[CPS] Badai Pasti Berlalu

20 June 2009 | comments (7)

18 Juni 2009.
Pagi hari.....rutinitas berjalan seperti biasa.
Membuat bento untuk suami dan si sulung. Ya, hari ini suami kembali masuk kantor.
Sebelum pergi,  saya pesan ke suami, supaya jangan lupa menelpon ke RS, menanyakan perkembangan si tengah.
Kepada si sulung, saya ceritakan kondisi adiknya sebenarnya. Dan memintanya terus berdoa untuk kesembuhan adiknya.

Siang-siang, suami menelpon saya. Kata dokter, sudah dilakukan pemeriksaan darah. Dan ternyata, ada salah satu hasil test yang nilainya besar atau di atas normal. Hm, dokternya agak sulit menjelaskan. Tapi menurutnya, nilai yang agak besar itu mengindikasikan adanya kerusakan jaringan sel. Sayangnya, tidak diketahui dibagian mana terjadinya kerusakan sel tersebut.

Suami khawatir. Apalagi saya. Apa mungkin kerusakan sel terjadi ketika panasnya mencapai 41 derajat kemarin? Hm, suami lupa menanyakan kemungkinan ini ke dokter. Tapi kami sama-sama berdoa, semoga kerusakan sel tidak terjadi di organ-organ penting.
Sementara itu, kondisi badan si tengah masih demam. Berkisar 38,5-39 derajat. Dan sejauh ini masih dalam pengamatan intensif, walau tidak sampai masuk ke ICU.

Selesai menerima telepon suami, saya kembali termenung, terdiam lama.
Kembali hujan mengalir dari mata dan hati saya.
Entah kenapa, sholat dan tilawah Qur`an belum juga membuat hati saya menjadi tenang.

Ya Allah....anakku...selamatkan dia....
Anak yang kehadirannya ditunggu berbilang tahun...
Anak yang selama 9 bulan mendiami rahim saya....
Yang berbulan-bulan setelahnya selalu menggemaskan saya dengan kemurahan senyumnya....
tawanya yang lucu dan lebar....melihatkan gigi-gigi mungil yang tumbuh dengan cepat...
yang selalu sibuk mengeksplor seisi rumah...dengan jari-jarinya yang mungil....
yang suka memonyongkan mulutnya....ketika akan mencium saya....
yang pemakan segala.....sampai perutnya buncit...
Sungguh....saya belum siap ya Allah...

###############

Di tengah gemuruhnya kondisi jiwa saya, saya memutuskan untuk menelepon mama.

Begitu terdengar suara salam dari mama di seberang sana, tangis saya langsung meledak. Hujan deras menghambur mengiringi kata-kata yang keluar dari mulut saya.

Dan mama, dengan setia mendengar, sampai saya berhenti berbicara.
Lalu, mama hanya menyitir salah satu ayat-Nya....
bahwa semua yang terjadi di alam ini, termasuk di dalamnya semua kejadian yang menimpa manusia, sesungguhnya jaaauuuuuh sebelumnya... sudah tercatat di Lauh Mahfuzh.
Karenanya, tidak ada yang bisa kita lakukan, selain berusaha, berdoa dan tawakkal.
Sekarang, usaha sudah dilakukan...., tinggal terus berdoa dan jangan sampai putus harapan kepada Allah...

"Ingat sayang, Muaz terlahir dengan kondisi seperti ini, bukankah Allah juga yang menentukan?? Dan ingat juga sayang, anak adalah titipan....Mereka bukan milik kita...tapi milik Allah..."

Ah, mama mengingatkan saya.
Sesaat, saya seperti orang yang baru sadar dari mimpi buruk.

Kenapa tiba-tiba saya menjadi linglung begini. Melupakan ketetapan yang Allah berikan ke saya?? Kenapa tiba-tiba saya seperti menjadi orang yang buta dan tuli terhadap nikmat Allah?? Bukankah seharusnya saya bersyukur?? Bahwa apa yang terjadi pada si tengah saat ini, sungguh.....sama sekali tidak ada artinya,  dibanding segala kenikmatan yang Allah berikan kepada saya ??
Dan...bukankah si sulung, si tengah, si bungsu....adalah milik Allah?? Tentu saja Dia berhak melakukan apasaja terhadap milik-Nya...

Saya jadi teringat dengan kisah di masa lalu. Ketika seorang wanita sholihah mengabarkan kematian anaknya dengan perumpamaan yang sangat indah, terhadap suaminya. Dia meminta pendapat ke suaminya, bagaimana jika seorang pemilik, mengambil barang titipannya ke orang yang dititipi. Berhakkah orang yang dititipi untuk marah?
Ketika suaminya menjawab tidak, lalu iapun menjelaskan keadaan anak mereka, yang sudah diambil oleh Pemiliknya.

Subhanallah.
Sungguh. Saya tidak bisa membayangkan, terbuat dari apa hati wanita sholihah tersebut. Mungkin dari cahaya. Tidak seperti saya, yang pekat dengan dosa. Baru ditimpa musibah ringan saja, sudah merasa seperti orang yang paling menderita di dunia. Astaghfirullah.

Renungan sepanjang siang itu, tiba-tiba membuat hujan di diri saya berhenti. Cuaca kembali cerah.....

***************

Sore ini setelah Ashar, saya pergi ke RS. Di rumah ada si sulung dan si bayi kecil.
Saya pesan ke si sulung untuk sabar menunggu papanya yang pulang ke rumah sekitar satu jam lagi. Ya, si sulung ini masih agak takutan. Terbukti setelah saya pergi, dia menutup semua pintu, termasuk pintu kamar, tempat dia dan si bayi berdiam.

Sampai di RS....ternyata si tengah sudah pindah ruangan.
Ruangannya persis di depan nurse station.
Saya datang saat jam makan malam, sekitar jam 6.
Si tengah lagi disuapi perawat. Begitu melihat saya berdiri di depan pintu, dia langsung menangis histeris. Kasihan, kangen banget dia sama mamanya.

Sayapun bertukar tempat dengan perawat. Saya suapin dia.
Cuma beberapa suap, dia menolak makan. Lalu memeluk saya erat dengan tangan mungilnya. Alhamdulillah, badannya tidak panas. Kata perawat, demamnya sudah turun. Suhu badannya sudah normal, sekitar 36 derajat.

Sambil memeluknya, saya memperhatikan badan mungil itu.
Ada tiga kabel tipis menempel di dadanya. Kabel yang tersambung dengan monitor kecil yang menampakkan grafik detak jantung dan ...hm, grafik apa lagi ya.
Ada lagi satu kabel tipis yang dijepitkan di kaki. Dan...hei, jarum infusnya, berpindah ke tangan kiri.

Saya perhatikan tangan kanannya. Agak bengkak dan membiru.
Terlihat beberapa luka kecil. Sepertinya bekas infus. Atau bekas suntikan jarum untuk sampel darah. Ada bekas plester di sana sini. Juga ada sedikit luka terkelupas berwarna merah muda. Duh, coba ya...., kok perawatnya ngga diperhatiin sih ini tangan mungil.

Saya panggil perawat, dan menunjukkan luka tersebut. Dengan meminta maaf, si perawat mengambil tensoplast untuk menutupi luka, dan membersihkan sisa-sisa tempelan plester.
Si tengah agak memberontak. Mungkin sakit. Saya berusaha menenangkannya.

Sambil menggendongnya, saya memperhatikan seisi kamar. Ada empat tempat tidur di ruangan itu. Dua diantaranya terisi. Satu untuk si tengah, dan satu lagi untuk perempuan kecil. Tempat tidurnya persis bersampingan dengan tempat tidur si tengah. Perempuan kecil itu mungkin sekitar 2,5 th. Bagian kepalanya diperban. Mungkin habis dioperasi.
Perempuan kecil itu gelisah, menangis kecil, lalu memanggil mamanya. Kasihan, dia mengantuk, tapi tidak ada yang mengeloni. Duh nak, kalau boleh saya mau mengelonimu.

Ini nih resiko merawat anak sakit di lantai 3. Harus kuat dan tega mendengar suara-suara mungil menangis. Memanggil-manggil mamanya, yang mungkin belum sempat menjenguk, melihat anaknya. Mengandalkan perawat....ya, ngga bisa sepenuhnya. Paling banter mereka hanya menggendong sebentar, lalu si anak ditinggal pergi, dibiarkan menangis, berteriak dan meronta-ronta dan akhirnya tertidur karena capek. Kasian.....

Beberapa menit kemudian, si tengah tertidur pulas di pelukan saya. Saya letakkan di tempat tidur pelan-pelan. Dia bergerak sebentar, lalu...kembali terlelap. Wah, rekor nih. Biasanya dia cepat terbangun begitu diletakkan di tempat tidur.

Dia ngga tidur siang, kata perawat. Ooh, pantesan sekarang tidurnya nyenyak sekali.
Saya pun bersiap pulang. Saya ambil pakaian kotor si tengah, memasukkannya ke bungkusan kecil. Lalu melangkah keluar kamar.

Fffiiuuuuh....alhamdulillah...
Ini hari pertama saya mengakhiri hari tanpa airmata.

Terima kasih ya Allah. Akhirnya badai itu berlalu juga.
Terutama badai di hati ini......

**************************************

(masih empat hari lagi sebelum si tengah keluar RS....)

sodara2ku tercinta.......
terima kasih ya, atas empati dan doa2nya....
semoga Allah membalas segala kebaikan sodara2ku semua dengan pahala yang berlipat ganda....amiiin





[CPS] Badai Pasti Berlalu

| comments (7)

18 Juni 2009.
Pagi hari.....rutinitas berjalan seperti biasa.
Membuat bento untuk suami dan si sulung. Ya, hari ini suami kembali masuk kantor.
Sebelum pergi,  saya pesan ke suami, supaya jangan lupa menelpon ke RS, menanyakan perkembangan si tengah.
Kepada si sulung, saya ceritakan kondisi adiknya sebenarnya. Dan memintanya terus berdoa untuk kesembuhan adiknya.

Siang-siang, suami menelpon saya. Kata dokter, sudah dilakukan pemeriksaan darah. Dan ternyata, ada salah satu hasil test yang nilainya besar atau di atas normal. Hm, dokternya agak sulit menjelaskan. Tapi menurutnya, nilai yang agak besar itu mengindikasikan adanya kerusakan jaringan sel. Sayangnya, tidak diketahui dibagian mana terjadinya kerusakan sel tersebut.

Suami khawatir. Apalagi saya. Apa mungkin kerusakan sel terjadi ketika panasnya mencapai 41 derajat kemarin? Hm, suami lupa menanyakan kemungkinan ini ke dokter. Tapi kami sama-sama berdoa, semoga kerusakan sel tidak terjadi di organ-organ penting.
Sementara itu, kondisi badan si tengah masih demam. Berkisar 38,5-39 derajat. Dan sejauh ini masih dalam pengamatan intensif, walau tidak sampai masuk ke ICU.

Selesai menerima telepon suami, saya kembali termenung, terdiam lama.
Kembali hujan mengalir dari mata dan hati saya.
Entah kenapa, sholat dan tilawah Qur`an belum juga membuat hati saya menjadi tenang.

Ya Allah....anakku...selamatkan dia....
Anak yang kehadirannya ditunggu berbilang tahun...
Anak yang selama 9 bulan mendiami rahim saya....
Yang berbulan-bulan setelahnya selalu menggemaskan saya dengan kemurahan senyumnya....
tawanya yang lucu dan lebar....melihatkan gigi-gigi mungil yang tumbuh dengan cepat...
yang selalu sibuk mengeksplor seisi rumah...dengan jari-jarinya yang mungil....
yang suka memonyongkan mulutnya....ketika akan mencium saya....
yang pemakan segala.....sampai perutnya buncit...
Sungguh....saya belum siap ya Allah...

###############

Di tengah gemuruhnya kondisi jiwa saya, saya memutuskan untuk menelepon mama.

Begitu terdengar suara salam dari mama di seberang sana, tangis saya langsung meledak. Hujan deras menghambur mengiringi kata-kata yang keluar dari mulut saya.

Dan mama, dengan setia mendengar, sampai saya berhenti berbicara.
Lalu, mama hanya menyitir salah satu ayat-Nya....
bahwa semua yang terjadi di alam ini, termasuk di dalamnya semua kejadian yang menimpa manusia, sesungguhnya jaaauuuuuh sebelumnya... sudah tercatat di Lauh Mahfuzh.
Karenanya, tidak ada yang bisa kita lakukan, selain berusaha, berdoa dan tawakkal.
Sekarang, usaha sudah dilakukan...., tinggal terus berdoa dan jangan sampai putus harapan kepada Allah...

"Ingat sayang, Muaz terlahir dengan kondisi seperti ini, bukankah Allah juga yang menentukan?? Dan ingat juga sayang, anak adalah titipan....Mereka bukan milik kita...tapi milik Allah..."

Ah, mama mengingatkan saya.
Sesaat, saya seperti orang yang baru sadar dari mimpi buruk.

Kenapa tiba-tiba saya menjadi linglung begini. Melupakan ketetapan yang Allah berikan ke saya?? Kenapa tiba-tiba saya seperti menjadi orang yang buta dan tuli terhadap nikmat Allah?? Bukankah seharusnya saya bersyukur?? Bahwa apa yang terjadi pada si tengah saat ini, sungguh.....sama sekali tidak ada artinya,  dibanding segala kenikmatan yang Allah berikan kepada saya ??
Dan...bukankah si sulung, si tengah, si bungsu....adalah milik Allah?? Tentu saja Dia berhak melakukan apasaja terhadap milik-Nya...

Saya jadi teringat dengan kisah di masa lalu. Ketika seorang wanita sholihah mengabarkan kematian anaknya dengan perumpamaan yang sangat indah, terhadap suaminya. Dia meminta pendapat ke suaminya, bagaimana jika seorang pemilik, mengambil barang titipannya ke orang yang dititipi. Berhakkah orang yang dititipi untuk marah?
Ketika suaminya menjawab tidak, lalu iapun menjelaskan keadaan anak mereka, yang sudah diambil oleh Pemiliknya.

Subhanallah.
Sungguh. Saya tidak bisa membayangkan, terbuat dari apa hati wanita sholihah tersebut. Mungkin dari cahaya. Tidak seperti saya, yang pekat dengan dosa. Baru ditimpa musibah ringan saja, sudah merasa seperti orang yang paling menderita di dunia. Astaghfirullah.

Renungan sepanjang siang itu, tiba-tiba membuat hujan di diri saya berhenti. Cuaca kembali cerah.....

***************

Sore ini setelah Ashar, saya pergi ke RS. Di rumah ada si sulung dan si bayi kecil.
Saya pesan ke si sulung untuk sabar menunggu papanya yang pulang ke rumah sekitar satu jam lagi. Ya, si sulung ini masih agak takutan. Terbukti setelah saya pergi, dia menutup semua pintu, termasuk pintu kamar, tempat dia dan si bayi berdiam.

Sampai di RS....ternyata si tengah sudah pindah ruangan.
Ruangannya persis di depan nurse station.
Saya datang saat jam makan malam, sekitar jam 6.
Si tengah lagi disuapi perawat. Begitu melihat saya berdiri di depan pintu, dia langsung menangis histeris. Kasihan, kangen banget dia sama mamanya.

Sayapun bertukar tempat dengan perawat. Saya suapin dia.
Cuma beberapa suap, dia menolak makan. Lalu memeluk saya erat dengan tangan mungilnya. Alhamdulillah, badannya tidak panas. Kata perawat, demamnya sudah turun. Suhu badannya sudah normal, sekitar 36 derajat.

Sambil memeluknya, saya memperhatikan badan mungil itu.
Ada tiga kabel tipis menempel di dadanya. Kabel yang tersambung dengan monitor kecil yang menampakkan grafik detak jantung dan ...hm, grafik apa lagi ya.
Ada lagi satu kabel tipis yang dijepitkan di kaki. Dan...hei, jarum infusnya, berpindah ke tangan kiri.

Saya perhatikan tangan kanannya. Agak bengkak dan membiru.
Terlihat beberapa luka kecil. Sepertinya bekas infus. Atau bekas suntikan jarum untuk sampel darah. Ada bekas plester di sana sini. Juga ada sedikit luka terkelupas berwarna merah muda. Duh, coba ya...., kok perawatnya ngga diperhatiin sih ini tangan mungil.

Saya panggil perawat, dan menunjukkan luka tersebut. Dengan meminta maaf, si perawat mengambil tensoplast untuk menutupi luka, dan membersihkan sisa-sisa tempelan plester.
Si tengah agak memberontak. Mungkin sakit. Saya berusaha menenangkannya.

Sambil menggendongnya, saya memperhatikan seisi kamar. Ada empat tempat tidur di ruangan itu. Dua diantaranya terisi. Satu untuk si tengah, dan satu lagi untuk perempuan kecil. Tempat tidurnya persis bersampingan dengan tempat tidur si tengah. Perempuan kecil itu mungkin sekitar 2,5 th. Bagian kepalanya diperban. Mungkin habis dioperasi.
Perempuan kecil itu gelisah, menangis kecil, lalu memanggil mamanya. Kasihan, dia mengantuk, tapi tidak ada yang mengeloni. Duh nak, kalau boleh saya mau mengelonimu.

Ini nih resiko merawat anak sakit di lantai 3. Harus kuat dan tega mendengar suara-suara mungil menangis. Memanggil-manggil mamanya, yang mungkin belum sempat menjenguk, melihat anaknya. Mengandalkan perawat....ya, ngga bisa sepenuhnya. Paling banter mereka hanya menggendong sebentar, lalu si anak ditinggal pergi, dibiarkan menangis, berteriak dan meronta-ronta dan akhirnya tertidur karena capek. Kasian.....

Beberapa menit kemudian, si tengah tertidur pulas di pelukan saya. Saya letakkan di tempat tidur pelan-pelan. Dia bergerak sebentar, lalu...kembali terlelap. Wah, rekor nih. Biasanya dia cepat terbangun begitu diletakkan di tempat tidur.

Dia ngga tidur siang, kata perawat. Ooh, pantesan sekarang tidurnya nyenyak sekali.
Saya pun bersiap pulang. Saya ambil pakaian kotor si tengah, memasukkannya ke bungkusan kecil. Lalu melangkah keluar kamar.

Fffiiuuuuh....alhamdulillah...
Ini hari pertama saya mengakhiri hari tanpa airmata.

Terima kasih ya Allah. Akhirnya badai itu berlalu juga.
Terutama badai di hati ini......

**************************************

(masih empat hari lagi sebelum si tengah keluar RS....)

sodara2ku tercinta.......
terima kasih ya, atas empati dan doa2nya....
semoga Allah membalas segala kebaikan sodara2ku semua dengan pahala yang berlipat ganda....amiiin


NEXT
Genap 10 Hari: Susahnya Obyektif





[CPS] Demam Tinggi

19 June 2009 | comments (7)


17 Juni 2009.
Hari ini saya minta suami tetap cuti. Ya, seharusnya dia cuti dua hari saja.
Tapi saya minta supaya suami bisa tetap ke RS, melihat kondisi si tengah.
Rencananya pagi sampai sore suami yang jenguk. Setelah suami pulang, baru saya yang gantian pergi ke RS sampai malam.

Setelah sampai, suami sms ke saya. Katanya kondisi si tengah udah mendingan. Darah sudah mulai kering. Hidung dan mulut sudah ngga berlendir merah lagi. Panasnya masih ada, tapi ngga begitu tinggi, sekitar 38 derajat. Tapi si tengah masih rewel. Tetep minta gendong terus. Ngga boleh lepas sama sekali.
Alhamdulillah. Saya lega. Minimal ada kemajuan. Ngga ada darah.

Sorenya saya berangkat. Sambil membawa beberapa lembar baju, pampers dan mainan si tengah. 45 menit saya sampai di RS. Saya pelan-pelan masuk ke ruangannya. Hm, si tengah sedang rebahan, dengan posisi membelakangi pintu masuk. Sepertinya dia tidak sadar, kalau ada yang masuk.

Pelan-pelan saya letakkan tas dan barang2 bawaan. Lalu saya cuci tangan di wastafel dekat situ. Hm, masih belum bergerak juga si tengah, mendengar bunyi air keran mengalir.
Saya panggil namanya. Saya elus-elus rambutnya. Loh, masih belum nengok juga. Kok responnya lama sekali ya.

Agak lama kemudian, baru si tengah membalikkan badan. Dia langsung menangis, dan mengulurkan tangannya. Masya Allah, saya baru sadar, wajah mungil itu terlihat kurus. Dan begitu saya memeluknya, terasa panas badannya.
Ayo, jangan nangis. Kembali saya kuatkan hati saya. Walaupun mata sudah mulai basah.

Jam setengah 7, perawat datang membawakan makanan. Hm, bukan makanan kali ya, tapi larutan makanan. Ada sekitar 7 gelas yang masing-masing berisikan larutan nasi, ikan, miso, yogurt, jus, susu dan airputih. Alhamdulillah, si tengah mau makan. Saya suapin sesendok demi sesendok. Satu gelas larutan miso habis dan setengah gelas susu. Setelah itu si tengah menolak dan memeluk saya kembali.

Tapi, sepertinya tubuhnya bertambah panas. Saya panggil perawat, minta diukur suhu badannya. Ternyata 41 derajat !! Masya Allah.
Si perawat tenang saja, dan berkata, kalau dalam botol infus itu sudah ada obat penurun panas, jadi ngga akan ada masalah.
Duh, shobar...shobar...saya nenangin hati yang mulai panas. Ini perawat kok enteng banget ya ngomongnya.

Beberapa menit kemudian perawat lain datang membawa obat penurun panas yang agak keras. Yang harus dimasukkan lewat anus. Si tengah merintih pelan, ketika obat itu dimasukkan, seperti tidak ada tenaga lagi untuk menangis kencang.
Saya kembali menggendongnya, menenangkannya yang terus menerus gelisah.
Badan mungil itu terasa panas sekali. Ya Allah, ingin sekali terus memeluknya.
Ngga berapa lama, dokter datang. Memeriksa badan mungil itu.
Biasanya, setelah operasi, sering terjadi demam tinggi pada anak. Si dokter menjelaskan.

Jam 8 malam lewat sedikit. Perawat datang untuk mengusir saya. Sudah lewat jam jenguk. Ibu pulang saja, nanti biar saya yang menggendong anak ibu. Kata perawat.
Ya sudah, sayapun keluar kamar, kembali diiringi dengan suara tangisan si tengah yang begitu lemah.

Malam itu, saya keluar RS, dengan hati yang meleleh.

Sampai di rumah jam 9. Belum ada yang tidur. Saya menangis di hadapan suami dan si sulung. Saya bilang saya sedih sekali ninggalin si tengah dalam kondisi demam tinggi. Apa mungkin si perawat bakal terus menggendong dia? Ya jelas tidak. Karena perawat harus menangani beberapa anak sekaligus, bukan hanya si tengah saja. Lagian, sentuhan perawat pasti beda sama sentuhan ibu.
Astaghfirullah, ini hati kok jadi ngedumel terus ya.

Jam 11 malam. Saya baru mau sholat, ketika tiba-tiba telepon rumah berdering.
Duh, siapa pula yang menelpon malam-malam gini.
Ternyata, dari RS. Dari dokter yang menangani si tengah.
Cepat saya berikan telepon ke suami.
Agak lama dokter berbicara. Sementara hati saya terus bergemuruh.

Telepon ditutup.
Suami cerita, tadi dokter bilang, si tengah sempat kejang dua kali karena panasnya semakin tinggi. Dan sekarang si tengah dalam penanganan intensif. Dokter akan melalukan pemeriksaan detil terkait dengan demamnya yang tinggi. Untuk itu dokter minta persetujuan ke suami.

Astaghfirullah......
Saya sholat sambil menangis ngga berhenti-berhenti. Suami juga.
Sungguh, ingin rasanya terbang, segera menuju ke kamar si tengah.
Menggendongnya, memeluknya, memindahkan semua panasnya ke badan saya.....



[CPS] Hari Kedua, Episode Penuh Darah dan Airmata

| comments (6)

Hm, judulnya sinetron sekali yak. Tapi ini kenyataan.

16 Juni 2009.
Pagi-pagi sekali suami pergi ke RS. Hari ini operasi dilakukan pukul 9.
Selama suami pergi, seharian itu saya gelisah menunggu sms darinya.
Ya, saya ingin tau terus menerus kabar si tengah.

Pukul 9.45 si tengah masuk ruang operasi. Tak putus-putus saya berdoa.
Semoga operasinya berjalan lancar. CPS, memang tergolong operasi kecil.
Tapi tetep saja, tindakan medis sekecil apapun pasti ada resikonya.

Pukul 12 kurang, operasi selesai. Suami diminta menjemput si tengah di depan pintu ruang operasi. Suami cerita, si tengah menangis meraung-raung. Sepertinya pengaruh bius mulai menghilang, dan mungkin saja dia mulai merasa sakit dimulutnya. Sementara itu dari hidung dan mulutnya keluar darah, sisa luka operasi.

Sejak itu, si tengah dipeluk suami terus. Dia tidak mau dilepas. Walhasil baju suami jadi penuh darah. Suami sms saya, minta saya dan si sulung datang untuk melihat si tengah. Siapa tahu dia lebih terhibur dengan kehadiran semua. Sedangkan si bungsu dititipkan ke hoikuen saja, kata suami.

Jadinya, siang itu saya sibuk sekali. Saya siapkan perlengkapan si bayi 5 bulan. Setelah itu, dengan terpaksa saya tinggalkan si bayi, saya beli pampers dan bento untuk suami, yang sama sekali ngga bisa kemana-mana, karena terus menggendong si tengah. Lalu saya balik ke rumah, meletakkan belanjaan. Trus saya pergi lagi ke sekolah si sulung. Dan setengah berlari saya menuju lantai 4, ke ruang kelasnya si sulung. Saya harus cepat-cepat, mumpung masih jam makan siang.

Dari sekolah, saya dan si sulung menuju hoikuen. Sekitar 7 menitan dengan sepeda. Si bayi kecil saya gendong di belakang. Masih dengan nafas tersengal-sengal, saya masuk ke jidokaikan yang bisa jadi hoikuen dengan bayaran perjam. Tapiiiii....., ternyata saya ngga bisa menitipkan si bungsu, berhubung untuk nitipin harus yoyaku (=booking) sehari sebelumnya. Ya ampun. Saya ngedumel dalam hati. Saya lupa kalo di Jepang ini, semuuuaaa harus serba yoyaku

Tapi saya masih ngotot. Dengan suara dan tampang dimelas-melasin, saya jelaskan kalau saya harus menjenguk anak saya yang baru dioperasi. Dan bayi ini tidak boleh dibawa ke RS.
Yah, ini Jepang bu. Namanya peraturan harus ditaati. Biar kate dalam kondisi gawat darurat kyk sekarang. Lagi-lagi saya ngedumel melihat penolakan mereka. Walau diringi kalimat permohonan maaf dari mereka.

Syukurnya, saya teringat ada teman singapur yang baik hati, yang rumahnya ngga terlalu jauh. Dan alhamdulillah, dia bersedia dititipin si bungsu.

Singkat cerita, akhirnya sekitar pukul 5 lewat saya sampai di RS. Sayangnya si sulung ngga boleh masuk. Yang boleh hanya orangtua pasien saja.
Sampai di kamar, saya terkejut sekali melihat si tengah. Kondisinya itu, jauuuh berbeda dengan hari kemarin. Mukanya terlihat lemas, dengan mata yang bengkak, sepertinya karena kebanyakan menangis. Sekitar mulut dan hidung masih keluar tetesan darah. Kedua lengannya diganjal dengan semacam karton, agar tangannya tidak bisa memegang muka. Di salah satu tangan menempel jarum yang tersambung dengan selang infus.
Lalu dipunggungnya diletakkan seperti tas ransel yang berisi bantal es, untuk mendinginkan tubuhnya yang demam.
Mata saya berembun. Cepat saya rengkuh dia dalam pelukan saya. Diapun menangis, melihat saya, ibunya yang ditunggu-tunggunya. Sekuat tenaga saya menahan tangis. Badannya panas. Dia gelisah sekali. Mungkin kagok dengan kondisi mulutnya.

Suami dan sulung sudah pulang. Saya masih bertahan di sini. Seharusnya pukul 8 malam jam bezuk selesai. Tapi kata perawat, karena si tengah baru saja operasi, tidak apa-apa kalau ibunya mau lebih lama lagi menemani dia. Syukurlah.

Pukul 10 malam, saya diusir. Percayakan pada kami, kata perawat. Akhirnya saya keluar dari ruangan, diiringi dengan tangisan si tengah. Darah dari hidung dan mulut masih terus keluar.
Jilbab saya pun berdarah-darah. Untung warnanya gelap, jadi ngga begitu kelihatan.

Malam itu hujan. Sambil memegang payung, saya berjalan menuju stasiun. Mata saya basah. Juga hati saya. Tidak tega rasanya meninggalkan si tengah. Ingin rasanya terus menerus berada di sampingnya, sampai kondisinya pulih. Tadi sore saya  minta suami ngomong ke perawat untuk merubah opsi perawatan si tengah. Saat ini opsinya adalah perawatan tanpa ortu, di lantai 3. Sedangkan perawatan bersama ortu yg nginep ada di lantai 6.

Ternyata, untuk perawatan dengan ortu, semua sudah terisi, alias full. Ada sih, kamar khusus dengan pelayanan VIP, tapi harganya selangit. Sepertiga gaji suami. Glek.
Ya sudahlah. Memang sudah takdir.

Sampai di rumah, pukul 11. Semua sudah tidur. Saya bersihkan badan, lalu berwudhu dan sholat. Saya menangis sejadi-jadinya. Teringat terus dengan keadaan si tengah tadi.
Ya Allah, beri saya kekuatan. Ya Allah, lindungi selalu anakku....beri dia kesembuhan secepatnya............................


NEXT
HARI KETIGA; Demam Tinggi

[CPS] Hari Pertama

| comments (3)

(CPS = Cleft Palate Surgery)

15 Juni 2009
Akhirnya, hari ini datang juga. Hari dimana si tengah akan masuk RS. Dan besok paginya CPS akan dilakukan. Semua perlengkapan untuk menginap selama 10 hari, saya siapkan. Alhamdulillah, pagi itu sebelum berangkat, dia sempet makan dan minum susu, walau cuma sedikit. Agak rewel dikit, karena masih hawa ngantuk. Syukurnya lagi, kondisinya keliatan sehat. Ga ada meler dan ga ada batuk. Khawatir aja kalau operasinya diundur lagi.

Oiya, saya ngga ikutan nganter ke RS, berhubung ada si bungsu yang masih lima bulan. Papanya keberatan kalo si bayi mungil ikutan ke RS. Maklum, sekarang di Jepang wabah flu babi makin banyak. Jadinya kalau ngga perlu, sebisa mungkin bayi kecil tinggal di rumah aja.

Setelah mereka pergi, hm, rumah jadi sepi banget yak. Biasanya rame sama tingkah si tengah yang selalu bikin seisi rumah heboh. Hehe. Saya kok rasanya hari ini jadi santai sekali ya. Sambil beberes sana sini, pikiran saya jadi melayang. Gimana nanti ya si tengah di RS. Ntar malam tidurnya gimana ya. Malam pertama tanpa ortu di sisinya. Biasanya kalau malam, dia suka megangin tangan saya sambil diletakkan di pipinya yang gembul.
Fiuh, tahan emosi. Ntar hujan lagi. Yasud, saya berdoa, semoga semua berjalan lancar.

Malamnya, suami pulang ke rumah, dan cerita panjang lebar. Yappari, begitu sampai RS si tengah nangis. Suasana baru, dengan orang-orang yang tidak dikenal. Jadinya minta dipeluk terus. Gitu juga pas dimandiin suami. Masih tetep aja nangis dan ngga mau lepas. Apalagi pas malam, waktu suami mau pulang.

Malam itu, si sulung ulang-ulang bergumam, sabishi naaa.... (=sepi banget yak)
Hmm, cobaan. Selama beberapa hari ke depan, menjalani hidup tanpa satu anggota keluarga. Mana anggota keluarga yang ini, tergolong superstar. Selalu menyita perhatian seisi rumah dengan tawanya yang lucu dan perutnya yang buncit itu.

Oiya, sekedar info. Cleft Palate Surgery adalah operasi penutupan rongga langit-langit. Si tengah sejak usia 7 bulan dalam kandungan sdh terdeteksi menderita cleft lip and palate alias bibir sumbing dan langit2 terbelah. Operasi bibir sudah dilakukan waktu usianya 3 bulan. Dan untuk penutupan rongga langit-langit ini, adalah operasi tahap dua, dilakukan sekarang ketika usia si tengah menjelang 1,5 th. Tahap tiga dilakukan usia 7 tahun, untuk memperbaiki posisi gusi yang juga terbelah. Yang terakhir, tahap empat untuk finishing touch, dilakukan di usia 17 tahun.

Subhanallah, untuk memperbaiki sedikit `kekurangan` saja, memakan waktu yang lama.
Betapa rumitnya penciptaan organ-organ tubuh manusia. Dan betapa lemahnya manusia di hadapan sang Maha Pencipta.

Saya bersyukur sekali, si tengah hanya menderita cacat yang ringan saja. Itupun masih bisa diperbaiki. Bagaimana dengan anak-anak yang menderita cacat berat baik fisik ataupun organ-organ penting lainnya?  Benar-benar ujian berat bagi orangtuanya.





[CPS] Hari Ketiga: Demam Tinggi

| comments (7)


17 Juni 2009.
Hari ini saya minta suami tetap cuti. Ya, seharusnya dia cuti dua hari saja.
Tapi saya minta supaya suami bisa tetap ke RS, melihat kondisi si tengah.
Rencananya pagi sampai sore suami yang jenguk. Setelah suami pulang, baru saya yang gantian pergi ke RS sampai malam.

Setelah sampai, suami sms ke saya. Katanya kondisi si tengah udah mendingan. Darah sudah mulai kering. Hidung dan mulut sudah ngga berlendir merah lagi. Panasnya masih ada, tapi ngga begitu tinggi, sekitar 38 derajat. Tapi si tengah masih rewel. Tetep minta gendong terus. Ngga boleh lepas sama sekali.
Alhamdulillah. Saya lega. Minimal ada kemajuan. Ngga ada darah.

Sorenya saya berangkat. Sambil membawa beberapa lembar baju, pampers dan mainan si tengah. 45 menit saya sampai di RS. Saya pelan-pelan masuk ke ruangannya. Hm, si tengah sedang rebahan, dengan posisi membelakangi pintu masuk. Sepertinya dia tidak sadar, kalau ada yang masuk.

Pelan-pelan saya letakkan tas dan barang2 bawaan. Lalu saya cuci tangan di wastafel dekat situ. Hm, masih belum bergerak juga si tengah, mendengar bunyi air keran mengalir.
Saya panggil namanya. Saya elus-elus rambutnya. Loh, masih belum nengok juga. Kok responnya lama sekali ya.

Agak lama kemudian, baru si tengah membalikkan badan. Dia langsung menangis, dan mengulurkan tangannya. Masya Allah, saya baru sadar, wajah mungil itu terlihat kurus. Dan begitu saya memeluknya, terasa panas badannya.
Ayo, jangan nangis. Kembali saya kuatkan hati saya. Walaupun mata sudah mulai basah.

Jam setengah 7, perawat datang membawakan makanan. Hm, bukan makanan kali ya, tapi larutan makanan. Ada sekitar 7 gelas yang masing-masing berisikan larutan nasi, ikan, miso, yogurt, jus, susu dan airputih. Alhamdulillah, si tengah mau makan. Saya suapin sesendok demi sesendok. Satu gelas larutan miso habis dan setengah gelas susu. Setelah itu si tengah menolak dan memeluk saya kembali.

Tapi, sepertinya tubuhnya bertambah panas. Saya panggil perawat, minta diukur suhu badannya. Ternyata 41 derajat !! Masya Allah.
Si perawat tenang saja, dan berkata, kalau dalam botol infus itu sudah ada obat penurun panas, jadi ngga akan ada masalah.
Duh, shobar...shobar...saya nenangin hati yang mulai panas. Ini perawat kok enteng banget ya ngomongnya.

Beberapa menit kemudian perawat lain datang membawa obat penurun panas yang agak keras. Yang harus dimasukkan lewat anus. Si tengah merintih pelan, ketika obat itu dimasukkan, seperti tidak ada tenaga lagi untuk menangis kencang.
Saya kembali menggendongnya, menenangkannya yang terus menerus gelisah.
Badan mungil itu terasa panas sekali. Ya Allah, ingin sekali terus memeluknya.
Ngga berapa lama, dokter datang. Memeriksa badan mungil itu.
Biasanya, setelah operasi, sering terjadi demam tinggi pada anak. Si dokter menjelaskan.

Jam 8 malam lewat sedikit. Perawat datang untuk mengusir saya. Sudah lewat jam jenguk. Ibu pulang saja, nanti biar saya yang menggendong anak ibu. Kata perawat.
Ya sudah, sayapun keluar kamar, kembali diiringi dengan suara tangisan si tengah yang begitu lemah.

Malam itu, saya keluar RS, dengan hati yang meleleh.

Sampai di rumah jam 9. Belum ada yang tidur. Saya menangis di hadapan suami dan si sulung. Saya bilang saya sedih sekali ninggalin si tengah dalam kondisi demam tinggi. Apa mungkin si perawat bakal terus menggendong dia? Ya jelas tidak. Karena perawat harus menangani beberapa anak sekaligus, bukan hanya si tengah saja. Lagian, sentuhan perawat pasti beda sama sentuhan ibu.
Astaghfirullah, ini hati kok jadi ngedumel terus ya.

Jam 11 malam. Saya baru mau sholat, ketika tiba-tiba telepon rumah berdering.
Duh, siapa pula yang menelpon malam-malam gini.
Ternyata, dari RS. Dari dokter yang menangani si tengah.
Cepat saya berikan telepon ke suami.
Agak lama dokter berbicara. Sementara hati saya terus bergemuruh.

Telepon ditutup.
Suami cerita, tadi dokter bilang, si tengah sempat kejang dua kali karena panasnya semakin tinggi. Dan sekarang si tengah dalam penanganan intensif. Dokter akan melalukan pemeriksaan detil terkait dengan demamnya yang tinggi. Untuk itu dokter minta persetujuan ke suami.

Astaghfirullah......
Saya sholat sambil menangis ngga berhenti-berhenti. Suami juga.
Sungguh, ingin rasanya terbang, segera menuju ke kamar si tengah.
Menggendongnya, memeluknya, memindahkan semua panasnya ke badan saya.....


NEXT
HARI KEEMPAT: Badai Pasti Berlalu



[CPS] Hari Pertama

| comments (3)

(CPS = Cleft Palate Surgery = Operasi Sumbing Bibir dan Langit-langit)

15 Juni 2009

Akhirnya, hari ini datang juga. Hari dimana si tengah akan masuk RS. Dan besok paginya CPS akan dilakukan. Semua perlengkapan untuk menginap selama 10 hari, saya siapkan. Alhamdulillah, pagi itu sebelum berangkat, dia sempet makan dan minum susu, walau cuma sedikit. Agak rewel dikit, karena masih hawa ngantuk. Syukurnya lagi, kondisinya keliatan sehat. Ga ada meler dan ga ada batuk. Khawatir aja kalau operasinya diundur lagi.

Oiya, saya ngga ikutan nganter ke RS, berhubung ada si bungsu yang masih lima bulan. Papanya keberatan kalo si bayi mungil ikutan ke RS. Maklum, sekarang di Jepang wabah flu babi makin banyak. Jadinya kalau ngga perlu, sebisa mungkin bayi kecil tinggal di rumah aja.

Setelah mereka pergi, hm, rumah jadi sepi banget yak. Biasanya rame sama tingkah si tengah yang selalu bikin seisi rumah heboh. Hehe. Saya kok rasanya hari ini jadi santai sekali ya. Sambil beberes sana sini, pikiran saya jadi melayang. Gimana nanti ya si tengah di RS. Ntar malam tidurnya gimana ya. Malam pertama tanpa ortu di sisinya. Biasanya kalau malam, dia suka megangin tangan saya sambil diletakkan di pipinya yang gembul.
Fiuh, tahan emosi. Ntar hujan lagi. Yasud, saya berdoa, semoga semua berjalan lancar.

Malamnya, suami pulang ke rumah, dan cerita panjang lebar. Yappari, begitu sampai RS si tengah nangis. Suasana baru, dengan orang-orang yang tidak dikenal. Jadinya minta dipeluk terus. Gitu juga pas dimandiin suami. Masih tetep aja nangis dan ngga mau lepas. Apalagi pas malam, waktu suami mau pulang.

Malam itu, si sulung ulang-ulang bergumam, sabishi naaa.... (=sepi banget yak)
Hmm, cobaan. Selama beberapa hari ke depan, menjalani hidup tanpa satu anggota keluarga. Mana anggota keluarga yang ini, tergolong superstar. Selalu menyita perhatian seisi rumah dengan tawanya yang lucu dan perutnya yang buncit itu.

Oiya, sekedar info. Cleft Palate Surgery adalah operasi penutupan rongga langit-langit. Si tengah sejak usia 7 bulan dalam kandungan sdh terdeteksi menderita cleft lip and palate alias bibir sumbing dan langit2 terbelah. Operasi bibir sudah dilakukan waktu usianya 3 bulan. Dan untuk penutupan rongga langit-langit ini, adalah operasi tahap dua, dilakukan sekarang ketika usia si tengah menjelang 1,5 th. Tahap tiga dilakukan usia 7 tahun, untuk memperbaiki posisi gusi yang juga terbelah. Yang terakhir, tahap empat untuk finishing touch, dilakukan di usia 17 tahun.

Subhanallah, untuk memperbaiki sedikit `kekurangan` saja, memakan waktu yang lama.
Betapa rumitnya penciptaan organ-organ tubuh manusia. Dan betapa lemahnya manusia di hadapan sang Maha Pencipta.

Saya bersyukur sekali, si tengah hanya menderita cacat yang ringan saja. Itupun masih bisa diperbaiki. Bagaimana dengan anak-anak yang menderita cacat berat baik fisik ataupun organ-organ penting lainnya?  Benar-benar ujian berat bagi orangtuanya.

NEXT
HARI KEDUA: Episode Penuh Darah dan Airmata





Ngubekin foto

28 May 2009 | comments (6)

Kebutuhan ngubek...eh mengedit foto digital, saat ini menjadi penting, kalau ngga mau didemo banyak orang...hehe. Iyalah, rata2 foto yang kita ambil dari kamera, itu ukurannya besaaaarr sekali. Dan untuk mengupload, atau menempatkannya di internet, entah di imel ato di situs, perlu waktu yang lamaaaaa sekali.
Untuk melihatnya juga perlu waktu,...ya karena itu tadi, data yang harus ditampilkan di layar, menyerap energi yang banyaaaakkk sekali untuk ditampilin.
Walhasil kita ataupun fans kita (hihi)  jadi sebel bin bete, karena urusan ngupload/download foto ini.
 
Sebenarnya ada cara mudah untuk mengecilkan ukuran foto/gambar yang kita miliki.
Di internet, tersedia banyaaaaaaakkk (a-nya banyak banget yak) software untuk mengedit gambar.
Software ini terbagi dua:
 
1. Online
Kita tidak perlu menginstall software ini krn web based (dah tersedia di web gituuu).
Cukup upload foto yang mau diedit, lalu edit sesuai yang diinginkan,
yg mo digunting, dihias, diwarnain, dikecilin, pokoknya terserah kita. Dalam waktu singkat, foto yang kita inginkan dah jadi :)
Ada untung ruginya menggunakan software online ini.
Enaknya, ya itu tadi, kita ga perlu nginstall. Ngga repot. Dan ngga ngabisin space komputer kita.
Ngga enaknya, yaaa....jejak foto kita tadi, akan tersimpan di server penyedia software tadi.
Tapi kalau merasa ok-ok aja, its fine.
Oiya, satu lagi ga enaknya, kalau koneksi internet kita termasuk yang lelet mode, yaaa.... siap-siap aja begadang semalaman (maap, agak hiperbola) nunggu proses ngeditnya selesai :D
 
Ini beberapa linknya:
http://pixenate.com/ --> ini top punya :)
http://www.gifworks.com/image_editor.html --> bisanya utk format GIF aja
http://www.phixr.com/ --> bisa utk semua format
 
Tapi, kalau cuma mo ngecilin, tanpa ngedit foto, mendingan pake yg ini:
 
2. Ngga online (hehe, bingung nyari istilahnya :D)
Naah, ini kudu diinstall. Ada yg gratis, dan ada yg ga gratis. Disini saya sebutin yg gratis aja ye.
Untung ruginya, ya kebalikan dari software online tadi.
Eh, ada tambahan keuntungan.
Kalo satu saat, internet kita terputus, kita tetap bisa ngedit foto/gambar yang kita miliki :)
 
http://picasa.google.com/ (ini punya om google, tapi ati2...sizenya besaaaaar sekaleeee)
http://www.snapfiles.com/get/pixia.html (yg ini ga terlalu gede, dah gitu made in japan lagi :D)
 
Ok...dah siap2 ngedit foto????

Lucunya

26 May 2009 | comments (5)

Si tengah udah 1 tahun 5 bulan. Sampai hari ini, adaaaa aja kemajuan si bayi besar ini.

Gigi udah mau sembilan. Trus udah mulai suka pegang makanan pake tangan yg kecil bin imut itu.
Pokoknya tiap acara makan, itu jari kecil harus ikutan nyosor. Secara emaknya kalo ngasih makanan selalu yang berkuah2, ....bisa dibayangin deh, ngimana hebohnya acara makan. Ada bunyi kecipak kecipuk segala ^-^

Minum dot udah bisa megang sendiri, dan ngga dimainin, maksudnya bener2 diminum gitu loh. Khusyuk, sampai abis. Kalo sebelumnya, udah bisa pegang, tapi untuk ditumpah2in :D
Walhasil emaknya tertolong banget. Bisa nyambi ngapa2in selama ni anak nyusu.

Udah mulai panjat tebing...eh  panjat kulkas. Karena kulkasnya terdiri dari beberapa laci, jadinya dia seneng banget, bisa eksperimen panjat tebing. Trus sekarang mulai belajar buka-buka itu laci.
Glek.

Trus udah  bisa nyebrang lautan...eh maksudnya nyebrang pagar yang membatasi antara ruang makan dan dapur. Emaknya emang sengaja masang pagar buatan yang mana sekarang tinggi pagar itu cuma sepinggang sang bayi. Yah, si bayi tambah tinggi, dan bisa dengan mudah nyebrangin ntu pagar. Selama ini, pagar itu bener2 berfungsi banget. Si emak bisa nyante gedubrakan di dapur, tanpa harus khawatir ada badan mungil yang gentayangan di deket kompor :D

Sekarang udah suka sholat. Kapanpun dimanapun. Tau2 aja, itu tangan mungil disedekapin. Trus mulut kecil itu bergumam panjang lebar, ga jelas, tapi bikin nyengir. Soalnya tampangnya khusyuk banget. Dah gitu ga pake acara ruku, langsung sujud, daaan....langsung lari, nyambung maen lagi.
Hehe. Yang lucu, waktu itu si abang lagi ngapalin surat, eh, si bayi besar ini malah joget.....nggoyang2in badannya...dipikirnya si abang lagi nyanyi apa yak ^-^

Trus, si bayi besar ini, juga suka ikut2an gendong adiknya si bayi kecil. Hayyaaahh....sesama bayi gitu loh. Kadang2 ikut2an nepuk punggung adiknya, niruin emaknya yang suka nepok, nyendawain si bayi. Bedanya ntu anaknya nepoknya pake tenaga dalam. Weleh-weleh, emaknya langsung heboh dah..

Insya Allah, tgl 16 Juni nanti, si bayi besar ini mau dioperasi. Nutup langit2nya yang bolong :).
Iya, dia terkena cleft palate, alias sumbing bibir dan langit2. Untuk bibir dah dioperasi waktu masih umur 3 bulan. Selanjutnya, ya nutup langit2 tadi. Setelah itu, sebenarnya masih ada beberapa tahap yang harus dilewati lagi. Seperti operasi gusi bagian atas, yang juga ikut terbelah. Dan operasi hidung, yang sebenarnya selintas terlihat normal. Tapi hidung yang sebelah kiri, agak ketarik, alias lobangnya lebih kecil, efek dari dijahitnya bibir atas.

Kasian juga, ni anak. Udah kenyang sama urusan nginep di rumah sakit. Waktu dua bulan pernah diopname, karena diare berat. Bayangin, kaki yang masih mungil itu, udah biru-biru ditusuk sama jarum infus. Umur tiga bulan, kembali diopname. Dan....beberapa minggu lagi, insya Allah, kejadian yang sama akan terulang. Masuk ruang operasi. Hiks.

Tapiiiii, alhamdulillah, fisiknya sehat selalu. Ngga ada gangguan berarti. Apalagi kalau ngeliat sehari2nya yang bikin emaknya heboohhh--- dengan teriakan khass...."Astaghfirullahalazhiiimmm...........Muaaaazzzzz"--hehehe....

Sepuluh hari di rumah sakit. Duh, kuat ngga ya, si emak berjauhan sama bayi besarnya. Yang tiap hari selalu dipeluk, digendong, diciumin, digigit...
.


Huaaaaaa...............

19 March 2009 | comments (13)

"Mama, naik jetcoaster yuk?"
"Apa?? Jetcoaster??"
"Iya, jetcoaster yang itu tuh," seru anak sulung saya yang berusia delapan tahun, sambil menunjuk sebuah jetcoaster yang menjulang tinggi beberapa ratus meter di hadapan kami.

Glek, saya menelan ludah. Hm, berani ngga ya? Sudah lama sekali ngga naik jetcoaster. Terakhir ketika saya masih pengantin baruan dengan suami. Ya, hampir sembilan tahun yang lalu.Itupun ketika selesai naik jetcoaster, saya langsung berikrar di hadapan suami, untuk tidak menaiki jetcoaster lagi seumur hidup! Hehe. Saking traumanya.

"Gimana Ma? Mau ngga??"
"Ya sudah, kita kesana aja dulu. Nanti kalau dah depan pintu masuk, Mama pikir-pikir dulu..."

Sambil berkali-kali menelan ludah, kami menuju kesana. Saya mendorong babycar yang berisi anak ketiga kami, si bayi mungil usia dua bulan. Sementara suami agak kewalahan menggendong anak kedua kami, si tengah yang berusia setahun lebih. Si tengah agak rewel, sepertinya kehausan.

Begitu tiba di depan pintu masuk jetcoaster, si sulung dengan semangat ingin segera masuk.
"Duh nak, jangan masuk dulu....", setengah teriak saya memanggilnya.
"Loh, kenapa Ma?"
"Mama mau bikinin minum dulu untuk adikmu".
"Yaaaaa.....masih lama dong".
"Sabar sayang, nanti kan juga naik".
Alasan yang tepat. Padahal cuma pengen ngulur waktu.

Di depan pintu masuk jetcoaster, beberapa baris bangku berjejer. Kami mengambil tempat di situ. Saya segera membuat minuman untuk si tengah. Sementara suami sibuk menenangkannya yang kehausan dan terlihat mulai ngantuk. Si sulung lagi asyik menatap tiang-tiang jetcoaster yang berdiri kukuh dihadapannya. Belum ada pengunjung yang naik.

Hari ini amusement park yang kami kunjungi, memang agak sepi, karena bukan hari libur. Suami kebetulan dapat jatah cuti. Dan syukurnya lagi, kami mendapat tiket masuk amusement park gratis dari kantor suami. Ternyata enak juga pergi di hari kerja kayak sekarang. Lebih sepi, dan ngga perlu antri untuk menikmati wahana-wahana di sini.

Tidak berapa lama, terlihat empat orang anak muda menuju counter karcis. Si sulung mengamati jetcoaster yang mulai bergerak ke atas, setelah dinaiki pengunjung yang cuma empat orang tadi. Suara gesekan disertai hentakan roda-roda jetcoaster terdengar nyaring . Membuat nyali makin menciut. Ketika jetcoaster sampai di puncak rel tertinggi.....

"Aaaaaaaaaa....."
"Huwaaaaaaa....."
"Kowaaaaaaiiiiiiii......"

Teriakan demi teriakan terdengar begitu jelas. Terutama di telinga saya yang sedang sibuk menenangkan hati.

"Gimana Papa?? Mama naik ngga ya?"
Tanya saya ke suami yang sedang sibuk menggendong sambil meminumkan si tengah.
"Hmmm.....".
Suami saya cuma bergumam pelan.

"Atau Papa aja yang naik, temenin anaknya. Mama jagain bayi-bayi, gimana??", bujuk saya.
"Udah, Mama aja deh...", suami saya berusaha mengelak.
"Iyya deeeeh......tapi Mama mau ke toilet dulu nih. Ada hajatan".
"Ya ampun, segitu takutnya sampai harus ke toilet dulu".
"Yeee, ini memang dari tadi udah pengen ke toilet kok. "
Hehe. Padahal memang, karena pengaruh takut juga, keinginan ke toilet makin menjadi-jadi. Hihi.

Sekembalinya dari toilet....

"Mama....ayo, cepetan". Si sulung kembali berteriak.
"Iya sayang, Mama istirahat dulu. Tadi kan habis dari toilet".
Alasan saja. Padahal masih takut. Ya, minimal ngumpulin nyali dulu deh.

Si sulung masih bersabar. Didudukinya bangku di dekat pintu karcis. Tidak berapa lama, pengunjung lainnya, sepasang suami isteri dan seorang anaknya yang mungkin masih tiga tahunan, berjalan mendekati pintu karcis.  Penampilan mereka terlihat modis. Sepertinya masih sangat muda. Si ibu duduk dengan si anak. Sedangkan sang ayah membeli karcis. Lalu berjalan menuju pintu masuk. Ternyata si ayah saja yang seorang diri menaiki jetcoaster.  Karena tidak ada pengunjung lain selain mereka, dan tentu saja kami, yang dari tadi masih duduk-duduk saja.

Si sulung kembali mendekati tiang pembatas.  Memperhatikan dengan seksama jetcoaster yang melaju kencang bersama seorang penumpangnya. Si ayah trendi tadi.

"Papa...., Papa aja yang naik ya?", bujuk saya lagi.
"Loooh, gimana sih. Katanya tadi Mama yang mau naik. Kasihan tuh anaknya".
"Papa aja deeeeh. Mama jadi takut lagi nih."
"Papa juga takut sebenarnya sih. Mama kan tau, kalo Papa takut ketinggian."
"Tapi kok kalau naik pesawat berani. Pesawat malah lebih tinggi..."
"Ya beda dong. Kalau di pesawat kan ngga keliatan seremnya...."
"Sama aja ah. Pokoknya Papa aja yang naik.."
"Yaaa...jangan gitu dong. Mama aja deeehhhh."
"Duh, si Papa, mo naik jetcoaster aja pake dorong-dorongan gini. Kayak mo ngapain aja."

"Ya sudah kalau gitu. Ini pegang dulu anaknya. Papa mau ke toilet dulu. Dah ngga tahan dari tadi."
Suami menyerahkan si tengah yang sudah tertidur pulas.
"Bener nih ngga tahan? Atau karena takut juga???.....,"goda saya."
"Beneran tauuuu...", jawab suami saya sambil setengah berlari menuju toilet.

Ampyuuuun deh. Ini urusan naik jetcoaster aja susah amat sih. Pikir saya sambil tertawa geli. Ngga suami ngga isteri, sama-sama penakut.....hehe.
 
Saat suami di toilet, si sulung mendekati saya.
"Ma, katanya mau naik. Ayo dong....".
Si sulung akhirnya kehilangan kesabaran juga. Melihat ortunya yang dari tadi cuma hilir mudik ke toilet. Entah sudah beberapa pengunjung yang bergantian menaiki jetcoaster, sementara dirinya hanya bisa memandang dari dekat dengan rasa penasaran.

"Ma, kenapa sih, Mama takut? Kok Papa juga takut sih? Itu aja tadi Papanya berani. Sendirian lagi naiknya....". Si Sulung membandingkan sama si ayah trendi tadi.
"Hmm,.....ya...orang kan lain-lain sayang. Ada yang berani, ada yang ngga. Ngga bisa disamain."
"Tapi kan aku pengen naik Ma...".
"Iya, nanti Insya Allah tetep naik. Tapi ngga tau sama siapa...Mama sama Papa mikir dulu ya..."
Padahal dari tadi mikir dan berunding mulu.
"Iya deh. Tapi beneran ya...harus naik." katanya sambil sedikit merengut.

Kasian deh si sulung. Ini pertama kali dia bisa menaiki wahana orang dewasa. Tingginya sudah memenuhi syarat. Sebelum-sebelumnya dia hanya bisa bermain di wahana khusus anak-anak.

"Ayo sayang, kita naik....".
Suami yang baru datang dari toilet, langsung mengajak si sulung.
Akhirnya..... suami saya jadi juga naik jetcoater bareng si sulung. Demi menyenangkan anak, suami berhasil mengalahkan rasa takutnya. Hebat euy. Ketika melihat mereka naik, saya terus berdoa, semoga Tuhan menguatkan hati suami saya....

Saya perkirakan, perjalanan naik jetcoaster tidak terlalu lama. Mungkin cuma tiga sampai lima menit. Tapi tentu saja, menit menit yang sangat mendebarkan. Hm, apa saya coba saja ya? Masak begitu aja takut sih.

Saat memperhatikan suami dan anak saya yang sedang melayang bersama jetcoaster, tiba-tiba saya jadi pengen ikutan juga.

Hm, naik aja apa ya?
Jangan ah, ntar kalo mati?
Hah, mati??
Iya, mati. Kamu kan kolesterolnya tinggi. Ntar pas lagi naik jetcoaster, saking takutnya tau-tau jadi ngga bisa bernapas, karena ada penyumbatan.....trus mati deh....
Atau kali aja, penahan jetcoasternya ngga kuat, trus jatuh deh......langsung tewas....hiiiiyy
Gimana?? Kan malu-maluin tuh, masak mati di atas jetcoaster...Ngga elit amat euy....
Belum lagi persiapan amal....Emangnya amalmu dah banyak....??

Suara-suara dalam hati saya bersahut-sahutan.

Duh, ini kok jadi kemana-mana mikirnya. Udah, naik aja sono. Bismillah deh. Insya Allah ada manfaatnya. Bisa nyenengin anak, sekalian belajar ngalahin rasa takut.

Setelah suami dan anak saya selesai menaiki jet coaster....
"Sayang, yuk naik lagi. Temenin Mama..", ajak saya ke si sulung.
"Heee, bener?? Mama mau naik??", tanya si sulung, ngga percaya.
"Kalau takut, ngga usah dipaksa", kata suami.
"Iya, bener. Insya Allah mama berani". Jawab saya sambil nguatin hati.
"Kamu ngga apa-apa kan, naik lagi sama mama."
"Ngga apa-apa kok, aku malah senang banget".

Akhirnya, saya berhasil menaiki jetcoaster dengan sukses. Setelah sebelumnya, berbagai surat saya baca. Dari Al-Fatihah sampai ayat Kursi.....
Duh, kayak mau perang aja ya.....

Yah, paling ngga saya sudah berhasil menaklukkan rasa takut yang ngga penting. Hehe.
Saya pernah baca, katanya sih untuk menghilangkan rasa takut atau trauma, ya dengan melakukan hal yang ditakuti itu sendiri. Kalau takut ketinggian, sering-seringlah naik tempat tinggi. Kalau takut kegelapan, sering-seringlah masuk tempat gelap. Semakin sering dilakukan, maka perlahan rasa takut itu akan hilang.

Alhamdulillah, saya bisa juga naik jetcoaster lagi. Di saat udah jadi emak-emak. Emak beranak tiga euy. Padahal beneran loh.....Saya ngga nyangka bisa seberani ini. Hihi, norak banget yak.....





 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Refleksi Kehidupan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger