Menikmati Sedih

31 January 2015 | comments



Sedih kok dinikmati??
Ya, ini sebenarnya kalimat penghibur. Terutama buat diri saya, yang baru saja mengalami kesedihan mendalam. Beberapa hari setelah kepergian papa, secara emosi, saya masih naik turun. Kadang sedih banget, terutama kalau keingat kenangan saat beliau masih ada. Tatapan mata, gaya bicara, cara berjalan, sampai ekspresi kalau lagi melucu dan bercanda masih melekat erat di hati saya. Kadang saya bisa melewati hari tanpa airmata. Saya bisa tenang, apalagi kalau ingat papa perginya dalam keadaan sangat baik dan insyaa Allah, beliau dalam keadaan lebih senang di alam barzakh sana.

Dan hari ini tepat dua minggu sudah papa meninggalkan kami. Gimanapun ini adalah musibah juga ujian yang terasa berat bagi saya, kehilangan orang tua yang sangat-sangat dicintai. Tapi ini bukan musibah terbesar, karena musibah terbesar adalah musibah yang menimpa keimanan. Sebagaimana yang Rasul saw sabdakan. Beliau berdoa dalam sebuah doa yang panjang, yang ujungnya adalah

“Ya Allah, Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami dalam urusan agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan (harta dan kemewahan) dunia sebagai cita-cita kami yg paling besar, dan tujuan utama dari ilmu yg kami miliki.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh At-Tirmidzi)
Jangan Engkau jadikan musibah kami adalah musibah yang menimpa dien kami - See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2010/06/28/7506/nikmat-dan-musibah-terbesar-menurut-islam/;#sthash.HWh4tHHL.dpuf

Jangan Engkau jadikan musibah kami adalah musibah yang menimpa dien kami - See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2010/06/28/7506/nikmat-dan-musibah-terbesar-menurut-islam/;#sthash.HWh4tHHL.dpuf

". . .  Jangan Engkau jadikan musibah kami adalah musibah yang menimpa dien kami . . ." (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim. Syaikh Al-Albani menghasnakan hadits ini dalam Shahih al-Jaami') - See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2010/06/28/7506/nikmat-dan-musibah-terbesar-menurut-islam/;#sthash.HWh4tHHL.dpuf
". . .  Jangan Engkau jadikan musibah kami adalah musibah yang menimpa dien kami . . ." (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim. Syaikh Al-Albani menghasnakan hadits ini dalam Shahih al-Jaami') - See more at: http://www.voa-islam.com/read/aqidah/2010/06/28/7506/nikmat-dan-musibah-terbesar-menurut-islam/;#sthash.HWh4tHHL.dpuf
Jadi, semestinya ini adalah peristiwa biasa. Setiap orang kemungkinan pernah mengalami ini, kehilangan orang yang dicintai. Entah itu orangtua, saudara kandung, anak sendiri, sahabat dekat atau siapapun yang ia cintai sepenuh hati. Dan, rasa sedih yang muncul, adalah sesuatu yang sangat sangat wajar.

Bahkan Rasul saw pun berduka dengan kematian isterinya tercinta, Khadijah ra. Juga ketika kehilangan sang buah hati, satu-satunya putra beliau saw, yang bernama Ibrahim. Dan sahabat-sahabat pun sangat-sangat bersedih, ketika Rasul saw wafat.

Sedih itu ngga apa-apa dinikmati, ngga apa-apa dirasakan. Itulah manusia. Dengan sisi emosinya yang Allah berikan, dia bisa merasakan gejolak jiwa berupa rasa sedih yang meluap-luap ketika kehilangan sesuatu yang ia cintai.

Selama,.... rasa sedihnya itu tidak membawanya menjadi orang yang marah dan memaki-maki Allah. Tidak mengubahnya menjadi hamba yang tidak tahu terima kasih kepada Penciptanya. Rasa sedih, harus diiringi dengan kesabaran. Ya, memang berat. Beraaat banget. Tapi justru disitulah, rasa percaya dan husnuzhon kita kepada Allah sedang diuji. Bahkan keimanan kita akan terlihat nyata, saat musibah menimpa. Bukan beriman namanya, kalau hanya taat saat senang, dan malah menjadi fasik ketika sedih dan susah.



Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabut:2-3)



Terus terang, selama ini saya memang sudah sering mendengar berita duka cita kematian orang tua kawan-kawan saya. Kurang lebih sejak lima tahun lalu, silih berganti berita duka itu datang. Saya sadar banget, saya pun harus bersiap-siap, kalau suatu saat saya akan mengalami duka yang sama. Walaupun tetap ada rasa khawatir, kira-kira siap ngga kalau masa itu datang. Saya pun mulai bersiap, dengan sering mendengar ceramah dan membaca artikel-artikel Islam seputar musibah. Salah satu ayat yang saya paksakan, untuk saya ingat, adalah:

Allah Ta’ala berfirman,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Al-Hadid:22)

Kalau baca ayat ini, saya jadi tahu, kalau semua peristiwa, besar-kecil, baik yang telah, sedang dan akan terjadi, sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Jadi, daripada berlarut-larut dalam marah, kecewa, sedih berlebihan sampai disibukkan dengan menyesali atau mengutuk-ngutuk keadaan, mending diterima dengan lapang. Atau kalau belum bisa lapang, ya paksakan hati ini dengan kuat, untuk bisa lapang. Itu jauh lebih baik.

Bukankah Allah swt juga sudah berjanji, untuk orang-orang yang bersabar, dan tetap husnuzhon kepada Allah, bahwa ada pahala dan imbalan yang sangat besar dibalik musibah yang menimpa. Sebagaimana firman-Nya dalam hadits qudsi : “Barangsiapa yang Aku ambil orang yang dicintainya dari penduduk dunia kemudian dia (bersabar sambil) mengharapkan pahala (dari-Ku), maka Aku akan menggantinya dengan surga” (HR. Bukhari)

Sungguh, ini bener-bener jadi hiburan buat saya. Selain selalu berusaha, terus menerus meresapi, menghayati dan meyakini sekuat-kuatnya, semuaaaaaaa yang Allah takdirkan dan timpakan terhadap diri ini adalah sebuah hadiah yang bertabur dengan hikmah dan kebaikan, selama kita yakin, kalau Allah itu amat sangat Maha Penyayang dan Pengasih terhadap hambanya. Allah SWT.....benar-benar tidak akan zholim kepada hamba-Nya, walau hanya seberat zarrah...

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ ۖ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (An-Nisa:40)

******

Sebenarnya, beberapa bulan sebelum kejadian meninggalnya papa secara mendadak, saya sedang tenggelam dengan kehidupan dunia. Saya sibuk dengan rutinitas, saya sibuk dengan aktifitas yang lebih cenderung melalaikan saya. Saya terbawa dan keasikan menuruti hawa nafsu. Kalaupun saya sholat, or ngaji, yaa....hanya sekedarnya. Ngga ada penghayatan, cuma sekedar gugurin kewajiban.

Sampai.... berita duka itu datang. Saya tersentak. Inilah saatnya saya menyerap dengan sepenuh hati, sepenuh akal pikiran, sepenuh jiwa raga, ayat-ayat yang sudah sering saya baca sebelumnya.
Saya tiba-tiba disadarkan dengan banyak hal yang sering saya lupakan.

Pertama, saya pasti...pasti akan mati. Entah kapan dan dimana tempatnya. Satu hal yang harus saya ingat, hanya dengan khusnul khotimah,  perjalanan panjang kita ke negeri akhirat, dengan seijin Allah swt akan dimudahkan dan dilancarkan. Mulai dari prosesi sakaratul maut, menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur, sampai kemudahan dalam hisab di padang mahsyar, melewati shirath, dan terus melangkah ke pintu surga. Sebaliknya akan terjadi, ketika hidup berakhir dengan su'ul khotimah. (Naudzubillah  min zalik. Semoga Allah jauhkan kita dari kematian yang buruk dan Allah akhiri hidup kita dengan kematian yang baik dan dalam keadaan beribadah kepada-Nya.)

Saya juga harus sering meingatkan diri, bahwa yang namanya khusnul khotimah, harus diusahakan. Harus ada niat dan tekad yang kuat. Harus ada semangat yang dikawal. Harus sabar menjalani proses yang panjang. Harus ada doa yang selalu dipanjatkan. Dan itu sama sekali tidak mudah ! Perlu perjuangan keras. Perlu perencanaan. Ya, betul, perencanaan yang matang. Bukan seadanya, bukan sekedarnya. Bukan asal-asalan.

Perencanaan perlu bukan hanya untuk masalah finansial, kesehatan, atau pendidikan anak. Tapi, seperti apa akhir hidup yang diinginkan, juga harus dipikirkan. Caranya, jadikan khusnul khotimah sebagai satu target yang harus dicapai. Pacu hasrat dan emosi agar muncul gejolak dalam jiwa yang mengakibatkan kita menjadi sangat-sangat berambisi untuk bertemu Allah dalam kondisi yang baik. Maka kondisi itu, harus dijadikan sebagai satu kebiasaan. Dan setelah menjadi kebiasaan, tentu akan lebih mudah dan ringan untuk mengerjakannya.

Seperti perkataan seorang ulama besar,"Barangsiapa yang terbiasa melakukan sesuatu dalam hidupnya, niscaya ia diwafatkan dalam keadaan tersebut."

Ulama ini dalam hidupnya menyaksikan sekian banyak kejadian sakaratul maut. Ada yang sakarat sambil mulutnya sibuk menyebut angka-angka, yang ternyata ia adalah seorang pedagang yang semasa hidupnya cuma digunakan untuk menghitung keuntungan tapi melupakan zikir. Ada juga yang sakarat sambil menyenandungkan syair-syair dan lagu yang sering ia dengar. Ada juga yang sakarat saat sedang minum minuman keras, karena begitulah kebiasaannya sehari-hari. (Naudzubillah min dzalik. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal itu.)

Ingin mati saat sholat, ya perbanyaklah sholat. Ingin mati ketika mulut sedang berdzikir, ya perbanyaklah dzikir. Ingin mati ketika tilawah, ya perbanyaklah tilawah. Ingin mati saat puasa, ya perbanyaklah puasa sunnah. Saya jadi teringat papa yang begitu semangat dan bercita-cita untuk mati saat beribadah, dan qadaruLlah, beliau wafat dengan kebiasaannya itu.

Kedua, bahwa, yang namanya sabar itu, adalah suatu keharusan. Suatu kewajiban. Kalau mengaku muslim, ya harus sabar. Suka ngga suka. Harus numbuhin sifat sabar. Saya harus terus latihan supaya bisa punya sabar yang terus menerus menetap dalam diri. Setiap saat dan dalam semua situasi dan kondisi. Pastinya berat dan susah. Apalagi buat orang yang ngga sabaran seperti saya. Tapi, kalau ngga dilatih, mana bisa berhasil?

Dan memang muslim itu harus punya minimal tiga sabar. Satu, sabar ketika harus terus menerus taat sama perintah Allah, harus maksain diri untuk terbiasa mengerjakan ibadah dengan rutin. Ya sholat, baca Qur-an, datang ke pengajian, rutin infak-sedekah, dll.  Sabar menjauhi maksiat, atau menjauhi hal yang kita anggap mubah, yang tanpa sadar malah membawa ke maksiat. Seperti nonton tivi, niatnya mau menghibur diri, eh ujung-ujungnya malah bikin jadi males sholat, males baca Qur'an. Yang terakhir, sabar waktu ditimpa musibah. Nah, ini juga berat, kalau ngga disiapin sejak awal. Siapinnya dengan banyak baca ayat-ayat tentang musibah dan sabar, seperti ayat ini:



Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al-Baqoroh: 155)

Ini salah satu ayat yang sering disitir sama papa saya. Kalau lagi nasehatin anaknya, yang masih sering ngga sabaran. Dan, ayat ini memang manjur sekali. Baru bisa diresapi dengan nikmat, pas ditimpa musibah seperti kemarin. Maasya Allah, benar-benar, harus usaha yang kencang banget, untuk bisa meresapinnya. Itu yang saya rasakan, ketika rasa sedih itu muncul, rasa kangen yang amat sangat, pengen cepet-cepet ketemu papa dan rasa-rasa lainnya, yang selalu datang silih berganti.

Ketiga, berhati-hati menjaga mulut. Kalau sekarang, di jaman hightech gini, termasuk jaga jari. Jangan sembarangan komen, sembarangan nyeletuk, sembarangan bicara, sembarangan copas dan broadcast. Dari kisah-kisah orang yang khusnul khotimah yang pernah saya baca, mereka adalah orang-orang yang mampu menghindari konflik, yang bisa menjaga hubungan baik dengan orang lain, yang dapat menempatkan diri, kapan bicara dengan halus, kapan bicara dengan tegas. Yang tahu diri, kapan mulutnya harus ngomong, kapan harus diam. Intinya, mereka adalah orang-orang yang meninggalkan kenangan baik di depan orang banyak.

Dan, banyak sekali hadits yang mengungkapkan pentingnya menjaga mulut ini, diantaranya yang ini:

Dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:“Muslim yang paling utama adalah orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42) 

Maasya Allah, begitu sempurna ajaran-Nya. Ngga cuma disuruh jaga hubungan sama Allah, tapi kitapun disuruh untuk jaga hubungan dengan manusia. Semoga Allah mudahkan saya untuk bisa istiqomah menjaga mulut dan jari ini.

*****

Akhir cerita, saya sendiri masih terus gambatte, mada-mada gambatteiru. Masih teruus berusaha keras. Tetap usaha supaya sabar, supaya selalu ingat, bahwa ini adalah takdir Allah. Bahwa ini adalah pelajaran terbaik dari Allah. Bahwa ini adalah hadiah dari Allah agar saya tersadar, bahwa satu saat saya pun akan kembali ke Allah. Bahwa saya harus banyak-banyak usaha, perbaiki diri, dan banyakin amal saleh sebelum kembali ke Yang Maha Penyayang. Bahwa saya juga harus fokus kepada berjuta-juta nikmat yang masih Allah hujani ke saya, dibanding satu musibah kecil yang Allah timpakan.

Bahwa....saya harus yakin sama janji Allah....bahwa Allah akan mudahkan jalan orang-orang yang berusaha menuju kepada-Nya...bahwa, satu saat nanti, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang yang beriman di dalam surga-Nya...(semoga Allah masukkan papa, saya dan kita semua sebagai bagian dari orang-orang beriman itu...aaaamiiiin ya Robbal'aaalamiiin.)

*******



وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ
Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ ۖ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ
(yaitu) surga ´Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;
سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
(sambil mengucapkan): "Salamun ´alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (Ar-Rad:22-24)





 

Kematian Yang Indah

21 January 2015 | comments (6)

Sabtu, 17 Januari 2015, menjadi hari bersejarah bagi keluarga kami. Deringan telpon di pagi hari itu merubah segalanya. Kabar bahwa papa telah tiada, bagaikan sambaran petir, membuat saya dan keluarga sangat terkejut, sekaligus sedih yang teramat dalam. Kepergiannya amat sangat mendadak. Walaupun papa menderita penyakit jantung, tapi setelah operasi pemasangan ring, beliau tidak pernah mengalami kesakitan yang mengharuskannya rawat inap di rumah sakit.

Karena itu, saya hanya sebulan sekali menjenguk papa dan mama di Ciledug.  Hal yang sangat saya sesali, kenapa saya tidak lebih sering mengunjunginya. Saya dan kakak tinggal di Depok. Sementara adik saya, tinggal di rumah lain yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah papa dan mama. Dua minggu sebelum kematiannya, saya sekeluarga menginap di sana dan beliau masih dalam kondisi baik. Walaupun terkadang terlihat sangat lelah. Beliaupun masih sempat membelikan susu kotak kecil untuk cucu-cucunya seperti sebelumnya. Dan masih sempat bercerita dan bercanda bersama kami.

Berita duka ini sangat menghancurkan hati, tapi sekaligus membuat saya bahagia. Ternyata papa meninggal ketika tengah melaksanakan sholat subuh berjamaah di mesjid. Beliau meregang nyawa, saat sujud kedua di rakaat pertama. Beliau terjatuh, dan seketika itu adik ipar dan dua orang jamaah  membatalkan sholat subuh, membaringkannya, dan berusaha mentalqinkan kalimat syahadat. Dan alhamdulillah, papa dengan lancar mengucapkan kalimat tauhid tersebut.

Ketika saya melihat jasadnya, yang masih berbalut baju koko dan sarung kesayangannya, sungguh, saya melihatnya laksana beliau sedang tertidur sangat nyenyak dan bermimpi indah. Saya usap rambutnya, saya ciumi pipinya berulang kali. Saya belai tangan tuanya yang tengah bersidekap.

Ya Allah, inilah kepala hamba-Mu yang dipenuhi rambut memutih, yang memikirkan keberlangsungan hidup anak isterinya. Inilah dahi yang digunakan untuk merendahkan diri di hadapan-Mu, dahi yang menghitam karena sering digunakan bersujud. Inilah mata yang selalu dibasahi oleh airmata penyesalan atas dosa-dosa. Inilah pipi yang dipenuhi kerutan, yang sering disentuhkannya ke pipi anak cucunya, memperlihatkan sifat kasihnya kepada keluarga. Inilah tangan tua, yang bekerja siang dan malam, mencari rejeki halal, yang dengan itu kami tumbuh besar seperti sekarang. Inilah sepasang kaki tua, yang walau dengan kondisi susah payah senantiasa dilangkahkan ke rumah-Mu, dipaksakan melangkah untuk menjalin silaturahim dengan kerabat, teman dan besan....

Ya Allah, kalau tidak ingat bahwa jasad muslim harus sesegera mungkin dikuburkan, rasanya ingin sekali berlama-lama membelainya, memeluknya dan menciuminya. Mendekap erat sosok lelaki tua yang sangat sangat kami cintai....

Ah, papa tersayang.....betapa dalam pelajaran yang engkau tinggalkan kepada kami dengan kepergianmu. Engkau selalu memuliakan dan bersegera memenuhi panggilan Tuhanmu. Sejam sebelum waktu sholat tiba, engkau sudah menyiapkan diri. Bebersih dan berwudhu. Lalu mengenakan koleksi baju koko yang engkau miliki. Sarung dan kopiah yang sewarna dengan baju koko, membuat penampilanmu makin gagah. Tak lupa engkau semprotkan parfum di pakaianmu.

Engkau selalu berkata, menghadap Allah ketika sholat, harus mengenakan pakaian terbaik. Jangan cuma depan manusia saja kita tampil semaksimal mungkin. Justru di hadapan Allah, kita harus menjaga penampilan kita. Tak heran, koleksi yang engkau miliki sebagian besar adalah baju koko, kopiah dan sarung. Juga beraneka parfum yang selalu kau pakai setiap beribadah kepada Pencipta-Mu. Engkau bersungguh-sungguh bersiap mengunjungi rumah-Nya.

Ah, Papa, betapa engkau begitu memuliakan masa-masa berhadapan dengan-Nya. Kau senantiasa bersegera memenuhi panggilan-Nya, lima kali setiap hari, di rumah-Nya. Mungkin karena itulah, Allah pun menyuruh malaikat maut untuk menungguimu di tempat yang dirahmati dan diberkahi-Nya, di tempat yang begitu dimuliakan penghuni langit dan bumi. Dan di saat sujud, saat dimana seorang hamba begitu dekat dengan Pencipta-Nya, di saat itulah, ruhmu ditarik keluar dari ragamu, untuk memenuhi panggilan Allah Yang Maha Penyayang, Tuhan Semesta Alam yang sangat kau cintai.

Semoga kami, anak-anakmu, bisa meneruskan spirit ibadahmu, meniru konsistenmu dalam kebenaran, mencontoh semua amal-amal baikmu yang membuat engkau menjadi golongan orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan beribadah.

***********

Banyak orang bertanya, apa yang dilakukan papa semasa hidup, yang membuat beliau bisa wafat di mesjid, dalam keadaan melaksanakan sholat subuh berjama'ah.
Saya mencoba mengingat semua kebaikan yang papa lakukan, sampai Allah memilihnya meninggal dalam keadaan mulia tersebut.

1. Papa selalu berusaha untuk menempati shaff pertama ketika sholat di mesjid.
Ketika memasuki usia 78 th di bulan Agustus lalu, kondisi papa mulai berubah. Kedua kakinya tidak bisa lagi melangkah lebar dan gagah seperti dulu. Beliau hanya bisa berjalan dengan langkah-langkah kecil dan perlahan. Rasa sakit dan nyeri yang menyerang di kaki, beberapa bulan terakhir, membuat beliau hanya mampu melangkah seperti itu.

Kondisi ini tidak menyurutkan papa untuk sholat di mesjid yang berdiri megah di komplek perumahan. Bahkan ketika hujan turun, beliau tetap memaksakan diri untuk ke sana. Berjalan dengan langkah tertatih-tatih sepanjang 100 meter, sambil memegang payung. Itupun masih harus menaiki tangga mesjid yang agak tinggi, karena areal sholat terletak di lantai 2. Sementara di lantai 1 adalah aula mesjid. Sungguh, sepertinya itu medan yang sulit untuk lansia seperti beliau. Tapi kondisi ini, tidak menghalangi beliau untuk selalu setia mendatangi rumah Allah, tempat beliau berjumpa dengan malaikat maut.

Beliau berusaha untuk tiba di mesjid, setengah jam sebelum azan berkumandang. Beliau merasa nikmat untuk berlama-lama di mesjid, menghabiskan waktu dengan wirid dan zikir.

2. Papa rutin melakukan sholat tahajjud. Beliau selalu terbangun jam 3 malam, melaksanakan qiyamul lail dan berdzikir. Setelah itu, beliau tilawah sambil menunggu datangnya waktu sholat subuh. Kebiasaan ini beliau lakukan sejak memasuki usia pensiun, sekitar 23 tahun yang lalu.

Kalau dilihat sedari muda, sebenarnya papa bukanlah orang yang perhatian terhadap urusan agama. Lingkungan masa kecil yang dilaluinya sampai dewasa, bukanlah lingkungan yang agamis. Papa pun dulu sama sekali tidak bisa membaca Qur'an. Tapi sejak memasuki masa pensiun, papa berubah. Papa semakin religius. Papa berusaha mengejar ketertinggalannya dalam urusan agama. Papa berusaha untuk belajar membaca Qur'an, menghapal surat-surat pendek dan ayat-ayat tertentu, dan rajin menuliskan resume penting dari buku-buku agama yang dibaca dan dikoleksinya. Ilmu yang didapatnya pun bukan cuma tersimpan menjadi catatan, tapi berusaha ia amalkan dan sampaikan ke keluarga dan orang-orang terdekatnya.

3. Papa orang yang jujur dan tegas. Papa dulu bekerja sebagai pegawai negeri di instansi badan pengawas keuangan dan pembangunan (BPKP). Tugasnya sehari-hari adalah mengaudit pertanggungjawaban keuangan di lembaga dan instansi pemerintah. Mengecek dengan detil pelaksanaan laporan keuangan proyek ke perusahaan swasta, yang menerima tender dari pemerintah. Entah sudah keberapa kali papa mengalami upaya penyuapan. Dari map tebal yang berisi segepok uang, hiasan berbentuk ornamen rumah adat yang ternyata didalamnya terselip sejumlah uang, sampai service berupa wanita cantik yang bisa dijadikan selimut hidup,  dan fasilitas lain yang sangat menggiurkan, yang terus ditawarkan oleh mereka tanpa malu di hadapan papa.

Tapi papa sama sekali menolak semua itu. Ketika papa mengaudit proyek pembuatan jalan raya, maka papa bukan cuma sekedar memeriksa laporan yang tertera di atas kertas. Sebelum tanda tangan, papa akan turun ke lapangan, memeriksa apakah ketebalan jalan sesuai yang tertulis, apakah pemakaian bahan baku seperti semen, dll, dikerjakan sesuai laporan, dan lain sebagainya. Atau ketika memeriksa proyek pengadaan barang, maka papa akan mengecek inventaris seluruh barang dengan teliti, dari kursi, meja, dll, apakah jumlahnya sama yang seperti tertulis. Bahkan papa tidak segan-segan mengecek sampai ke gudang walau lokasinya jauh.

Kalau ditemukan ketidakcocokan antara laporan dan fakta di lapangan, maka papa akan menulis dengan jujur, detil dan apa adanya. Dari sini, papa menjadi terkenal sebagai orang yang tidak bisa disogok, tegas, berani. Karenanya banyak yang membenci papa. Bahkan sesama rekan kerja banyak yang tidak suka bekerja dalam tim yang papa pimpin. Karena jika sebuah tim diketuai oleh papa, maka berarti tidak ada service dan fasilitas yang boleh mereka terima.

Karena kejujuran papa ini pula, papa sama sekali tidak memiliki aset apapun sepanjang hidupnya. Kecuali satu-satunya rumah dinas yang bisa dimiliki dengan kredit murah dari pemerintah, yang beliau tempati sampai ajal menjemput. Menurut papa, papa tidak mau bermegah-megah dengan memanfaatkan fasilitas dari pekerjaan dan jabatan yang dimiliki. Kata papa, tidak ada satupun harta benda yang dimiliki yang akan dibawa ke kubur. Lagipula semua nanti akan ditanya Allah, semua akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.

4. Papa orang yang sangat sabar. Beliau tidak pernah mengeluh. Sesulit dan sesakit apapun kondisi yang dialami, beliau hanya terdiam. Ini menjadi tanda, kalau beliau sudah mengatakan ada sesuatu yang sakit, berarti itu adalah suatu level kesakitan yang sudah sangat tinggi. Setahun belakangan ini, beliau mengalami sakit di salah satu kaki, rasa nyeri yang begitu kuat yang menjalar dari pangkal paha sampai ke ujung kaki, tapi semua itu beliau tahan.

Selain ke mesjid, beliau tetap seperti biasa berbelanja di pasar menggunakan angkot dan ojek, mengangkat barang-barang belanjaan yang berat. Pergi ke toko buku, membaca buku-buku agama yang disukainya. Beliau pun tetap rutin bersilaturahim mengunjungi rumah kerabatnya, di tengah rasa sakit dan nyeri yang dideritanya.

Ada cerita menarik, ketika papa dan mama mengunjungi saya di Tokyo, penghujung tahun 2008. Saat itu musim dingin. Dan saya saat itu sedang hamil anak ketiga. Mama dan papa membantu pekerjaan rumah sebisa mereka. Mama bagian memasak dan menyuapi anak kedua saya yang masih bayi. Papa kebagian jemur pakaian. Satu waktu, ketika papa sedang di balkon untuk menjemur pakaian, tiba-tiba mama mengunci pintu pembatas balkon dan kamar. Mama tidak tahu, kalau papa masih di balkon, dan mengira papa sudah di dalam rumah. Selang 30-40 menit kemudian, saya dan mama bingung, kok papa tidak ada dalam rumah. Mama sontak tersadar, dan merasa, jangan-jangan papa masih di balkon tempat jemur pakaian. Wah, ternyata benar. Beliau 'terkurung' disana, dengan kondisi kedinginan, hanya memakai sweater saja. Mukanya pun sudah kelihatan pucat.

Ketika masuk, papa sama sekali tidak marah. Pas kami tanya, kok papa ngga gedor-gedor pintu pembatas. Papa bilang, papa sudah gedor, tapi ngga ada yang dengar, ya sudah, papa diam saja trus berdoa sama Allah, supaya pintu itu cepat dibuka.
Maasya Allah. Papa sama sekali tidak marah, tidak menyalahkan mama. Papa cuma berkata, semua sudah terjadi, tidak perlu marah-marah. Dan papa pun tersenyum seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Peristiwa yang menguji kesabaran lainnya, adalah ketika papa seorang diri, tertinggal pesawat di Kuala Lumpur. Dalam perjalanan pulang dari Tokyo ke Jakarta, pesawat yang ditumpangi beliau, transit selama beberapa jam di Kuala Lumpur. Waktu itu sudah menunjukkan tengah malam. Para penumpang sebagian besar sudah menuju ke gate untuk penerbangan ke Jakarta. Entah kenapa, papa sepertinya salah menangkap penjelasan tentang gate yang dituju. Dan papapun nyasar. Sementara pesawat sudah telanjur terbang. Papa yang sudah kecapaian dan mengantuk, berusaha mencari tempat untuk istirahat. Papa tidak bisa menginap di hotel, karena uang yang ada sangat sedikit. Terpaksa beliau mencari musholla. Tetapi suhu AC dalam musholla sangat-sangat dingin. Akhirnya papapun tertidur dengan kondisi kedinginan dan kelaparan di kursi-kursi ruang tunggu yang juga suhunya dingin.

Adik saya yang sudah menjemput di bandara Soetta kebingungan. Begitupun saya yang mendapat kabar via telpon dari adik, kalau papa belum sampai-sampai. Sementara HP papa saat itu tidak aktif. Sepertinya papa lupa menyalakan kembali. Kami kebingungan dan cuma bisa berdoa semoga Allah memudahkan urusan ini. Alhamdulillah, ada petugas bandara di sana yang menemukan papa, dan menolong sampai papa bisa terbang dengan pesawat berikutnya, tanpa mengeluarkan biaya sedikitpun.

Kejadian ini tidak membuat papa marah terhadap kami. Papa tidak menyalahkan siapapun. Papa merasa semua yang terjadi adalah bagian dari takdir Allah yang pasti ada hikmahnya.

Dengan kesabaran papa yang seperti tanpa batas, terkadang saya merasa pertolongan Allah begitu dekat terhadap papa, persis seperti yang tertulis dalam surat Al-Baqoroh, Innallaaha ma'asshoobiriin. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.

5. Papa pandai menjaga lidah. Begitu kesaksian jamaah, tetangga, kerabat dekat dan jauh yang sering bergaul dengannya. Papa begitu pandai menjaga perasaan orang. Papa tidak suka melukai hati orang dengan mulutnya. Papa termasuk orang yang suka mengobrol dan berdiskusi. Papa terlihat semangat, apalagi kalau yang menjadi topik adalah masalah agama. Tapi ketika muncul perdebatan, atau konflik, papa memilih sikap netral atau diam.

Terhadap kami pun seperti itu. Bisa dihitung dengan jari, berapa kali papa marah kepada kami. Saya berusaha mengingat keras kenangan bersama beliau, ternyata sampai beliau wafat, papa cuma dua kali marah besar ke saya. Itupun karena kenakalan yang saya buat di masa remaja, yang belakangan setelah saya menjadi orangtua, saya merasa adalah wajar sekali papa marah seperti itu.

Papa pun tidak pernah memaksakan kehendaknya. Dari urusan pilihan jurusan kuliah, pekerjaan, sampai jodoh, semua papa percayakan ke anak-anaknya. Ketika papa mulai banyak belajar agama, terkadang muncul perbedaan pendapat dengan anak-anaknya terhadap masalah tertentu yang terkait dengan urusan fiqh dan muamalah. Tapi papa tetap menghormati pilihan dan menghargai keputusan kami.

****

Sebenarnya, masih banyak sekali kebaikan yang papa lakukan yang menjadi teladan bagi kami anak-anaknya. Namun yang sangat menonjol dan melekat erat di hati saya, adalah hal-hal di atas. Dibalik semua kelebihannya, papa juga tetap memiliki banyak kekurangan.  Hanya saja di akhir usianya, kekurangan papa semakin tertutupi oleh kebaikan-kebaikannya.

Saya berharap, semoga tulisan ini bisa menginspirasi semua orang, terutama kami anak-anaknya. Untuk bisa konsisten dalam beribadah, dan istiqomah dalam mengerjakan kebaikan dan menjauhi keburukan, sampai tiba saatnya berjumpa dengan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Semoga tulisan ini dijadikan Allah SWT sebagai amal jariyah untuk beliau.

Semoga Allah mengampuni segala dosanya, menerima semua amal baiknya, memberkahi dan merahmatinya, mencucurinya dengan limpahan kasih sayang, meluaskan alam kuburnya, dan menjadikan tempatnya saat ini sebagai salah satu taman dari taman-taman surga. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kami, dan mengumpulkan kami semua dalam surga-Nya.

Aaaamiiiiin ya robbal 'aalamiin.

2015

15 January 2015 | comments

Jiaaahh...udah lewat 15 hari dari tahun baru, hari gini masih mo nulis tentang tahun baru-an??
Hehe, saya pribadi mah, ngga terlalu peduli sama urusan pergantian tahun. Ngga ada makna khusus di dalemnya, selain di Islam sendiri juga ngga ada perintah untuk peduli urusan pergantian tahun.

Maksudnye apa siiihh??
Hmm, yah, maksud sayah gini. Biasanya tuh ye, kalo tahun baru, suka ada kebiasaan bikin resolusi. Nah, saya juga idem. Sejak bertahun-tahun silam, saya doyan banget bikin resolusi. Ya, niatnya sih, supaya semangat dan pengen jadi makhluk yang lebih baik lagi. Walopuuunn, sebenarnya untuk berubah, untuk masang target, untuk evaluasi, ngga perlu nunggu awal tahun baru. Bagi saya, nunggu tahun baru buat mempermudah aja, biar gampang ngitungnya, walo sekali lagi....jangan dijadiin patokan.

Soalnya....pengalaman mengajarkan, entah di tahun berapa kita bikin resolusi, trus di tahun selanjutnya resolusi tersebut baru dijalanin...itupun cuma seperempatnya yang berhasil...dan tau-tau di tahun berikutnya baru deh tu resolusi bisa dijalanin ....sepersekiannya...hehehehe. Ya, begitulah efek bikin resolusi secara tahunan -___-!

Sebenarnya, kalo ngeliat ke sekitar, banyak juga orang-orang yang berhasil ngelakuin resolusinya. Biasanya siih, ini tipikal orang-orang yang idealis dan perfectionist dan rata-rata mereka sukses. Tapi, buat orang-orang, yang mood-mood-an, yang rajin kalo lagi pengen aja, yang lebih sering males n kelupaan sama resolusinya,...ya....akhirnya, seperti yang terpampang di gambar sebelah ini. Hehehe.....

Akhirnyaaa....ya, saya pun bosan dengan bikin resolusi. Mending langsung praktek. Kalo mo ngotot punya resolusi, ya ngga usah banyak-banyak. Dua aja cukup. *kok kayak iklan KB ya*

Karena, yang bikin males dan membuat orang jadi (sengaja) lupa dengan resolusinya, ya itu tadi, kebanyakan masang target. Jadi, salah satu hal mudah untuk bisa nyelesein resolusi, make it simple !!!

Trus, apa resolusi saya? Hm, sebenarnya banyaaaakk, tapi saya batasin cukup dua dulu. Seandainya dalam satu-dua bulan pertama, saya bisa jalanin dua target ini dengan baik, baru saya tambah lagi targetnya. Targetnya sederhana: sholat awal waktu, sama nyisihin waktu minimal 15 menit bersama anak. Dua itu dulu deh. 

Karenaaa, biasanya, kalo target itu sudah menempel jadi rutinitas dan kebiasaan, maka jadi lebih mudah untuk nambah target lainnya. Dan setiap target yang dibikin, saya selalu usahain, ada target vertikal dan horizontal. HablumminaLlah dan hablumminnaas. Secara ketika tahun baru menjelang, berarti umur juga makin tua, makin berkurang, dan kita pun makin bau tanah....huhu.

Semoga saya bisa konsisten dengan resolusi sederhana ini....Aaaaaamiiiiiiin.

______________________

*gambar dari sini


Skill Yang Sering Dilupakan

28 November 2014 | comments

Nemu ini di status fb Pendidikan Karakter. Bagus banget ini dijadikan referensi. Apalagi di negara kita, yang lebih mengutamakan keterampilan berpikir. Padahal, keterampilan atau skill yang ngga kalah pentingnya, adalah skill yang terkait dengan hubungan sosial.

Gimana caranya, kalau pinter, tapi ngga bisa gaul? Ngga bisa bekerja sama. Ngga bisa menganalisa masalah. Ngga bisa fokus ke solusi. Ngga bisa disiplin. Ngga punya tanggung jawab?



Nah, mumpung masih melek, coba dipelototin skill penting ini. Walau ini tujuannya untuk mendidik anak, tapi ngga ada salahnya, sebagai orang gede, kita juga evaluasi. Apa kita sendiri sudah punya skill seperti di bawah ini.

Ngomong-ngomong, kalau di Jepang sendiri, skill ini sudah melekat menjadi tradisi mereka. Ngga heran deh, diantara negara-negara maju sekalipun, mereka berada di urutan terdepan dalam urusan ini. Masih inget ngga sih, ketika kejadian tsunami 2011 yang lalu, mereka masih bisa untuk tetap tertib, disiplin dan bertanggungjawab, bahkan di saat-saat genting sekalipun? Tidak ada penjarahan, tidak ada rusuh, tidak ada rebut-rebut dan sikut-sikutan saat menerima bantuan. Hebat banget ya?

Iya deh, silakeun disimak skill sosial apa aja yang perlu dimiliki oleh kita dan anak-anak kita.

**********************

10 Keterampilan Sosial yang Wajib dimiliki Anak

Daftar ini dibuat berdasarkan survei terhadap 8000 guru SD pada tahun 2006 dan penelitian selama lebih dari 20 tahun di berbagai sekolah dasar di Amerika Serikat.
Ke-10 ketrampilan sosial tersebut adalah:

1. Kemampuan mendengarkan orang lain
2. Mengikuti petunjuk
3. Menaati peraturan
4. Mengacuhkan gangguan
5. Meminta bantuan
6. Berbicara secara bergantian
7. Berkumpul bersama orang lain (teman sebaya, saudara, dll.)
8. Bersikap tenang ketika berada di tengah banyak orang (misalnya ketika tengah berada di mall, diundang ke sebuah acara keluarga, dll.)
9. Bertanggung jawab atas segala tindakan
10. Melakukan hal baik untuk orang lain.
apakah anda sudahmengajarkan kepada anak anda? hal ini juga sangat relevan di negara kita bukan?
daftar ini juga bisa dijadikan acuan bagi guru-guru mata pelajaran untuk membiasakan hal ini pada anak didiknya, juga dirumah orangtua memperkuatnya lagi. sehingga kita memiliki anak yang santun dan berkarakter.


Cintai Anakmu untuk Selamanya

15 November 2014 | comments

Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi... Mereka bertebaran di muka bumi untuk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan. Sebagian di antara mereka mungkin ada yang memilih untuk berkarya dan tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita. Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan untuk meraih dunia karena ingin meraih kemuliaan akhirat dengan menemani dan melayani kita. Tetapi pada saatnya, kita pun akan pergi meninggalkan mereka. Entah kapan. Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini....

Sebagian di antara kematian adalah perpisahan yang sesungguhnya; berpisah dan tak pernah lagi berkumpul dalam kemesraan penuh cinta. Orangtua dan anak hanya berjumpa di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala, saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. Anak-anak yang terjungkal ke dalam neraka itu tak mau menerima dirinya tercampakkan sehingga menuntut tanggung-jawab orangtua yang telah mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.

Adakah itu termasuk kita? Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak dan orangtua saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala.

Inilah hari ketika kita tak dapat membela pengacara, dan para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri. Lalu apakah yang sudah kita persiapkan untuk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat? Dan dunia ini adalah ladangnya...

Sebagian di antara kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati. Mereka berpisah untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Jalla wa 'Ala. Tingkatan amal mereka boleh jadi tak sebanding. Tapi Allah Ta'ala saling susulkan di antara mereka kepada yang amalnya lebih tinggi.

Allah Ta'ala berfirman:


"والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين"

"Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (QS. Ath-Thuur, 52: 21).

Diam-diam bertanya, adakah kita termasuk yang demikian ini? Saling disusulkan kepada yang amalnya lebih tinggi. Termasuk kitakah?

Adakah kita benar-benar mencintai anak kita? Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit. Kita tangisi mereka saat terluka. Tapi adakah kita juga khawatiri nasib mereka di akhirat? Kita bersibuk menyiapkan masa depan mereka. Bila perlu sampai letih badan kita. Tapi adakah kita berlaku sama untuk "masa depan" mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?

Tengoklah sejenak anakmu. Tataplah wajahnya. Adakah engkau relakan wajahnya tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya? Ingatlah sejenak ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya. Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta'ala karena lalai menanamkan tauhid dalam dirinya?




Ada hari yang pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali. Adakah ketika itu kita saling disusulkan ke dalam surga atau saling bertikai?

Maka, cintai anakmu untuk selamanya! Bukan hanya untuk hidupnya di dunia. Cintai mereka sepenuh hati untuk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta'ala. Cintai mereka dengan pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga. Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya untuk kariernya di dunia yang sesaat. Lebih dari itu untuk kejayaannya di masa yang jauh lebih panjang. Masa yang tak bertepi.

********

Taken from FB Ust. Mohammad Fauzil Adhim

gambar dari sini 

Nyesel???

14 November 2014 | comments


Ini gegara efek ngga ada kerjaan, tiba-tiba nyasar browsing, nyari drama Jepun yang keren. Dan tetiba lagi, udah keasikan di yutub nonton drama yang dramatis. Daaann tetiba lagi, jadi kangen sama Jepun n seisinya. Fiiiuuuh. Jadi kangen sama sushi n toko 100yen....wkwkwk.

Btw, dari sudut hati ada yang ngomong,"Kamu nyesel ya, back for good ke negeri sendiri?"
Yang satu sudut lagi njawab,"Ngga nyesel !!!". Soalnya percuma juga sih, kalo mo jawab nyesel, emangnya bisa merubah kenyataan?? hehehe...

Tapi ngga kok. Saya ngga nyesel. Dimana-mana yang namanya hidup pasti  penuh pilihan. Ketika kami bisa memilih, antara kemungkinan tinggal selama-lamanya di Jepang, atau pindah kembali ke tanah air tercinta. Dengan minta kekuatan sama Yang di Atas, kami memilih untuk balik ke Indonesia. Trus, apa yang menjadi pertimbangan? Salah satu pertimbangan ya... masa depan anak-anak.


Saya memang yang paling semangat mendorong suami untuk kembali ke Indonesia. Dan itu adalah salah satu keputusan terbesar dalam keluarga kami. Syukurnya dari pihak ortu dan keluarga besar, semua mendukung, apapun keputusan yang diambil.

Yah, masing-masing keluarga pasti punya pertimbangan sendiri kan. Termasuk kami. Eh, terutama saya. Yang saat itu, entah kenapa, makin terasa berat mendidik dan mengasuh anak, plus mengerjakan segala sesuatunya sendiri, di negeri orang.

Saat itu, anak sulung saya usianya masih 9 th. Adiknya umur 2 th dan 1 th. Yang di kandungan sudah 4 bulan. Saya tidak berani membayangkan, apa yang terjadi di usia remaja mereka seandainya kami masih menetap di negeri minoritas itu. Saya merasa pesimis dengan kemampuan saya sendiri, mengawal anak-anak untuk tetap percaya diri dengan keIslamannya. Sedangkan saya sendiri masih harus jatuh bangun, menstabilkan kondisi spritual pribadi.

Sungguh, saya sangat tidak percaya diri saat itu. Walaupun ada banyak teman seiman di sekitar saya, dengan kondisi yang tidak jauh berbeda, tapi, tetap saya merasa, saya tidak kuat. Dan saya tidak berani mengambil resiko.  Makanya sampe sekarang, saya salut banget, sama teman-teman yang masih berjuang di sana. Di Jepang, dan juga negeri-negeri minoritas lainnya. Mereka berjuang luar dalem.

***

Kalo dilihat dari kacamata kemajuan teknologi dan peradaban, Jepang memang mengagumkan. Tapi sebenarnya, kecanggihan mereka tetap menyimpan banyak ketimpangan, yang tidak akan terlihat kecuali mereka yang sudah lama berdomisili di sana.

Kebudayaan dan kebiasaan mereka yang minus, mabuk-mabukan, sangat individual, dan pornografi yang tersebar dimana-mana. Asal tau saja, di Jepang, bahkan para pelacur mengiklankan diri mereka dengan bebas di brosur-brosur yang disebar di rumah dan apartemen. Dan yang menjijikkan, di brosur itu mereka berpose dengan sangat vulgar. Berapa kali saya menemukan brosur tersebut di kotak pos apartemen. Malah saya pernah menemukan potongan lembar majalah dewasa dengan gambar wanita bugil, di toilet umum di taman. Astaghfirullah !!!

Belum lagi majalah-majalah dewasa yang dipajang di rak majalah di convenient store dengan gambar nyaris telanjang. Siapapun yang masuk ke toko itu, bisa dengan mudah memandang cover majalah tersebut.

Bahkan di beberapa downtown di Tokyo, ada beberapa billboard yang sangat besar yang menampilkan sosok artis dengan pose aduhai bin menyeramkan. Toko-toko khusus perlengkapan 'adult' juga tersebar dimana-mana. Fiiiuuuhh, asli menakutkan.

Ngga heran kalo Jepang termasuk negara yang sangat 'ramah' pornografi di dunia ini.

Belum lagi urusan free sex. Anak remaja di sana, ngga beda jauh sama yang di Amerika. Selama suka sama suka ya silakan. Ortu juga membiarkan anak mereka melakukan hal itu. Bahkan hidup serumah dengan calon mertua, juga sudah dianggap biasa.

Satu lagi yang jadi momok di Jepang, banyak orang 'gila' !!! Ya, bukan gila beneran sih. Secara penampakan kayak orang normal. Eksekutif. Berdasi. Berduit dan ada tampang. Ngga taunya, pembunuh berdarah dingin. Lah tiba-tiba aja dia nyerang tetangganya untuk dimutilasi. Gila kan??

Atau ada juga yang tiba-tiba nyeruduk pake truk di pusat perbelanjaan. Belum puas, tu orang turun dari truk, ternyata bawa pisau untuk nusuk orang-orang yang sedang ramai jalan kaki. Entah ada berapa korban jiwa yang jatuh, gara-gara orang gila ini. Saya inget banget, ini berita mencekam jadi headline di mana-mana di awal 2010, menjelang pindahan saya ke Indonesia.

Selain gila, ada juga yang stress. Niat bunuh diri, tapi di keramaian. Dan bikin sejuta orang kesel. Lah gimana ngga. Mereka jatuhin diri di lintasan kereta dan di rush hour pulak !!! Kereta mau ngga mau harus berhenti. Dan penumpang pun harus sabaaaaarrr menunggu sampe kereta bisa jalan lagi. Saya sempet ngalamin kejadian seperti ini, mana lagi perjalanan mau ke bandara pulak. Katanya sih, orang yang mo bunuh diri di tempat strategis kayak rel kereta, ada faktor x-nya. Cerita kumplitnya bisa di liat di sini yaa...

Masalah lain yang sering jadi isu nasional se-Jepang, adalah ijime atau bully. Biasanya terjadi di sekolah-sekolah. Ijime ini jadi masalah yang selaluuuu muncul, karena banyak kasus bunuh diri akibat ijime. Dan sampe sekarang, pemerintah belum bisa ngatasin masalah ini. Sampe-sampe masyarakat Jepang nyalahin Depdiknas-nya, yang dianggap ngga serius nanganin urusan ijime.



Duh, kasian banget kalo merhatiin kasus ijime ini. Dulu pernah liat di tipi, acara dialog tentang ijime. Di situ ada para guru, orangtua, pengamat, dan anak-anak korban ijime. Pas giliran anak korban ijime bicara, beberapa diantaranya sambil sesenggukan, sambil ngusap-ngusap mata. Katanya mereka sering diledek, didorong, dilabrak, dipukul, lokernya dirusak, bekal makanan ditumpahin, sepedanya dibuang ke kolam, buku dicoret-coret dengan tulisan 'Shine' (=mati aja lu!!)....dan lain-lain. Sedih banget. Ngga heran, kalo beberapa korban memilih bunuh diri.....

***

Sebenarnya, masalah-masalah Jepun di atas, banyak juga kok terjadi di negara-negara maju lainnya, termasuk di negeri kita sendiri. Selama belum kiamat, yang namanya kriminalitas, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, PASTI, akan tetap ada. Jadi, mo kita tinggal di negara manapun, tetep akan ada perasaan suka/tidak suka, nyaman/tidak nyaman, dll. Kalo nyari negara yang bener-bener bebaaaass dari semua masalah, itu namanya SURGA...:)

Cuma memang, bedanya, kalo di negeri sendiri, saya pribadi merasa lebih pede. Gimanapun, lebih nyaman tinggal di negeri mayoritas muslim. Makanan halal ada dimana-mana. Sekolah Islam juga tinggal milih. Mesjid tersebar di sana-sini. Azan kedengaran dari manapun.

Ya, lingkungan yang kondusif untuk keislaman anak-anak, itu yang saya cari. Mereka masih kecil, perlu pondasi yang kuat. Kalo pondasi dan bangunan kuat tertanam, insyaa Allah, sehebat apapun goncangan, mereka akan tetap dan tegak dengan imannya. Jadi, ketika mereka besar nanti, saya rela melepaskan mereka ke negeri manapun, minor or mayor. Silakan mengepakkan sayap kemana saja....

Trus moral of storynya apa ??
Jangan sering ngga ada kerjaan ya, nanti jadinya mantengin yutub mulu....hehehe ^-^V
Itu mah salah satu poin doang.

Salah dua poin, ketika bingung untuk memilih, serahin aja sama yang Di Atas. Dia Yang Maha Tahu, apa yang terbaik buat kita. Kita mah sebagai manusia, kudu usaha n ikhtiar sekuat-kuatnya di jalan yang kita pilih. Hasilnya? Udah bukan masuk wilayah kita lagi. Di titik ini, baruuuu boleh tawakkal :)

Kalo kembali ke keputusan saya, ya itu yang cocok untuk keluarga kami. Karena, kalo mo ngebandingin ya, ngga sedikit juga keluarga muslim yang bermukim di negeri minoritas justru berhasil mendidik n mengawal anak-anak mereka sampai remaja. Kumplit dengan identitasnya sebagai muslim/muslimah. Mereka ga malu berhijab. Mereka tetap bisa jalanin kewajiban sebagai muslim. Tetap sahabatan sama temen-temen sekolahnya.

Ini hasil pengamatan saya, yang nge-add anak-anak temen, yang bapaknya asli orang Jepang dan ibunya orang Indonesia. Foto-foto narsis ala abege sering nongol. Di antara temen-temennya yang berpakaian terbuka, si anak muslimah yang cantik ini, tetep pede berjilbab. Ah, seperti melihat mutiara yang berkilap di hamparan pasir di pantai.

Saya yakin banget, di balik foto itu, ada kerja keras dari didikan orang tuanya, yang menancap dengan kuat di kepribadian sang anak.

Bagaimanapun, lain orang, lain kekuatan. Masing-masing orang bisa mengukur sampai batas mana kemampuan dirinya. Dan....yah, saya termasuk yang ...yah, begitulah...hehehe.

Yah, siapapun kita, berdoalah.
Semoga Allah selalu memberikan kita kekuatan sebagai orang tua yang mampu mengantarkan dirinya dan keluarganya ke dalam surga-Nya.....

Aaaaaaaaaaaaamiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinn













Ketika Bete

07 November 2014 | comments (2)

Pagi itu seseorang janjian, mau ke rumah saya jam 9 pagi. Sebut saja namanya si A. Saya yang sebenarnya di hari yang sama sudah penuh dengan jadwal merayap, terpaksa nyocok-nyocokin waktu. Berhubung saya juga ada perlu sama si A ituh.

Jam setengah 8 saya nganterin anak ke sekolah. Dan setelah itu, sebenarnya saya harus singgah ke satu tempat yang urgen juga. Tapi terpaksa saya batalin, karena khawatir ngga keburu jam 9 bisa sampe di rumah. Kasian sama si A yang mau datang ke rumah saya.

Sayapun nyampe di rumah jam setengah 9. Dan, ngga berapa lama ada sms masuk, ternyata dari si A, ngasih tau kalo dia ngga bisa dateng jam 9, bisanya siang setelah zhuhur.

Hadeeuuuh, aslik.....saya langsung darting plus bete. Karena setelah zhuhur saya udah ada jadwal keluar lagi. Dan sampe malam pulak. Pegimana bisa ketemuan sama si A? Ni orang kok sembarangan banget maen undur-undur aja. Kagak tau apa, tiap orang udah punya jadwal sendiri.

Tau gitu, saya kan bisa ngerjain banyak hal, daripada cuma nunggu kedatangan si A yang sudah ngancurin jadwal saya di hari ituh !!!

Gegara sms yang nyebelin itu, seharian saya jadi bete. Bawaannya pengen ngamuk aja. Kayak singa yang belom dapet makan seminggu. Pengen marah ke si A, ngga mungkin juga. Secara orangnya sensi banget, dan saya juga ga mau merusak hubungan pertemanan dengan dia.

Walhasil yang jadi korban ya orang-orang di sekitar saya.  Semua kena semprot. Termasuk anak-anak. Mereka heran ngkali, kenapa emaknya udah kayak baygon, kerjaannya nyemprot ga berhenti-henti.

Fiiuuh, sering banget euy, ngalamin hal seperti ini. Hanya gara-gara satu pesan, satu percakapan, satu tindakan, satu kejadian, yang tidak diharapkan, walhasil hidup seharian tiba-tiba jadi mendung, hujan deras, penuh petir n geledek.

Ketahuan banget, saya belum bisa ngontrol emosi. Mood saya masih sering dipengaruhi sama keadaan dan sikon di depan saya. Hiks, apalagi setelah baca artikelnya Stephen Covey ini , tambah nyesel deh, kenapa saya masih sering ngalamin dan ngulangin peristiwa yang sama -______-

*termenung.......*

Krik..krik...krik...krik....

Hmm...sepertinya, saya mudah bete begini, kalo hubungan saya dengan Yang Maha Penyayang, lagi sedang renggang. Memang sih, belakangan saya agak males. Males sholat tepat waktu, males ngaji berlembar-lembar, males puasa sunnah, males ke taman surga a.k.a pengajian.....

Ngga heran, kalo saya mudah tersulut dengan peristiwa sepele. Karena ruhani saya lagi gersang. Persis seperti rumput kering yang mudah terbakar.

Astaghfirullah....
air mana air. Kudu 'minum' sebanyak-banyaknya nih. Supaya ga kering dan gersang.
Supaya bisa lebih bijak plus sabar plus kuat....kalo ngadepin hal yang sama lagi.

Gambarimaaaaasu !!!!


_______________________
gambar dari sini



Ayo Berenang di ACM !!!

29 October 2014 | comments

Huaaa...senengnya yang tinggal di Serpong dan sekitarnya.
Sekarang sudah ada kolam renang yang luaaass dan khusus muslimah.
Pemiliknya adalah emak-emak keceh yang dulu pernah mukim di Jepun juga.

Kolam yang luas ini, memang khusus untuk muslimah.
Jadi silakan, bisa dateng hari apapun yang dipengenin.
Kecuali hari Jumat sore jam setengah 5 ke atas, dijatahin untuk epak-epak yang pengen nyemplung juga.

Ini kolamnya bisa dibooking juga loh untuk acara keluarga.
Keren kaan??

Untuk yang pengen tau, ini  infonya.

************************************

ACM Muslimah Sports Center

Lokasi: 300 meter sebelah barat perempatan Muncul, Serpong 

(lihat di: https://goo.gl/maps/ka2Cd).

Jadwal putri: Senin, Selasa, Rabu, Jumat: 06:00-18:00.
Kamis: Libur untuk perawatan
Weekend/hr libur: 06:00-16:00.
Dress Code: Baju Renang Muslimah utk putri.

Jadwal putra: Jum'at: 18:00-21:00.
Weekend/hr libur: 16:30-21:00.
Dress Code: Celana renang sampai lutut utk putra.

Jadwal keluarga : Senin - Rabu: 18:00 - 19:30
19:30 - 21:00 (booking dulu ya)

Harga tiket : Dewasa: Weekdays 20.000,-
Weekend/hr libur 25.000,-

Anak-anak: Weekdays 15.000,-
Weekend/hr libur 20.000,-

Keluarga: satu selot 150.000,-
dua selot 250.000,-

BERLAKU MULAI BULAN JUNI 2014


Contact Person
 Diah K
HP: 0812-9573-9522




Tiba-tiba Terbaangg...

27 October 2014 | comments

Eh, ini bukan beneran terbang loh ya. Ini cuma judul lebay aja. Plus bingung juga mo ngasih judul apaan.

Jadi ceritanya gini. Berhubung nanti pas hari raya, Sabtu-Minggu, kita sekeluarga kagak bisa maen ke rumah ortu di Ciledug, walhasil saya jadi mikir, apa pas hari biasa aja ya ke sono. Secara suami jadi panitia qurban di komplek --mana bendahara pulak--, mau tak mau kudu standby terus sampe hari H.

Hari ini hari Selasa. Hmm, sepertinya enakan berangkat besok aja, Rabu. Ntar anak diliburin aja. Masih TK ini, pikir saya. Bolos sehari ngga apa-apalah.
Malemnya saya nelpon mama.
"Assalamu'alaikum. Maaa, Ina besok ke sana ya, ke Ciledug."
"Ah, ngana kan cuma ngomong doang. Iyo terserah ngana aja..."

Hiks, saya jadi nyengir kecut. Kayaknya mama sebel kali, pas beberapa minggu sebelumnya, saya yang janji datang pas weekend, ternyata ngga jadi. Gara-gara kecapean ada acara pagi-pagi di rumah. Padahal si Mama udah nyiapin macem-macem di rumah. Segala masakan dah dihidangin, buat rombongan dari Depok. Tapi....akhirnya itu makanan terpaksa dipendem di kulkas.

Makanya si mama ngomong begitu. Dah tau bener ama sifat anaknya yang gampang berubah. Hiks.

"Ya udah Ma. Gini aja, mama ngga usah masak macam-macam dulu. Insyaa Allah pagi-pagi Ina telpon ya, kalo jadi berangkat."

Malem itu saya pun tidur. Dengan niat yang masih maju mundur. Begitu pula setelah bangun pagi-paginya, saya masih mikir, berangkat ngga ya. Soalnya tu Ciledug ada ngkali 2 jam kalo lagi macet. Belom lagi saya kudu nyetir sendiri, plus bareng 3 krucil. Dan ngga pake nginap pulak. Jadi pagi berangkat, siang pulang. Biasanya kan suami yang nyetir. Saya tinggal bobo-bobo cantik ala putri tidur. Hehehe.

Ah, berangkat aja deh. Kasian si opa sama nene, pasti kangen sama anak cucunya. Ya, mumpung mereka masih sehat. Udah ah, paksain diri aja. Suami juga dah ngijinin ini.

Akhirnya, saya pun berangkat. Jam setengah 8 pagi dari rumah. Singgah dulu bentar di minimarket, beli pasokan buat krucil. Dann....ternyata, seperti yang sudah diduga...maceeeeetttt. Di lenteng agung tu ya, ada ngkali 1 jam lebih merayap di situ. Persis seperti cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap.

Masuk tol juga sama, walopun kecepatan merayapnya lebih cepat dibanding sebelumnya. Di sela-sela merayap, tetiba si Muadz ngomong...mau BAB. Hadeeuuhh...Sayanya binun deh. Dengan menghibur, saya pun ngomong, minta dia berdoa sama Allah, supaya BABnya bisa hilang. Ga berapa lama dia berdoa. Berapa detik kemudian, dia ngomel.
 "Mamaaa....kok Allahnya ngga dengerin Muadz. Muadz udah ga tahan nih...masih mo BAB !!!"

Emaknye mati gaya. Sambil ngarep ini mobil-mobil di tol bisa merayap lebih cepat lagi, saya nyuruh dia teruuuus berdoa, dan ngelupain hasratnya yang sedang membara itu.

Singkat cerita, akhirnyaaaa bisa sampe juga ke Ciledug. Walopun pas keluar tol, sempet planga plongo, karena saya nyasaaarrr. Rencana mo keluar lewat tol baru, tapi kok malah kejeblos keluar via ulujami yang tembus ke Ciledug Raya yang terkenal maceeett. Ngoprekin Google Maps, malah ribet, karena sambil nyetir. Yasud, yang penting sudah ketemu Ciledug.

Dan nyampe rumah ortu pun, cuma ngobrol plus makan siang sejam-an. Selebihnya saya tepar di tempat tidur. Dan kemudian, buru-buru cabut lagi, pulang lebih cepet supaya ga kena macet jam rusuh orang pulang kantor.

Kalo diitung-itung sih, lima jam perjalanan pulang pergi Depok-Ciledug. Dan cuma 2,5 jam bisa bercengkerama sama ortu tercintah.


Trus....moral of storynya.....
mumpuuuunnngg ortu masih hidup dan tinggal sekota, adain kunjungan rutin deeeh. Ga perlu heboh nyiapin macem-macem. Cukup bawa badan sama anak-anak, ortu dah sueeneeennng banget.
Lupakan itu macet yang bikin nyali maju mundur. Lupakan kerepotan bawa anak-anak yang super lincah. Begitu ada niat, langsung aja, terbaaaaanngg !!
Yang penting, dapetin ridho Allah dengan cara bikin ortu senang, karena anaknya ngga ngelupain mereka.



Ini maksudnya ngingetin ke saya sendiri sih, yang kadang masih suka lupa dan malesan, untuk pergi jauh-jauh. Padahal dulu waktu masih di Jepun, perlu nunggu setahun untuk bisa jenguk ortu. Sekarang mah bisa kapan saja.

Ah, semoga semangat maen ke rumah ortu ini, bisa terus terjaga.....

************

gambar dari sini




Merasa Tertekan???

03 October 2014 | comments

Saya pernah merasa seperti ini....setahun ada ngkali 2-3 kali...
berharap ngga jadi penyakit menetap, dan....berharap penyakit ini datang ngga sering, cukup edisi pemilu...5 tahun sekali aja...hehehe

Ni gambar bener-bener mewakili deh.
Tiga gambar terakhir bisa jadi solusi yang nyaman :)

Oiya, saya copas dari sini komiknya:
http://solar-citrus.tumblr.com/post/98583201090/you-would-be-surprised-with-how-many-people-in











 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Kehidupan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger