yuk kita mulai dari keluarga kita terlebih dahulu, ... mau ?
Salam syukur penuh berkah...
Ayah Edy Parenting

Ada Apa Dengan Negara Kita?

30 June 2014 | comments

Kalo baca tulisan di bawah, memang asli  ngurut dada. Tapi itulah kenyataan pahiiiitt, yang dengan terpaksa kita hadapin setiap hari.
Tulisan yang saya copas dari FB Ayah Edy Parenting ini menginspirasi kita, semua yang terjadi di negara kita sebenarnya adalah buah dari pendidikan yang diterapkan di rumah dan di sekolah. Setuju?? ^_^

*******************************************************

MENGAPA POTRET NEGERI KITA JADINYA SEPERTI INI ?

Di jalan raya banyak motor dan mobil saling menyalip satu sama lain.
Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih cepat dan bukan menjadi lebih sabar, mereka dididik untuk menjadi yang terdepan dan bukan yang tersopan.

Di jalanan pengendara motor lebih suka menambah kecepatannya saat ada orang yang ingin menyeberang jalan dan bukan malah mengurangi kecepatannya.
Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak kita setiap hari diburu dengan waktu, di bentak untuk bergerak lebih cepat dan gesit dan bukan di latih untuk mengatur waktu dengan sebaik-baiknya dan dibuat lebih sabar dan peduli.

Di hampir setiap instansi pemerintah dan swasta banyak para pekerja yang suka korupsi.
Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah anak-anak di didik untuk berpenghasilan tinggi dan hidup dengan kemewahan mulai dari pakaian hingga perlengkapan dan bukan di ajari untuk hidup lebih sederhana, ikhlas dan bangga akan kesederhanaan.

Di hampir setiap instansi sipil sampai petugas penegak hukum banyak terjadi kolusi, manipulasi proyek dan anggaran uang rakyat
Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan di sekolah mereka dididik untuk menjadi lebih pintar dan bukan menjadi lebih jujur dan bangga pada kejujuran.

Di hampir setiap tempat kita mendapati orang yang mudah sekali marah dan merasa diri paling benar sendiri.
Mengapa..?
Kerena dulu sejak kecil dirumah dan disekolah mereka sering di marahi oleh orang tua dan guru mereka dan bukannya diberi pengertian dan kasih sayang.

Di hampir setiap sudut kota kita temukan orang yang tidak lagi peduli pada lingkungan atau orang lain.
Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan disekolah mereka dididik untuk saling berlomba untuk menjadi juara dan bukan saling tolong-menolong untuk membantu yang lemah.

Di hampir setiap kesempatan termasuk di face book ini juga selalu saja ada orang yang mengkritik tanpa mau melakukan koreksi diri sebelumnya.
Mengapa..?
karena dulu sejak kecil di rumah dan disekolah anak-anak biasa di kritik dan bukan di dengarkan segala keluhan dan masalahnya.

Di hampir setiap kesempatan kita sering melihat ada orang "ngotot" dan merasa paling benar sendiri.
Mengapa..?
karena dulu sejak kecil di rumah dan sekolah mereka sering melihat orang tua atau gurunya "ngotot" dan merasa paling benar sendiri.

Di hampir setiap lampu merah dan rumah ibadah kita banyak menemukan pengemis
Mengapa..?
Karena dulu sejak kecil di rumah dan disekolah mereka selalu diberitahu tentang kelemahan2 dan kekurangan2 mereka dan bukannya di ajari untuk mengenali kelebihan2 dan kekuatan2 mereka.

Jadi sesungguhnya potret dunia dan kehidupan yang terjadi saat ini adalah hasil dari ciptaan kita sendiri di rumah bersama-sama dengan dunia pendidikan di sekolah.
Jika kita ingin mengubah potret ini menjadi lebih baik, maka mulailah mengubah cara mendidik anak-anak kita dirumah dan disekolah tempat khusus yang dirancang bagi anak untuk belajar menjadi manusia yang berakal sehat dan berbudi luhur.

Di olah kembali dari tulisan George Carlinwww.ayahedy.tk
Kunjungi web ayah Edy di www.ayahkita.com

*********************************************************
gambar dari sini

Asyiiikk...Ramadhan Mau Dateng :)

28 June 2014 | comments

Alhamdulillah.... sore ini, si tamu besar nan agung udah mau dateng :)
Nyok disiapin target dan checklist yang mo dikerjain selama si tamu dateng. Mumpung masih idup dan bernapas ^-^..
Ini contoh checklist yang bisa dicontek. Alhamdulillah, dapet contekan dari temen saya yang keceh, baik hati n tidak sombong. Diambil dari fb temen saya: Siti Nurjanah (lov u sis :-*)

Untuk anak-anak seperti gambar ini:


Kalau untuk orang gede seperti ini:


Kalo mo download filenya, klik aja ini:

Ok....selamat bersenang-senang dan bermesraan dengan Allah swt  di bulan Ramadhan  V^-^V


Tukang Sampah di Jepang

16 June 2014 | comments

Tau ngga sih, kalo tukang sampah di Jepang tuh, termasuk profesi yang dihargai?
Mau tau berapa gajinya? Yap, 8000 dolar per bulan. Kalo konversi ke rupiah kita dengan asumsi 10.000 dolar/rupiah *biar gampang ngaliin gitu loh* berarti 8 juta rupiah sebulan !!!

Wow banget kan?? ^-^V
Jadi inget cerita suami, yang temennya pernah kerja part time jadi tukang sampah di Jepang. Katanya kerjanya enak, ngga capek. Malah ada acara tidur siang lagi, supaya tenaganya bisa full setelah setengah harian bekerja. Pergi ke kantor pake jas rapih, nyampe sana ganti sama seragam kerja yang rapi dan komplit dengan sarung tangan dan masker. Plus gajinya lumayan cukup untuk anak kuliahan.

Baidewei, saya tertarik nulis ini, karena baca status fb di bawah ini :D
Silakan di translate sendiri yak.... kalo saya yang translate ntar salah-salah lagi...maklum belum bersertifikat :p

***************************************
In Japan, employees who clean the trash from the streets are not called "Trashmen". They are called "HEALTH ENGINEERS"!!! Because of this respect, Japan has the world's cleanest streets.

And get this: How much are those Health Engineers paid? It's $8,000 dollars a month! Why? Because by law, there are 3 types of jobs that must get Double Payment, called the 3 D's: Dirty, Dangerous, or Distant!

In Islam, each and every one of us must be a Health Engineer, because our Prophet taught us "Removing harm from the road is a Charity!"



*tulisan dan gambar diambil dari fb Islam For Kids

Islamic Parenting #4: Orang Tua Durhaka

14 June 2014 | comments

Eeeiitts...ngga kebalik nih? Biasanya yang sering terdengar itu, anak yang durhaka. Tapi ternyata, orang tua juga bisa durhaka loh...
Simak tulisan Ust. Mohammad Fauzil Adhim ini...
Jadi terharu ngebacanya....dan sangat menampar diri saya sendiri -___-

********************************************************************

Mendurhakai Anak

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

SEORANG laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka kepadanya dan melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan bapaknya. Anak itu bertanya kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?” . “Ya, tentu,” jawab Umar tegas. Anak itu bertanya lagi, “Apakah hak-hak anak itu, wahai Amirul Mukminin?”. “Memilihkan ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan al-Qur’an kepadanya,” jawab Umar menunjukkan. Anak itu berkata mantap, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia dari keturunan yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku Ju’al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari al-Kitab (al-Qur’an). “Umar menoleh kepada laki-laki itu, dan berkata tegas, “Engkau telah datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.”

 

Kata-kata Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu ini mengingatkan kepada kita -para bapak- untuk banyak bercermin. Sebelum kita mengeluhkan anak-anak kita, selayaknya kita bertanya apakah telah memenuhi hak-hak mereka. Jangan-jangan kita marah kepada mereka, padahal kitalah yang sesungguhnya berbuat durhaka kepada anak kita. Jangan-jangan kita mengeluhkan kenakalan mereka, padahal kitalah yang kurang memiliki kelapangan jiwa dalam mendidik dan membesarkan mereka.

Kita sering berbicara kenakalan anak, tapi lupa memeriksa apakah sebagai orangtua kita tidak melakukan kenakalan yang lebih besar. Kita sering bertanya bagaimana menghadapi anak, mendiamkan mereka saat berisik dan membuat mereka menuruti apa pun yang kita inginkan, meskipun kita menyebutnya dengan kata taat. Tetapi sebagai orangtua, kita sering lupa bertanya apakah kita telah memiliki cukup kelayakan untuk ditaati. Kita ingin mereka mengerti keinginan orangtua, tapi tanpa mau berusaha memahami pikiran anak, kehendak anak dan jiwa anak.

Pendidikan yang kita jalankan pada mereka hanyalah untuk memuaskan diri kita, atau sekedar membebaskan kita dari kesumpekan lantaran dari awal sudah merasa repot dengan kehadiran mereka. Bahkan, ada orangtua yang telah merasa demikian repotnya menghadapi anak, ketika anak itu sendiri belum lahir.

Teringatlah saya ketika suatu hari pergi bersama istri dan anak saya. Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak saya yang keempat, masih bayi waktu itu dan sedang lucu-lucunya (sekarang pun dia masih sangat lucu dan menggemaskan) . Sembari menunggu bagasi, seorang ibu yang modis bertanya kepada istri saya, “Anak pertama, Bu?”. “Bukan,” jawab istri saya, “Ada kakaknya, cuma nggak ikut.” “Ou. Memangnya, berapa anaknya, Bu?” tanya ibu itu segera. “Baru empat. Ini anak yang keempat,” jawab saya ikut menimpali. “Empat???” tanya ibu itu dengan mata terbelalak. Tampaknya ia kaget sekaligus heran. Kemudian dia segera mengajukan pertanyaan berikutnya, “Yang paling besar sudah kelas berapa?”. “TK A. Nol kecil,” jawab istri saya.

Ibu itu tampak sangat kaget. Begitu kagetnya, sehingga nyaris berteriak, “Ya, ampun.. Empat! Apa nggak repot itu? Saya punya anak satu saja rasanya sudah repot sekali. Ribut. Nggak mau diatur. Apalagi kalau empat. Nggak terbayang, deh. Bisa-bisa mati berdiri saya.”.

Ungkapan spontan ibu ini adalah cermin kita, cermin yang menggambarkan betapa banyak orang yang menjadi orangtua semata-mata karena dia punya anak.Bukan gambaran tentang kematangan jiwa atau kualitas kasih sayang. Anak hadir dalam kehidupan mereka semata-mata sebagai resiko menikah, sehingga sinar mata anak-anak yang masih jernih tanpa dosa tak mampu membuat orangtuanya terhibur.

Terkadang orangtua sudah lama merindukan anak. Tetapi ia memiliki gambaran sendiri tentang anak seperti apa yang harus lahir melalui rahimnya, sehingga ia kehilangan perasaan yang tulus saat Allah benar-benar mengaruniakan anak.Terlebih ketika yang lahir, tidak sesuai harapan. Orangtua yang sudah terlalu panjang angan-angannya, bisa melakukan penolakan psikis terhadap anak kandungnya sendiri. Atau memperlakukan anak itu agar sesuai dengan harapannya. Inginnya anak perempuan, yang lahir laki-laki. Maka anak itupun diperlakukan seperti perempuan, sehingga ia berkembang sebagai bencong. Atau sebaliknya, anak itu menjadi bulan-bulanan kekesalan orangtua, bahkan ketika anaknya sudah memiliki anak. Ketika anaknya sudah menjadi orangtua.

Kejadian semacam ini tidak hanya sekali terjadi di dunia. Karena yang lahir tidak sesuai harapan, kadang anak akhirnya menjadi tempat menimpakan kesalahan. Apapun yang terjadi, anak inilah yang menjadi kambing hitam. Setiap ada yang salah, anak inilah yang harus ikut menanggung kesalahan. Atau bahkan dia yang harus memikul seluruh kesalahan, meskipun bukan dia penyebabnya. Terkadang bentuknya tidak sampai seburuk itu, tetapi akibatnya tetap saja buruk. Anak merasa tertolak. Ia tidak kerasan di rumah, meskipun rumahnya menawarkan kemegahan dan kesempurnaan fasilitas. Ia merasa seperti tamu asing di rumahnya sendiri.

Saya teringat dengan cerita seorang kawan yang mengurusi anak-anak jalanan. Suatu ketika ia menemukan seorang anak yang babak belur mukanya dihajar sesama anak jalanan karena berebut lahan di sebuah stasiun. Wajahnya sudah nyaris tak berbentuk. Anak ini kemudian ia selamatkan. Ia rawat dengan baik dan penuh kasih-sayang. Setelah kondisi fisiknya pulih dan emosinya pun sudah cukup baik, ia tawarkan kepada anak itu dua pilihan; dipulangkan ke rumah orangtua atau dikirim ke sebuah lembaga pendidikan. Seperti anak-anak lain di muka bumi, selalu ada perasaan rindu pada orangtua. Maka ia mengajukan pilihan dipulangkan ke rumah orangtua.

Staf dari kawan saya ini kemudian berangkat mengantarkan pulang ke sebuah kota di Jawa Tengah. Nyaris tak percaya, orangtua anak itu ternyata memiliki kedudukan yang cukup terhormat. Bapaknya seorang jaksa dan ibunya seorang kepala sekolah sebuah SMP. Rumahnya? Jangan tanya. Mereka sangat kaya. Cuma satu yang mereka tidak punya: perasaan. Melihat anaknya yang sudah dua tahun meninggalkan rumah, tak ada airmata haru yang menyambutnya. Justru perkataan yang sangat tidak bersahabat, “Ngapain kamu pulang?”. Melihat sambutan yang sangat tidak bersahabat ini, staf teman saya segera mengajak anak itu kembali ke Jogja.

Tak ada airmata yang melepas. Tak ada rasa kehilangan dari orangtua saat anak itu kembali meninggalkan rumah.Yang ada hanyalah perasaan yang remuk pada diri anak. Di saat ia ingin dididik oleh orangtua yang menjadi pendidik di SMP, yang ia dapatkan justru sikap sangat kasar. Benar-benar perlakuan yang sangat kasar, menyakitkan dan menghancurkan perasaan. Jangankan anak yang masih usia SD itu, pengantarnya yang sudah dewasa pun merasakannya sebagai penghinaan luar biasa. Penghinaan tanpa perasaan, tanpa nurani dan tanpa kekhawatiran akan beratnya tanggung-jawab di yaumil-akhir. Karena itu, tak ada pilihan yang lebih baik kecuali menyingkirkan si anak dari orangtuanya yang durhaka.

Kisah anak jalanan ini hanyalah satu di antara sekian banyak kedurhakaan orangtua pada anak. Tak sedikit anak jalanan yang lari dari rumah dan lebih memilih kolong jembatan sebagai tempat tinggal, padahal orangtuanya memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan kekayaan yang besar. Seorang anak jalanan yang sudah direhabilitasi, orangtuanya ternyata anggota dewan sebuah daerah.

Apa yang terjadi sesungguhnya? Banyak hal, tetapi semuanya bermuara pada hilangnya kesadaran bahwa anak-anak itu tidak hanya perlu dibesarkan, tetapi harus kita pertanggungjawabkan ke hadapan Allah Ta’ala. Hilangnya kesabaran menghadapi anak, kadang karena kita lupa bahwa di antara keutamaan menikah adalah menjadikannya sebagai sebab untuk memperoleh keturunan (tasabbub). Kita membatasi berapa anak yang harus kita lahirkan demi alasan kesejahteraan dan kemakmuran, sembari tanpa sadar kita melemahkan kesabaran dan kegembiraan kita menghadapi anak-anak.

Dulu, sebagian orangtua kita bekerja sambil memikirkan nasib anak-anak kelak setelah ia mati: masih samakah imannya? Sekarang banyak orangtua mendekap anaknya, tetapi pikirannya diliputi kecemasan jangan-jangan satu peluang karier terlepas akibat kesibukan mengurusi anak.

Dulu orangtua meratakan keningnya untuk mendo’akan anak. Sekarang banyak orangtua meminta anak berdo’a untuk kesuksesan karier orangtuanya.


****************************************
gambar dari sini

Islamic Parenting #3: MENGATASI STRESS SAAT MENGASUH ANAK

| comments

 MENGATASI STRESS SAAT MENGASUH ANAK

by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

1| Kerja yg padat, fisik yg lelah, anak-anak yg sulit diatur, utang yg menumpuk, berujung pada stress. Dampaknya marah-marah ke anak

2| Akibatnya anak jadi tak nyaman berinteraksi. Lebih senang di luar rumah, bermain dengan teman. Pulang bawa perilaku membangkang. Ortu pun makin stress

3| Bagi anak usia dini, saat berinteraksi dengan ortu yg stress akan kehilangan rasa nyaman dan cenderung pasif tak bisa berprestasi

4| Anak pun juga belajar cara ekspresikan perasaan dari ortu yg stress. Jika marah membentak, melempar, bahkan memukul

5| Ikatan emosional juga cenderung berkurang yang berujung hilangnya rasa nyaman dan percaya. Saat remaja 'tertutup' dari orang tua

6| Stress ibarat sampah. Sementara anak seharusnya menerima bunga. Mengasuh dengan stress menjejalkan sampah hingga menumpuk di anak

7| Ingat-ingat kembali tentang harapan saat menikah yakni memiliki anak, hadiah dari Allah. Tegakah kita menyakiti amanah Allah ini?

Sementara begitu banyak pasangan yg belum dikaruniakan anak? Bersyukurlah dengan cara tidak menyakiti anak dalam kondisi apapun

9| Kenali pemicu stress : lapar, ngantuk, lelah ataupun sedih. Jika alami hal tersebut lebih baik menghindar dari anak agar tak jadi korban

10| Coba jujur akan masalah yg dihadapi. Apakah dari luar atau dari perilaku anak? Jangan sampai marah2 ke anak tersebab kita habis dimarahi oleh bos

11| Kerjasama antarpasangan amatlah membantu. Saat kita stress minta pasangan kita untuk memegang anak dulu. Atau cari pihak lain yg amanah

12| Ingatlah, bahwa anak ini tanggung jawab bersama. Jadi bukan hanya satu pihak yang mengasuh. Apalagi kalau memiliki anak yg banyak. Lelahnya

13| Sekali-kali rencanakan waktu sendiri > "me time" guna melakukan relaksasi dan refleksi diri. Jika sudah relax, lebih mudah mengatasi masalah anak

14| Buat program "me time" dalam sepekan beberapa jam. Agar tidak banyak emosi negatif yang menumpuk. Komunikasikan ke pasangan

15| Analisis kembali perilaku anak yg bisa menambah stress dan siapkan antisipasinya. Contoh : anak rebutan mainan » beli mainan baru hehe..pihak ayah malah jadi stress

16| Banyak baca2 buku tentang anak. Kadang pemicu stress karena ketidaktahuan akan tahap kembang anak. Jika perlu bertanya kepada ahli

17| Kalau terlanjur stress ketika bersama anak, tarik nafas dalam2 guna mengurangi ketegangan syaraf

18| Ubah posisi tubuh. Jika sedang di atas pohon segera turun . Jika sedang berdiri segera duduk. Jika duduk segera berbaring atau keluar rumah agar dapat suasana baru

19| Ungkapkan perasaan secara jujur kepada anak "maaf ya nak. Ayah kesal kamu teriak2 trus. Ayah terganggu". Anak belajar ungkap perasaan

20| Segera minta bantuan pihak lain jika makin stress. Tinggalkan anak sejenak. Jangan ikuti emosi saat itu. Rugi

21| Jika kesal berkecamuk terhadap perilaku anak, pandangi fotonya saat bayi. Tegakah kita menyakiti bayi yg sudah tumbuh itu?

22| Segera berwudhu dan sholat 2 rakaat. Jika sedang berhalangan, bagi para ibu, cukup wudhu saja. Doa dan curhat jujur kepada Pemberi Amanah

23| Minta maaf kepada Allah karena hendak marah sama anak yg merupakan pemberianNya. Berharap Allah kasih jalan segera dan lembutkan hati

24| Jika terlanjur marah kepada anak, dan Anda tersadar. Buru-buru minta maaf. Jangan biarkan anak terlalu lama dalam prasangka 'takut' kepada kita

25| Semoga kita bisa kendalikan stress agar anak selalu terjaga perasaannya. Terus berlatihlah kendalikan emosi kita. Silahkan sebar jika ada guna (bendri jaisyurrahman)


*****************
 gambar dari sini

Oh Belitung....

12 June 2014 | comments

Akhir Mei tanggal merah berderet-deret....bikin mata jadi sepet...eh maksudnya jadi seneng. Berarti bisa liburan doooong. Etapi, kalo buat saya mah, ngga terlalu ngefek yak, mo tanggal merah ato ngga. Secara saya ini adalah seorang emak rumah tangga yang kerjanya ngurusin rumah dan tangga...hihihi.

Maksudnya, saya pan sehari-hari udah di rumah gitu loh. Jadi yang berasa banget, saya ngga perlu heboh sureboh di pagi hari, nyiapin anak-anak berangkat sekolah, de el el. Saya mah kalo tanggal merah, pengennya leyeh-leyeh or bobo-bobo aja seharian sambil ngemil ala garfield....*ketahuan emak gembul*

Tapi beda dengan suami, yang bawaannya pengen travelling. Yasud, akhirnya diputusin, kita liburan ke Belitung. Sebulan sebelumnya suami dah booking tiket n penginapan. Harganya normal lah, tapi masih lebih murah dibanding tiket ke Jepang...hehehe #dilempar sendal sama penonton

Saya mah asik browsing sana sini, ngeliat n ngebaca cerita ceriti tentang orang-orang yang sudah ke sana. Hm, kayaknya sih keren banget yak, pantai-pantainya.

Singkat cerita -si emak lagi males nulis panjang-, selama 4 hari di sana, ada 2 hari saya tepar...hiks.
Tapi paling tidak, saya sempat seharian ngabisin waktu di Pantai Tanjung Tinggi, yang terkenal sama pasir pantai ala terigu -saking haluuuuuuss banget- dan batu-batu raksasa yang ajaib ituh.....
Wah, pokoknya bikin betah deh. Saya sampe 3 jam-an berendam n berenang di sana. Walo setelah itu saya masuk angin selama seminggu *ketahuan deh sepuhnya -__-!

Moral of storynya, besok-besok kalo ada penonton yang mau ke belitung, jaga kesehatan yak. Berhubung di sana rekreasinya serba pantai dan serba basah, jadi badan harus kuatt dan bertenaga.
Jangan kayak saya, yang beberapa hari sebelumnya, masih sering tidur telat tapi makan ngga pernah telat :p...jadinya masuk angin berton-ton -_____-

Baidewei, ini foto-foto hasil jepretan kemaren :)

Lihaaaaaaatt....itu pasirnya putih dan haluuuusss....serasa nginjek terigu !!! 
*abaikan sendal-sendal ituh*

Air lautnya biru dan tenaaaanggg plus angeeeeeett.....
asli deh, bawaannya jadi pengen berendam terus :D

Ini loh.....batu-batu raksasa yang menakjubkan....
*jangan perhatiin dasternya yak*

Jalan diantara bebatuan sambil ngetes otot tangan

Masih.....batu-batu ajaib

Masih tetep tersepona *lima tingkat di atas terpesona* sama para batu

Perjalanan ke pulau-pulau.... 
*sementara saya tergeletak tak berdaya di hotel*

Di pulau apa ini ya? *masih edisi ngga ikutan ngiterin pulau*







Jadiiiii, kalo di Belitung itu, wisatanya paling maen di laut, sama naik perahu plus snorkeling di pulau-pulau. Sayang banget deh, kemarin ga sempet ikutan naik perahu. Tapi gapapa juga sih.
Soalnya saya merasa sudah cukup terhibur waktu berenang di Tanjung Tinggi. Sebab, ketika kita masukin kepala di dalam laut, maka akan terlihat ikan-ikan kecil yang lucu dan lumayan banyak. Malah yang kayak nemo juga ada loh. Ngga perlu jauh-jauh dan capek-capek naik perahu dan keliling pulau segala....*ngibur diri*

Eniwei, Alhamdulillah....masih dikasih kesempatan menikmati salah satu wisata pantai terindah yang pernah saya temuin....
Mudah-mudahan dengan liburan seperti ini, bikin hati makin merunduk sama yang Maha Indah....

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Kehidupan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger